Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Eric Clapton

Setelah kita memahami berbagai macam bentuk fingerings pentatonik dan hubungannya dengan bentuk – bentuk fingerings akord – akord dari CAGED system, kita bisa melakukan beberapa explorasi :

  • Mencoba memainkan permainan chordal seperti yang sering dimainkan oleh Jimi Hendrix, seperti ‘Little Wing’ dan ‘The Wind Cries Mary’. Dasar dari konsep permainannya adalah melakukan fingerings pada beberapa senar yang diambil dari bentuk – bentuk CAGED, lalu menggunakan not – not pentatonik disekitar area fingerings sebagai tambahan pewarnaan akord. Kalau kita sudah hapal beberapa skala lain selain pentatonik, kita juga bisa menerapkan konsep dasarnya disini, lalu mengembangkannya lebih jauh lagi. Untuk pemahaman dasar yang kuat, disarankan explorasi menggunakan pentatonik dulu sampai benar – benar dikuasai.
  • Mencampurkan major dan minor pentatonik pada permainan solo blues. Konsep ini paling sesuai diterapkan saat situasi blues dominant, progresi blues yang semua akord nya menggunakan dominant, daripada blues minor dengan akord – akord minor [cek solo Eric Clapton 'Crossroads']

Teman – teman mungkin bingung saat pertama kali menerima informasi ini, tentang mencampurkan skala minor dan major dalam sebuah akord. Berdasarkan teori yang dibahas disini sejauh ini, hal ini benar – benar tidak masuk akal. Tapi jangan khawatir, kita akan segera menemukan jawabannya dibawah ini :

Setiap genre dari musik yang populer selalu mengalami evolusi tanpa terkecuali, termasuk blues. Dan untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang blues, kita harus menyelidikinya jejaknya sampai pada saat awal kemunculannya. Seperti kita tahu,  ditiap – tiap kebudayaan di seluruh dunia memiliki musik tradisionalnya masing- masing, dan mereka membagi 1 oktav dengan berbagai cara [kita akan menemukan sebuah skala dengan lebih dari 12 not per oktav, misalnya pada musik India, silakan cek Exotic Pentatonic bagian 1]. Dan walaupun benar blues berkembang dari Amerika, tetapi not – not yang digunakan pada dasarnya adalah not  – not dari rakyat Afrika. Mereka mempunyai pilihan pitch yang tidak terdapat pada tuts piano. Saat para theorist konvensional membedah blues licks, mereka menyimpulkan bahwa mereka terbuat dari pentatonik minor, sebuah kesimpulan perkiraan yang mendekati fakta, tetapi hanya mendekati saja. Fakta sebenarnya tentang skala blues adalah pitch not b3th berbunyi sedikit lebih tinggi dari not b3 yang kita kenal di versi western [silakan cek Metode Tuning bagian 2], dan pitch not 5th berbunyi sedikit lebih rendah.

Tulisan diatas bisa menjadi penjelasan lanjutan tentang blues berdasarkan diskusi di Hubungan Akord dan Skala bagian 4 [Tritone]

Previous

Six Billion People

Seperti yang sudah kita lihat pada tulisan sebelumnya [Skala Pentatonik Major bagian 1], 5 pola fingerings nya juga terbentuk berdasarkan CAGED System [silakan cek CAGED System bagian 1]. Dalam hubungannya dengan fingerings minor pentatonik [silakan cek Skala Minor Pentatonik bagian 2] , kita bisa menyimpulkan :

  • Posisi A pada minor pentatonik = posisi C pada major pentatonik
  • Posisi G pada minor pentatonik = posisi A pada major pentatonik
  • Posisi E pada minor pentatonik = posisi G pada major pentatonik
  • Posisi D pada minor pentatonik = posisi E pada majot pentatonik
  • Posisi C pada minor pentatonik = posisi D pada major pentatonik

Contoh pembuktian persamaan dari keduanya adalah : Not – not dari C major pentatonik terdiri dari C – D – E – G dan A, sementara not – not dari A minor pentatonik terdiri dari A – C – D – E dan G. Mereka berisi not – not yang sama! Jadi kita sebenarnya bisa dibilang tidak mendapatkan informasi fingerings baru disini, mereka masih fingerings yang sama hanya dengan akar not yang berbeda ;-) Dalam prakteknya, kita bisa secara tepat memainkan fingerings skala major pentatonik pada akord manapun, dengan memainkan versi minornya [yang mungkin lebih hafal dan nyaman dimainkan] dengan memindahnya turun 3 fret dari not akar [hampir gitaris diseluruh dunia akan cenderung setuju kalau memainkan A minor pentatonik posisi E lebih asik daripada memainkan C major pentatonik posisi E, dan mereka berisi not - not yang sama persis]. Sebaiknya kita benar – benar memahami prinsip keterkaitan hubungan minor dan major ini sampai diluar kepala, karena prinsip ini akan kembali muncul ketika kita membahas skala – skala yang lebih kompleks. Dalam istilah teori, kita bisa menggunakan istilah relative minor dan relative major [A minor adalah relative minor dari C major, dan C major adalah relative major dari A minor]. Daftar hubungan lengkapnya bisa di cek di Pitch bagian 6.

Previous | Next

Setelah tahun baru, saatnya nulis skala baru : pentatonik major. Seperti namanya, skala ini terdiri dari 5 not per oktav, dengan pola interval:

T – T – T1/2 – T – T1/2

..yang darinya bisa diperoleh formula :

1 – 2 – 3 – 5 – 6

Dari formulanya, atau dari nama skalanya, not – not ini memang digunakan untuk akord – akord mayor. Pola – pola fingerings nya adalah :

Posisi C

Posisi A

Posisi G

Posisi E

Posisi D

Previous

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 22.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 8 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Balawan

Pendekatan termudah untuk membuat improvisasi lebih asik dan cenderung instan berdinamika adalah dengan menggunakan paradigma skala sebagai suatu spektrum. Kita bisa saja bermain pentatonik dan benar – benar hanya memainkan 5 not tersebut sepanjang lagu, dan tidak ada not lain sama sekali. Cara ini cenderung cukup efektif kalau kita memainkan nya sebagai pengganti lagu nina bobo untuk para pendengar [atau agar kita sendiri yang main cepat ngantuk] :-D Spektrum disini adalah analogi yang mewakili variasi, sementara bertahan memainkan sesuatu yang sama persis disebut dengan repetisi [pengulangan]. Berdasarkan keterangan dari David Kraehenbuehl dan Jerry Cooker dari Yale, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa system inilah yang berlaku pada sebagian besar pendengar musik : terlepas dari mau bermain secepat apapun, dengan tapping 10 jari atau dengan kaki sekalian kalo memungkinkan :-P para pendengar itu selalu menebak permainan kita ketika mendengarkan permainan improvisasi, dan tugas improviser terberat adalah untuk mempertahankan sekitar 50% tebakan pendengar benar [atau sekitar 50% salah, sama saja ;-) ]. Disepanjang improvisasi, para pendengar akan terus menerus menebak arah permainan improviser, tentang harmoni, rhythm, teknik, dll. Kira – kira rasa penasaran pendengar bisa diwakili dengan : apakah selanjutnya si improviser akan melakukan pengulangan [repetisi] atau melakukan sesuatu yang berbeda [variasi]? Kemudian para pendengar akan mendapatkan jawabannya segera dengan mendengarkan improviser bermain sampai selesai. Kalau pendengar terlalu banyak benar dalam menebak, mereka akan cenderung bosan. Kalau pendengar terlalu banyak salah dalam menebak, mereka akan cenderung menganggap improvisasinya “kurang musical”. Apa boleh buat, dunia improvisasi memang cukup kejam.. :-P Tapi semoga informasi disini bisa sedikit menolong.

Ketika improviser memainkan repitisi, perhatian para pendengar akan menurun seiring dengan suksesnya tebakan mereka tentang kelanjutan permainan improviser. Tetapi sebenarnya masih ada rasa penasaran para pendengar, sampai kapan improviser akan memainkan repetisi? Kalau rasa penasaran ini tidak segera disadari improviser, maka pendengar akan bosan dan menganggap sisa improvisasinya ya paling masih itu – itu aja. Sebaliknya, kalau improviser sama sekali tidak pernah mengulangi apapun, para pendengar akan menganggap permainannya kurang musical dan tidak terstruktur. Terlalu banyak variasi akan membosankan. Disisi lain terlalu banyak repetisi juga sama saja, membosankan. Solusi cepat untuk hal ini adalah yang sedang – sedang saja : improviser harus membangun sebuah point penting dalam solo nya. Dan karena penting, maka point ini ditekankan dalam repetisi. Point itu sering disebut motif. Sementara, untuk pendekatan konsep variasi yang cukup aman, bisa dengan melakukan sedikit modifikasi pada motif tersebut. Tentang hal ini mungkin kalau ada kesempatan nanti akan dibahas lebih lanjut pada tulisan mendatang.

Sama hal nya ketika seorang improviser handal memandang sebuah skala, mereka akan menggunakan paradigma skala = spektrum. Salah satu interview tentang Balawan menyebutkan bahwa beliau hanya bermain pentatonik ketika ditanya skala oleh seorang penonton. Tentu saja pada faktanya, beliau tidak hanya memainkan eksklusif 5 not sepanjang lagu. Beliau mengubah – ubahnya menjadi berbagai macam bentuk arpeggio, skala blues, kromatik, diatonik modes, dll sesuai nuansa yang ingin disampaikan. Balawan tidak bohong, kemungkinan besar mindsetnya saat itu memang hanya memikirkan pentatonik sebagai acuan dasar, cuma karena beliau seorang veteran, pada prakteknya tau sendiri kan jadi gimana.. :-D

Nah, lalu melanjutkan tulisan sebelumnya [Skala Pentatonik Minor bagian 5 [Paradigma Musik = Masakan?]], cara termudah untuk menghafalkan bentuk – bentuk fingerings adalah dengan mengkaitkannya dengan CAGED system berdasarkan posisi not akar. Kalau kita ingin menghafal semua bentuk dalam situasi yang lebih dari sekedar progresi I – IV – V agar siap terhadap progresi apapun, kita bisa mencoba cara berikut. Mainkan A pentatonik minor posisi E, lalu tetap di lokasi fingering yang sama mainkan D pentatonik minor [posisi A], dan terus berlanjut ke Gm, Cm, Fm, Bbm dan seterusnya sampai kembali ke Am lagi [perubahan urutan akar not ini sering disebut dengan cycle of fourths, versi terbalik dari cycle of fifths, serupa dengan urutan tabel pada Pitch bagian 6]. Cara latihan ini juga efektif untuk jenis – jenis hafalan yang lain seperti akord, arpeggio, skala, dan  latihan ini sangat membantu untuk memainkan transisi perubahan kunci dengan lebih halus, sebuah menu latihan pokok untuk mendalami gitar :-D

Previous | Next

mmm.. yummy..

Untuk sharing konsep pemahaman, kita bisa coba menganalogikan musik dengan makanan [atau minuman, terserah :-D ], dan menganalogikan pemusik dengan koki. Banyak persamaan dari musik dan masakan, diantaranya adalah musik dan masakan tidak punya ukuran yang baku tentang penilaian enak dan tidak enak, karena selera [walaupun pada kasus paling ekstrim tentang kelayakan, hampir semua orang akan setuju kalau musik yang tidak punya struktur harmoni itu tidak layak dengar, seperti bangkai tidak layak untuk dimakan]. Persamaan dari pemusik dengan koki juga cukup banyak, pemusik yang handal mengetahui banyak informasi [sekaligus mampu mempraktekan] tentang bagaimana cara membuat musik menjadi sesuatu yang enak untuk didengarkan banyak orang, seperti seorang koki yang handal mengetahui cara membuat sekedar mi instan atau telur dadar, sampai dengan masakan yang paling kompleks [dalam pembuatan dan citarasa, yang bikin orang - orang merem karena enaknya, tapi mohon maaf saya tidak tahu contoh nama masakannya :-P ].

Analogi tadi yang akan dicoba disampaikan sehubungan dengan pembahasan skala disini. Saat ini kita mengetahui bahwa secara teori untuk bermain improvisasi yang asik dan selalu harmonis, paradigma utama penyusunan permainan kita harus berdasarkan struktur harmoni yang berlaku dalam lagu [akord progresi]. Om Andrie Tidie sering menekankan pentingnya Structural Playing. Ini hanyalah teori yang berusaha menjelaskan apa yang dilakukan para musisi sebelum generasi kita untuk keperluan edukasi, dan sebenarnya tanpa itu pun, kita tetap bisa berimprovisasi dengan baik dan harmonis dengan hanya mengandalkan telinga [beberapa teman sering menyebutkan metode hajar bleh]. Tetapi kemungkinan besar kalau anda membaca sampai disini, anda mungkin masih membutuhkan bantuan teori untuk mengembangkan telinga agar mencapai tahapan “hajar bleh” tadi. Betul? :-D

Untuk menghasilkan musik yang bervariasi, kita membutuhkan informasi dan kemampuan tentang banyak hal, seperti seorang koki membutuhkan banyak bahan dan alat. Untuk menghasilkan musik yang simpel dan monoton [selalu ada banyak penikmat musik dengan genre apapun, selama musiknya terstruktur, dan musik simpel sudah pasti selalu terstruktur], kita mungkin hanya butuh memahami sebuah skala dan beberapa power chord dengan progresi diatonik, sama seperti untuk memasak mi instan cuma butuh panci kecil dan sedikit air. Sebagian orang suka ini dan tidak punya keluhan apapun. Tetapi kalau kita ingin lebih dari itu dan ingin memaksimalkan musik kita, kita perlu untuk menguasai beberapa atau banyak hal [skala, bentuk akord, teori harmoni, dll] sehingga ketika hanya membuat musik simpel, kita bisa menambahkan beberapa warna tambahan sesuai takaran agar musiknya lebih berkesan dan berkarakter, sama seperti memasak mi instan dengan beberapa tambahan, misalnya telor dan sosis, dan mungkin beberapa sayuran sesuai selera, untuk menambah gizi dari makanan yang simpel itu. Kalau kita sebelumnya tidak punya alasan kenapa harus mempelajari musik [juga memasak], mungkin analogi diatas bisa sedikit membantu ;-)

Kembali ke skala pentatonik minor. Melanjutkan tulisan sebelumnya [Skala Pentatonik Minor bagian 4 [Paradigma Skala]], kita juga bisa memainkan skala pentatonik yang berbeda – beda sesuai akord yang sedang dimainkan untuk alasan akurasi. Kalau kita menggunakan pendekatan ini, trik nya adalah dengan melakukan fingering 3 buah skala yang berbeda dalam sebuah lokasi fretboard. Contohnya :

  • Am bentuk E – Dm bentuk A – Em bentuk C
  • Am bentuk D – Dm bentuk G – Em bentuk A
  • Am bentuk C – Dm bentuk E – Em bentuk G
  • Am bentuk A – Dm bentuk D – Em bentuk E
  • Am bentuk G – Dm bentuk C – Em bentuk D

Untuk keterangan bentuk [posisi] fingering, silakan cek Skala Pentatonik Minor bagian 2

Previous | Next

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.