Workshop III

Posted on

Koko

yosi

agah

bareng yosi

Ringkasan materi dari Workshop III :

  • Tergantung dari definisinya, sebagian besar orang selalu mendengar musik dimanapun mereka berada. Musik juga bisa didengar bahkan saat tidur. Tentu saja syaratnya orang itu masih hidup dan tidak tuli.
  • Musik, walaupun nampaknya hanyalah sebuah subject yang seringkali dianggap remeh oleh sebagian besar orang, adalah satu2nya area seni terapan yang dipelajari hingga tingkat doctoral. Untuk jenis seni lain umumnya dipelajari hingga tingkat Master (Master of Fine Arts). Standar ini sedikit bervariasi di berbagai negara.
  • Semua orang yang terlihat expert hari ini, dulu memulainya dengan hal yang sangat sederhana. Untuk musik western, ini berarti skala diatonik dan akord2 triad.
  • Jangan khawatir soal gelar pemula or newbie di hari ini. Semoga dengan bergaul di Dojo Gitar, gelar itu tidak bertahan lama.
  • Hafal dan lancar bermain skala hanyalah syarat awal untuk bermusik yang sesungguhnya. Setelah hafal dan lancar mengucapkan abjad A – Z, kita siap membuat kata, lalu kalimat, lalu paragraf dan akhirnya kita bisa bercerita.
  • Semakin banyak vocabs yang kita miliki, semakin kita bisa luas bercerita, dan bisa ngobrol dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Tapi nggak harus pake karbit or steroid a la Vicky Prasetyo sih, seringkali hal terbaik adalah ‘less is more’. Perlu wisdom untuk memahami hal yang sekilas nampaknya seperti paradox ini.
  • Selanjutnya, saat improvisasi, ada berbagai macam aspek tak tertulis (di buku teori) yang turut berperan saat eksekusi. Nasehat umum tergampil untuk berimprovisasi adalah : “Masuklah ke dalam lagu dan ikuti alurnya.”
  • Kemampuan tiap orang untuk “Masuklah ke dalam lagu dan ikuti alurnya” itu berbeda, diduga berhubungan kuat dengan faktor psikologis dan mental. Don wori, hal ini bisa dilatih agar lebih stabil.
  • Kalau kita zoom-in lebih detil, konsep inside – outside sebenarnya tidak hanya terdapat dalam harmony, dalam rhythm pun terdapat strong beat – weak beat. Hati2 terhadap tempat kita melakukan aksen.
  • Ada banyak cara agar kita lebih kreatif saat comping, salah satu yang paling radikal adalah dengan substitusi akord. Substitusi pun ada banyak cara dan jenisnya. Semakin kita lebih banyak tau, semakin kita berpeluang lebih kreatif.
  • Seperti kata Agah, salah seorang peserta workshop saat jamming : “sedikit tapi berarti”. Dengan menggunakan perspektif ini sebagai paradigma dasar untuk belajar improvisasi, akan membuat permainan kita terdengar lebih musical dan in context, yang akan sangat bermanfaat saat bermain lebih banyak not.
  • Jangan percaya mentah2 kalo ada improviser handal yang bilang “improvisasi itu bebas maen apa aja”. Mereka bilang gitu dari perspektif pribadinya yang telah mengalami perjuangan untuk menyatu dengan instrumentnya. Kalo diterapkan mentah2 di semua kampus musik, maka tidak akan ada lagi kelas improvisasi. Kelas impro bakal segera ditutup, dipintunya ditulisin “improvisasi itu bebas maen apa aja”.
  • O iya, seri Workshop reguler ini tentu saja free dan terbuka untuk umum. Silakan bagi para perempuan/cewek/wanita/ibu2/nenek2 yang berminat dengan permainan gitar tuk mampir ke Workshop.

Untuk info lengkap tentang Workshop IV, silakan cek https://www.facebook.com/events/426835194095262

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s