Transcribing bagian 2

Posted on Updated on

steve_vai
Steve Vai

Pada awal – awal chapter telah disebutkan bahwa konsep dari pendengaran yang bagus amat diperlukan bagi semua musisi [tak terkecuali pemain perkusi sekalipun, yang memang tidak terlalu berkecimpung dengan dunia yang berhubungan dengan pitch dan harmony secara langsung], dan kemampuan untuk mengulang dan memainkan semua yang didengar, dan itu adalah aspek – aspek terpenting dalam kegiatan trancribing [ngulik dan menuliskannya dalam notasi musik]. Silakan cek link ini untuk software Ear Training. Melatih pendengaran kita adalah berhubungan dengan kemampuan untuk mengenali suatu interval [jarak antar not, dalam tone dan semitone], serta pola – pola rhytm.

Cara untuk memulai sebaiknya diawali dengan melihat keseluruhan struktur dari sebuah lagu, menuliskan akord progresinya dan disertai dengan durasi seberapa lama suatu akord dimainkan dalam satuan beat dan bar. Tips untuk ngulik dan transcribe akord jika ada bagian – bagian yang sulit, bisa dimulai dengan penulisan notasi ritmik yang umum lalu dengarkan bagian yang spesifik dari akordnya [misalnya carilah dan identifikasi not tertinggi dan atau paling rendah dari akord itu] dan selanjutnya mengisi di bagian sisa dari voicingnya. Sama halnya untuk licks, kita bisa melihatnya sebagai bagian dari suatu skala tertentu dengan metode transcribe yang serupa.

Dan ini mungkin keahlian tambahan yang otomatis diperoleh dalam menekuni kegiatan ngulik dan trancribing : ahli dalam memencet tombol Pause dan Rewind [hahahaha]. Setiap kali kita mendengarkan suatu bagian dalam sebuah lagu, kita diharuskan agar fokus pada not – not tertentu atau beberapa not sekaligus, dan ketika ada bagian dari lagu yang cukup menarik, kita harus cepat – cepat menekan tombol Pause karena segala yang akan kita dengar setelah bagian itu hanya akan mengalihkan fokus kita dan mengkaburkan bayangan kita tentang bagian yang menarik tadi yang seharusnya kita transcribe. Teorinya, kita harus bisa ngulik tiap licks menggunakan satuan not per waktu, mulai dengan sedikit not dalam waktu yang lama, dan seiring waktu setelah pendengaran, teknik dan musikalitas kita berkembang, kita akan bisa melakukannya dengan lebih efisien, lebih banyak dan lebih akurat, bahkan mungkin tahap akhir dalam study transcribing adalah bisa melakukannya dengan spontan seperti orang sekretaris yang didikte [salah satu contoh yang luar biasa adalah Steve Vai, yang sewaktu remaja pernah menghabiskan waktu 12 jam untuk trancribe 1 menit dari lagu – lagu Frank Zappa seakurat mungkin, dan kemampuan beliau dalam phrasing+polyrhytm, yang mampu menirukan dan memainkan not demi not komunikasi verbal manusia sehari – hari secara akurat dengan gitarnya].

Previous | Next

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s