Classical Music Fundamentals bagian 4.2 : Reduction, Syncopation & Tuplets

Posted on Updated on

orchestra-conductor
Abrakadabra?

 

Pemain perkusi dalam orchestra tidaklah berfungsi sama seperti drummer di dalam band pop. Di sebagian besar traditional classical orchestra, kagak ada pemain yang secara khusus maenin beat or ketukan. Beberapa pihak menyebutkan alasannya karena beat adalah hal yang super basic, semua pemaen musti paham beat beneran sebelum ngaku bisa maen musik, dan jauh sebelum bisa join ensemble or band. Tempo, meter dan beat sub-division itu subject semua musisi, bukan cuma tuk para percussionist.

Kita tau peran utama drummer dalam band adalah sebagai time n beat keeper, or time reference. Doi adalah metronomnya. Peran time n beat keeper didalam traditional classical orchestra ini dijabat oleh seorang conductor. Sebenernya ada juga sih orchestra yang maen tanpa conductor dan juga ada yang maen dengan lebih dari 1 conductor untuk komposisi dengan polytempo dan polystyle, tapi itu hanya special case doang, kalo kita nggak tau juga no problemo.

Bagi musik ensemble dengan steady beat, kehadiran drummer sebenernya tidak wajib diperlukan. Musik bisa direduksi sedemikian rupa tanpa sedikitpun mengurangi esensinya. Bahkan pada situasi solo reduction yang paling minimal, audience tetap bisa tau birama yang dipake (tau lokasi strong n weak beats), dan juga akord (harmony) yang sedang dimainkan, hanya dengan single lines. Yoi, kagak salah ketik : cuman pake single lines. Konsep ini udah ada sejak era J. S. Bach dan digunakan sebagai pondasi oleh semua orang dalam tonal improvisation, composition dan arrangement (perihal impro, silakan cek khotbah – khotbah tentang baroque style di kategori guitar chapters).

Ini adalah salah satu sample reduksi dalam situasi improvisasi di lagu Tuhan-nya Bimbo, berdasarkan aransemen Achi :

Dan ini adalah sample awal (prototype) yang menyingkap hubungan antara traditional jazz impro dan baroque style impro. Sample ini adalah reduksi minimal, hanya dengan sebuah lines bisa digunakan untuk mewakili birama dan akord dari sebuah lagu standard ‘Autumn Leaves’ :

Pada musik ensemble yang guitar oriented, ada jenis musik yang sampe sekarang dikenal masih menggunakan tradisi drummer-less yaitu European Gypsy Jazz (Django Reinhardt, Bireli Lagrene, The Rosenberg, Frank Vignola, dkk). Kalo soal piano oriented ensemble sih kagak udah dibahas.

Kemungkinan besar, kebutuhan seorang drummer or conductor dalam ensemble akan beneran terasa saat terdapat accelerando, ritardando dan perubahan birama dalam musik. Kehadiran drummer akan bisa jadi solusi untuk 3 hal ini. Sementara itu, pada musik yang dimainkan oleh banyak orang per section dengan banyak detil dinamika dan artikulasi (plus acc. + rit.), kehadiran seorang conductor akan sangat membantu tuk menyatukan musiknya.

BTW, udah pernah liat aba – aba conductor maenin birama ganjil (misalnya 11/16) dengan fast tempo? Coba intip di DVD Score-nya Dream Theater. Heheh..

Tempo adalah ukuran kecepatan dari beat dalam musik, dengan satuan BPM. Bagaimana dengan syncopation? Syncopation simpelnya adalah sebuah not kejutan yang nongol saat offbeat. Doi berasal dari ‘Syncopē’ yang berarti cutting short. Beberapa tulisan yang pernah nyenggol tentang syncopation, silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/?s=syncopation

Salah satu master dari syncopation adalah Scott Joplin (The Entertainer, Maple Leaf Rag, dll).

Hal yang lebih jauh ngelawan beat utama dari musik adalah tuplet, simpelnya, doi adalah rhythm (or sub-divisi) ganjil. Triplet adalah bentuk yang paling terkenal dari tuplet, yaitu 3 buah not x dimainkan dalam durasi 2 buah not x. Kebalikannya adalah duplet yang bisa dideskripsikan dengan 2 buah not x yang dimainkan dalam durasi 3 not x.

Tuplet udah pernah disenggol dikit saat Workshop VII :

https://ditomusicman.wordpress.com/2013/11/26/workshop-vii/

Bersambung..

2 thoughts on “Classical Music Fundamentals bagian 4.2 : Reduction, Syncopation & Tuplets

    onedust said:
    Juni 21, 2014 pukul 8:55 pm

    Dito, Gue mau dong Video lu mainin Bimbo -Tuhan- yang full version.. Ciyuss!

      ditomusicman said:
      Juni 26, 2014 pukul 3:45 pm

      Oii Mbakyu, sebenernya ane punya beberapa major ‘upgrades’ yang way better daripada sample full version Tuhan versi gitar, dalam hal impro playing. Lagian, nggak ada hal yang baru di separo terakhirnya, cuman part awalnya doang yang experimental make reduction.

      Full version nanti ta bikinin lagi pake piano aja. Kaming sun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s