Relative Minor bagian 3

Posted on Updated on

Carlos Santana

Pada tulisan sebelumnya, terdapat 5 bentuk fingerings pentatonik minor [hitam], dengan 2 not tambahan [biru] yang diambil dari total not – not yang muncul dalam akord progresi [silakan cek Relative Minor bagian 1]. Kita mungkin juga sudah tahu dan bisa menyimpulkan bahwa not – not yang menjadi penyusun skala A natural minor adalah sama dengan skala C mayor [cuma beda urutan saja]. Perbedaan ini sering disebut dengan prinsip relative minor. Seperti halnya A minor pentatonik berisi not – not yang sama dengan C mayor pentatonik, demikian pula A natural minor diatonik secara langsung berhubungan dengan skala C mayor. Walaupun akar not dan chord tones nya memang berbeda, tetapi mereka mempunyai skema fingerings yang sama persis. Dengan kata lain, jika kita membutuhkan skala G natural minor dengan cepat, kita bisa menggunakan skala G mayor dengan posisi 3 fret diatasnya [Bb mayor], benar – benar cepat dan efektif sebagai jalan pintas [untuk efek yang lebih meyakinkan, silakan ubah paradigma akar not Bb pada skala Bb mayor dengan not G].

Berikut ini adalah contoh dasar penerapan konsep ini pada progresi minor I – IV – V :

  • Pada akord A minor, not A, C dan E akan terdengar asik dan harmonis karena mereka merupakan not – not penyusun akord, membuat mereka bisa jadi pilihan not untuk mengakhiri frase [phrasing]. Dua not yang lain dalam minor pentatonik, yaitu D dan G terdengar kurang stabil [kalau akordnya A minor 7, G bisa jadi pilihan tambahan untuk mengakhiri frase], tetapi mereka tetap berguna dalam situasi frase tanya jawab [sering digunakan dalam improvisasi blues]. Kita mungkin akan memilih menggunakan D untuk mengakhiri frase pertanyaan [dengan karakternya yang menggantung dan kurang stabil terhadap akord A minor, membutuhkan frase lanjutan untuk terdengar ok]. Untuk frase jawaban, tentu saja kita akan mengakhirinya dengan chord tones.
    Sisa 2 not lagi pada mode Aeolian adalah B dan F. Not F berjarak hanya 1/2 dari not E yang merupakan chord tone dasar, sehingga akan terdengar kurang harmonis kalau kita terlalu banyak memainkannya [apalagi pada ketukan – ketukan utama]. Kemudian di sisi lain, not B terhadap akord A minor mempunyai karakter yang manis. Kita bisa menggunakannya untuk menambahkan efek jazzy pada jalur melodi blues konvensional kita, seperti yang sering kita dengar pada permainan melody Gary Moore, Carlos Santana, Eric Johnson, dll.
  • Pada akord D minor, segalanya tiba – tiba berubah. Not D dan F terdengar sangat harmonis. Not B masih bisa menjadi pilihan untuk membuat jalur melody lebih jazzy, begitu pula not E. Pada akord ini, not yang paling kita hindari adalah not G [kecuali kita akan memainkan frase tanya jawab lagi, sepert contoh not D pada akord A minor diatas].
  • Pada akord E minor, not G yang sebelumnya kita hindari pada akord D minor telah berubah menjadi not yang sangat harmonis terhadap akord nya.

Secara umum, panduan prinsip improvisasi adalah kita harus selalu mendengarkan karakter akord yang sedang dimainkan.

Menggunakan skala 7 not seperti ini memang cukup membuka peluang untuk explorasi daripada sekedar bermain blues licks konvensional. Tetapi kita harus ingat dan waspada bahwa tidak semua not dalam skala ini bisa selalu harmonis dengan akord yang sedang dimainkan, memberikan peluang untuk terdengar ‘salah’ daripada skala yang bagi sebagian orang mungkin terdengar membosankan tetapi hampir selalu bisa diandalkan : anhemintonic pentatonik.

Previous | Next

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s