Tentang Improvisasi

Posted on Updated on

JOHN_PETRUCCI
John Petrucci, menggunakan common tones untuk improvisasi

Ini merupakan penutup dari chapter dasar yang telah ditulis sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu, mengiringi perjalanan saya dalam mempelajari berbagai macam musik hingga kini. Sejauh ini, teori tentang skala yang diperkenalkan disini bisa langsung dipraktekan dengan asumsi teman – teman juga telah aktif mempelajari berbagai macam sumber free sharing lain, dari pelajaran dari VCD – DVD – internet, dll. Pada awal perjalanan ber-improvisasi, kita cenderung terbiasa menerapkan satu buah skala untuk keseluruhan progresi [lalu explore berbagai macam phrasing dan teknik untuk eksekusi], dan mencoba menyelipkan beberapa licks keren dari para idola kita. Cara ini umumnya seringkali berhasil dengan mudah dieksekusi dan terdengar cukup asik, dikarenakan progresi akord yang dibentuk dari hanya sebuah skala terdengar sangat umum buat kebanyakan orang.

Contohnya, ketika terdapat sebuah progresi Dm – Em, kemungkinan terbesar kita dengan mudah hanya memikirkan sebuah skala yaitu mode D Dorian. Kenapa D Dorian? Jawabannya ketika not – not penyusun Dm dan Em kita kumpulkan, kita mendapatkan :

D – F – A dan E – G – B

Dengan adanya 6 buah not ini, maka untuk membentuk sebuah skala diatonik tinggal membutuhkan 1 buah not lagi. Pilihannya adalah C dan C#. Jika kita menggunakan C, maka kita memainkan mode D Dorian sepanjang progresi. Jika kita menggunakan C#, maka kita memainkan skala D melodic minor. Keduanya sama – sama skala yang valid dan terdengar harmonis untuk dimainkan di progresi tersebut, tapi kemungkinan besar orang – orang lebih cenderung akrab dengan bunyi mode Dorian daripada skala melodic minor. Alasan menggunakan mode Dorian akan lebih kuat ketika kita membuat akordnya sedikit lebih berkarakter, menggunakan not ke 7 nya : Dm7 – Em7, deretan not yang didapatkan dari kedua akord itu adalah :

D – F – A – C dan E – G – B – D

Dengan alasan yang serupa, ketika kita menjumpai Bm7 – Am7, skala yang langsung standby di ruang tunggu untuk kita gunakan adalah B Phrygian.

Nah, masalah yang kemudian muncul bagi improviser pemula adalah, bagaimana cara menghadapi progresi seperti Em7 – Gm7? Tidak ada sebuah skala yang bisa langsung berfungsi dengan baik untuk kedua akord tersebut [tentu saja selain skala kromatik]. Bunyi dari progresinya pun langsung menonjok kuping, kedua akord itu sepertinya nggak nyambung, keduanya jelas ganti key center. Kalau kita mencoba membuat lagu dengan masing – masing akord tidak berhubungan sama sekali [ada beberapa teman saya yang cukup berjiwa petualang, menulis komposisi atonal karena merasa bosan dengan tonal music yang menurut mereka mudah ditebak], lagu tersebut sekilas akan terdengar seperti tersesat entah kemana [tonal = home]. Walaupun begitu, penggunaan akord kejutan dengan dosis secukupnya ini akan membuat lagu kita menjadi lebih berbobot. Ada banyak sekali contoh yang bisa disebutkan, yang terbayang saat ini adalah musik – musik dari Dream Theater, seperti bagian solonya ‘The Spirit Carries On’. Dalam situasi yang seperti itu, perubahan akord kejutan itu benar- benar menonjok perhatian audience, dan butuh pemahaman yang lebih dalam tentang harmony untuk bisa bermanuver secara bebas dalam bermain solo melewati akord- akord tersebut. Berikut ini ada berapa solusi yang bisa digunakan saat berhadapan dengan akord kejutan dalam progresi :

  • Pada beberapa artikel dan buku pelajaran John Petrucci [Wild Stringdom], beliau menyebutkan bahwa pendekatan yang beliau sukai untuk bermanuver saat situasi munculnya akord kejutan dalam progresi adalah dengan memainkan common tones [istilah yang sering digunakan para jazzer, yang dalam konteks ini berarti ‘not- not yang sama yang terdapat pada harmony yang berbeda’]. Pada contoh progresi Em7 – Gm7, kita bisa mengurai not – not nya : E – G – B – D dan G – Bb – D – F. Not G dan D muncul di kedua akord. Dengan memainkan salah satu atau keduanya saat perubahan akord berlangsung, kita punya kesempatan yang lebih besar untuk menyampaikan ide soloing yang seolah terdengar utuh tanpa terputus.
  • Dalam konsep lanjutan tentang voice leading, kita bisa melakukan penekanan saat perpindahan akord berlangsung dengan sebuah semitones [1 fret], misalnya not B saat akordnya Em7 lalu memainkan not Bb saat akordnya Gm7. Dengan konsep ini, solo kita akan terdengar berpindah lebih halus dan lebih ok saat perpindahan akord, daripada misalnya not B saat Em7 lalu meloncat ke not D atau not G saat Gm7, atau bahkan mungkin ke ke not F. Silakan coba dan dengarkan perbedaannya. Dengan cara ini, kita bisa menyatukan 2 licks yang berada di harmony yang berbeda, dengan berkonsentrasi pada voice leading saat perpindahan akord. Untuk konsep lebih lanjut tentang hal ini, teman – teman bisa explore informasi tentang subjectPassing Notes‘ dalam penggunaanya untuk  improvisasi dan subject ‘voice leading’ dari berbagai sumber.
  • Sebuah konsep advanced yang merupakan kelanjutan dari voice leading diatas adalah dengan memainkan harmony di akord baru beberapa ketuk lebih awal [1 atau 2 ketuk]. Ini merupakan variasi dari konsep ‘Tension and Release‘  dalam improvisasi. Hasilnya adalah, seolah-olah kita bermain salah selama 1 atau 2 ketuk, lalu akord baru nya datang membawa alibi dan tiba – tiba kita terdengar harmonis.

Seperi halnya konsep – konsep keren yang lainnya, pendekatan ini hanya akan terdengar asik kalo kita memainkannya dengan rasa dan dengan dosis secukupnya. Kalau kita nekat memainkan harmony akord baru beberapa bar sebelumnya, boro – boro bermaksud sok tension, kita malah bakal beresiko tinggi terkena lemparan botol aqua [atau kalo pas sial ada yang bawa, telor]. Kita harus menggunakannya secara tersamar agar solo kita lebih berbobot, punya momentum dan terdengar asik. Untuk contoh penerapan common tones, silakan cek :

Konsep yang lebih advanced lagi [untuk teman – teman dan pembaca veteran], adalah konsep digital pattern nya John Coltrane. Konsep beliau ini membuat para improviser tidak akan terdengar salah secara harmony dari akord yang sedang dimainkan. Konsep ini sangat efektif untuk semua kondisi, dan mungkin menjadi pilihan utama ketika harus berhadapan dengan banyak akord kejutan dengan durasi singkat dan tempo cepat. Contohnya, silakan cek Giant Steps :

Chapter berikutnya, untuk menjelaskan tulisan – tulisan di blog ini, rencananya saya akan membuka Dojo Gitar dan mengadakan workshop reguler [gratis, tiap hari Minggu pagi – siang] untuk sharing langsung bersama teman – teman dari semua kalangan yang berada di Bandung. Informasi lengkapnya segera menyusul.

Previous

4 thoughts on “Tentang Improvisasi

    ibnu aljauziyah said:
    September 16, 2013 pukul 3:59 pm

    aswrb, mas dito sebenernya improvisasi itu ada macam2nya nggak sih, misal improvisasi secara chordal atau mprovisasi secara skalar atau apalah? wassalam

      ditomusicman said:
      September 24, 2013 pukul 8:06 pm

      Wa alaikum salam, Mr. Ibnu.

      Kalo dari perspektif ane pribadi sih, improvisasi lebih ok kalo nggak dibedakan antara chordal n linear (or skalar, scale based), karena sebenarnya mereka konsepnya sama persis, cuma beda fungsi aja. Chordal lebih cenderung tuk comping, linear untuk melodi soloing.

      Dengan tidak membedakan mereka, akan membuat kita lebih paham kaitan antara akord dan skala, dan memungkinkan kita tuk maen comping gaya campuran seperti misalnya Jimi Hendrix, dan memungkinkan kita tuk bermain solo tanpa iringan seperti para virtuoso.

      Contoh untuk pemisahan (comping n soloing), silakan cek :

      Contoh untuk gaya campuran, silakan cek :

      Contoh untuk bermain solo, silakan cek :

    anjani said:
    September 2, 2014 pukul 10:11 am

    hai kak dito salam kenal, saya mau nanya tentang tahapan2 belajar gitar yg benar ( dari awal hingga akhir ), sbg seorang otodidak menurut sy penting sekali untuk mengetahui hal ini supaya belajarnya lebih efektif dan tidak salah langka, kadang2 krn gak tahu tahapan2 belajar yg benar sy sering mentok ( gak tau apa lagi yg harus dipelajari ), itu saja kak, mohon bimbingannya, makasih

    ditomusicman said:
    September 7, 2014 pukul 9:49 pm

    Halo, salam kenal.

    Tahapan2 untuk pelajar otodidak tentu saja sangat bervariasi tergantung masing2 kebutuhan tiap pelajar. Makanya, sebagian pelajar otodidak biasanya bisa dapet manfaat yang banyak dari les privat dengan kurikulum fleksibel, daripada tempat belajar dengan kurikulum kaku.

    Secara global, kurang lebih ada 10 subject pokok (bisa disusun sendiri tuk jadi steps) yang umumnya menjadi materi global bahasan edukasi musisi di any instruments, baik dalam lingkungan akademis maupun otodidak. Silakan coba 10 step ini, tidak kaku dan bisa dipertukarkan satu sama lain, kecuali step 1 dan step terakhir.

    1. Fingering Instrument
    2. Sound Development
    3. Reading Music (partitur)
    4. Tuning, tidak harus terpaku standar tuner, silakan cek :

    https://ditomusicman.wordpress.com/2010/07/30/exotic-pentatonic-bagian-1/

    5. Hearing & Discern (Ear Training)
    6. Practice Method
    7. Listening & Appreciating
    8. Play With Others (Ensemble)
    9. Theory, Harmony, Composition & Improvisation
    10. Imagination & Creativity Development

    Goal dari semuanya adalah Make My Own Music, yang menjadikan musik menjadi bagian dari diri kita.

    BTW, ane sekarang lagi switch instrument ke piano untuk study deeper terhadap advanced subjects dan komposisi. Untuk hal2 lebih lanjut yang secara khusus berhubungan dengan gitar dan belum ada di blog ini, disarankan tuk kontak Om Andre Tidie (GIT n Berklee Alumni) dan Prof Doni Riwayanto (ISI Jogja), dan beberapa temen ane yang aktif sharing di FB. Mereka bisa disearch untuk kontak via website, blog, or juga bisa via Facebook.

    Gutlak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s