The Five W’s of Piano Chapter

Posted on Updated on

piano-and-guitar

Who?

Me, Dito Musicman (sekedar sok – sokan fancy nickname doang, kagak ada hubungan dengan Ernie Ball sama sekali), pemaen gitar jalanan, Sensei di Dojo Gitar, penulis blog ini, dan sekarang : ngakunya pianist.

What?

Posting di blog ini rencananya akan dilanjutkan dari perspektif pianist. Dengan begitu, nantinya kemungkinan akan ada beberapa subject tambahan yang secara fisik tidak akan mampu dimainkan di gitar sendirian, walopun pada style classical guitar or 2 handed tapping sekalipun. Pada setting experimental musik, gitaris mungkin masih bisa bunyiin F, F#, G, G# di oktaf yang sama secara bersamaan, tapi kalo setelah itu langsung musti bunyiin A2, A3, C6, C7 bareng? I don’t think so, heheh. Gitaris konvensional juga mungkin cuman bisa bengong kalo diminta maen advanced polyrhythm, or polyphonic lines.

Tapi don wori bi hepi, untungnya informasi tentang semua hal yang tidak “instrument-specific” tetap bisa diterapkan secara universal di instrument lainnya, seperti sebagian besar subject umum tentang rhythm n harmony. BTW, sebenernya even hal – hal yang “instrument-specific” pun bisa tetep nekat disikat pake gitar normal dengan normal playing sih, tapi dengan sedikit kompromi di beberapa hal.

Salah satu contoh tergampil kompromi : lagu ini aslinya adalah format band dengan intro piano, kita gitaris nggak akan bisa maenin dengan ok tanpa mengganti beberapa voicings di berbagai lokasi. Dan walopun kita nekat ganti nama jadi Tuck Andress or Tommy Emmanuel sekalipun, kayanya tetep nggak akan nolong tuk eksekusi lagu ini live sendirian, sekali take :

Buat ane pribadi, selain paham musik, gitaris yang keren adalah gitaris yang fleksibel, timing dan porsinya ok pas bareng band tapi juga bisa kedengeran full pas maen tanpa band. Lebih jauh lagi, tidak tergantung dengan backing tracks. Lebih jauh lagi, bisa maen tanpa script (interpretasi), sendirian. Point ini umumnya jauh lebih susah, kita musti jauh lebih intim dengan gitar dan bisa bermain secara insting dan mengontrol emosi within the moment.

Para intermediate-advanced guitar players mungkin udah pada tau bahwa Joe Satriani belajar pada Lennie Tristano (pianist/composer), lalu para jazz giants macam Mike Stern, Jerry Bergonzi, dan Wayne Krantz (author dari An Improviser’s OS, buku tentang kemerdekaan improvisasi yang digunakan untuk sebagai salah satu referensi dalam nulis di blog ini dari awal 2009), mereka semua belajar dari Charlie Banacos (pianist/composer/author/educator). Contoh lainnya masih ada banyak, dan mungkin sebagian diantaranya bisa ditemui di berbagai lokasi disekitar kita.

So, mustinya akan tetep ada banyak manfaat bagi para gitaris (or juga pemaen instrument lainnya) tuk bergaul dengan para pianist.

Krantz-580x580-display
Wayne Krantz

Where?

Di Dojo Gitar Bandung, dan beberapa tempat lainnya, TBA.

When?

Rencananya udah rada lama sekitar 2012 ketika study baroque style improvisation, baru kepikiran serius dari awal 2014, dan di eksekusi beberapa saat setelah Pileg April kemaren.

Why?

Beberapa penyebab utama :

> Perkenalan dengan baroque style pasca study jazz n bebop improvisation.

Baroque style merupakan gaya maen yang secara instan bisa mengubah musik apapun (ane blom sempet nyoba di blues) menjadi terdengar traditional classical, seolah2 kita telah menyiapkan linesnya, padahal semuanya on spot improvised. Semua orang yang bisa maen bebop bisa mulai mempelajari baroque style. Doi nggak sekedar modifikasi timing menjadi straight feel, ada beberapa rules tambahan, terutama tentang counterpoint.

Manfaat dari memahami baroque style ada banyak sekali dan sering disebutkan pada beberapa posting sebelumnya. Doi juga sudah sering dibahas pada pada beberapa workshop terakhir di Dojo Gitar. Salah satu manfaat terbesar bagi para musisi otodidak adalah kemampuan tuk mengapresiasi musik klasik, dan mengetahui logika dibalik lines dari berbagai komposisi, sehingga kita jadi paham beneran kenapa para komposer-nya disebut jenius. Singkatnya, dengan paham baroque style, berarti kita telah memahami harmony musik secara detil dari unsur terkecilnya (intervals) dan kaitannya dengan 2 dimensi musik : melody (sumbu vertikal) dan rhythm (sumbu horizontal), serta mampu menggunakannya secara instan untuk memanipulasi musik saat improvisasi.

Pemahaman tentang baroque style secara menyeluruh akan membuka peluang sangat lebar untuk melakukan berbagai macam hal, termasuk hal – hal yang normalnya tidak akan mampu dieksekusi di gitar.

> Keterbatasan normal gitar (dan normal guitar playing) tuk explore advanced harmony, polyrhythm, dan polyphonic lines dalam improvisasi solo.

Bisa dibilang adalah impossible tuk explore advanced harmony (triad over triad, atau bahkan tetrad over tetrad, blom termasuk variasi voicings-nya) di gitar normal (6 senar tuning standard), dengan cara maen yang normal (1 fretting hand dengan 4 atau 5 fretting fingers). Hal yang impossible lainnya diantaranya adalah maenin advanced polyryhthm, dan impro polyphonic dengan bebas tanpa kompromi.

> Lebih deket ke subject composition, arrangement dan scoring.

Range gitar yang terbatas dan system fretboard yang relatif kompleks untuk ditranslate langsung ke partitur bikin doi bukan instrument yang composing-arranging-dan-scoring friendly.

> Explorasi lebih lanjut tentang sound design n synthesizing (Keyboard).

Di klinik Korg, Jordan Rudess bercerita bahwa doi menggoda John Petrucci yang sibuk ngulik sound gitar berjam – jam didalam studio. Nah Kira – kira becandanya begini : “John, ngapain lo? Gitar pan bunyinya paling kalo nggak clean ya distortion, apa lagi yang mau diulik? Gua yang maenin puluhan/ratusan bunyi per song aja nyante gini. Heheh”. Buat yang belum tau, Jordan Rudess adalah pemaen kibor Dream Theater yang kemampuan sound design dan programmingnya telah banyak membantu banyak produsen keyboard workstation dalam developing factory soundnya, dari Kurzweil, Roland hingga Korg. Beliau bahkan punya perusahaan software musiknya sendiri : Wizdom Music.

Jordan_Rudess_-_01
Jordan Rudess

Sebenernya walopun cuman 2 sound, yang namanya John Petrucci udah pasti detil soundnya sinting. Dunia sound gitar banyak sekali dipenuhi dengan subtle details yang selalu diulik oleh para holy-grail-of-tone chaser. Untuk mendapatkannya, kita perlu melibatkan power conditioner, kabel – kabel sinting, cloth wire, kayu quarter-sawn dari pohon keramat yang dilindungi PBB, mungkin make kayu yang dipake Stradivarius dan Fazioli dari red spruce forest di Italia bisa bantu, mungkin make Tyler Guitar dan Dumble Amplifier juga akan membantu, dan bahkan tortoise shell picks dari black market pun konon ikut berkontribusi terhadap tone. Tapi tetep aja, yang dibilang Jordan Rudess ada benernya. Secara umum, basic sound gitar simpelnya kalo nggak clean ya distortion.

Gitaris memang bisa ‘mencoba sedikit melawan kodrat’ dengan midi, tapi tetep aja semua orang tau kalo keyboard punya jauh lebih banyak controls, range dan flexibility.

Closing : Bukan musical journey kalo cuman bermusik gitu – gitu aja tanpa berani explore mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman. Tanpa twist dan turning point, tentu saja perjalanan musical jadi boring.

Selamat datang di Piano Chapter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s