Skala Pentatonik Minor bagian 6 [Paradigma Spektrum & Audience]

Posted on Updated on

Balawan

Pendekatan termudah untuk membuat improvisasi lebih asik dan cenderung instan berdinamika adalah dengan menggunakan paradigma skala sebagai suatu spektrum. Kita bisa saja bermain pentatonik dan benar – benar hanya memainkan 5 not tersebut sepanjang lagu, dan tidak ada not lain sama sekali. Cara ini cenderung cukup efektif kalau kita memainkan nya sebagai pengganti lagu nina bobo untuk para pendengar [atau agar kita sendiri yang main cepat ngantuk]. Spektrum disini adalah analogi yang mewakili variasi, sementara bertahan memainkan sesuatu yang sama persis disebut dengan repetisi [pengulangan]. Berdasarkan keterangan dari David Kraehenbuehl dan Jerry Cooker dari Yale, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa system inilah yang berlaku pada sebagian besar pendengar musik : terlepas dari mau bermain secepat apapun, dengan tapping 10 jari atau dengan kaki sekalian kalo memungkinkan. para pendengar itu selalu menebak permainan kita ketika mendengarkan permainan improvisasi, dan tugas improviser terberat adalah untuk mempertahankan sekitar 50% tebakan pendengar benar [atau sekitar 50% salah, sama saja]. Disepanjang improvisasi, para pendengar akan terus menerus menebak arah permainan improviser, tentang harmoni, rhythm, teknik, dll. Kira – kira rasa penasaran pendengar bisa diwakili dengan : apakah selanjutnya si improviser akan melakukan pengulangan [repetisi] atau melakukan sesuatu yang berbeda [variasi]? Kemudian para pendengar akan mendapatkan jawabannya segera dengan mendengarkan improviser bermain sampai selesai. Kalau pendengar terlalu banyak benar dalam menebak, mereka akan cenderung bosan. Kalau pendengar terlalu banyak salah dalam menebak, mereka akan cenderung menganggap improvisasinya “kurang musical”. Apa boleh buat, dunia improvisasi memang cukup kejam..  Tapi semoga informasi disini bisa sedikit menolong.

Ketika improviser memainkan repitisi, perhatian para pendengar akan menurun seiring dengan suksesnya tebakan mereka tentang kelanjutan permainan improviser. Tetapi sebenarnya masih ada rasa penasaran para pendengar, sampai kapan improviser akan memainkan repetisi? Kalau rasa penasaran ini tidak segera disadari improviser, maka pendengar akan bosan dan menganggap sisa improvisasinya ya paling masih itu – itu aja. Sebaliknya, kalau improviser sama sekali tidak pernah mengulangi apapun, para pendengar akan menganggap permainannya kurang musical dan tidak terstruktur. Terlalu banyak variasi akan membosankan. Disisi lain terlalu banyak repetisi juga sama saja, membosankan. Solusi cepat untuk hal ini adalah yang sedang – sedang saja : improviser harus membangun sebuah point penting dalam solo nya. Dan karena penting, maka point ini ditekankan dalam repetisi. Point itu sering disebut motif. Sementara, untuk pendekatan konsep variasi yang cukup aman, bisa dengan melakukan sedikit modifikasi pada motif tersebut. Tentang hal ini mungkin kalau ada kesempatan nanti akan dibahas lebih lanjut pada tulisan mendatang.

Sama hal nya ketika seorang improviser handal memandang sebuah skala, mereka akan menggunakan paradigma skala = spektrum. Salah satu interview tentang Balawan menyebutkan bahwa beliau hanya bermain pentatonik ketika ditanya skala oleh seorang penonton. Tentu saja pada faktanya, beliau tidak hanya memainkan eksklusif 5 not sepanjang lagu. Beliau mengubah – ubahnya menjadi berbagai macam bentuk arpeggio, skala blues, kromatik, diatonik modes, dll sesuai nuansa yang ingin disampaikan. Balawan tidak bohong, kemungkinan besar mindsetnya saat itu memang hanya memikirkan pentatonik sebagai acuan dasar, cuma karena beliau seorang veteran, pada prakteknya tau sendiri kan jadi gimana..

Nah, lalu melanjutkan tulisan sebelumnya [Skala Pentatonik Minor bagian 5 [Paradigma Musik = Masakan?]], cara termudah untuk menghafalkan bentuk – bentuk fingerings adalah dengan mengkaitkannya dengan CAGED system berdasarkan posisi not akar. Kalau kita ingin menghafal semua bentuk dalam situasi yang lebih dari sekedar progresi I – IV – V agar siap terhadap progresi apapun, kita bisa mencoba cara berikut. Mainkan A pentatonik minor posisi E, lalu tetap di lokasi fingering yang sama mainkan D pentatonik minor [posisi A], dan terus berlanjut ke Gm, Cm, Fm, Bbm dan seterusnya sampai kembali ke Am lagi [perubahan urutan akar not ini sering disebut dengan cycle of fourths, versi terbalik dari cycle of fifths, serupa dengan urutan tabel pada Pitch bagian 6]. Cara latihan ini juga efektif untuk jenis – jenis hafalan yang lain seperti akord, arpeggio, skala, dan  latihan ini sangat membantu untuk memainkan transisi perubahan kunci dengan lebih halus, sebuah menu latihan pokok untuk mendalami gitar

Previous | Next

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s