Workshop XVII

Posted on

17

Workshop XVII :

  • Workshop kemaren walopun kayanya ‘cuma’ ngebahas scale n modes (yang kayanya semua orang udah tau dan bosen), tapi dengan cukup mengherankan masih juga banyak yang kurang asik dalam penerapannya.
  • Sebagian orang nggak ngapalin scale, karena berpendapat sebenernya bisa ngandaling feeling (tonal gravity), or prinsip sederhana “disebelah not yang salah terdapat not yang bener” (dari liat lokasi tuts item di piano). Jadi kalo mencet not yang salah, segera geser setengah tuk ‘instant’ maenin not yang bener.
  • Ini mungkin cukup ok untuk orang2 yang nggak punya waktu study gitar yang diminta maen secara mendadak. Tapi kalo studi impro beneran, weits.., it’s a big NO! Nggak ada improviser beneran yang disetir sama jari or instrument nya. Justru kita belajar impro tuk memerintahkan instrument bunyiin yang kita mau.
  • Scale (dan modes nya) hanyalah musical alphabets, ngapalin scale mirip seperti ngapalin abjad A-Z.
  • Impro menggunakan scale berarti kita milih not – not yang berada di dalam scale (tidak harus semuanya), membangun frase sesuai konteks.
  • Lha lagi2 bahas konteks, apaan sih itu? Konteks adalah sikon yang mengijinkan untuk menyampaikan sesuatu yang secara objective dapat dipahami. Kita nggak akan ngomong “Yo Dab, piye kabare?” kepada Kakek kita kan..
  • Contoh tergampil, kebanyakan theorist bilang C Ionian adalah diatonik modes tuk akord C triad, tetapi F (not ke 4) merupakan ‘avoid note’. Kalo kita teliti tiap not dalam scale terhadap akord nya, kita akan mendapatkan harmoni yang secara teori bisa ditulis sebagai berikut :

    C – Cadd9 – C – Cadd11 – C – Cmaj6 – Cmaj7

  • Semua akord non-triad memberikan kontribusi karakter terhadap akord dasar C triad, kecuali Cadd11. Make sense kalo theorist bilang F adalah avoid note pada Ionian.
  • Berarti F dilarang? Kagak, doi musti digunakan dengan lebih hati2. Kalo konteksnya buat perlintasan ke E or G sih OK, tapi kalo disustain.. Silakan coba sendiri.
  • C triad adalah akord yang terdengar stabil, dan menambahkan not yang berjarak 1/2 diatas chord tones-nya akan mengacaukan karakter dasar tadi.
  • Prinsip ini berlaku secara universal terhadap akord2 lainnya. Bahkan sebuah interval tritone dari akord maj7#11 (Lydian mode, root – #11), doi tetap merupakan karakter mayor yang solid, karena tidak ada not yang ditambahkan 1/2 step diatas chord tones.
  • Buat yang tertarik lebih jauh tentang prinsip tonality ini, silakan baca2 Lydian Chromatic Concept of Tonal Organization by George Russell.
  • Kurikulum Baroque Style sekarang available di Dojo. Bisa ngapain aja kalo nguasain doi? Paradigma kita tentang hubungan akord, rhythm, voice leading, intervals dll akan lebih jelas dan detil. Puzzle tentang western music jadi complete. No more mystery.
  • Dengan menambahkan studi tentang texture, timbre n karakter dari single note (dan intervals), akan membuka pintu untuk menulis komposisi.
  • Dengan menambahkan studi tentang aural (ear training), n variations, akan membuka pintu untuk impro by request. Impro by request adalah bikin improvisasi (or komposisi) solo spontan berdasarkan tema yang dikarang langsung on spot dari pihak lain. Gabriela Montero memainkan impro berdasarkan theme yang dinyanyikan audience. Ini mungkin kasta tertinggi dari improviser.

Untuk info lengkap tentang Workshop XVIII, silakan cek : https://www.facebook.com/events/1472282529650186

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s