Classical Music Fundamentals bagian 5.1 : Melody, Tuning & Ratios

Posted on Updated on

Guido_Aretino
Guido of Arezzo, the inventor of modern musical notation (staff notation)

 

Setelah nyenggol dimensi pertama musik yaitu rhythm, meter n duration, sekarang tiba waktunya tuk nyenggol dimensi kedua : melody. Dalam musik, melody biasanya menempati range yang relatif tinggi dalam term pitch (yoi, yang dipake biasanya adalah treble clef yang keliatan mlungker mirip biola tea). Apakah melody kagak boleh berada di mid or bahkan low pitch? Tentu saja boleh, tapi efeknya nggak se-nonjok kalo ditaro di high register. Kebanyakan orang akan setuju kalo melody di range high cenderung lebih gampil didengerin. Why is that? Ini sebenernya masih nyambung sama tulisan sebelumnya (Classical Music Fundamentals bagian 4.1 : Partials, Overtones & Synthesizer). Berhubung melody biasanya cukup aktif, doi perlu dieksekusi dengan soundwave yang lebih pendek, cepet clear dengan mild-minimal interference (overtones). Di electric gitar, ini berarti maen di senar plain (unwounded). Di piano, patokannya kira – kira C4 keatas. Dengan begono, doi terdengar dengan lebih jelas detilnya.

Lalu berikutnya tentang pitch. Tradisi western music lebih cenderung menggunakan notasi daripada musik – musik dari daerah lain di dunia. Ide tentang penulisan pitch ini udah ada sejak sekitar abad ke 9 di negara – negara di Eropa. Tapi system yang populer digunakan pada waktu itu (neumatic notation) hanya terdapat simbol untuk pergerakan melodi secara umum naik or turun tanpa detil seberapa jauh musti naik n turun. Lalu di Italia sekitar taun 1000 an, Guido of Arezzo memperkenalkan grid garis paranada. Awalnya 4 buah, lalu 5, bahkan 6, lalu kembali ke 5 saat abad ke 15 an. Di tahun 1000- an itu juga mulai ada label notasi dari A sampe G

Lah, kenapa cuman sampe G? Kagak ada not H, I, J, K, dst?

Karena oktaf. Senar dari not yang lebih tinggi bergetar 2x lebih cepet daripada not yang lebih rendah. Dan karena bunyinya sama, nama abjadnya juga sama. Hal ini bernama octave duplication.

Faktanya, semua kultur musik di dunia dari Cina, Jepang, Indonesia, India, Africa, dll, menggunakan octave duplication di musiknya (silakan kroscek ke para ethnomusicologist). Namun begono, tiap kultur membagi oktaf dengan cara yang berbeda – beda. Ada yang sampe kurang dari 12 not per octave, ada yang lebih. Dan frekuensi tuningnya juga berbeda dari 12 tone equal temperament tuning system yang dianut oleh western music, bikin mereka kedengeran eksotik beneran. Tentu saja yang sering para gitaris ributkan (lebih tepatnya para shredder-wannabe yang umumnya kebingungan bagaimana cara make scale biar solonya kedengeran tasty, menyangka bahwa musti make scale-scale aneh), seperti study bermacam-macam exotic scales, yang nyatanya kagak akan beneran bunyi eksotik seperti seharusnya, wong formula intervalnya aja merupakan versi kompromi yang make western tuning. Apakah gamelan bisa dimainkan dengan western tuning? No. Paling maksimal, sekedar kedengeran mirip, it pun bagi orang awam. Tau formula da mi na ti la (or formula exotic scale lainnya) nggak akan beneran membantu maen eksotik secara otentik kalo kita masih make western ‘standard’ tuning.

Kesimpulannya, exotic scales nggak akan bunyi eksotis beneran kalo sekedar make formula interval, tuning-nya juga musti diubah. Dulu Dojo Gitar udah pernah ngebahas pelog n slendro di workshop reguler ke 4 :

https://ditomusicman.wordpress.com/2013/10/29/workshop-iv/

ravi shankar norah jones
Ravi Shankar (RIP) & Norah Jones

 

Ravi Shankar (RIP), seorang sitar virtoso, memainkan Indian raga dengan 6 notes per octave. Norah Jones, putrinya, juga memainkan 6 notes per-octave, dengan pattern yang berbeda : Blues scale. Untuk contoh 5 note pattern (pentatonic scales) adalah musik traditional dari China dan Indonesia.

BTW, kenapa western music make 7 notes dalam diatonic scale? Jawabannya kembali pada teori musik era Yunani Kuno. Orang Yunani Kuno itu kayanya beneran geeky n nerdy tentang matematika, karena matematika adalah cara mereka untuk menjelaskan hal-hal yang ada di dunia, yang termasuk diantaranya adalah musik. Mereka make ratio, 2:1 untuk octave, 3:2 untuk 5th, 4:3 untuk 4th, 9:8 untuk satu tone (2nd), dst.

Prinsip ratio ini bikin diatonic scale di tuts piano keliatan aneh, asimetris kalo diliat dari A dan C. Ini gara-gara E-F dan B-C yang berjarak 1/2, bikin ada 2 tuts putih bersebelahan tanpa tuts item ditengahnya. Tentang simetris, secara chromatic tuts piano sebenernya simetris kalo dilihat dari D, dan G#.

Nord Piano 2
simetris, coba lihat dari D & G#

 

Orang Yunani Kuno juga punya beberapa pattern seperti mixolydian, hypomixolydian, phrygian, hypophrygian, dan banyak lainnya, tapi untung saja pada abad 16 or 17 standarnya dipersimpel dengan hanya 2 pattern utama, major n minor.

Bersambung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s