Classical Music Fundamentals bagian 6.1 : Jazz Parallel & Music Appreciation

Posted on Updated on

Boy giving thumbs up
jazz & classical are good

 

“Gue benci musik jazz, karena monoton bgt. ga ada klimaksnya dan ga berskill!” – Paijo bin Sopokae Mbuh, di Bandung.

Tulisan ini rencana awalnya dibikin untuk merespon komentar diatas dengan cara reply langsung ke orang-nya, tetapi kemudian nggak jadi karena pas ditulis, materinya ternyata malah ngelantur kemana – mana n terlihat cukup fit in untuk jadi sequel seri Classical Music Fundamentals, yang kebetulan udah beberapa bulan ini emang blom sempet diupdate. Tulisan ini rencananya nggak akan exclussive ngebahas classical music tok, tapi merembet ke beberapa musik lain. Namun begono, judulnya tetep nggak ada perubahan, terutama karena era (dan juga area) dari asal classical music yang cukup jauh dari waktu dan tempat kita hidup sekarang, akan lebih gampil tuk mengapresiasinya kalo dibahas secara backwards. Dan point backwardsnya sebenernya bisa dari manapun, dari musik death metal, prog rock, pop, country, jazz, or even blues : asalkan musiknya bisa ditulis di partitur, doi dipastikan masih ada hubungan sama tradisi musik dari eropa (classical music), at least di pitch dan harmonic systemnya. Nah dari salah satu point itulah khotbah promo tentang classical music ini dimulai. Komplain Paijo diatas bikin tulisan ini dimulai dari point jazz.

Dari komentar diatas, kita bisa sepakat tuk menganggap si Paijo baru melihat jazz dari kulit terluarnya aja. Dan prediksi ane, source-nya kemungkinan besar dari pengaruh media yang semua orang denger sehari – hari, bisa dari radio (dare I say, doi nggak nyetel KLCBS), or TV, or dari pengaruh temen – temennya (yang tentunya bukan straight-ahead-jazzer). Asumsinya, Paijo blom punya source yang berfungsi sebagai guru or penasehat di bidang musik, or sialnya, bisa juga si Paijo basicnya adalah orang yang close minded, or bahkan mungkin malah punya masalah personal. Ok, ini emang rada kejauhan terawangannya. Jazz dari perspektif orang awam mirip dengan “sesuatu” yang lain, yang tentunya musti dinilai secara lain juga. Seberapa “lain” itu tergantung pemahaman kita masing – masing. Buat gambaran, orang yang paham cara kerja western harmony bakal ngeliat semua musik yang make western system seperti ngeliat piramida kingdom plantae or kingdom animalia : dari heavy metal, sampe jazz, sampe classical (dan bahkan bisa juga blues) semuanya jelas terhubung. Mereka dari dekat emang terlihat seperti berada di klasifikasi yang berbeda, tetapi dari jauh bordernya bakal terlihat makin blur, sementara benang merah nya terlihat makin jelas, dan mengerucut ke satu arah : classical music (or lebih spesifiknya dari Baroque Era). Nah, Paijo dalam hal ini kalo mau mengapresiasi musik secara lebih objective, musti bisa rada mundur tuk ngeliat dari jauh biar bisa keliatan gambaran utuhnya.

Alasan “monoton banget”, “ga ada klimaksnya”, dan “ga berskill” bisa dimaklumi kalo yang dimaksud adalah sample impro ‘Giant Steps’ berikut ini :

  1. Doi boring n monoton, solonya cuman make not 1/8 non-stop, dinamikanya cenderung rata, strukturnya bolak balik (lha wong compingnya pake looper tok, kepriben maning..) Yoi, singkatnya doi monoton.
  2. Doi nggak ada klimaksnya. Asumsinya klimaks dieksekusi dengan berbagai high pitch dan high dynamic di kisaran 2/3 or 3/4 durasi lagu, dan disample itu nggak ada.
  3. Doi nggak berskill. Mungkin yang dimaksud Paijo, skill adalah speedy licks n flashy akrobatik licks on purpose. Di sample itu nggak ada.

Berikutnya, perkiraan pendapat dari orang yang bisa mengapresiasi sample itu (versi ane) :

  1. Pemaen emang sengaja exclussive impro make not 1/8 non-stop, sesuai dengan video description. Not dengan 1 flag inilah yang jadi “bendera kebangsaan” kebanyakan jazzer. Traditional jazzer emang sering make 1/8 untuk emphasize swing feel dan sesekali juga diselipin triplet or value lainnya tuk variasi, sama kaya para speed metal players macam Yngwie Malmsteen dan Jason Becker sering ngandalin make 1/16 n 1/16 sextuplet yang berderet di tiap solo-nya. Namun dosis yang kebanyakan (apalagi exclussive kaya di sample itu) tentu bikin boring.
     
    Tapi don wori, di situasi lagu normal (bukan quick sample impro kaya diatas), jazzer seperti juga layaknya musisi genre lainnya, tetep mix n match di tiap solonya.
     
  2. Jazz standard emang dari sononya cenderung lempeng – lempeng aja basic strukturnya, yang justru bikin doi jadi gampil tuk ngejem n dimaenin bareng semua orang. Tapi seperti lagu normal lainnya, tentu saja doi bisa sengaja di arrange tuk nyelipin beberapa surprise or biar lebih fit tuk dimaenin bareng orchestra, plus dimodifikasi dinamikanya.
     
    Di sample itu strukturnya basic dan bolak balik, terdengar tanpa klimaks.
     
  3. Nggak ada speed playing (tempo sample diatas blom masuk ke fast bebop style), dan cuman non-stop maen “random” not 1/8. Hal ini tentunya dianggap cukup gampil (nggak akrobatik n nggak berskill).
     
    Nah response dari point no 3 ini mungkin point tergampil yang bisa bantu orang kebanyakan (terutama para melody players) tuk mencoba appresiasi jazz dari sisi teknisnya (skill). Di kebanyakan lagu jazz, terutama yang dianggap “serem” macam ‘Giant Steps’ ini, ada daya tarik, or tantangan tersendiri bagi para melody players (improvisers), untuk bisa maen keren dan tasty sesuai struktur harmony lagu yang berkelok – kelok di tempo yang relatif cepet. Bagi improviser yang awam jazz (even bagi yang bisa speed playing dan maenin akrobatic licks sekalipun), untuk sekedar maen sesuai struktur harmony lagunya aja mungkin udah bisa jadi beban, apalagi dengan tempo cepet. Silakan coba.
     

Jazz Skill

 
Sample diatas sebenernya masih berada dikoridor basic, yaitu bermain sesuai progresi apa adanya. Sementara pada koridor yang lebih advanced, pemain biasanya akan memasukan berbagai unsur superimposisi, substitusi n outside playing di dalamnya. Kalo diperhatikan dengan detil, pilihan pitch masing – masing not 1/8 yang dipake secara non-stop buat impro di sample diatas sama sekali jauh dari random, doi emphasize (highlight dan nempel) terhadap struktur akord progresinya (yang bergerak cukup cepat n liar), dan solonya dieksekusi dengan menggunakan kombinasi dari berbagai elemen dasar dalam linear soloing (chromaticism, scalar n arpeggiation). So secara teknis, walo sekedar maenin not 1/8 tok non-stop, tapi dari perspektif harmony (bukan speed n flashy akrobatik licks) konsep soloing ini sudah bisa dibilang “ada” skillnya.

8th note
8th note

Dan tingkat skill ini bakal beberapa kali lebih susah kalo udah masuk ke area speed soloing, or bahkan naikin tempo lagu tuk masuk fast bebop. Dalam improvisasi, tingkat kesulitan (skill) ngebut di jazz bebop umumnya berada di tingkat yang lebih tinggi dari musik dengan struktur lagu tanpa modulasi, dan juga lagu dengan modulasi yang jaraknya lama. Semua bebop players bisa maen ngebut ngikutin struktur lagu dengan modulasi key center (yang unrelated) tiap 1 or 2 bar sekali, di tempo yang cepet, segitunya sampe kalo dimaenin tanpa comping, solonya potensial kedengeran nggak logis n nggak bisa dinikmati orang awam. Mereka bisa maen satu or 2 detik detik di sebuah key, detik berikutnya bisa maen di key yang berbeda. Sialnya, bebop players juga demen memperparah linesnya dengan superimpose, substitusi n maen outside, yang tentunya bakal kedengeran “salah banget” bagi orang awam, dan nggak enak didenger bagi yang blom bisa denger benang merahnya dan juga bagi yang blom bisa paham konsep tension-release (or tension-resolution) dalam musik.

Bagi para pelajar jazz yang pengen lebih paham tentang hal ini, akan lebih ok kalo punya transkrip dan analisis solo note to note dari para top bebop improvisers (or bisa juga dari para educators). Or kalo emang susah dapetinnya, coba transkrip sendiri seakurat mungkin dengan slow down musiknya (sekalian ear training), lalu analisis hubungan pilihan not impro dengan struktur akord-nya. Kalo itu juga masih kurang buat paham konsep soloingnya, silakan tambah lagi info tentang harmony sebanyak – banyaknya dari berbagai sumber. Make sense kalo ada yang bilang bahwa bebop adalah musiknya para musisi. Buat maeninnya perlu agility tingkat brutal, dan musti disertai dengan pemahaman harmony yang gokil juga.

BTW, walopun di sample itu emang nggak ada speed playing, tapi ane secara personal bisa rekomendasikan kalo konsep walking bass comping n 1/8 notes soloingnya cukup layak tuk masuk folder skill (yang musti dipelajari, terutama bagi pelajar yang pengen ngicip traditional jazz). Dan seperti layaknya sebagian besar konsep dalam jazz, konsep soloing ini musti dieksekusi dengan improvisasi. Subject improvisasi itu sendiri sebenernya udah berada didalam level yang berbeda dari sekedar composing n arranging, karena improviser nggak punya penghapus dan editor, semuanya live n on the moment. Jadi, semua yang dimaenin secara impro itu sendiri udah termasuk berskill. Dan bagi yang open minded terhadap fundamentals (dan definisi “skill” secara literal), sebenernya untuk sekedar maen lagu yang simple secara perfect-in-time-on-beat itu juga udah termasuk skill. Dan berikutnya, sengaja aksen di weak beats (a.k.a. backbeat) juga udah termasuk skill. Skill itu bisa sesimpel sekedar maenin basic groove sampe dengan segokil nranskrip by ear semua part dari symphonic orchestra.

Ini ada video jazz standard dimainkan secara non-standard (Alex Machacek maenin “Donna-Lee, The Easy Viennese Teenage Version”) yang kebetulan kalo dari perspektif ane jelas banget nge-checklist semua keluhan si Paijo :

  1. Dari note choices dan rhythmnya, jelas banget di video itu super variatif.
  2. Klimaks ada di ending solo impro, beliau sustain high note. Compingnyanya sendiri rada rata dinamikanya, mirip versi traditionalnya.
  3. Skill? Gokil! Speed ada, tapping ada, blom lagi itu di dieksekusi di lagu Donna Lee yang notabene strukturnya termasuk serem bagi mayoritas jazzer. Dieksekusi secara impro? Jelas!

Appreciation

Nah, so far, Paijo udah punya tambahan perspektif kalo jazz itu nggak selebar celana kolornya. Seperti berbagai jenis musik pada umumnya, selalu ada beberapa lagu yang menurut selera kita emang kedengeran boring. Tapi kalo ada banyak orang yang demen jenis musik itu, berarti mustinya ada juga sebagian lagu lainnya yang keren. Kalo semua lagu dari suatu jenis musik kita anggap boring, kemungkinan besar ada yang salah dengan perspektif kita dalam menilai musiknya. Tulisan ini mencoba untuk menyingkap hal itu.

Yummy..
yummy n healthy

Kita semua pasti lebih milih makanan yang menurut kita enak, tapi ada juga waktunya kita musti mengkonsumsi makanan yang sehat, walopun makanan itu bukan makanan favorit kita. Kalo tetep ogah, maka untuk tetep sehat kita cepat ato lambat bakal segera berurusan dengan suplemen, bahkan obat yang rasanya pahit nggak karuan itu. Nah begitu juga di musik. Sebagai orang yang belajar musik, kita perlu mengetahui alasan suatu karya menjadi rujukan para edukator untuk membantu membuat kita makin musical, terlepas dari selera awal kita terhadap bunyinya. Lalu kemudian kita akan mendengarnya, mempelajarinya dan mengapresiasinya. Kalo ogah, pemahaman n kemampuan musik kita nggak akan ada kemajuan.

Inilah alesan kenapa beberapa musisi yang kita idolakan dulunya belajar dari source yang kita sendiri mungkin nggak terlalu demen sama musiknya. Sedikit contoh yang cukup terkenal : Joe Satriani belajar pada bebop pianist Lennie Tristano. Lalu John Petrucci merekomendasikan study chording ke Ted Greene, seorang fingerstyle jazz guitarist.

  • Point utama dari apresiasi musik adalah melihat dari berbagai sisi ke sebuah musik dan mencari tau pesan or ekspresi yang berusaha disampaikan oleh si musisi, dan tidak menilainya dari apa yang pengen kita denger (dari si musisi).
     
    Musik yang gampil itu ibarat make bahasa gamblang, dan musik yang berat itu ibarat make bahasa kiasan, kita perlu pemahaman menyeluruh dari berbagai macam term dan konteks penggunaannya untuk bisa nangkep maknanya. Rewardnya juga serupa, paham bahasa gamblang itu semua orang udah tau dan doi dipake sehari – hari (contoh tergampil : perintah boss ke pembantu). Sementara itu, dengan paham bahasa kiasan kita jadi punya “tafsir” tuk menangkap (dan juga berbagai “konteks” tuk menyampaikan) sesuatu secara lebih artistik, lebih daripada sekedar makna asal tiap kata (contoh tergampil : puisi para pujangga)
  • Or kalo definisi “melihat dari berbagai sisi” itu masih susah dipahami, kita bisa pake analogi focus. “Melihat dari berbagai sisi” mungkin kita bisa analogikan ngeliat seseorang dari depan, samping, atas, belakang, dst. Kalo ngeliat dengan focus, berarti mirip ngeliat orang dari perspektif yang sama, tapi dengan fokus ke hal yang berbeda, bisa ke rambutnya, merek bajunya, or even jenggotnya.
     
    Musik itu terdiri dari berbagai macam elemen yang jika diperlukan, masing – masing bisa di rating secara terpisah. Dan kalo udah dipretelin, kita bakal nemu kalo sebagian orang cenderung demen teknik n speed, sebagian orang demen detil individual notes, sebagian orang demen pergerakan harmony-nya, sebagian orang demen groovenya, sebagian orang demen lyricsnya, sebagian orang demen orkestrasinya, sebagian orang bahkan mungkin demen tampang musisinya, dsb. Walopun ada cukup banyak point yang bisa kita perhatikan, sebenernya musiknya sendiri biasanya udah ngasih indikasi ke hal tertentu yang ditonjolkan untuk diapresiasi.

Contoh penerapan tergampilnya bisa make post yang udah ada. Sample ‘Giant Steps’ diatas, seperti semua sample video ane lainnya, adalah sample video singkat yang dibuat untuk keperluan referensi edukasi. Mereka semua jadi rujukan langsung di blog ini karena didalamnya memang terdapat banyak penerapan materi yang disenggol disini. Dan karena dibikin oleh orang yang sama, jadi lebih gampang tuk ngejelasin tiap detilnya dari sudut pandang objectnya langsung. Hampir semua sample ane hanya fokus pada penerapan 1 or 2 ide utama yang dieksekusi secara gamblang biar gampil didengar n nggak terlalu mengintimidasi para pelajar. Sample diatas bukanlah end result dari apa yang bisa di capai saat ‘Giant Steps’ musti dimainkan di performance level, dimana ekspektasi audience (dan juga ane pribadi) pasti beberapa tingkat lebih tinggi daripada sekedar versi quick demo nya.

Jadi untuk mengapresiasi dengan optimal, audience musti menggunakan sudut pandang (or focus) yang paling sesuai, yang indikasinya biasanya udah ada dari musiknya sendiri.

Berhubung ‘Giant Steps’ adalah salah satu lagu yang pergerakan harmony-nya ter-mlintir khususnya di jazz, maka setelah kita bisa mengapresiasinya, otomatis progresi harmony mayoritas lagu lain akan jadi relatif lebih gampil tuk diapresiasi. After all, harmony adalah salah satu aspek utama dalam musik yang langsung berpengaruh secara gamblang pada tingkat kesulitannya untuk diapresiasi. Aspek lainnya yang juga gamblang dan langsung kedengeran adalah aspek rhythm dan juga melody. Perihal rhythm, mayoritas fans Frank Zappa n Dream Theater udah pasti gampil mengapresiasi yang aneh – aneh.

Frank Zappa
Frank Zappa

Tentang contoh polyrhythm, silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/05/07/rhythm-bagian-11-polyrhythm/

Tentang rhythm dan meter (birama), silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/06/05/classical-music-fundamentals-bagian-3-2-rhythm-meter/

BTW, di jazz sebenernya masih ada jenis musik yang relatif lebih susah diapresiasi daripada bebop, yaitu avant-garde or free jazz. Cuman karena ane blom nyampe ke area itu (or lebih tepatnya males explore karena di gitar nggak bisa beneran bebas maen secara solo), jadi cuman bisa ngasih contoh sampe sebatas bebop aja. Tapi kalo make piano, kayanya bakal fun tuk sesekali ngicip jalan – jalan ke area itu.

Jazz Parallel

So far, sebenernya point utama dari apresiasi musik dan contohnya udah tersampaikan. Nah, kalo dari point ini kita lanjut promo classical music ke si Paijo, kemungkinan besar doi bakal lebih gampil nerima-nya. Paijo bahkan mungkin juga udah bisa mencoba langsung apply sendiri prinsip apresiasi ini ke berbagai macam jenis musik lain (rockabilly, blues, death metal, dll) tanpa bantuan contoh n penjelasan lebih jauh.

“Lah, kenapa langsung loncat dengan konklusi begono To?”

“Karena sebenernya hubungan jazz dan classical itu lebih deket daripada yang mayoritas orang kira. Para pelajar jazz n classical yang dengerin George Gershwin’s ‘Rhapsody in Blue’ pasti bakal setuju.”

Persamaan mereka :

  1. Mereka sama – sama punya basic form dan struktur.
  2. Mereka sama – sama punya rhythmic n melodic development.
  3. Mereka sama – sama make berbagai musical expression.
  4. Mereka sama – sama make akord dan skala mayor + minor.
  5. Mereka sama – sama punya akord progresi.
  6. Mereka sama – sama punya soloist dan pengiring.

Sementara beda paling nyolok-nya adalah :

  1. Rhythm. Di classical beneran literal saklek sesuai yang ditulis, sementara di jazz make swing feel.
  2. Di jazz musisinya pada demen improvisasi dan bikin musik jadi personal, di classical musisinya pada maen seakurat mungkin dengan versi aslinya (dan karena nggak ada rekamannya, ini berarti interpretasi seakurat mungkin dari partitur).
  3. Nyambung dari point sebelumnya, jazzer juga bisa bebas memodifikasi melodi aslinya, sementara di classical itu adalah dosa besar.
  4. Kombinasi instrument yang berbeda dalam ensemble. Ada drummer jazz (or rock or blues, dll), tapi nggak pernah ada drummer classical. Di classical, perkusi dipake untuk aksen, sementara di jazz (dan musik kontemporer lainnya) untuk beat keeper (time reference).

 

tidak ada drummer classical
ada drummer jazz (or rock or blues, dll), tapi nggak pernah ada drummer classical

Yang menariknya nih, kalo diperhatikan mereka bahkan punya periode sejarah yang cukup parallel :

  1. Classical : Baroque era (1600 – 1750)
    Musisi : J.S. Bach (bokapnya C.P.E. Bach), George Frederic Hendel, Antonio Vivaldi, Alessandro Scarlatti (bokapnya Domenico Scarlatti), Johann Pachelbel, dll.
     
    Jazz : Dixieland era (1900 – 1930)
    Musisi : Louis Armstrong, Jelly Roll Morton, dll.
     
  2. Classical : Classical era (1700 – 1820)
    Musisi : C.P.E. Bach, Joseph Haydn, W.A. Mozart, Domenico Scarlatti, dll.
     
    Jazz : Swing/Big Band era (1930 – 1950)
    Musisi : Duke Ellington, Benny Goodman, dll.
     
  3. Classical : Romantic era (1820 – 1900)
    Musisi : Frederic Chopin, Franz Lizst, Richard Wagner, Franz Schubert, Antonin Dvorak, Sergei Rachmaninov, Niccolo Paganini, Johann Strauss I dan II (si bapak & si anak), dll.
     
    Jazz : Bebop era (1945 – 1960)
    Musisi : Dizzy Gillespie, Charlie Parker, dll.
     
  4. Classical : Impressionist era (1890 – 1920)
    Musisi : Claude Debussy, Maurice Ravel, dll.
     
    Jazz : Cool era (1955 – 1965)
    Musisi : Miles Davis, Dave Brubeck dll.
     
  5. Classical : Expressionist era (1920 – )
    Musisi : Arnold Schoenberg, dll.
     
    Jazz : Avant-Garde (1965 – )
    Musisi : Ornette Coleman, John Coltrane, Cecil Taylor, dll.
     

Ada beberapa musisi avant-garde lain yang cukup dikenal tapi nggak langsung nyambung dengan jazz or classical secara traditional, diantaranya adalah Bjork, Buckethead, dll.

bjork
Bjork

Untuk kategori no 5, baik classical maupun jazz keduanya punya karakter yang bisa dibilang hampir sama persis :

  • Expressionist : Ngebuang semua aturan apapun dalam bermusik.
  • Avant-Garde : Sama dengan free jazz, udah jazz, free pula.. Kebayang kan?

“Kenapa ada musik yang begono To?”

“Karena basicnya, musik adalah expresi via bunyi. Ekspresi mah gimana musisi-nya aja..”

Nggak ada aturan baku untuk berekspresi. Walopun mayoritas orang lebih demen maen n denger sesuatu yang teratur n terorganisir, tapi ada juga sebagian ekspresi yang akan lebih ok disampaikan secara free flowing, unorganize, bahkan bisa juga melibatkan random sounds n natural noise. Umumnya area ini diicipin oleh orang yang udah paham ngelotok prinsip – prinsip dari organize music, mereka mencari sesuatu yang lebih fresh sounding beyond traditional rules. Bagi yang baru mulai bermusik n belom paham traditional rules, sebaiknya jangan langsung maen di area ini. Bahaya!

Kalo cuma sebentar, ane biasanya masih bisa mengapresiasi musik selevel ini secara objective (nggak ikut – ikutan pendapat orang or trend). Tapi kalo durasi-nya cukup lama, ane biasanya mulai kehilangan reference point tuk stay objective, terutama di situasi extreme yang melibatkan kata “poly” didalam musiknya macam polytonality, polytempo, dll. Musik – musik ini berada di level yang sama sekali berbeda dari musik standar, karena ada banyak hal yang terjadi secara bersamaan dengan orientasi yang berbeda. Ini mirip mengamati aktivitas banyak orang di sebuah hall studio sekaligus, misalnya didalamnya ada yang lagi syuting sinetron, ada yang lagi pengajian, dan ada lagi yang maen futsal, dst. Bagi orang kebanyakan, sangat susah untuk menikmati salah satu dari kegiatan itu, dan apalagi menikmati semuanya sekaligus.

Tips untuk tetep nyengir n memahami kondisi itu adalah kebalikan dari apresiasi secara normal. Normalnya kita akan zoom in terhadap berbagai elemen musik secara individual yang dimainkan secara sinergis, dan menilainya berdasarkan kontribusinya terhadap pesan yang kita tangkap. Tapi di musik “poly”, hal ini nggak bisa diterapkan. Cara yang bisa kita lakukan adalah dengan zoom out, dan menilai bagaimana beberapa hal yang terjadi bersamaan dan nampak unrelated satu sama lain itu ternyata juga punya ekspresi or pesan yang bisa ditangkap, dan juga diapresiasi. Dan ketika kita udah bisa menangkap maknanya, maka hal – hal yang nampaknya unrelated itu ternyata memang ada maksudnya, mereka ada disana on purpose, composernya juga nggak ngawur. Untuk lebih paham tentang hal ini, coba cek lagi film ‘Vantage Point'(2008). Disitu tiap karakter melakukan berbagai hal yang nampaknya unrelated dalam satu setting, dan kita tetep bisa nangkep story-nya.

 ‘Vantage Point'(2008)
‘Vantage Point'(2008)

Bagi yang baru pertama kali nyoba dan mengalami kesulitan tuk menikmati jenis musik baru, tips nya adalah kita perlu ngebuang sebagian preferensi pribadi dalam menikmati musik baru itu. Dengan begono ada ruang yang tersedia bagi jenis musik baru itu untuk masuk dalam folder apresiasi kita. Lalu kemudian dari situ bisa terbentuk preferensi baru dalam menikmati musik dengan parameter yang lebih luas.

Lebih jauh tentang subject music appreciation bisa digali via courses n sekolah – sekolah musik..

  • Apaan tuh music appreciation?
     
    Doi adalah musical training untuk meningkatkan kemampuan apresiasi, menambah pemahaman terhadap musik dan menambah kenalan dengan berbagai jenis musik. Umumnya subjectnya cenderung mengarah ke “classical” art music macam symphony, opera, chamber musics, dll. Tapi ada juga yang merembet ke pop, theater, world music, dll.
     
  • Kenapa musti belajar untuk menikmati musik?
     
    Karena ada beberapa jenis musik yang bakalan sangat ok tuk didengerin saat kita lebih ngerti. Kita bahkan akan lebih bisa menikmati musik yang udah kita sukai saat ini di tingkatan yang lebih tinggi. Inget pas pertama minum Coca Cola pas masih bocah dulu? Rasanya nggak karuan n jauh dari es krim kan? Tapi nyatanya sekarang kita santai aja minum Coca Cola, sebagian musisi malah udah terbiasa nenggak minuman yang lebih maknyos. Contoh lainnya yang lebih gampil lagi mungkin adalah rokok. Ane cukup yakin kalo para perokok pada batuk pas pertama kali sengaja ngisep asapnya.
     

Nah, di musik juga begono. Dengan mempelajari music appreciation, beberapa music yang tadinya nggak menarik bisa aja nantinya kita jadi demen, dan beberapa musik yang sekarang udah demen jadi makin demen.

Mendengar vs Mendengarkan

listening beda dengan hearing
hearing beda dengan listening

Hari ini musik terdengar dimana – mana, tempat shopping, restoran, elevator, bahkan toilet. Musik ini sekedar kita dengar karena mereka memang dimainkan sebagai latar, kita-nya juga nggak dengerin secara spesifik. Lagian siapa juga yang niat ke toilet buat dengerin musik? Nah ini yang dimaksud mendengar musik.

Berbeda lagi saat kita mendengarkan dengan seksama dan mencurahkan perhatian untuk itu, kita sedang mendengarkan musik. Kita musisi melakukan hal ini ketika ngulik lagu, dan seringkali kita nemu banyak hal yang nggak ketauan kalo sekedar mendengar tok.

Untuk bisa mendengarkan dengan ok, seringkali kita butuh lingkungan yang sesuai untuk itu. Musisi Rock biasanya maen di stadion, dan musisi classical biasanya maen di concert hall. Beda tempat sangat berpengaruh pada cara kita dengerin musiknya, dan beda jenis musik butuh tempat yang beda pula untuk bisa didengerin dengan ok. Tapi semua orang bakal setuju kalo definisi tempat terbaik untuk dengerin musik adalah tempat yang tenang tanpa gangguan.

Tiap aspek dari musik bakalan kedengeran lebih detil saat kita mendengarkannya di tempat yang tenang. Bakalan susah kalo kita nekat study classical music di kamar kos – kosan konvensional, apalagi kalo kamar kita sebelahan dengan fans fanatik Lamb Of God, or fans fanatik house music. Jenis musik metal n house music tentunya nggak akan nendang kalo disetel sebatas volume 1 or 2. Beda dengan mata yang bisa nolak untuk ngeliat sesuatu (dengan cara merem, or liat ke arah laen), kuping bakalan welcome semua bunyi yang ada di sekitar kita tanpa diskriminasi. Beban otak bakalan meningkat berlipat ganda kalo kita nekat ngulik di lingkungan yang rame. Di tempat itu walopun kita ganti materi study ke musik yang juga nendang macam Dream Theater sekalipun, untuk ngulik note-to-note nya Jordan Rudess tetep aja butuh lingkungan yang lebih tenang (dan juga software slow downer yang handal).

Bagi yang study musik dengan serius, sangat disarankan untuk punya tempat yang mendukung untuk itu. After all, penguin nggak tinggal di gurun dan kaktus nggak tumbuh di Himalaya. Pelajar musik juga perlu habitat yang sesuai untuk bisa tumbuh maksimal.

penguin di gurun?
penguin di gurun?

 

Kritik

 

“Nah To, gimana cara apresiasi musiknya Kufaku Band?”

Well, yang pertama musti kita apresiasi adalah vocalist Kufaku yang nggak melakukan koreksi di post produksi (dan nggak lip-sync saat live, karena tentu saja nggak ngaruh). Itu beneran murni ekspresi mereka tanpa pake bedak, topeng n karbit. Berikutnya, komposisi musiknya ini termasuk spesial case dan nampaknya kita perlu mengapresiasinya secara “expressionist” or “avant-garde”. Musik di video klip perdana-nya, mereka nampaknya menggunakan referensi tuning yang berbeda tuk tiap instrument (masing – masing selisih sekitar beberapa puluh cent), dan diatasnya juga ada vocal yang cukup sering melakukan superimpose tuning sepanjang lagu. Perpaduannya menghasilkan musik experimental yang kayanya belum pernah terdengar sebelumnya (tentu saja karya Charles Ives dan Universe Symphony-nya nggak dihitung). Mungkinkah Kufaku lagi nyoba bermain polymicrotonal di lagu pop ballad? Bisa jadi..

Nah, karena hal yang berhubungan dengan “expressionist” dan “avant-garde” ini diluar kapasitas ane, maka saat ini ane baru mampu mengapresiasi musik mereka dari sebatas sisi humornya.. Dalam hal ini, misi mereka yang satu itu sangat sukses.. Banget!

Recovery :

Buat yang baca sampe sini lalu langsung search n dengerin Kufaku Band, terutama video perdananya, kemungkinan besar mood nya akan terbawa “avant-garde”. Dalam hal ini ane musti bertanggung jawab tuk mengembalikannya, minimal seperi sebelum baca tulisan ini, or kalo bisa, much better. Salah satu yang bisa jadi solusi adalah dengan cek musiknya Frau, seorang vocalist, pianist n song writter yang sama- sama masih dari Indonesia. Lagu – lagunyanya bisa dibilang sama – sama unconventional bagi standar lokal, dengan explorasi mood n harmony serta unforgettable vocals, tapi tetep gampil didenger secara umum. Music video ini bisa tuk remedy, dan juga ok buat object study :

Note : Para fans-nya Andrew Lloyd Webber mungkin bakalan pada demen sama musik Frau diatas.

Sample lain yang bisa jadi remedy, terutama bagi penggemar musisi Jepang adalah musiknya Mika Kobayashi. Ketika sebagian besar penyanyi cewek Jepang pengen keliatan dan terdengar cute, Mika malah nekat menggila (dan tetep cute). Berikut adalah live Mika Kobayashi n Sawano Hiroyuki di lagu ‘Bauklötze’, OST Attack on Titan (Shingeki no Kyojin) :

Walopun lagunya make bahasa German yang orang Jermannya sendiri pas liat pada bilang pronunciation-nya sebagaian kurang bener, tapi hal itu malah dianggap yang bikin karakter lagunya jadi khas n spesial. Nah, kebetulan dalam subject apresiasi ini, it’s up to audience’s perpective, mau dikritik karena pronunciation-nya kurang bener, ato mengapresiasi karakter khas n power vocalnya yang gokil?

Sampe disini mungkin ada yang berpendapat bahwa akan lebih ok untuk bermusik yang bisa menyentuh banyak orang dan didengerin berulang – ulang oleh audience, daripada sekedar pengen buktiin bahwa kita jago n bisa maen banyak teknik secara flawless. Ini adalah misi dari sebagian besar musisi dan ane pribadi setuju banget. But even so, sebelum mencapai tahap itu, kita tetep aja butuh banyak informasi serta fasilitas musical yang memadai, dan teknik adalah salah satunya.

Godaan terbesar bagi yang baru aja menguasai teknik adalah keinginan tuk mengumbarnya tiap saat dengan dosis tinggi sebagai sajian utama dalam musiknya, tanpa peduli konteks penggunaannya. Ini terjadi disekitar kita sebegitunya sampe sebagian musisi pada lupa tujuan awalnya, yaitu menyentuh banyak orang, beneran didengerin pesannya dan dinikmati musiknya. Yang udah lama punya temen musisi dan ngamatin musiknya sejak masih culun sampe jago pasti tau perubahan temen – temennya ini. Subject ini nyambung dengan tulisan sebelumnya yang ngebahas shredding :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/10/08/technique-speed-playing-shredding/

Kalo diperhatikan dari tulisan – tulisan sebelumnya, sebenernya udah ada beberapa posts yang menawarkan berbagai perspektif untuk bisa mengapresiasi berbagai macam jenis musik.

Knowledge is one of the main key

Karena sifatnya yang cenderung negatif, ane akan singkat aja nyenggol hal yang berhubungan dengan mengkritik musisi/musik lain. Dengan tau apresiasi, sebenernya kita juga otomatis tau cara mengkritiknya (mampu nge-gambar ‘yang’ otomatis keliatan ‘yin’-nya). Cuman, ane lebih menyarankan untuk menghindari mengkritik musisi/musik orang lain, unless pekerjaan kita emang jadi kritisi musik (music critic), or unless kita diminta untuk itu (juri kompetisi, dsb).

Why is that?

Karena mengkritik musisi/musik lain itu adalah selalu subjective matter. Fokus pada jeleknya nggak akan bikin kita jadi hepi, apalagi bagi musisi yang dikritik.

  • Para kritisi musik (para spesialis yang opininya dihormati di komunitas & industri) itu telah menempuh training dan menghabiskan hidupnya tuk study berbagai macam musik n punya kemampuan untuk menilai suatu karya seobjective mungkin. Nggak banyak orang study sedemikian rupa, otomatis nggak banyak orang bisa melakukan kritik yang beneran berbobot se-objective mungkin, apalagi pada orang yang belum dikenal luas musicality-nya. Umumnya sebagian besar musisi musti bisa diapresiasi banyak “orang awam” duluan sebelum karyanya didenger para kritisi. Tapi ada juga sih sebagian yang bisa langsung didenger karena rekomendasi musisi yang berpengaruh (professors dari sekolah musik, musisi senior, kenalan, dll).
  • Juri kompetisi yang bukan berlatar dari music critic dan nggak study musik secara mendalam, mereka akan cenderung menilai berdasarkan preferensi pribadi dan keterbatasan pemahamannya. Misalnya, kalo si Paijo (contoh awal diatas) jadi juri, bisa – bisa semua musisi traditional jazz dan pengikut Arnold Schoenberg yang ikut kompetisi pada fail dalam hal “klimaks” dan “skill”. Tapi ini adalah hal yang nggak bisa dihindari : Saat seseorang jadi juri, para peserta kompetisi musti mempercayakan kompetisi itu pada penilaiannya (or seleranya).

Musik apapun dan dimanapun granted selalu ada beberapa kalangan yang harder to impress daripada kalangan lainnya, karena tiap orang punya pemahaman dan standarnya masing – masing (subjective matter). Tapi even bersifat subjective, critics tetep musti constructive terhadap object (musiknya) dan juga nggak mengarah dengan sesuatu yang secara nggak langsung berhubungan dengan musiknya.

Adele
Adele

“I don’t make music for eyes. I make music for ears” – Adele

Sialnya, even bagi kalangan yang paham apresiasi musik kelas berat macam di liga classical sekalipun, masih tetep ada juga yang sengaja publishing kritik yang nyelipin komentar konyol, non-musical, dan cenderung melecehkan (terutama pada pendatang baru yang lagi debut, jadi rada mirip lagi di ospek), seperti “kalo aja si pianist mau make rok yang lebih mini lagi, audience mungkin mau bayar lebih mahal”. Hal ini beneran terjadi, sebuah official review yang ditujukan ke musisi selevel world class concert pianist, oleh world class media.

Mungkin, satu – satunya musik yang nggak akan dapet kritik serius dari kalangan manapun adalah lagu anak – anak yang umum macam ‘Balonku’ or ‘Burung Kakaktua’.

Berbagai hal yang sensasional seperti review konyol oleh major media cukup umum terjadi sekarang ini, karena walopun untuk maen musik saat ini relatif lebih gampang daripada jaman dulu (thanx to internet dll), tapi saat ini untuk menghasilkan banyak duit dari musik tetep nggak lebih gampang daripada jaman dulu (jumlah kompetitor bertambah luar biasa banyak, plus berbagai sikon yang nggak support musisi). Saat ini standar musicality meningkat drastis, sementara banyak musik berkualitas bisa didapat dengan gratis. Saat ini, butuh musicality yang exceptional dan juga hal yang sensasional agar musisi bisa mendapat perhatian banyak orang. Dan itu juga baru sebatas perhatian, belum masuk ke apresiasi lalu komersialisasi untuk support musisi-nya.

Dari perspektif audience, salah satu yang bisa kita lakukan dalam menyikapi hal ini adalah meningkatkan apresiasi musik agar art music dan berbagai musik yang kita anggap keren nggak pada punah. Dari perspektif musisi juga sama, kita musti tetep terus aktif berkarya dan sharing ilmu pada sesama biar musik – musik yang kita anggap keren bisa tetep terus terdengar dan dimaenin banyak orang.

Gimana dengan musik yang nggak kita anggap keren?

No big deal. Musik kita nggak akan tambah keren hanya dengan menjelek – jelekan musik dari musisi laen kan?

dave grohl
Dave Grohl (Nirvana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s