Classical Music Fundamentals bagian 5.2 : Scales & Sections

Posted on Updated on

Instruments
Instruments

 

Dari tulisan sebelumnya, response terbanyak dari reader adalah “bagaimana dengan para black keys?” BTW, entah kenapa mayoritas reader blog ini dari dulu justru lebih demen pada nanya via inbox, yang bikin pertanyaan yang sama musti dijawab berulang kali pada orang yang berbeda. Ini yang kayanya yang dimaksud dengan ‘mendokuse’, a.k.a. slang ‘pain in the ass’. Kalo slang itu di translate dalam Bahasa Indonesia mentah-mentah, doi jelas bukan istilah yang keren buat nama warung Japanese food..

Well, disekitar abad ke 14 black keys mulai diperkenalkan, doi ditaro di sela-sela not dalam C diatonic scale (C major), kecuali diantara E-F dan B-C (mereka udah berjarak 1/2). Dengan begono, dalam satu oktaf terdapat 12 equal pitches, tapi istilah 7 notes diatonic scale (major n minor) masih tetep digunakan sebagai pondasi di western music.

Tulisan yang pernah nyenggol major scale sebelumnya, silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/06/03/hubungan-akord-dan-skala-bagian-1-2/

contoh penulisan skala G# major atau Ab major pada sistem staves, silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/06/08/hubungan-akord-dan-skala-bagian-2/

Tentang intervals dalam major scale, silakan sek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/06/16/hubungan-akord-dan-skala-bagian-3-intervals/

Tentang diatonik modes dan hubungannya dengan natural minor scale (Aeolian), silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/08/30/modes-bagian-2/

Tentang accidentals (# dan b, a.k.a. sharps n flats), silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2010/12/09/pitch-bagian-3/

More accidentals, silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2010/12/17/pitch-bagian-4/

Tentang not enharmonis, silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/06/08/hubungan-akord-dan-skala-bagian-2/

Berdasarkan rujukan link – link diatas, semua orang bisa menuliskan skala C minor diatonik dengan benar, yaitu tentu saja bukan C-D-D#-F-G-G#-A#. Why? Para theorist lebih demen untuk menuliskan skala diatonik dengan kemunculan tiap abjad (A-G), lalu memanipulasi intervalnya dengan accidentals. Dan tentu saja, bagi para pelajar formal, cara yang berdasarkan induk utama diatonic scales (C major dan A minor) ini jauh lebih gampil dipelajari. Cara ini juga menjadi standar yang bisa mempermudah untuk berkomunikasi dengan musisi lain.

Semua referensi informasi diatas ditulis di kategori basic theory di guitar chapters, sebuah chapter dasar yang diharapkan para pianist (or keyboard player) udah jauh lebih dulu tau dan paham. Pianist punya 88 notes (52 putih 36 item) yang ready dan 10 jari yang bisa maen bersamaan, tentu saja pengetahuannya diharapkan lebih luas dari kebanyakan gitaris. Joe Pass pernah bilang bahwa sejago apapun ilmu harmony gitaris, pas maen bareng pianist yang paling culun sekalipun, musti mau nurut, karena role pianist itu sebagai ‘boss’ dalam ensemble.

Sierra Exif JPEG
siapa boss nya?

Kalo dipikir-pikir, ada benernya juga. Buku n pelajaran tentang advanced harmony kalo dirunut kebelakang, sumbernya hampir semuanya ditulis dari perspektif piano. Silakan cek sendiri untuk membuktikannya.

BTW, dalam klasifikasi instrument secara traditional, piano sebenernya masuk kategori percussion loh.

Q : Heh, lo disogok berapa sama partai kendang To?
A : Sabar Bray, orang sabar konon pantatnya lebar..

Yoi, kagak salah ketik. Sebagian pianist mungkin pada sebel kalo instrumentnya masuk partai yang sama dengan timpani, marimba, xylophone dkk. Sebenernya kagak ada yang salah dengan perkusi kok, justru perkusi konon adalah jenis instrument yang jadi leluhurnya semua instrument. Bahwa piano bunyinya dari senar kagak bikin doi otomatis masuk section strings, sama kaya cymbals n gong yang terbuat dari brass nggak masuk section brass. Alasan utamanya adalah :

Berbeda dari strings yang bisa memanipulasi pitch n texture n volume setelah not dibunyikan, karakter perkusi adalah dari bunyi langsung ke decay fade out. Kagak ada itu yang namanya bending, vibrato, slide (continous glissando or portamento), apalagi crescendo. Heheh, kasian deh para pianist..

Intermezzo, ini adalah sample experiment tentang gitaris yang berusaha nyamar jadi pemain organ dengan hanya modal chorus pedal :

Seorang teman dari tim paduan suara Unpad langsung nyengir pas 15 detik pertama sambil nyeletuk “To, organ kagak ada gliss..”

Yoi, doi bener, kayanya gitaris musti maen lebih kaku kalo mau nyamar jadi pemain organ dengan lebih otentik.

Nah, selanjutnya, kalo menurut klasifikasi dengan cara yang diklaim lebih ilmiah yaitu versi Hornbostel–Sachs, yang secara luas digunakan oleh para etnomusicologists dan organologists (dan sebagian museum), ada 5 kategori instrument :

  1. Idiophones : Semua yang bergetar secara keseluruhan, diantaranya cymbals, gongs, marimba, xylophone, glockenspiel, triangle, dll.
  2. Membranophones : Semua yang pake membran, yang pada dasarnya keluarga besar drums (congas, tom toms, bongos, djembe, tympani, dll).
  3. Chordophones : Semua instruments bersenar, including piano. Bodo amat perihal vibrato, portamento dll.
  4. Aerophones : Semua yang ditiup, including semua section dari woodwind dan brass, serta pipe organ dll.
  5. Electrophones : semua yang bikin suara dengan menggunakan listrik dan menghasilkan sinyal buat di amplifly n dibunyiin pake speaker. Yang masuk grup ini diantaranya adalah para pendatang baru macam synthesizers, samplers, dan theremins. Tapi bukan gitar listrik yeh, doi mah basically masuk chordophone di system ini.
percussion example
sodara – sodara deket piano

Walo system Hornbostel–Sachs dipake oleh para etnomusicologists, tapi secara personal ane lebih demen klasifikasi secara traditional (yang piano masuk perkusi). Berikut alasannya :

  1. Udah beberapa ratus tahun berlalu, sebagian besar orang cenderung lebih akrab dengan klasifikasi secara traditional, yaitu didasarkan pada BAGAIMANA sebuah instrument dibunyikan. Semua orang tau yang dimaksud strings section adalah instrument gesek dari keluarga violin (violin, viola, cello, double bass).
  2. Perkusi adalah instrument yang DIPUKUL, entah pake tinju (jangan coba tinju pinggiran cymbals), entah ditampar, entah pake alat (sticks, hammers), pokoke doi kagak bisa memanipulasi pitch n texture n volume setelah not dibunyikan, beneran pasrah. Piano masuk kesini.
  3. Hornbostel-Sachs adalah klasifikasi yang baru nongol, pertama kali dipublikasikan 1914 (pas 100 tahun yang lalu). Klasifikasinya lebih berdasar pada MATERI FISIK yang menghasilkan bunyi, jauh beda sama cara traditional.
  4. Akan lebih make sense kalo HOW cenderung lebih berpengaruh pada karakteristik instruments daripada WHAT. Ini penting buat para composers yang udah terbiasa dengan klasifikasi secara traditional. Tradisi juga mempermudah bagi composer pemula untuk studi.

Bersambung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s