Classical Music Fundamentals bagian 3.1 : Notation System & Rhythm

Posted on Updated on

Notation System

Ketika seseorang ngomongin notasi musik saat ini, kemungkinan besar yang dimaksud adalah yang digunakan oleh musik di daerah Barat (Western) : US-Canada-Europe-Russia dan sekitarnya. Notasi ini awalnya digunakan untuk musik yang kita kenal sebagai musik klasik. China mungkin punya system notasi untuk musiknya sendiri, India juga, Indonsia mungkin juga punya. Tapi kebanyakan budaya selain Western tidak terlalu menitik beratkan peranan notasi pada musik nya (nantinya hal ini berhubungan dengan notation system vs oral tradition system yang dulu sempet dibahas di Workshop XIII).

Keuntungan notation system :

  • Memungkinkan Komposer untuk menyampaikan secara spesifik dan akurat tentang musiknya. Musiknya bisa ditulis dengan detil. Dari situ, para komposer dari Western mempunyai peranan yang lebih penting daripada komposer musik non-Western. Komposer musik non-Western umumnya anonymous, musik/pemain-nya cenderung lebih dikenal daripada komposernya.
  • Memelihara keaslian bentuk musiknya. Waktu bisa mengubah hampir semua hal termasuk musik. Dengan notation system, musik bisa diperdengarkan seperti aslinya. Itu sebelum era digital yeh..

Kerugian notation system :

  • Sebenernya bukan beneran rugi per se sih. Musik yang keren biasanya terdapat banyak aspek keseimbangan. Nah dalam notation system ini, keseimbangan itu bisa rada kurang proporsional. Di classical music (symphony, concerto, dll), peranan si pemain/performer nggak cenderung sepenting komposer. Komposer bisa diibaratkan ‘arsitek’, sementara pemain/performer diibaratkan ‘tukang’, buat eksekusi sesuai blue print dari rancangan arsitek. Kalo tukang eksekusi blue print rancangan arsitek, maka pemain/performer eksekusi black print (notation) dari komposer.
  • Dari perspektif pemain/performer kontemporer, ada pendapat yang mengatakan bahwa nggak keren maen (perform) sambil baca notasi. Kita jadi kurang fokus terhadap essence  dan ekspresi musiknya dan lebih fokus terhadap akurasi dalam menerjemahkan notasinya. Ini dianalogikan dengan pemain opera or bahkan film movie. Nggak ada aktor/aktris yang bisa total kalo saat manggung/syuting masih musti baca script.

Notasi musik merupakan grafik pertama yang digunakan dalam budaya Western. Kalo kita melihat notasi musik yang digunakan saat abad ke 9 sampe ke 12, prototype dari notasi yang kita gunakan sekarang itu telah memuat informasi dari 2 dimensi musik : sumbu vertikal untuk pitch, dan sumbu horizontal untuk time. Walopun keliatannya keren, tetapi notation system ini punya kecenderungan untuk membatasi kita dari beberapa hal yang berhubungan dengan kebebasan berekspresi yang umumnya digunakan oleh musik dari non-Western. Contohnya :

  • Western notation system telah terkenal tidak bisa membunyikan notasi blues scale dengan akurat. Blues scale yang ditulis dari notation system adalah versi kompromi, bukan yang sebenar- benarnya. Lalu, subject yang dibahas di kelas theory n komposisi juga biasanya membahas deviasi yang lebih jauh : Adzan (Islamic call to worship), yang udah lebih dulu ada di Arab n Africa, jauh sebelum blues dibawa oleh African dan berkembang di Mississippi Delta. Notation system secara spesifik menentukan suatu not dengan frekuensi tertentu, sementara bagi seseorang yang melantunkan adzan, dia membunyikan frekuensi yang terdapat di sela – sela notation system. Nggak ada cara lain bagi seseorang yang ingin belajar adzan, selain menggunakan oral tradition system.
  • Improvisasi. Para musisi yang menghabiskan hidupnya dengan berlatih membaca notasi dengan sebaik – baiknya biasanya cenderung kebingungan ketika diminta untuk memainkan improvisasi. Bagaimana mungkin orang bisa maen banyak hal dengan hanya 1 akord? Apakah not – not nya dinget semua? Para improviser mungkin bakal cuman nyengir kalo ditanya begitu. Bagi improviser yang lagi perform, notasi musik adalah penghilang kebebasan berekspresi. Contoh gampilnya : Jordan Rudess terlihat membuang (literaly) buku partitur saat mau solo performance di piano. Namun walo begitu, beliau adalah salah satu sight reader paling sinting yang dikenal banyak orang.

Notation system selain berpengaruh terhadap cara menulis komposisi dan performance musik di Barat, juga berpengaruh terhadap cara audience bersikap dalam menikmati musiknya. Kita nggak bisa ngobrol saat nonton konser musik klasik. Kita musti super quiet. Why why why? Kagak asik dong? Kalo ada nyamuk lewat gimana? Ssstt, karena semua audience mendengarkan dengan detil seberapa akurat si performer(s) membunyikan musik berdasarkan musical artifact didepannya (music notation). Makanya jangan berisik cuy!

Di daerah lain, tradisi musiknya bisa jauh lebih santai. Pemaen gamelan akan baik – baik aja kalo penonton ikutan tepuk tangan bareng. Pemaen sitar India juga baik – baik aja. Para jazzer juga baik – baik aja, malah cenderung bisa interaktif melibatkan audience dalam performance. Contoh – contoh yang barusan disebutkan semuanya tidak melibatkan notasi musik. Begitu para performer pada baca notasi, maka audience musti diam bagaikan mumi dengan headset. Well, kagak segitunya sih, cuman memang dilarang berisik.

Salah satu dari 2 dimensi notation system adalah sumbu horizontal yang mewakili time or duration or rhythm. Perihal symbol yang digunakan untuk mewakili durasi, silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/02/19/rhythm-bagian-2/

Ralat : ada kesalahan dalam penulisan minim/half-note rest, mustinya doi tidak menggantung di garis paranada ke 4, tetapi berada diatas garis paranada ke 3 :

half rest box

Bersambung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s