Bending Senar bagian 3

Posted on Updated on

ibanezJS
Ibanez Joe Satriani Model

Guitar kita juga sangat berpengaruh dalam urusan bending ini. Sebagai bahasan pertama, ada yang namanya neck [fretboard] radius. Hal ini dapat dilihat dengan cara memposisikan neck gitar secara horisontal segaris dengan mata kita, dengan gitar menghadap ke atas lalu  kita melihat headstock lewat bridge. Ketika kita melihat sepanjang neck, kita akan juga menyadari kalau permukaan fretboard dan fret – fretnya sedikit melengkung. Semakin terlihat melengkung, maka semakin besar radiusnya. Istilah radius ini membuat kita melihat fretboard ini sebagai bagian kulit dari suatu lingkaran.

Neck [fretboard] yang melengkung ini adalah berfungsi untuk memudahkan kita dalam bermain, seperti pada barre chords [Akord dengan salah satu posisi jari membentuk suatu bar atau memencet 2 atau lebih suatu senar yang bersebelahan pada fret yang sama dengan 1 jari]. Sayangnya ada kelemahan pada system ini bahwa ketika kita membending senar E tinggi ke tengah – tengah fretboard dengan lengkungan besar, actionnya akan menjadi lebih kecil. Dan ketika posisi action awal senar E tinggi ini sudah cukup rendah, maka pada waktu membending ke tengah fretboard, getaran senar akan terhenti karena ruang getar senar semakin sempit bahkan tertahan oleh fret – fret disebelahnya karena lengkungan yang cukup besar. Inilah mengapa sebagian besar para gitaris – gitaris heavy metal menggunakan gitar dengan fretboard radius yang relatif lebih flat [datar atau rata], sementara misalnya sebuah Strat tahun ’62 akan cenderung sedikit lebih melengkung, mereka di buat memang untuk style yang berbeda. Kalau kita memang banyak melakukan bending yang lebar sekaligus bergantung pada action yang rendah, kita bisa menggunakan fretboard dengan compound radius [Semakin tinggi fret, semakin berkurang radiusnya, contohnya pada Ibanes JS series model].

Ukuran fret juga berpengaruh besar. Fret yang tinggi akan mempermudah kita untuk memperoleh cengkeraman yang cukup, terutama pada senar berat yang berdiameter besar. Misalnya fret – fretnya Stevie Ray Vaughan itu benar – benar luar biasa. Pengembangan lebih lanjut dalam bahasan ini adalah penggunaan scalloped fretboard, yaitu system pada papan fretboard dimana diantara setiap fret digali sehingga kita tidak akan merasakan fretboard ketika menekan senar. Ide ini dipopulerkan oleh Yngwie Malmsteen, dan banyak pemain – pemain lain dari Ritchie Blackmore sampai John McLaughlin sempat mencobanya. System ini sangat bagus untuk teknik bending yang liar, tapi kebanyakan orang merasa kesulitan untuk membunyikan sebuah akord dengan baik, tidak terasanya fretboard ketika memencet senar akan menyulitkan bagi kebanyakan orang untuk tahu apakah sudah menekan cukup keras atau belum. Dan lagi, system scalloped fretboard ini akan sedikit lebih menyusahkan para teknisi ketika tiba waktunya untuk mengganti fret.

Previous | Next

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s