Blues Minor atau Blues Major? bagian 3

Posted on Updated on

Sebagian teman – teman gitaris, terutama yang baru mengenal improvisasi, seringkali beranggapan bahwa suatu skala adalah solusi otomatis dalam improvisasi. Anggapan ini bisa dibilang hanya separuh benar [contoh analogi : menghafal alif ba ta tsa, aksara Arab, hanyalah langkah pertama sebelum kita menguasai bahasa Arab]. Kita bisa mencoba membuktikannya secara aktual dengan bertanya kepada teman – teman yang hanya mengandalkan prinsip skalar ini melalui sebuah test sederhana : bisakah improvisasi kita terdengar progresif [terdapat alur pergerakan harmony] saat bermain tanpa iringan dan musik latar sama sekali? Kalo kita bisa memainkannya, berarti kita sudah cukup paham prinsip dasar harmony dan cukup aman untuk berpetualang dengan memainkan improvisasi disana sini. Kalau belum, semoga tulisan – tulisan disini bisa sedikit membantu jadi solusi.

Sebuah ide improvisasi yang hanya dilandasi dengan paradigma skalar seringkali cenderung untuk tidak selalu berbunyi ok dalam tiap perubahan akord progresi, persentasenya keberhasilannya juga dipengaruhi oleh penilaian subyektif telinga kita tentang harmony yang ingin kita sampaikan. Padahal sudah menjadi kewajiban bagi seorang improviser untuk harus selalu berbunyi ok pada progresi apapun. Pada situasi blues, skala kombinasi major dan minor pada tulisan kemarin [Blues Minor atau Blues Major? bagian 2] tidak bisa dipakai secara acak, semua not tidak akan berbunyi sama baiknya pada tiap akord. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan yang cukup penting terutama kalau kita ingin permainan kita tetap mempunyai progresi harmony saat bermain tanpa dukungan iringan dan musik latar. Sedikit penjelasan, misalnya pada progresi dominant blues di A, akord -akord akan disusun oleh not – not berikut :

A7 :   A   C#   E   G

D7 :   D   F#   A   C

E7 :   E   G#   B   D

Sementara skala kombinasi tulisan kemarin adalah gabungan dari minor dan major pentatonik :

A minor pentatonik :   A   C   D   E   G

A major pentatonik :   A   B   C#   E   F#

Kalau kita memperhatikan data – data diatas, kita bisa mengambil kesimpulan :

  • Pada akord A7, kedua skala diatas akan terdengar sangat ok tanpa ada masalah dissonansi yang memungkinkan para penonton melempar botol minuman kosong pada kita. Tetapi hati – hati saat menambahkan blues note [b5 pada minor blues dan b3 pada major blues], ini seharusnya tidak akan bermasalah kalau kita memainkannya dengan menambahkan bending 1/4.
  • Pada akord D7, kedua skala diatas musti sedikit mendapat perhatian karena tidak semua not nya berbunyi cukup harmonis dengan akord ini. Pada minor pentatonik, not G akan terdengar cukup dissonant dengan F# pada akord [not G hanya berjarak 1/2 dari F# yang merupakan chord tone yang kuat dari D7]. Lalu pada major pentatonik, not C# juga akan terdengar cukup dissonant dengan C, dengan alasan yang sama. Chord tones adalah not – not penyusun akord.
  • Pada akord E7, kedua skala diatas juga musti sedikit mendapat perhatian lagi, dengan alasan yang sama. Pada minor pentatonik, C akan sedikit berbenturan dengan B dari E7, A juga berbenturan dengan G# dari E7 [dan agar lebih bluesy, kita juga bisa melakukan trik bending 1/4 pada G]. Pada major pentatonik, A akan berbenturan dengan G# dari E7.

Kita sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan semua analisis diatas [sejauh ini kita kan masih musisi, bukan ahli kimia]. Penjelasan harmoni diatas memang bukanlah pendekatan paling asik untuk bermain blues, tetapi hanyalah sebagai contoh dari prinsip – prinsip umum dalam melakukan pemilihan not – not dalam skala saat melakukan improvisasi agar tetap selalu berbunyi harmonis dengan akord – akord latar. Blues dipilih sebagai contoh karena paling populer sebagai sarana jam session dan latar improvisasi. Demikianlah sedikit informasi tentang blues minor dan major. Selanjutnya : akord – akord lain dan progresi yang lebih kompleks.

Previous

6 thoughts on “Blues Minor atau Blues Major? bagian 3

    ibnu said:
    September 8, 2013 pukul 3:45 pm

    aswrb, jadi sebaiknya not2 yg disebut diatas nggak usah dimainkan saja mas atau gimana solusinya mas? wassalam

      ditomusicman said:
      September 14, 2013 pukul 12:17 am

      Wa alaikum salam, Mr. Ibnu.

      Don wori, mereka tetep bisa dimainkan kok, dan termasuk semua not lainnya secara teori bisa dimainkan (chromatic scale), hanya saja kita perlu paham mana not2 yang harmonis dengan akord, mana yang mengacaukan karakter akord. Untuk not2 yang mengacaukan karakter akord, kita mainkan dengan dosis nya singkat saja (jangan lama2 dimainin) dan diletakkan di ketukan2 yang lemah (untuk 4/4 berarti di ketukan ke 2 dan ke 4).

      Untuk contoh dalam situasi non blues, silakan cek sample ini : http://youtu.be/NQGxhRxh-74

    ibnu said:
    September 12, 2013 pukul 10:29 am

    aswrb, pada akord A7 not C ( Minor pentatonic ) hanya berjarak 1/2 dari C# yg merupakan chord tones dari akord,demikian juga not F# ( Major Pentatonic ) juga berjarak 1/2 dari G, tapi mengapa ya tidak dissonant? mohon penjelasan, wassalam.

      ditomusicman said:
      September 14, 2013 pukul 12:34 am

      Wa alaikum salam, Mr. Ibnu.

      Mereka nggak dissonant karena berada 1/2 DIBAWAH chord tones😉

      Sebuah not akan terdengar dissonant ngerusak karakter akord kalo kita memainkannya 1/2 DIATAS chord tones dengan durasi lama (makanya 4th digolongkan sebagai avoid notes pada akord mayor). Prinsip ini berlaku untuk semua akord stabil (mayor n minor), tapi tidak berlaku untuk golongan akord dominant dalam functional harmony, yang merupakan akord yang memang dibikin untuk berbunyi dissonant (semua not ok dimainkan pada akord dominant kecuali memainkan maj7th dengan durasi lama).

      Dalam situasi blues, akord2 dominant itu tidak berfungsi diatonis (non functional harmony, nggak resolving) maka dalam improvisasi tetap berlaku prinsip avoid notes diatas.

        ibnu aljauziyah said:
        September 16, 2013 pukul 3:37 pm

        aswrb, tapi mas setelah saya perhatikan lagi kayaknya not D ( Minor Pentatonik ) jaraknya 1/2 diatas C# deh? wassalam

          ditomusicman said:
          September 24, 2013 pukul 4:11 pm

          Wa alaikum salam, Mr. Ibnu

          Memang dari western (classical) harmony, not D (dari A minor pentatonik) termasuk golongan avoid note pada akord A7 (yang dipake sebagai root dari progresi dominant blues, jaraknya 1/2 diatas C#), tetapi tidak pada akord Am7 (yang dipakai sebagai root dari progresi minor blues, jaraknya diatas 1 diatas C).

          Karena blues scale itu sebenernya 3rd nya terletak diantara minor 3rd dan maj 3rd yang notabene sebuah pitch yang tidak dikenali dari western harmony (12 notes di piano, silakan cek https://ditomusicman.wordpress.com/2012/02/01/blues-minor-atau-blues-major-bagian-2/), maka 4th pun kadang2 bisa digunakan sebagai temporary tension (suspend). Analisisnya, jarak 3rd dari blues scale itu lebih dari 1/2 step dari 4th, mungkin sekitar 3/4 (pada root A, lokasi 3rd blues scale adalah 1/4 step diatas C, 1/4 step dibawah C#, yang berarti 3/4 step dibawah D).

          Kita bisa menggunakan 4th dengan durasi cukup lama saat akhir akord I menuju ke IV dalam progresi blues dominant dan blues minor. Asumsinya, seolah2 kita nggak sabar menunggu kemunculan akord IV. Tetapi jelas kita tetap nggak bisa memainkan 4th di beat pertama akord I7 (walau mungkin rada bisa diterima pada situasi minor blues, Im7). Silakan dicoba dibandingkan bagaimana bunyinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s