Penggunaan Modes

Posted on

mood

Q : Pak..terimakasih atas artikel2nya…….mau tanya penggunaan modes itu aturannya bgaimana ya…… misalnya,,,ada progresi chord Em-D-A-Cmaj7-B…Apakah kita harus menggunakan modes yg sama dalam keseluruhan progresi tersebut?? atau boleh kita menggunakan sebuah modes di progresi Em-D-A kemudian modesnya berubah saat di Cmaj7-B?? thnks..maaf msh pemula……

A : Halo Yanuar,

Penggunaan modes akan lebih berguna ketika kita bermain modal playing, yaitu situasi dimana :

1. Harmony bergerak super lambat, 4 bar atau lebih per akord.
2. Banyak ruang eksplorasi untuk pedal point.
3. Non-functional harmony, akord2 tidak berfungsi secara diatonik, mereka saling berdiri sendiri.
4. Quartal harmony.
5. Polytonality. Mungkin kebanyakan gitaris lebih sering denger slash chords.

Point no 1 merupakan point favorite para rocker dan pemain metal. Lagu2nya mayoritas menggunakan harmony simpel dan durasi yang lama. Biar nggak terlalu boring, mereka membuat riff sebagai ganti static chords. Dan biar durasi per akord nya nggak kelamaan, mereka mempercepat tempo lagu.

Faktor kebingungan tentang penggunaan modes dalam musik sehari2 rata2 disebabkan karena mungkin kita baru menemui instruktur2 dengan genre rock yang mengajarkan impro. Di akord ini, pakailah mode ini, di akord itu pakailah mode itu. Hal ini secara practical lebih optimal dilakukan di lagu2 dengan akord datar (or riff2 tanpa modulasi) dengan durasi lama, dan kita musti maenin solo dengan value rendah (ngebut pake 1/16th or 1/32nd). Contoh tergampil adalah lagu kaya ‘Addicted to That Rush’, n ‘Daddy Brother Lover Little Boy’ nya Mr Big.

Kenapa begono? Karena modes (diatonic) itu terdiri dari 7 not. Dengan ngomong “maen modes”, berarti kita punya beban untuk memunculkan semua (7) not tersebut saat solo. Saat ke 7 not itu nggak muncul semua, kita nggak bisa dibilang maen diatonic modes (walo sebagian theorist bilang, asal masih di root yang sama, dengan hanya mengubah beberapa not dalam scale tanpa harus memainkan 7 not sudah bisa dibilang modal playing). Lalu supaya sempet memainkan 7 not tersebut, kita harus memainkannya dengan ngebut, dan cara tergampil untuk ngebut adalah memainkan not dalam scale secara berurutan (or sequential). Hal ini akan potensial membatasi kebebasan dalam improvisasi dan bikin line kita boring serta predictible. Sebenernya modes bakalan ‘hidup’ kalo kita ngerti konsep tension & release serta strong beat & weak beat. Berikut ini adalah contoh modal playing dengan penekanan point no 1 di situasi non-rock dan non-metal, dengan lines yang bebas serta unpredictible. Solo section nya fokus pada Lydian Dominant scale :

Dalam bermusik sehari2, kalo kita hanya memainkan fragment dari diatonic modes, maka ada banyak cara lain untuk menyebutkannya. Pentatonics or arpeggios misalnya.

Kita sebenernya bisa menggunakan hanya sebuah scale (or beberapa modes) pada akord2 progresi yang terbentuk dari sebuah diatonic key. Saat akord2 progresinya berisi C – Dm – Em – F – G – Am – Bdim, kita bisa menggunakan hanya C major scale sepanjang progresi, dan otomatis mereka menjadi beberapa modes saat akordnya berubah (C Ionian – D Dorian – E Phrygian – F Lydian – G Mixolydian – A Aeolian – B Locrian). Tapi, kayanya cara ini tidak akan membuat kita menjadi seorang improviser beneran, karena kita nggak tau konteks dan tonal gravity dari lines yang kita maenin, serta solo kita akan kedengeran ngambang dan kurang karakter.

Improviser beneran itu bisa memberi tau audience bahwa dia sedang maen akord/modes apa, hanya dengan line solo improvisasinya, tanpa iringan sama sekali. Kalo pengen mencapai tahap ini, ada baiknya kita memulai study fragment dari scale dan aplikasinya dalam harmony. Bisa mundur dengan 6 not (hexatonic), lalu 5 not (pentatonic), lalu 4 not (tetrad), lalu 3 not (triad), dan akhirnya 2 not (dyad/intervallic). Semakin kita mampu menjinakkan sebuah scale menjadi bagian terkecil (interval), semakin merdeka improvisasi kita. Ibarat alchemist, kalo kita bisa mretelin sebuah benda sampe tingkat terkecil (atom), kita bisa menyusunnya kembali menjadi bentuk baru. Kalo nggak tau alchemist, bisa lah diganti lego😉

Alternative dalam menggunakan modes yang paling populer adalah dengan menggunakan chord tones (arpeggios). Silakan coba soloing hanya menggunakan arpeggios pada akord2 progresi tersebut, dan berusaha untuk tidak terikat pada 1 form arpeggio saja, coba explore seluruh area di fretboard, dan gunakan interval yang bervariasi. Dengan mengintegrasikannya dengan modes yang kita sudah hafal, kita bisa impro dengan super fun!

Selamat mencoba.

2 thoughts on “Penggunaan Modes

    fredyrhfyd said:
    Januari 28, 2015 pukul 11:39 am

    Modes dorian adalah modes yang digunakan hampir semua gitaris dunia.

    Request mp3 di mp3request.com yuks.
    Semua lagu yang sulit dicari bisa tersedia disana,request di kolom twitter yah.
    Thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s