Classical Music Fundamentals bagian 2 : Terms, Instruments & Genres

Posted on Updated on

Beethoven
Beethoven

Ada orang bilang “Gua kemaren dengerin lagu 5th Symphony nya Beethoven cuy”. Apakah 5th Symphony nya Beethoven tepat disebut ‘lagu’ or ‘song’? Kalo kita liat di iTunes sih iya, semuanya bunyi2an yang nongol disitu disebut ‘song’. Sebenernya istilah ‘lagu’ or ‘song’ itu cenderung lebih tepat diterapkan pada musik ber-lyrics (text). Beethoven’s 5th Symphony pan nggak ada lyrics-nya, makanya rada aneh kalo kita nyebut “lagu-nya Beethoven”. Trus apa dong? Biar lebih presisi, orang lebih sering menyebutnya dengan composition (komposisi), or piece, or masterworks, dll. 80% classical music itu nggak ada lyrics-nya (kecuali opera), sebagian besar murni magical instrumental music.

Istilah composition, or piece ini memang cenderung merujuk pada genre tertentu pada musik, yaitu classical music. Genre sebenernya adalah istilah keren dari type or jenis. Genre musik berarti type musik or jenis musik. Dalam genre, ada yang namanya sub-genre. Symphony merupakan sub-genre dari classical music. Symphony punya 4 movements. Movement adalah piece independen, yang saling melengkapi dalam symphony. Movement ini biasanya tersusun dengan urutan karakter sebagai berikut :

  1. Fast opening movement.
  2. Slower, more lyrical movement.
  3. Dance
  4. Finale, uptempo, fast, conclusion.

Pada opening Beethoven’s 5th Symphony, kita mendengarkan melody dengan rhythm kaya orang ngetok pintu. Melody ini termasuk kategori motive. Motive adalah ide2 pendek (cell) berupa rhytmical melodic pattern yang bisa digunakan untuk membangun frase musical. FYI, frase musical adalah cara pengelompokan not – not dalam melody. Hal ini kontras dengan 2nd movement dari Beethoven’s 5th Symphony, yang musiknya terdengar lyrical, panjang dan mengalir. Doi termasuk kategori theme. Theme cenderung lebih panjang dan lyrical. Di 3rd movement, saat brass masuk, kita bakalan inget sama motive dari 1st movement. Itu salah satu contoh tergampil bahwa tiap piece dalam symphony itu masih terhubung dan saling melengkapi. Saat nyampe 4th movement, mood kita langsung berubah drastis dibandingkan saat pertama denger opening di 1st movement. 1st movement yang bikin kita gloomy, despair n negative, saat finale kita berasa upbeat, positive. Kenapa bisa begono?

Gampil, 1st movement-nya based on minor tonality, 4th movement nya based on major tonality😉

Lalu pemilihan instrument yang dibunyikan juga ngaruh. 1st movement make violin, dan 4th movement nya make trumpet (‘THE’ heroic trumpet), kedengeran triumphant (mirip BGM Final Fantasy tiap victory habis monster battle).

Sub-genre lainnya adalah concerto, umumnya terdiri dari 3 movement. Concerto adalah jenis classical music dimana soloist akan ‘ngobrol’ dengan orchestra, mirip tanya jawab. Contoh yang akan dibahas disini adalah Tchaikovsky Piano Concerto.

Opening 1st movement nya merupakan motivic melody. Lalu selanjutnya violin bermain theme, sementara piano maen chordal comping, in octave. Selanjutnya, dengan sangat keren, piano gantian maen theme dengan berbagai ornamentation, dan strings gantian comping make pizzicato. Lalu piano maen motive sebentar berdua berbalesan dengan string’s pizzicato, kemudia orchestra masuk lagi, dan piano maen chordal comping lagi. Tuk para elektrik gitaris yang kemungkinan besar lebih familiar dengan situasi blues jamming yang bales2an licks, bisa menganggap ini adalah versi orkestranya yang lebih sophisticated.

Moga2 para pembaca tulisan ini jadi makin bisa mengapresiasi dan makin demen musik klasik setelah membaca penjelasan singkat diatas. Musik klasik dan orkestra itu super keren. Doi merupakan nenek moyang musik modern. Walaupun kita nggak maen traditional classical music sekalipun, banyak informasi yang bisa didapatkan dari mendengarkan dan mempelajari musiknya.

Sub-genre lainnya adalah tone poem (1 movement), opera, cantata, sonata, dan ballet, mungkin nanti akan disenggol sedikit di tulisan selanjutnya.

Tiap instrument mempunyai perbedaan overtones dalam tiap pitch yang dibunyikan. Terompet yang disuruh bunyiin C bakalan kedengeran beda sama oboe yang disuruh bunyiin C di oktaf yang sama. Perbedaannya di level dari overtonesnya, bikin sebuah pitch kedengeran fat or thin.

Q : Makin ngelindur nih orang. Bentar To, lo masih gitaris kan? Ini tulisan juga dipajang di Dojo Gitar kan?

A : Yoi, don wori, ini info supplement biar kita makin paham betapa luasnya musik😉

Dalam situasi gitaris dengan gitarnya, tiap senar punya harmonic overtones nya masing2. Ketika sebuah pitch dibunyikan, kita sebenernya juga membunyikan beberapa pitch lain diatasnya, cuman nggak terlalu kedengeran dominan. Doi bernama overtones. Overtones ini mempunyai pitch yang sama atau berhubungan dekat secara harmonic dengan pitch utama yang kita dengar (fundamental frequency). Cara tergampil buat ngeluarin (emphasize) overtones, silakan mainkan senar pertama open E, kita bisa membunyikan natural harmonic :

  • Fret 12 : E (2:1), overtone pertamax.
  • Fret 9 : G# (5:1), overtone keempat.
  • Fret 7 : B  (3:1), overtone kedua.
  • Fret 5 : E (4:1), overtone ketiga.
  • Fret 4 : G# (5:1) overtone keempat.

Daftar diatas hanyalah harmonic overtones yang paling gampil bisa dibunyikan semua orang, including beginner, dan sering nongol di kebanyakan buku pelajaran gitar. Sebenernya masih banyak lagi overtones yang bisa diexplore. Buat para nerdy n geeky, link ini adalah daftar yang bisa dieksplor dari berbagai open strings, pitch yang lokasi nya tidak terdapat di daftar diatas akan lebih gampang dibunyikan kalo dibantu dengan distorsi di ampli :

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/21/Table_of_Harmonics.svg

Intensity dari overtones menentukan timbre, color n karakter bunyi tiap instruments, termasuk perubahan clean electric guitar ke overdrive ke distortion. Tuh kan materinya nyambung sama gitar lagi.

Nah sekarang kita udah rada kenal apa itu symphony, dan pentingnya theory bagi musisi beneran. Jadi semoga nggak ada lagi orang yang ngaku musisi ngasal ngebahas symphony tapi ngremehin theory.

Bersambung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s