Timing bagian 1

Posted on Updated on

music_manIni adalah salah satu  hal yang amat penting dalam permainan musik yang hendaknya semua musisi harus benar – benar memahami dan peduli, dan artikel ini lebih ditujukan kepada teman – teman yang suka berlatih didalam kamar. Sebuah musik itu berjalan menggunakan suatu sistem ketukan, baik internal [tidak terdengar] atau eksternal [terdengar, misalnya pola pukulan snare atau kick pada drummer], dan tugas kita adalah untuk merasakan ketukan ini, bisa dengan berbagai macam – macam cara, misalnya dengan mengetukkan kaki pada lantai, mengangguk – anggukan kepala,  headbang, atau dengan mengendap – endap [seperti kebanyakan yang Bassist sering lakukan].

Ketika kita mendengarkan musik, kebanyakan dari kita akan segera mampu untuk sekedar menganggukan kepala atau mengetuk – ngetuk sesuai irama lagu. Kita semua punya kecenderungan untuk misalnya mengetuk meja ketika mendengarkan groove dari sebuah musik. Permasalahannya adalah, sebagian dari teman – teman kita akan melupakan kemampuan dasar ini ketika mereka bermain gitar. Kita semua memang tahu kalau bermain musik itu membutuhkan banyak teknik dan kemampuan, sementara sekedar mendengarkan musik tidak membutuhkan apa – apa, tetapi ketika ada beberapa orang yang mendengarkan permainan kita, mereka tidak akan menikmati musik kita kecuali kita memainkannya dengan feel dan sound yang sesuai.

Sebuah sisi lain yang menarik, saya pernah membaca seorang etnomusicologist [ejaannya memang cukup aneh seperti itu] yang berkelililng dunia untuk mempelajari berbagai musik tradisional dari berbagai suku dan dia telah menemukan bahwa rata – rata tempo dari musik yang dia dengar itu sebanding dengan rata – rata dari ukuran dan posture dari masing – masing suku. Contohnya, pada dasarnya musik suku Pygmy akan terdengar  jauh lebih cepat dan hingar bingar daripada musik suku Watussi yang berpostur lebih besar dan berotot panjang, yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengayunkan [membunyikan] musik. Setiap postur tubuh punya kapasitas temponya sendiri dalam melakukan tarian yang nyaman dan alami.

Informasi tadi sebenarnya hanya untuk pertimbangan bahwa terdapat indikasi dari pentingnya untuk merasakan groove. Ketika kita melihat suatu bentuk musik yang berasal dari kebudayaan yang umumnya disebut primitif, kita akan punya kesan bahwa yang dibutuhkan adalah musik itu harus punya feel dan terdengar bagus, dan kebanyakan orang – orang harus dengan mudah menari dengan musik tersebut. Dan tentu saja tetap ada pembandingan versi modern. Misalnya saja kita pertama datang ke sebuah konser Slipknot, lalu pergi ke sebuah ballrom dansa, dengan membandingkan rata – rata umur dari para pendengar musiknya, dan rata – rata tempo dari musik tiap event, kita akan punya pandangan dalam yang serupa tentang contoh dari etnomusicologist tadi.

Previous | Next

2 thoughts on “Timing bagian 1

    konsumen mie yabi said:
    Oktober 23, 2009 pukul 8:01 pm

    groove itu menurut saya sebuah struktur atau contour ritmikal yg dimainkan berulang2 ataupun variatif tanpa meninggalkan karakter “feel” dan esensi ritmik itu sendiri sehingga menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi yang mendengarkan. groove itu sendiri kan istilah musik funk. klw di jazz ada “swinging” atau klw rocker ngomongnya “dude! you rock” hehe ngacok niy. bagi saya merasakan groove itu adalah memahami shape dari ritmik musik itu sendiri. tanpa memahami kita belum bisa menikmati. terus terang saya blum bisa menikmati musik gamelan dari sisi harmony dan rhythm. selanjutnya hal yang lebih sulit adalah mempraktekkan. umumnya sebelum memainkan feel apalagi menciptakan groove, setiap musisi harus mempunyai tempo yg stabil dmana hal itu sulit dilakukan oleh kebanyakan gitaris. tapi dlam konteks jazz itu belum cukup. sebuah terobosan dlm dunia musik bahwa jazz menciptakan hal seperti offbeat, upbeat, laid back, dll. blum lg bicara soal odd meters ataupun meters inside meters. saya rasa garis besar masalahnya baik itu bagi pemain maupun pendengar adalah “micro time”. bagaimana cara melatihnya dan membuat kita menjadi peka terhadap bentuk2 ritmik itu yang harus dikaji. ok semoga pengamatan saya yang subjektif dan ngacok ini bermanfaat.

      Dito Musicman said:
      Oktober 23, 2009 pukul 10:32 pm

      Great comment, Konsumen Mie Yabi :p
      Mungkin saat ini saya baru menggaruk sebagian kecil saja kulit dalam topik bahasan Timing ini, dan saat ini artikelnya masih ditujukan sebagai paradigma dasar aspek – aspek dalam bermain musik dengan gitar.

      Mungkin nanti bila memungkinkan, akan saya lanjutkan semua topik ke tingkat pendalaman.

      Terimakasih atas pengamatannya yang kritis dan tajam, Konsumen Mie Yabi, silakan untuk menambahkan lagi informasi tentang Timing ini atau silakan berkomentar di artikel lainnya yang kebanyakan masih sepi komentar😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s