Workshop XIV

Posted on

14

Workshop XIV :

  • Pernah ngerasa kalo not yang dimaenin udah bener, tapi maennya masih kurang asik? Salah satu yang berperan penting dalam tingkat keasikan saat maen musik adalah groove or rhythmic feel dan dinamika.
  • Maen not udah bener tanpa dinamika n groove itu masih kedengeran mekanis n robot-like music. Mirip musik dari midi yang stricly di quantize, selalu kedengeran super akurat, bikin aneh kuping kita yang terbiasa dengan faktor human imprecision.
  • Mungkin itu adalah salah satu batasan dari notation system, semua orang musti menginterpretasi seberapa swing dan seberapa keras musik yang dimainkan, bikin topik ini jadi rada subjective.
  • Walo subjective, tapi kategori musisi yang ngegroove n kaku itu bisa dirasain semua orang. Makanya groove itu musti dilatih juga biar musiknya asik
  • Asalnya, musisi yang bisa ngegroove (swing) musti bisa maen straight feel dulu. Mirip musisi yang bisa maen outside musti bisa maen inside duluan. Kalo nekat, bisa beresiko dibilang ngawur, or dapet lemparan botol pas manggung.
  • Setelah bisa maen straight bareng metronom, misalnya di 4/4, 1 not per ketuk, coba ganti lokasi weak beatnya maju or mundur mendekati strong beat . Berarti kita musti berani melawan metronom. Pergantian lokasi weak beat nya masih dalam jarak subdivisi dari rhythm genap dulu, geser 1/8th, lalu 1/16th, lalu 1/32nd (kalo bisa).
  • Umumnya aksen tetep di strong beat, terutama di tiap ketukan pertama. Kalo tanpa aksen n diratain dinamikanya, boro2 sok2an ngegroove, yang ada bakalan jadi kedengeran pincang n kurang asik. Silakan coba.
  • Aksen juga bisa dilakukan di weak beat, membuatnya syncopation. Kalo lebih cepet, orang menyebutnya ‘anticipation’ atau ‘pushed notes’ atau ‘pushes’. Lebih telat disebut ‘delayed attack’ atau ‘hesitations’.
  • Yoi, kesimpulannya weak beat adalah lokasi resmi yang mengizinkan kita tuk explore keluar rumah (outside) dalam hal harmony, dan juga rhythm. Seberapa jauh outsidenya, tergantung konteks musik yang lagi dimaenin (dan tingkat kenakalan performer).
  • Weak beat sendiri secara subjective resolusinya bisa diperbesar or diperkecil tergantung pemahaman musik performer, serta konteks nya (doi solo or maen ensemble). Resolusi weak beat bahkan bisa melewati 1 bar, sehingga performer bisa ngacak2 rhythm pattern cukup lama sebelum kemudian balik ke bar yang doi tentukan punya strong beat, tuk kembali maen in time. Subject ini berkaitan dengan polyrhythm.
  • Subject groove selalu nempel dengan dinamika karena mereka bersama2 membuat musik lebih berdimensi. Tempo = kiri-kanan, pitch = atas-bawah, dinamika = depan-belakang.
  • Subject Ornamentation, Embelishment & Approach Notes di Workshop kemaren blom sempet dibahas, baru dikasih contoh aplikasi dalam musiknya aja. Subject ini prerequisite nya adalah minimal musti apal n lancar arpeggios di semua posisi, n udah kenal sama teknik targetting dalam impro. Mungkin nanti di Workshop XV.

Untuk info lengkap tentang Workshop XV, silakan cek : https://www.facebook.com/events/1386189038314479

2 thoughts on “Workshop XIV

    nuirozero said:
    November 14, 2014 pukul 7:55 pm

    bingung bahasanya…master.

      ditomusicman said:
      Januari 7, 2015 pukul 10:39 am

      Mohon maaf ini penulisnya akhir2 ini jadi lebih sering nulis dari perspektif pribadinya, ceritanya sih biar sok asik, tapi kadang – kadang bahasa yang dipake malah nggak ikut aturan standar bahasa baku.

      Silakan tanyakan bahasa apa yang bikin bingung, nanti ta bantu jelasin definisinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s