Akord Yang Lebih Berkarakter bagian 12 [Quartal Harmony]

Posted on Updated on

quartal

Menanggapi beberapa pertanyaan advanced tentang akord yang berkarakter tanpa harus berbunyi jazzy, hal yang langsung bisa kita praktekan untuk eksplorasi adalah mengadaptasi semua daftar dari tulisan sebelumnya [bagian 11], dengan konsep slash chords yang terdapat pada tulisan bagian 7 [Akord Yang Lebih Berkarakter bagian 7 [Slash Chords & Advanced Modal Voicings]]. Pada C :

  • Cmaj9 = G/C
  • Cmaj#11 = Bm/C
  • Cmaj13 = D/C
  • C9 = Gm/C
  • C11 = Bb/C
  • C13 = Dm/C
  • Cm9 = Gm/C
  • Cm11 = Bb/C
  • Cm13 = Dm/C

Berhubung daftar dari dominant dan minor sama persis, kita bisa memodifikasi konsep dari slash chordnya dengan selalu memunculkan not – not terpenting yang menjadi karakter utama setiap akord [silakan cek Akord Yang Lebih Berkarakter bagian 3].

Salah satu slash chord yang paling populer bagi banyak kalangan adalah dominant 11th atau 9sus4, yang berbunyi lebih open daripada bunyi tradisional akord dominant, membuatnya lebih sering muncul pada lagu – lagu pop. Konsep slash chords ini sebenarnya cenderung lebih populer dibahas oleh para pemain piano, yang seringkali membagi tugas dalam bermain akord pada kedua tangan, dan mereka lebih menyukai penulisan akord yang simpel yang langsung bisa dimainkan oleh masing – masing tangan. Tentu saja C/D lebih gampang buat mereka daripada D9sus4. Dalam situasi band, bagi kita pemain gitar, saat menjumpai slash chords cara termudah untuk mengeksekusinya adalah dengan hanya memainkan nama awal akordnya saja, biarkan pemain bass melakukan tugasnya untuk memainkan bagian akhir dari nama akordnya.

Saat bermain solo terhadap akord ini, kita mempunyai 2 pilihan [seperti biasanya, antara arpeggio dan skala, dan satu pilihan lagi buat para pemain advanced : chord melody]. Arpeggio nya cukup mainkan not dari nama awal akordnya. Untuk skala, kita bisa lihat dari daftar pada tulisan bagian 7 [Akord Yang Lebih Berkarakter bagian 7 [Slash Chords & Advanced Modal Voicings]]. Jika nama slash chord tidak terdapat disitu, maka kita harus mengumpulkan semua not – not penyusun slash chord tersebut untuk dibuat skala, yang semoga bisa masuk ke salah satu mode diatonik [yang paling populer buat kebanyakan orang]. Akord Bm/C akan lebih asik kita isi C Lydian daripada B minor pentatonik dengan berbagai macam  passing notes sekalipun. Pada akord B/C, mungkin kita akan kesulitan mencari skala yang pas. Akord ini bukan mustahil muncul, karena seringkali apapun bisa terjadi di lingkungan prog-rock atau area jazz-fusion. Silakan teman – teman bereksplorasi masing – masing, skala apa yang memiliki  not B – C – D# – F#, dan tonal gravity nya di C?

Mungkin cara termudah untuk berimprovisasi pada akord yang terdengar mengerikan itu adalah dengan memainkan arpeggio-nya, disertai dengan ornamen dari skala kromatik yang bebas kita mainkan sesuai voice leading. Ini pendekatan yang lebih universal bagi semua improviser, karena terdapat banyak sekali akord [dan harmony] yang tidak bisa dijelaskan dengan sistem skala [sistem yang umumnya kebanyakan orang menganggapnya sebagai deretan 7 not diatonik beserta modes dan varian harmonic-melodic minornya]. Konsep penggunaan skala kromatik untuk improvisasi ini lebih bisa diterapkan di semua kondisi, terlepas dari jenis musiknya. Contoh penggunaannya saat improvisasi di lagu dengan progresi akord yang normal, silakan cek :

Untuk teman – teman yang sangat termotivasi terhadap harmony, ada sebuah subject lagi, perkenalan singkat terhadap konsep advanced [n adventurous] untuk menutup seri tulisan tentang Akord Yang Lebih Berkarakter, yaitu quartal harmony. Seperti namanya, akord yang berasal dari quartal harmony ini disusun berdasarkan tumpukan interval ke 4 [do ke fa ke si, dst] dari sebuah skala [diatonik], sementara pada umumnya, sebuah akord itu disusun dengan menumpuk interval berjarak 3 [do ke mi ke sol, dst]. Akord – akord dari quartal harmony itu cukup susah diberi nama secara akurat karena system penamaan yang kita dianut berdasarkan teori musik konvensional dibuat cenderung untuk musik yang menggunakan harmony dari tumpukan interval ke 3. Karakter dari quartal harmony ini sekilas terdengar cenderung mirip karakter suspended pada sistem tertian harmony. Contoh penerapan quartal harmony dalam comping di gabungkan dengan tertian harmony soloing, silakan cek :

Subject tentang quartal harmony ini memang bukan untuk semua orang, karena itu tidak akan dibahas lebih jauh. Setelah mendengarkan contoh diatas, bagi teman – temanyang tertarik untuk mempelajarinya, silakan eksplore lebih jauh subject tentang quartal harmony dari berbagai sumber.

Previous  | Next

About these ads

6 thoughts on “Akord Yang Lebih Berkarakter bagian 12 [Quartal Harmony]

    ibnu said:
    Juli 2, 2013 pukul 4:20 pm

    aswrb, misalkan kita ingin berimprovisasi meggunakan mayor scale ( C=Do ) dengan progresi C Dm F G, pd saat chord nya di C apakah kita hanya bolah menggunakan scale C ionian saja?boleh tdk menggunakan mode mixolodyan ( C mixolodyan ), lidyan ( C lidyan ) atau pun skala2 yg mengandung unsur major lainnya ( C bebop, dll ), demikian jg Dm,F dan G, mohon penjelasannya, wassalam.

      ditomusicman responded:
      Agustus 31, 2013 pukul 12:40 pm

      Wa alaikum salam, Mr. Ibnu.

      Ketika kita melihat progresinya, (C – Dm – F – G) maka kita langung tahu kalau progresi itu dibangun dari sebuah skala, yaitu C mayor. Untuk soloing, tentu saja C Ionian masuk, dan bisa digunakan sepanjang progresi. Tetapi untuk C mode lainnya, mungkin secara harmony akan terdengar bertabrakan. Kalau suka teori, berikut penjelasan singkatnya :

      Secara derivative (turunan) :

      > C Mixolydian diambil dari skala F mayor (mode ke 5), terdapat not Bb (4th dari skala F mayor) dan bukan not B. Padahal not B merupakan 3rd dari akord G. Karena not B merupakan not penting dalam progresi, tapi tidak terdaftar pada skala C mixolydian, maka mode ini tidak bisa diandalkan untuk dimainkan sepanjang progresi.

      > C Lydian diambil dari skala G mayor (mode ke 4), terdapat not F# (7th dari skala G mayor) yang akan langsung bentrok saat akord Dm dan F dibunyikan (dua akord ini punya not F). Doi juga tidak bisa diandalin tuk dimainkan sepanjang progresi.

      Secara paralel :

      > C mixolydian itu skala mayor dengan b7th, yang tentu saja bentrok dengan progresi yang dibentuk dari skala mayor yang polos (C Ionian) yaitu pas akord G.

      > C Lydian itu skala mayor dengan #4th, yang tentu saja bentrok dengan progresi yang dibentuk dari skala mayor yang polos (pas akord Dm dan F).

      Demikian juga untuk akord2 lain dan skala2 lainnya.

      Mengenai perbedaan perspektif diatas, seringkali hal itu membingungkan sebagian teman2 yang baru mulai belajar improvisasi. Silakan cek sedikit ulasannya :

      http://ditomusicman.wordpress.com/2012/11/06/modes-bagian-8-perspektif/

      Tentang penggunaan “skala yang mengandung unsur mayor” seperti bebop scale dll, mereka hanya bisa saling dipertukarkan pada situasi modes playing saja, yang artinya mindset kita berubah seiring akord progresi, beda akord beda mode. Mungkin ini terdengar “too much” bagi yang belum terbiasa, apalagi kalo akord progresinya diambil dari berbagai macam skala dan tidak sekedar lurus diatonik seperti contoh progresi diatas.

      Tapi jangan khawatir, untungnya modes playing itu hanya bisa dimainkan saat akord2 dalam progresi dimainkan dengan durasi cukup lama (kalo nggak salah Om Andrie Tidie pernah bilang minimal sekitar 8 bar dalam tempo moderate). Kalau lebih cepat dari itu, kita punya opsi untuk prioritas memainkan not2 yang lebih penting (playing changes). Silakan cek diskusi tentang guide tones sebelumnya ;-)

      Semoga membantu.

        ibnu said:
        September 7, 2013 pukul 2:42 pm

        aswrb, mas dito, maksud saya bukan untuk keseluruhan progresi tapi untuk satu chord saja, misal : pas di C kita main C mixolodyan atau apa saja pokoknya skala/mode yg major2, pas di dm kita main D dorian minor atau apa saja pokoknya skala/mode yg minor2 demikian juga pas di F dan G. jadi ditembak langsung aja mas, pas chordnya major main skala/mode major, pas chordnya minor main skala/mode minor jadi nggak usah sibuk2 lagi nyari nada dasarnya apa, jadi skala/mode yg di gunakan campur2 nggak satu skala/mode saja, bisa nggak gitu mas, mohon penjelasannya wassalam

          ditomusicman responded:
          September 14, 2013 pukul 12:05 am

          Wa alaikum salam, Mr. ibnu.

          Hmm, teorinya mungkin bisa begitu, tapi cara itu hanya efektif kalo kita pengen audience mendengar bahwa masing2 akord tidak terkait satu sama lain (non functional harmony). (bebas aja maen apapun yang sama2 major, dan sama2 minor. Misalnya C kita maen Mixolydian, Dm kita maen Phrygian, F kita maen Bebop, G kita maen Lydian). Ini adalah advanced subject, sebuah area explorasi yang sebaiknya dibahas setelah kita bisa bermain dalam functional harmony dengan asik.

          Pada praktek dilapangan dari kuping kebanyakan orang, soloing menggunakan berbagai macam skala non diatonis dalam sebuah akord progresi yang terdiri dari akord2 diatonis akan membuat permainan kita terdengar cukup kacau. Progresi dengan akord2 diatonis umumnya akan cenderung dianggap mempunyai fungsi nya terhadap tonal (functional harmony), dan kalo kita ngisi nya ngacak (akord mayor asal diisi skala mayor dan minor juga asal minor), apalagi kalo ditambah minim info tentang konsep tension release dll, maka kemungkinan besar kita bakal kedengeran sama ngawurnya dengan orang yang nggak ngerti skala sama sekali.

          Banyak hal yang bisa membuat impro kita terdengar lebih keren dan lebih pro tanpa harus ngacak2 skala diluar fungsi dari akord2 dalam progresinya. Justru seringkali dengan bermain lebih sedikit not, permainan kita akan lebih keren (siapa yang sempet memainkan semua not dalam skala, 7 not muncul semua per akord tiap solo?)

          Salah satu cara terbaik tuk maen di progresi diatas adalah dengan maenin skala C major (keyt/root/nada dasarnya C) dan modes nya sesuai akord (C Ionian, D Dorian, F Lydian, dan G Mixolydian). Jadi C Mixolydian (key F), D Phrygian (key Bb), F Bebop dan G Lydian (key D) nggak akan jadi pilihan untuk dimainin.

          Subject modes ini memang sering membingungkan para pemula-intermediate. Kalo posisi di Bandung, nanti silakan datang ke free workshop reguler untuk 10 orang (kaming sun) untuk di diskusikan bersama 9 teman lainnya.

    ibnu aljauziyah said:
    September 16, 2013 pukul 3:54 pm

    aswrb, mas dito konsep tension release itu yg seperti apa sih, jelasin dong?

      ditomusicman responded:
      September 24, 2013 pukul 5:09 pm

      Wa alaikum salam, Mr. Ibnu.

      Tension – release (yang merupakan bagian dari voice leading) itu konsep dasar pergerakan not dalam musik supaya kedengeran asik dan punya alur yang menarik. Doi juga berlaku secara universal terhadap subject2 lainnya yang menggunakan western harmony, baik itu functional ataupun non functional harmony.

      Sebuah lagu kedengeran kurang asik kalo hanya diisi akord C – Am doang, atau G7 – Bdim doang, apalagi dengan melody yang hanya berisi chord tones secara exclussive (walaupun ada pergerakan progresi dan line melody) . Biar lagu kedengeran asik, kita mampir ke akord2 lain yang mempunyai fungsi coloring dan tension terhadap tonal center, dan memainkan not2 melody diluar chord tones, bahkan diluar skala bila perlu.

      Akord2 pada sistem diatonik sering digolongkan menjadi 3 berdasarkan karakternya terhadap tonal center : Dominant, Sub Dominant dan Tonic. Sebagian orang sering menyebutnya 3 keluarga akord, dan umumnya mereka bisa saling dipertukarkan dalam satu keluarga karena mempunyai banyak not2 penyusun yang sama (dasar substitusi akord).

      Kadang2 untuk keperluan tension, kita butuh beberapa not diluar skala untuk mendramatisir bunyinya, jadi kita memodifikasi skala nya atau bisa juga memainkan skala baru (modulasi). Dengan begitu sebuah lagu itu bisa dibentuk dari akord apapun dengan progresi yang bagaimanapun dan diisi dengan melody dengan not apapun, tetapi tingkat asik nya secara umum (terlepas dari selera pendengar) ditentukan oleh prinsip tension n release yang benar.

      Kira2 begitulah perkenalan sekilas tentang konsep tension – release. Ini merupakan subject yang luas kalo dibahas mendetil, hampir nyerempet semua subject yang melibatkan pergerakan (akord progresi n line melody).

      Simpelnya, tension adalah bunyi yang kedengeran nggak stabil kalo dibunyiin lama2, tapi doi selalu dibutuhkan dengan kadar tertentu tuk membentuk dinamika alur lagu. Kalo di film2 action, ini ibarat adegan tembak2an or kejar2an. Release adalah home, berbunyi stabil. Dengan prinsip subtitusi, kita bisa mengembangkan berbagai macam ‘temporary home’, sementara final home (resolusi final) nya bisa dibunyikan terakhir. Bahkan kalo mau, endingnya nggak perlu balik ke home, ngambang juga ok. Siapa yang mau protes? Kalo di film horror, ini ibarat zombie yang udah 2 jam dikejar2 dan ditembakin di bioskop, pas penonton udah mau keluar, doi ternyata masih gerak, lalu layar padam n lampu nyala..

      Untuk lebih jelasnya lagi, ini ada salah satu contoh sample tension – release dengan voice leading yang cukup tasty, mungkin dari situ bisa kebayang bahwa betapa semua pergerakan kita dalam maen musik ditentukan oleh tension – release :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s