Ada cukup banyak skala pentatonic yang berbunyi tidak seperti umumnya pentatonic yang dikenal dan dimainkan oleh sebagian besar musisi modern [pentatonic minor dan major] dengan interval seperti tuts hitam di piano itu [anhemitonic/tidak mempunya semitones interval]. Tetapi karena sama- sama tersusun dari 5 notes [walaupun hemitonic/mempunyai semitones interval], skala – skala ini juga secara teori bisa disebut pentatonic
Skala anhemitonic pentatonic pada umumnya lebih sering digunakan karena lebih bersifat terbuka dan langsung berhubungan dengan diatonic beserta modes nya, sementara hemitonic pentatonic jauh lebih berkarakter, sehingga relatif lebih jarang digunakan.
Pentatonic hemitonic ini umumnya bernuansa etnis dan terdapat di berbagai belahan penjuru di dunia, bahkan beberapa diantaranya tidak menganut system tuning dengan metode Pythagorean [silakan cek Metode Tuning bagian 1], tetapi menggunakan rasio tuning yang berbeda – beda pada tiap masing – masing kultur, yang tentu saja berakibat pada ada sebagian diantara pitch dalam skalanya yang tidak terdapat pada system musik modern [chromatic tuning, 12 not per oktav yang umumnya menganut system Eropa/Western System dengan metode Equal Temparament tuning. Silakan cek Metode Tuning bagian 2].
Hal inilah yang menyebabkan para pentatonik hemitonic ini sering disebut exotic pentatonic, karena memang mereka mewakili karakter – karakter tertentu dari setiap kultur di dunia. Para musisi daerah yang terlatih bahkan dapat menyanyikan frekuensi – frekuensi tertentu sesuai skala dengan tepat. Beberapa instrument melodis yang mewakili kultur tertentu juga seringkali menggunakan rasio tuning yang spesifik sesuai skala dari lagu – lagu etnisnya untuk mengakomodasi nuansa yang sama.