Classical Music Fundamentals bagian 3.2 : Rhythm & Meter

Posted on Updated on

stock-footage-illustration-of-a-heartbeat-impulse-line
Franchinus Gaffurius’s 72 BPM

Berhubung judul tulisan ini adalah fundamental, maka kita akan kembali membahas materi dari hal yang paling basic, kali ini dari rhythm value. Silakan cek kembali :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/02/19/rhythm-bagian-2/

Ralat : ada kesalahan dalam penulisan minim/half-note rest, mustinya doi tidak menggantung di garis paranada ke 4, tetapi berada diatas garis paranada ke 3 :

half rest box
half rest

Symbol – symbol yang ada di bagan tersebut mewakili durasi yang merupakan sumbu horizontal dari musik. Staff yang berada diatas berisi symbol – symbol seberapa lama (dalam satuan beat) sebuah not hadir untuk dibunyikan, dan staff yang berada dibawah merupakan symbol dari rest, yang menunjukan seberapa lama sebuah (atau semua) not absen untuk dibunyikan. Sebuah whole note (UK = semibreve) bisa dibagi menjadi 2 buah half note (UK = minim), atau 4 buah quarter note (UK = crochet), atau 8 buah eighth note (UK = quaver), 16 buah 16th note (UK = semiquaver), 32 buah 32nd note (UK = demi-semiquaver), dst. Silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/02/28/rhythm-bagian-3/

Dari keterangan diatas, kita tau kalo subdivisi tiap value dari symbol itu rata terbagi 2 (duple). Adakah sebuah symbol yang sama nilainya dengan, misalnya 3 buah quarter note? Ada. Kita bisa menuliskan sebuah symbol half note dengan sebuat titik dibelakangnya. Titik dibelakang not merupakan simbol untuk menambah setengah value dari not didepannya. Titik ini bisa digunakan untuk note dan juga rest :

dottednotes
dotted notes

Untuk cara membacanya silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/04/02/rhythm-bagian-7/

Tentang istilah beat (yang berarti ketukan), sebagian orang menganggap musik modern itu cenderung nge-beat dan classical music itu cenderung nggak nge-beat, malah mungkin sampai berada di tahap classical musik itu nggak ada beat-nya. Ini mungkin dipengaruhi dari elemen yang ingin ditonjolkan dari jenis musik tersebut. Sebenernya di type musik apapun, beat itu selalu hadir (walau tanpa kehadiran drummer n pemaen percussion sekalipun, dan even di musik yang nampaknya un-dance-able macam South Indian classical, Carnatic tradition music).

Beat or ketukan dimusik sebenernya sangat mirip dengan ketukan yang ada di tubuh manusia. Franchinus Gaffurius terkenal dengan komentarnya bahwa durasi dari semibreve adalah sebanding dengan detak jantung seseorang yang bernafas pelan — sekitar 72 BPM.

Manusia menyukai keteraturan dalam semua hal, termasuk dalam hal studi ketukan (beat) dalam musik. Manusia demen dengan kategori dan klasifikasi secara rasional. Semua orang demen dengan klasifikasi sejarah berdasarkan era or jaman : pra sejarah, sebelum masehi, sesudah masehi, renaissance, baroque, classical, romantic, dst.  Di musik, kita umumnya meng-kategorikan ketukan menjadi 2 grup utama dalam birama, yaitu duple meter (simple meter) dan triple meter (compound meter). Duple meter terdapat sebuah strong beat dan sebuah weak beat secara bergantian, sementara triple meter terdapat sebuah strong beat dan dua buah weak beats yang mengikutinya.

Berhubung simbol dasar dari beat di musik adalah quarter note (1/4), maka duple meter (birama) umumnya ditulis dengan 2/4, dan triple meter dengan 3/4. Birama 2/4 adalah sebuah unit (bar or measure) yang terdiri dari 2 not 1/4, dan birama 3/4 terdiri dari 3 not 1/4. Dengan definisi ini kita bisa lebih gampil memahami birama – birama lainnya, termasuk yang menggunakan beat eighth note dan 16th note.

Bagaimana dengan birama 4? 4 sebenernya hanya merupakan multiplikasi dari 2 (duple meter), jadi lebih utama kita pahami dulu duple meter dan triple meter, sebelum jauh lebih lanjut explore ngebahas subject – subject superimposisi meter (polymeter) dan polyrhythm (wajib tau bagi para fans nya Frank Zappa, Dream Theater, dkk). Sebenernya ada 1 subject lagi yang berkaitan dengan hal ini yaitu polytempo, tapi yang ini sih mending sekedar tau aja tanpa musti dipelajari, wong doi basically lebih dari 1 tempo (dengan satuan BPM) yang berjalan bersamaan dalam sebuah musik. Itu sih bukan lagi make ratio macam hemiola dkk, tapi bisa aja tempo 120 dan 130 maen bareng. Ngebayanginnya aja udah males..

Bersambung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s