Jazz Comping

Posted on

Q : misi master, ni bisa sharing kan?
kalau ngeritem jazz tuh ngapalin formasi chord bukan?
aku minta dong

A : Bisa dong, wong judul kegiatannya aja sharing informasi tentang permainan gitar dari berbagai jenis musik.

Ngeritem jazz memang pada awalnya ngapalin chart formasi voicings akord yang banyak disertakan di majalah2 or bisa juga dari buku2 gitar yang khusus membahas bagan akord. Tapi pada perkembangannya, ada terlalu banyak akord yang musti dihafalin untuk bermain bebas (misalnya chordal improvisation). Maka dari itu, ane pribadi lebih menganjurkan tuk tidak menghafal form. Paling kalo ada yang musti di hafal adalah pondasi CAGED System, sebuah system fingerings yang sangat direkomendasikan tuk semua orang untuk mempermudah dalam visualisasi fretboard.

Akan lebih ok kalo kita tau tentang bagaimana prinsip dasar harmony, bagaimana akord itu dibuat (formula, voicings), bagaimana doi bergerak (voice leading, tension-release, substitutions), bagaimana mewarnai akord (coloring).

Tentang CAGED system dan beberapa info lainnya silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/10/08/caged-system-bagian-1/

Contoh ketika kita telah cukup terbebas dari formasi akord, saat bermain Jazz Standard :

Ada terlalu banyak akord per lagu kalo kita musti menghafal formasi nya.

BTW, cara tergampil untuk variasi jika kita memang baru hafal beberapa voicings per akord, kita bisa mempertukarkan lokasinya secara bebas untuk sedikit kejutan dan menghindari kebosanan.

Contoh pada lagu groovy, cek sample yang nyontek style Jamiroquai :

Q : master banget. thanks om dito. dengan semua itu apa saya uda lumayan mahir bermain jazz?

A :  Thanks.. Jangan lupa mampir baca2 di blog ya, mungkin ada beberapa info yang bisa bermanfaat.

Sebenernya istilah ‘lumayan mahir’ bisa berarti berbeda untuk masing2 orang sih. Dan ketika istilah itu mengarah pada jazz, standarnya bisa jadi melonjak cukup tinggi (sebagian akademisi western music terus menggali ke wilayah jazz – classical).

Kayanya cukup aman dibilang ‘lumayan mahir’ kalo kita lancar bermain dengan detil (berdinamika dan in-time), dan paham apa yang kita mainkan (nge-test nya dengan improvisasi).

‘Lumayan mahir’ ini bisa jadi tiket berstandar tuk mulai bermusik secara interaktif dan bermanfaat secara sosial, tetapi sebaiknya jangan sampai jadi tameng untuk menepuk dada ‘saya sudah lumayan mahir’ lalu berhenti mendalami musik.

Akan lebih ok kalau kita terus berkembang tanpa terbatas dengan istilah ‘lumayan mahir’. Biarlah orang yang menilai, kita mah maen aja musik yang kita sukai dan terus menggalinya sambil berusaha memberi manfaat sebanyak2nya pada orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s