Classical Music Fundamentals bagian 5.3 : Intermission

Posted on Updated on

PC3K8
Big Boss : you name it, she plays it

 

Yang dimaksud Boss dalam ensemble pada tulisan sebelumnya mungkin hanya berlaku pada Western music (yang tentu saja musik yang mayoritas kita dengar sehari-hari). Kalo pada sebagian atonal (modal) music, terutama pada sebagian besar non-Western traditional music, piano malah bakalan hopeless, terutama dalam hal tuning. Piano memang nampaknya didesign hanya untuk maenin Western music, almost exclusively.

However, fear not, dengan bantuan teknologi, pianist tetep bisa mempertahankan statusnya sebagai Boss, bahkan naik jadi Big Boss (so to speak) karena punya solusi gampil supaya bisa ngejem bareng gamelan dkk, yaitu via kibor. Harmony dalam traditional music jamming tetep bisa dieksekusi yaitu dengan custom tuning, or bisa juga dengan ‘all in one ultimate solution’ : via sampling. With technology, the limit is our imagination. Yoi atuh, Big Boss tea..

Jadi, yang dimaksud ‘Boss’ oleh Joe Pass adalah, dalam hal harmony, piano lebih advanced dari gitar. Dan dalam ensemble, harmony-lah yang jadi Boss, bahkan mengatur apa yang mau jadi melody-nya. Dalam musik yang kita dengar sehari-hari saat ini, misalnya pop, rock, jazz, dll, harmony dalam lagu ditentukan oleh yang kita kenal sebagai akord (progresi). Untuk menguasai harmony akord secara menyeluruh, perlu proses study yang mungkin sebanding dengan study semua permutasi melody. Kadang bisa lebih gampil, kadang bisa lebih susah, tergantung sikon dan juga perspektif :

  • Tentu saja secara umum, progresi akord ‘Sweet Child O Mine’ jauh lebih gampil daripada intro licks nya Slash, tapi..
  • Untuk sekedar lancar maenin progresi akord ‘Balonku’ versi yang tersimpel (triad), tidak segampil kalo hanya maen melody-nya. Berlaku di semua chordal instruments. Coba cek ke bocah terdekat yang blom pernah maen instruments sama sekali.

Kesimpulannya, dalam timing yang sama, maenin lebih banyak not bersamaan adalah beberapa kali lebih susah daripada maenin single lines.

“Yaahhh, itu mah bocah juga ngarti To!”

“Mungkin itu juga yang bikin para pemula lebih gampil belajar melodi duluan.”

Single lines umumnya akan dikategorikan susah kalo ada banyak not yang musti dimainkan dengan relatif cepat secara berurutan. Ini adalah area dimana bendera para shredder berkibar. Tentang shredder, kalo hanya sekedar overemphasis ke aspek shredding doang tanpa (or kurang) diimbangi dengan pengetahuan tentang harmony dan aspek lain dalam musik, yang terjadi adalah bukannya sangar, mereka malah bakalan cenderung kedengeran unyu-unyu, monoton, predictible dan un-musical (terutama dari perspektif mayoritas). Tentu saja ini terlepas dari itungan NPS-nya yang layak jadi cabang Olympiad (or Guinness World Record).

Musik yang masuk kategori keren secara universal (termasuk didalamnya impro), hampir selalu terdiri dari beberapa aspek terkait yang kadarnya pas kalo dianalisa. Selain harmony, ada beberapa hal lainnya yang seringkali dikorbankan oleh para shredder (terutama yang masih amatir) demi untuk meruncingkan speed playing-nya, termasuk diantaranya adalah hal yang super basic : dinamika. Sampe ada beberapa pemain orchestral instrument yang berkomentar :

“Jangan ngomongin texture sama timbre ke pemaen gitar, moal pada ngarti..”

Ini jelas bukan ditujukan ke semua gitaris secara umum, tetapi cenderung dimaksudkan pada sebagian gitaris yang cenderung menganggap rata dinamika karena musiknya (or sound gitarnya) terkompres dengan kadar cukup parah (yang cukup ngetrend beberapa taun belakangan). Tentu saja ini adalah tentang selera dan delivery. Dulu pas awal bermusik ane pribadi juga sempet demen musik yang relatif konstan agresif begono. Tapi beberapa taun terakhir, ane cenderung lebih demen kompresi dengan kadar yang sekedar cukup untuk membantu sustain tanpa ngebabat dinamika. Sound ini bisa dicontohkan dengan sound gitar Guthrie Govan pas make Cornford Amplification, silakan cek album beliau, ‘Erotic Cakes’.

GG n Cornford
Guthrie Govan & Cornford Richie Kotzen

Sound drive n lead beliau di album itu terdengar smooth, masih kedengeran karakter bunyi asli (clean) dari gitar, alias cukup transparan. Lead hayu, chording juga tetep detil. Sound macam beginilah yang jadi incaran oleh para tone purist : sustain iya, dinamika juga iya, kagak ada aspek musical yang jadi tumbal.

  • Warning : Maenin dengan setting ini butuh teknik yang lebih ok.
  • Reward : Way more detailed n  more expressive playing.

Back to topic. Karena harmony adalah Boss, akan lebih ok kalo dalam improvisasi kita lebih berorientasi pada chords daripada scales. Cara itu juga bikin kita nggak akan pernah kedengeran salah maenin not, kecuali mungkin teknikal (timing). Akord memang lahirnya dari scale, tapi dalam bermusik beneran, kagak ada yang bener-bener maenin scale, apalagi saat impro. Nah lo..

  • Kapanpun kita maenin scale dalam music, kita akan terdengar kaya bocah lagi latihan fingerings. Silakan coba.
  • Scales, by definition, tentu saja beda sama licks. Licks itu orientasinya adalah harmony (akord).

Untuk itu, bagi para gitaris yang ingin explore lebih jauh, akan lebih ok setelah single lines impro-nya berorientasi pada harmony, coba juga mulai memasukkan harmony dalam lines-nya. Itu mungkin bisa membantu membuat kita terdengar lebih pinter daripada keliatannya. Mengurangi ketergantungan pada backing tracks juga bisa membantu (or memaksa) supaya comping, chords vocab n groove kita lebih keren. Ini cukup penting ditekankan berkali-kali karena ada cukup banyak generasi baru yang maen leadnya gokil tapi pas ngejam bahkan nggak bisa comping. Pas ngejem mereka nyalain backing tracks, n nunggu giliran solo. Then what will happen kalo jamming-nya bareng band? Nah lo..

“Yang jadi Boss saat jamming adalah yang paling menguasai harmony, bukan yang paling mlintir n akrobatik solo-nya.”

Test simpel-nya, dari pengalaman di Dojo Gitar : Pancing kreativitas improviser dengan maenin substitusi, dari tingkat yang paling sederhana berangsur ke moderate, pas jamming dengan progresi simpel yang diulang-ulang. Orang yang cukup paham (functional) harmony bakal langsung tau kalo itu adalah sekedar “jalan lain menuju tonic”, dan doi akan mengadaptasi licks berdasarkan ilmu (dan selera) harmony-nya. Dan orang yang belum cukup paham harmony akan komplain kalo substitusi adalah akord yang salah, dan berhenti soloing karena licks yang udah diapalin kedengeran ‘kurang fit’.

Dari situ kita bisa ambil kesimpulan bahwa dalam impro, orang yang lebih paham harmony bisa maen dan explore dengan lebih fun, karena doi enjoying musik sebegitunya, doi bahkan kagak perlu nyapin (dan ngapalin) licks. Ya walopun pada awalnya study licks memang diperlukan tuk analisis n vocabs, tapi pada akhirnya, sebagai musisi dan improviser kita perlu explore karakter impro kita sendiri. Licks bisa dibikin on spot based on rhythm feel, harmony n juga mood. Makanya, explore harmony itu makanan wajib buat improviser.

metheny_mehldau
Brad Mehldau & Pat Metheny

Bagi gitaris yang udah cukup paham comping dan soloing, dan gabungan keduanya, chord melody playing memang kayanya menjadi batasan maksimal advanced harmony playing yang bisa disikat di gitar standar secara solo. Lebih dari itu, akan cenderung lebih gampil kalo disikat di piano. Bagi para advanced improviser, silakan cek permainan pianist macam Brad Mehldau, Keith Jarret, dkk, impro mereka bisa kedengeran lebih gokil dan free daripada “mayoritas improviser biasa”, karena menggunakan cara yang lebih advanced lagi dalam maenin harmony, yaitu dengan maenin polyphonic lines berdasarkan prinsip counterpoint. Teknik ini lebih dikenal dalam classical music composition, yang dimulai dari era Baroque music. Menguasai doi membuat kita nggak lagi terpaku pada progresi akord dan substitusinya. Kita bisa memainkan lebih dari 1 line melody bersamaan dan  semua lines bisa bergerak bebas serta sekaligus harmonis. Very interesting subject bagi para composers. Dan karena improvising adalah instant composing, otomatis doi juga very interesting subject buat para improvisers.

Nah dari situlah asal subject Baroque Style nongol di guitar chapter sekitar 2 taun lalu, dan piano chapter ini adalah kelanjutan journey-nya.

Bersambung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s