Modes : Personal Perspective

Posted on

Kids

Kenapa inbox ane di sepanjang 2014 sebagian besar berisi variasi pertanyaan tentang modes dan penerapannya? Kayanya beberapa materi tentang modes di blog ini masih belum cukup jelas, at least bagi mereka yang nanya. Well, don wori, ane akan mencoba nyenggol modes lagi secara lebih personal, karena mungkin alesan personal ane bisa jadi potongan puzzle yang bakal membantu melengkapi gambaran utuh tentang modes.

Dibawah ini adalah beberapa variasi dari FAQ tentang modes di inbox, ane akan coba jawab ulang secara lebih personal tanpa terikat dengan perspektif standar dari para theorist mainstream, plus disertai beberapa contoh penerapan :

Q : Apaan tuh modes?

A : Modes adalah rotasi dari sebuah scale. Definisi ini jauh lebih simpel dari definisi di buku – buku teori yang lebih panjang dan berpeluang untuk disalah pahami dari perspektif improviser pemula. Dengan definisi ini, penting ditekankan bahwa modes itu sama dengan scale, hanya diputer aja not yang berperan jadi root-nya.

Q : Siapa yang bikin modes?

A : Entahlah. Kayanya nggak mungkin leluhurnya si Paijo bin Sopokae Mbuh. Kalo ngeliat nama – nama dari diatonic modes, kemungkinan besar sih wong Yunani. Silakan coba tanya ke para musicologist. Ane pribadi sih lebih nyaranin tuk paham penerapapannya daripada nyelidikin siapa yang bikin.

Q : Modes teh aya sabaraha hiji?

A : Modes yang paling terkenal di buku teori ada 7, yang berasal dari sebuah diatonic scale. 7 modes itu masing – masing punya nama – namanya sendiri. Nah yang nggak terkenal dan nggak bernama sebenernya masih ada banyak. Kalo pengen tau persisnya, jumlah modes = jumlah penyusun not dalam scale. Nah karena scale sendiri ada banyak, jadi modes ada lebih banyak lagi.

Q : Darimana asal modes?

A : Doi berasal dari scale. Kalo nanyain asal penamaan dari diatonic modes, konon mereka berasal dari nama kerajaan dan suku – suku dari daerah mediteranian saat peradaban Yunani Kuno.

Q : Kapan kita musti make suatu modes tertentu?

A : Nggak ada yang “musti” dalam musik, ini kayanya lebih ke soal selera dan konteks. Walo begono, umumnya suatu modes dianggap hanya cenderung fit di situasi harmony tertentu yang karakter bunyinya serupa. Di situasi harmony lain, modes + harmony dengan karakter yang berbeda bisa dipake saling melengkapi untuk membentuk karakter bunyi baru (superimposisi), sementara di situasi lainnya lagi kalo dipaksakan bisa saja bunyinya kedengeran kaya suami-istri yang lagi berantem. Jadi, pada dasarnya modes yang “musti” dimainkan itu ditentukan oleh harmony.

Q : Sejak kapan para musisi pada make modes? Apakah modes juga di pake di classical music?

A : Weits, yoi dong, mereka juga dipake di classical music. Perihal detil sejarah kayanya akan lebih ok kalo ditanyain ke para musicologist. Modes yang terkenal dan dipake hari ini itu adalah cuma segelintir dari berbagai modes yang bisa bertahan hidup sejak jaman Yunani Kuno.

Q : Modes apa aja yang bisa bikin musik kedengeran lebih bagus?

A : Damn, yang ini rada susah dijawab.

Basically, modes bukanlah komponen utama yang bisa diandalin buat bikin musik selalu kedengeran keren, walopun istilah “keren” sendiri bisa sangat subjective. Pas demen shredding saat awal belajar musik dulu, perspektif ane masih cukup sempit, saat soloing bisa dipastikan ane cenderung maen scalar (lurus naik, lurus turun, or kombinasi keduanya, sequential pattern based) as it is, tanpa pertimbangan lain. Dengan perspektif ini ane menyangka bahwa maenin deretan not yang nggak standar (penggunaan bebas diatonic modes dan juga maenin exotic scales) adalah “rahasia” dari solo impro yang tasty. Menggunakan modes secara non standar memang bisa bikin musik kedengeran bervariasi, tapi tetep nggak otomatis bikin musik kedengeran keren. Memang pada awal mulai bermusik, begitulah definisi musik keren bagi ane. Sekedar maen scale n modes yang bisa dikebut naik turun itu keren. Tapi beberapa saat setelah ane study musik lebih jauh, standar definisi “keren” ane mulai meningkat drastis. Scale n modes hanyalah sebagian kecil dari banyak hal lain yang buat bikin musik jadi keren, plus mereka nggak bisa dipake dengan sembarangan/random/kumaha manehna. Dalam peranannya untuk menyampaikan ide via musik, mereka hanyalah sekedar deretan abjad. Mereka bahkan belum berbentuk kata, masih jauh dari kalimat, sangat jauh dari paragraf, dst.

Belum lagi dalam diatonic modes ada yang namanya “avoid note”, yang artinya kurang lebih not yang musti dimainkan dengan hati – hati karena potensial ngerusak harmony.

avoid
yang pengen maen aman, silakan belok kanan

Kalopun ada scale yang bisa dibilang relatif lebih bisa diandalin di berbagai situasi, mungkin adalah pentatonic (yang anhematonic alias nggak punya half step). Tapi saat dimaenin secara exclussive dan dimaenin plek sesuai harmony, scale ini termasuk scale yang hambar, nggak tasty dan terlalu aman bagi orang yang demen spicy music. Scale ini dibilang aman karena nggak punya half step yang umumnya potensial bikin trouble di kebanyakan lagu. Dengan alesan yang sama, doi jadi kedengeran kurang karakter kalo dimaenin polosan tanpa kombinasi dengan scale lain, karena half step itulah yang bikin karakter (contoh : coba cek mode phrygian dan scale harmonic/melodic minor).

Biasanya para pemula berkenalan dengan anhematonic pentatonic duluan buat bluffing impro di depan temen – temennya, tapi scale yang dianggap hambar ini bukanlah beginner’s exclussive scale. In fact, nggak ada di musik yang namanya beginner’s exclussive thing. Di gitar, para jagoan tetep make open position chords, power chords, barre chords, dll. Di piano, “student’s voicing” chords juga tetep banyak dipake oleh para professors (upper structure). Ini berlaku untuk semua hal, termasuk pentatonic scales. Yang bikin beda antara beginner/student level dengan para veteran adalah konteks penggunaanya.

Walopun nggak nambah vocab baru, or teknik baru, teori baru, or apapun yang baru, tapi kalo bisa nambah pemahaman tentang konteks, itu udah cukup untuk bikin para beginner/student players bisa step by step naek level hingga advanced players. Nggak percaya? Silakan cek para traditional blues players.

Bagi spicy musicians, anhematonic pentatonic bisa dimainkan secara bebas sesuai konteks yang diinginkan dan nggak melulu dimainkan buat bunyiin karakter tradisionalnya (Minor 7add11 or Major 6/9). Di akord dominant, kita biasanya masih bisa make minor pentatonic di root untuk efek bunyi yang bluesy, tapi sebenernya skala minor pentatonic juga bisa dimaenkan di b3 dan 5 dan b7 dari dominant chords untuk bikin karakter altered. Dengan begono, tiap not dari pentatonic bakalan membantu mendramatisir karakter tension dari akord dominant. Ini adalah contoh penerapan dari superimposisi (layering dari elemen yang berbeda karakter tuk bikin karakter baru) dalam musik.

So, intinya nggak ada modes yang bisa memastikan musik bakal selalu kedengeran bagus. Sebenernya kita bisa bikin musik bagus dengan hanya fokus ke sebuah mode aja, asalkan harmonic n rhythmic konteksnya nya ok bisa dipastikan musiknya juga bakal kedengeran ok. Sebaliknya, kalo kita maen menggunakan berbagai modes tanpa beneran paham harmonic n rhythmic konteks nya dalam musik, hasilnya kemungkinan besar bakalan kedengeran nggak ok.

Jadi kalo mau musik kedengeran bagus, lebih ok tuk prioritas study harmony n rhythm duluan daripada explorasi modes.

Sample : Explorasi impro make mode lydian dominant di lagunya Mike Stern ‘Jazz Funk’ :

Q : Modes apa yang paling tepat buat maen outside?

A : Sebenernya maen outside itu nggak ada rekomendasi khusus, namun walopun begono ane bisa bikin 3 kategori tentang approach yang dipake tuk maen outside. Sebelumnya silakan baca ini duluan :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/02/05/outside-playing/

Kategori 1 : Simple Approach

Pendekatan ini adalah sekedar maenin scale/modes/licks apapun yang berjarak 1/2 step (diatas or dibawah) dari saat maen inside. Approach ini lebih banyak diadopsi oleh para pemain fusion dari background rock buat mempergampil shredding, karena mindset + fingeringnya simpel. Semua orang bisa langsung nyobain dengan hasil yang cukup ok tuk bluffing, dan tingkat kesuksesannya tergantung pada kelihaian masing – masing orang saat kembali inside*, karena itu adalah point terpenting-nya. Para pemain fusion yang nggak “playing changes”** kemungkinan besar pada make approach ini.

Prerequisite : Inside Scales or Modes

* In reverse dari approach untuk outside, not inside bisa juga didapatkan dengan mudah karena juga berjarak 1/2 step dari not outside. So kembali inside saat make metode ini segampil maen outside-nya, cuman soal side-stepping doang. Buat visualisasi, silakan cek black keys di piano yang lokasinya selalu diapit oleh white keys. Saat eksekusinya tinggal hati-hati aja terhadap avoid note-nya.

** “Playing changes” adalah bermain berdasarkan pada progresi akord, yang versi terpolosnya adalah sekedar maenin arpeggio-nya. Kita musti paham hubungan antara scale/modes dengan akord progresi sebelum mulai belajar “playing changes”. Pemain yang bisa “playing changes” bakalan bisa impro single lines sendirian tanpa iringan, tapi audience tetep bisa tau karakter bunyi akord saat itu dan perpindahan ke akord berikutnya.

Sample : Side-stepping dalam “playing changes” di non-traditional blues :

Warning : Kategori 2 dan 3 berpeluang besar bikin bingung bagi yang masih nanya “modes paling tepat untuk outside” ini. Kategori dibawah ini lebih ditujukan bagi yang udah lebih paham modes dan aplikasinya, dan pengen tau lebih banyak lagi. Sengaja ane tulis karena pas kebetulan kepikiran, jadi sekalian aja wong mumpung lagi dibahas. Yang belum paham modes, sebaiknya langsung skip ke FAQ berikutnya.

Kategori 2 : Better Approach

Pendekatan ini sama dengan pendekatan diatas, cuman jaraknya nggak terbatas pada 1/2 step dari saat maen inside, dan melibatkan prinsip dari voice leading + superimposisi. Bentuk dan kontur dari lick outside di metode ini juga lebih fleksibel dan nggak harus exact copy dari lick inside. Penentuan jaraknya outside-nya dipengaruhi oleh lokasi chord tones dari akord imajiner yang dipake buat outside (buat superimposisi). Akord imajiner yang dipake outside ini bisa akord apapun yang basic chord tonesnya berada di luar key center, dan not yang beda itulah di diprioritaskan tuk di emphasize saat maen outside. Bagi yang paham functional harmony, superimposisi ini berfungsi buat memaksa akord apapun saat itu jadi berkarakter tension. Dengan paham approach ini, maen impro bakalan super fun. Dan karena nggak ada unsur random or ngasal di dalam approachnya, maka hasilnya pun bakal kedengeran mantep sekaligus lebih variatif daripada kategori 1.

Note : Melodic lines (scale + modes) itu ditentukan oleh harmony (chords)-nya. Pendekatan kategori no 2 ini juga masih berpatokan ke akord, even doi sekedar imajiner dan nggak dibunyikan beneran di musiknya. Alasan berpatokan ke akord imajiner adalah supaya bisa maen lebih fearless make berbagai not daripada sekedar maenin exact copy dari lick inside yang digeser setengah (kategori 1).

Prerequisite : Superimposition + Voice Leading

Kategori 3 : Best Approach

Pendekatan ini lebih nyambung dengan prinsip impro secara lebih luas, serta melibatkan prinsip tension-resolution dalam musik. Prinsip ini bisa bikin kita punya lines yang bakalan selalu terdengar smooth, even disaat maen outside dan juga saat maenin intervallic skip sekalipun, yang umumnya bakalan kedengeran spiky dan kedengeran disconnected saat dimainkan diluar konteks. Yang bikin hal ini possible adalah karena selain penerapan point no 2, didalamnya juga terlibat pertimbangan lokasi beat (metric placement) dan juga jarak interval dari not yang dibunyikan sebelumnya.

alternate-route
ada banyak rute menuju resolution

Basic dari metric placement saat impro adalah strong beat selalu diisi inside, dan weak beats boleh diisi outside. Nah lokasi dan resolusi strong-weak ini bisa dimodifikasi sesuai konteks, kalo diperlukan bisa dipindah or diperbesar sampai beberapa bar, sehingga outsidenya bisa dibikin lebih dramatis dan melibatkan beberapa step, yang didalamnya memungkinkan untuk melakukan temporary modulasi ke berbagai unrelated key. Doi bisa dideskripsikan dengan “berbagai rute lain menuju resolution”.

Prerequisite : Functional Harmony + Counterpoint + Out-of-the-Box Mindset, or Harmonic Movement

“Apaan tuh Harmonic Movement, To?”

“Doi bisa dibilang versi lanjutan dari harmonized scale. Istilahnya sendiri kayanya sampe sekarang blom jadi standar di buku teori musik.”

Normalnya, hampir semua buku teori dan berbagai method menyebutkan kalo scale (modes) yang dipake itu ditentukan oleh akord, dan akord berasal dari scale. Ketika tiap individual notes dalam akord bergerak sesuai scale, itu disebut harmonized scale. Subjectnya kemudian berlanjut dengan penjelasan dan penerapannya, kemungkinan besar larinya ke subject chord family lalu ke functional harmony, lalu ke substitution, lalu ke reharmonization. Saat nyampe reharm, biasanya materi tertian harmony dianggap beres lalu skip ke materi tentang quartal harmony dan explorasinya.

Kalo pas sampe subject reharm materi tertian harmony dikembangkan lebih jauh, kita bisa bikin mindset bahwa harmony bisa dibentuk dari beberapa scale yang berbeda, dan individual note-nya juga bergerak sesuai scale yang berbeda, tetapi masih tetep berfungsi secara tonal. Ini bisa dilakukan karena cara pandang kita terhadap scale juga sebenernya bisa diubah out-of-the-box sesuai konteks : sebuah chromatic scale bisa terbuat dari 2 whole tone scale or 3 buah diminished 7th chords, or 4 buah augmented triad, or 6 buah whole tones, or 12 semitones. Perspektif ini juga bisa diaplikasikan ke scale lain, misalnya C Ionian terbuat dari akord C triad dan Bm7b5, C Harmonic Minor terbuat dari akord Cm triad dan Bdim7, dsb. Nah itulah sebagian hal yang jadi basic mindset dari harmonic movement.

Walopun sekilas nampak seperti sekedar ngasih nama lain bagi suatu hal yang udah punya nama sebelumnya, tapi mindset ini bakal ngasih kita info tentang banyak hal dalam musik yang saling terhubung dan ngasih kita banyak konteks dan berbagai rute buat diapproach. After all, cara tuk impro dan maen outside pada dasarnya lebih ke soal mindset + approach + konteks daripada sekedar apal n lancar scale + modes. Bagi yang udah paham kalo Amin7 = Cmaj6 dan Bm7b5 = Dm6 bakalan demen sama konsep ini.

Bagi ane pribadi, mindset ini lebih ok dan lebih reliable buat outside daripada mindset konvensional (treatment target dengan ii-V’s, tritone subs, superimposition, dll), karena bisa selalu terdengar smooth dengan tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi.

Bagi yang tertarik tuk ngicipin basic dari approach ini, bisa mulai mencoba melihat harmony dari perspektif yang bukan dieksekusi oleh akord, yaitu :

  • Dieksekusi oleh sebuah melody (harmonic melody).

Umumnya mayoritas orang beranggapan bahwa melody butuh pendamping buat ngasi tau audience tentang harmony. Tapi sebenernya, melody by itself juga udah bisa ngasih tau harmony kalo kita paham chord tones dalam melody, serta hubungannya dengan metric placement. Semua single lines yang dieksekusi saat “playing changes” menggunakan prinsip ini, dan musik dari Bach juga menggunakan prinsip ini. Ini adalah asal usul kenapa Bach dianggap seorang jazzer. Sebenernya jazz banyak make prinsip dari classical music, dan para improviser jazz udah pada familier dengan harmonic melody.

Scale/modes bisa bergerak dengan berbagai intervallic skips (chordal/arpeggiated), dan tiap chord tones bisa bergerak sesuai scale/modes. Dalam mindset ini, mereka essensinya dianggap sama, beda penerapan doang.

Sample : Experiment harmonic melody + octave displacement di lagu ‘Tuhan’ by Bimbo :

  • Dieksekusi oleh beberapa melody yang berbunyi bersamaan (counterpoint).

Saat aturan counterpoint dipatuhi, kita bisa denger harmony dari melody yang dimainkan bersamaan. Dengan make perspektif ini, music bakal bisa kedengeran lebih artistik, dan even pas dissonansi nya sekalipun jelas kedengeran kalo eksekusinya sama sekali nggak ngasal karena kita musti memperhatikan semua not sebagai bagian dari melodi (yang by itself musti kedengeran logic n keren), serta kita juga memperhatikan efek dari tiap not dalam melodi itu saat dibunyikan dengan melody lainnya yang menghasilkan efek pergerakan harmony (yang juga musti kedengeran logic, flowing dan juga functional).

Jason Becker dianggap jenius bukan hanya karena speed playingnya, tapi lebih karena kemampuan bikin komposisi gokil make counterpoint saat masih berumur 15 taunan. Cek ‘Air’ di album ‘Perpetual Burn’.

Jason Becker
Jason Becker

OK, that’s it, ane cuman bisa share sebatas ini di tulisan ini, karena kalo diterusin, penjelasannya bisa rada kontroversial terhadap fundamental yang udah disenggol di FAQ sebelumnya bahwa modes berasal dari scale, dan penggunaanya ditentukan oleh akord. Tapi bagi masih yang penasaran dengan yang ane maksud, silakan intip sedikit contoh fakta menarik ini :

“Mixolydian sebenarnya bukanlah mode yang beneran berasal dari tonal musik tuk digunakan saat akord dominant.”

Akord dominant 7th dan tonal music itu belum ada ketika mode mixolydian dan para modes lainnya nongol. Para modes udah dipake sejak era pre-tonal. Istilah pre-tonal (juga post-tonal dan atonal) itu berarti musiknya nggak make major ato minor key center.

Pengaruhnya, saat outlining dominant harmony di music tonal (functional harmony), sebagian besar sikon akan mengharuskan kita tuk make “dominant scale” (modifikasi dari mixolydian mode supaya saat dimainkan chord tonesnya bisa selalu fit dengan prinsip dari metric placement) daripada sekedar make standar-konvensional-textbook-based mixolydian mode. Prinsip ini dipake oleh para improviser jazz di era bebop, dan menjadi asal terbentuknya bebop scale. Cek bebop scale :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/09/07/classical-music-fundamentals-bagian-5-4-harmonic-minor-melodic-minor-bebop-scale/

Note : Beberapa istilah dari kategori no 3 diatas mungkin nggak ada di buku teori karena blom ada standarisasinya, jadi sebenernya bakalan lebih gampil buat ngecontohin langsung daripada musti ngejelasin bertele-tele gini. So far, kita udah tau bahwa berbagai standardized theory yang dipraktekan secara literal saja nggak otomatis langsung bikin musik kedengeran ok. Nyatanya, kita tetep butuh beberapa modifikasi di sana sini (terutama dari segi perspektif) biar musik kedengeran lebih ok.

Why Modes? Why..?

“The “why” of the thing, is the foundation. And as the foundation, it must be solid.”

Q : Kenapa modes penggunaanya rumit bener? Penerapannya terkesan dipaksakan, asal masuk dan nggak ada karakter..

A : Modes itu sebenernya super simpel, doi seolah jadi keliatan ribet gara-gara salah paham or salah ngajarin aja. Ada 3 perspektif utama dalam memandang Modes, dan itu menentukan tingkat kerumitan serta penerapannya. Sebelumnya, ane udah pernah nulis tentang perspektif turunan dan parallel, dan sebenernya masih ada 1 lagi perspektif yang justru penganutnya paling banyak tapi nggak pernah dibahas disini, yaitu perspektif masa bodo (istilahnya ane bikin sendiri).

“Sebenernya musik itu nggak ribet, yang ribet adalah perspektif musisinya.”

spooky
yang bikin spooky adalah perspektif nya

1. Perspektif Derivative (Turunan) :

Perspektif derivative adalah perspektif yang harus bertanggung jawab terhadap sebagian besar kasus kebingungan para pemula/students terhadap definisi modes (dan aplikasinya). Modes akan lebih ok saat dijelasin BUKAN by standard definition (Mode x adalah skala y dengan dimulai dari not ke n), karena berpeluang bikin puyeng saat musti dimaenin. Para pelajar yang diajar dengan cara ini pas lulus bakalan lebih cocok jadi detektif daripada improviser. Bukannya belajar mengenali karakter tiap modes tuk dimaenin secara instant, pelajar malah musti melakukan berbagai assosiasi kaya yang dilakukan oleh para penyelidik KPK :

“Coba maenin Bb Phrygian..”

“Bentar, phrygian itu mode ketiga, berarti.. Tu.. Dua.. Tiga.., oh key nya di Gb To!”

“Nggak ada yang nanya key-nya Gan..”

“Oh ok.. Berarti Gb scale yang dimaenin dari Bb.. Hmm, ok bentar..”

“…”

Buat ane, perspektif ini nggak bisa diandalin buat maen modes, karena latency-nya kegedean. Kita perlu perspektif dengan zero latency saat impro.

Shortcut :

Informasi di tulisan ini dulu awalnya bermaksud buat jadi shortcut bagi para penganut perspektif derivative. Tapi pas diliat lagi, kayanya nggak terlalu ngaruh karena mindsetnya masih sama dan kurang radical :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/12/06/modes-bagian-10-perspektif-derivative/

Bagi selain gitaris, shortcut-nya same thing, tinggal konversi jarak fret ke semitones. 1 fret = 1 semitone.

2. Perspektif Parallel :

Nah, ini adalah perspekfif rekomendasi ane, dan mungkin juga direkomendasikan oleh semua improvisers + educator lain. Perspektif ini bikin kita bisa instant maen modes apapun dengan cuman modal apal major n minor scale, tanpa musti jadi detektif dan segala macem blablabla-nya. Walopun mindsetnya beda secara radical, perspektif ini lebih manjur buat dipake semua improvisers dengan hasil yang sama dari mindset konvensional :

“Coba maen Bb Phrygian..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Bb minor b2)

“Coba F# Lydian..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale F# major #4)

“Coba maen G# Harmonic Minor..”

“Ok.. ♪ ♫ (Maen scale G# minor ♮7)

“Coba Db Melodic Minor.. “

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Db major b3)

“Coba maen Eb Lydian Dominant..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Eb major #4 dan b7)

“Good!”

See? Gampil kan? Yang kita butuhkan cuman modifikasi interval dari not penyusun major/minor scale doang, dan voila.. Any modes siap dibunyikan dengan instant, zero latency.

Shortcut :

  • Bagi gitaris, cek tulisan berikut sampai bagian comment :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/11/06/modes-bagian-8-perspektif/

  • Bagi bukan gitaris, basicnya same thing. Copas dari comment section :

Lydian = Major #4th
Mixolydian = Major b7th
Dorian = Minor major 6th
Phrygian = Minor b2nd
Locrian = Phrygian b5th or Minor b2nd b5th

3. Perspektif Masa Bodo :

whatever

Ini adalah perspektif yang berguna disaat tertentu, tapi nggak cocok tuk jadi landasan belajar modes. Bagi yang beneran pengen tau tentang modes, jangan cepet puas kalo diberi jawaban yang berisi simplifikasi dari perspektif masa bodo ini, karena bukan itu real answernya. Silakan study perspektif parallel buat dapetin jawabannya, dan berikutnya juga perspektif derivative buat supplement.

Perspektif ini adalah mukul rata semua akord yang ada berdasarkan key centernya, dan nggak peduli sama pergerakan progresinya. Ini umumnya adalah perspektif impro kita semua saat baru mulai kenal musik, saat demen banget bisa bunyiin sebuah scale naek turun dalam suatu musik tanpa ada not yang salah (outside).  Perspektif ini cuman bisa dieksekusi di lagu dengan akord simpel, dan itu juga nggak selalu berhasil di semua situasi, terutama di situasi lagu dengan akord yang lebih berkarakter dan juga lagu yang dalam progresinya terdapat surprise chord (akord terbuat dari key center yang berbeda, yang tentunya non-functional terhadap key center yang lagi dipake).

  • Saat pemula pake perspektif ini, even maennya nggak ada not yang salah tapi solonya tetep bakal kedengeran ngambang n kaya orang linglung. Impronya kedengeran nggak berada dalam musiknya (lines-nya nggak punya konteks, asal jalan aja).
  • Saat orang yang ngerti tension-release make perspektif ini, solonya bisa kedengeran ok karena ada targetting dan kedengeran gravitasinya. Akord progresi yang dipukul rata disini bisa jadi contoh tergampil dari superimposisi.

Sample : Eksekusi dengan melakukan superimposisi terhadap semua akord dalam progresi, make akord dari key center-nya (switch bolak balik based on C dan Am biar nggak predictible banget). Even pas eksekusinya ada berbagai macam ornamentation, kalo dicek beneran, hampir semua not yang dimaenin saat ganti akord cuman berasal dari C or Am tok. Ada sedikit explorasi modes di 3:20- 3:36 :

  • Saat orang dengan insting dan hearing yang ok make perspektif ini, maka hasilnya bisa kaya orang yang paham penerapan macem – macem modes walo doi nggak mikirin modes sama sekali. Sering kali orang yang bilang “sikat bleh” or “hajar bleh” saat jamming lebih merujuk pada perspektif ini.

Sample : Instinctive improvisation di latin grooves (samba, mambo and songo). Scale yang dipake adalah harmonic minor :

Penggunaan Modes

Berikut adalah beberapa pertimbangan saat make modes, terutama dalam situasi tonal music :

  • Modes major untuk akord major, dan modes minor untuk akord minor, modes dominant untuk akord dominant, modes locrian untuk half diminished, symmetrical diminished scale untuk akord dominant7b9, inverse symmetrical diminished untuk akord diminished7, altered scale untuk akord altered, dst. Tentang altered scale :

https://ditomusicman.wordpress.com/2013/12/29/melodic-minor-altered-scale/

  • Major or minor modes yang digunakan adalah sesuai fungsi dari akord. Di diatonic key, akord IV make Lydian, akord ii make Dorian, akord iii make Phrygian. Kita perlu mengetahui fungsi akord itu duluan sebelum menentukan modesnya.
  • Sebelum menentukan fungsi akord, kita perlu tau key centernya duluan. Untuk menentukan key center, silakan baca :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/11/13/modes-bagian-9-tonal-center/

  • Study tentang chord family dan functional harmony bikin kita bisa otomatis nentuin modes yang tepat tanpa steps yang bertele – tele.
  • Kalo nggak ada petunjuk lain or nggak yakin kalo akord itu berfungsi tonal, umumnya yang digunakan adalah untuk akord major pake lydian, akord minor pake dorian, akord dominant pake lydian dominant (mode ke 4 dari melodic minor), dst.
  • Prinsip dari mode yang digunakan point diatas adalah menyelipkan sebuah non-chord tone yang minimal berjarak 1 STEP DIATAS chord tones. Ini berlaku semua untuk akord lainnya, dan dilakukan tuk menghindari kemunculan “avoid notes”.
  • “Avoid note” adalah note yang musti dimainkan dengan hati – hati sesuai konteks karena lokasinya yang berjarak HALFSTEP DIATAS chord tones. Doi potensial ngerusak karakter harmony saat di emphasize di strong beat.
  • Semua not dalam scale/modes yang didalamnya nggak ada avoid note bisa bebas digunakan. Non-chord tonesnya bisa untuk coloring tanpa khawatir ngerusak karakter harmony.
  • Salah satu metode yang dikenal paling ok tuk latihan modes adalah dengan penerapan pitch axis theory. Basicnya doi adalah teknik bikin akord progresi yang terbuat dari 1 not yang sama sebagai root. Cek perspektif parallel diatas.
  • Salah satu contoh yang paling dikenal dalam penerapan pitch axis theory adalah progresi akord saat tapping section di ‘Satch Boogie’ nya Joe Satriani. Contoh lainnya adalah berbagai macam musik yang menggunakan pedal point (progresi akord dengan bass yang nggak bergerak).
Joe Satriani
Joe Satriani

 

  • Ketika orang maen scale/modes, orang itu nggak beneran maen naek turun deretan not-nya dari root ke root secara urut. Seringkali yang dimaksud adalah licks/ide/motif/phrase yang based on (berdasarkan notes dari) scale/modes-nya. Saat “playing changes”, pembentukan licks ini selalu berdasarkan pada progresi akord.
  • Penggunaan modes itu prinsipnya sama dengan scales. Ketika orang maen C major scale, berarti maksudnya bebas maenin not yang berasal dari C major scale, tapi dengan menitik beratkan C nya sebagai home.
  • Jadi kalo ada orang bilang : “Gua maen D Dorian, G Mixolydian lalu C Ionian.” Itu artinya sama aja doi sekedar maen C major scale dengan gravitasi yang berubah – ubah : D pas D Dorian, G pas G Mixolydian dan C pas C Ionian.
  • Apakah ini berarti sama aja dengan perspektif masa bodo? Beda, kalo pemainnya nggak punya hearing n insting yang ok, gravitasinya nggak bakalan otomatis berubah ngikut progresi. Kalo nggak percaya, silakan coba maen solo sendirian tanpa iringan.
  • Di progresi diatonik tanpa modulasi (yang semua akordnya terbuat dari sebuah harmonized scale), maenin modes beneran (perspektif parallel) bisa membantu bikin efek harmonic melody (melody yang ngasi tau akord saat itu), yang merupakan salah satu dasar dari “playing changes”. Sementara kalo make perspektif masa bodo (pukul rata dari key center), melody nggak akan kedengeran perubahan harmonynya.
  • Kalo blom punya hearing n insting yang ok, perspektif masa bodo masih bisa dipake dengan cara superimposisi di key center. Cek sample ‘On The Sky’ diatas yang semuanya di sikat berdasar C dan Am. Cara ini cuman bisa dieksekusi di lagu dengan akord simpel, dan itu juga nggak selalu berhasil di semua sikon.
  • Gua punya insting n hearing yang cukup ok, apakah gua perlu belajar modes? Nggak perlu kalo nggak pengen bahas modes (dan teori musik) bareng orang laen.
  • Gua punya insting n hearing yang cukup ok, apakah gua perlu belajar improvisasi? Ya jelas, even orang dengan great technique n perfect pitch tetep musti study cara kerja musik dulu sebelum bisa fearless impro di any music, any key, at any tempo. Nggak ada insting dan hearing yang dianggap cukup ok buat bisa menggantikan study musik.
  • Modes lebih ok dipake untuk impro dengan akord berdurasi lama, dan  di akord yang non-functional (nggak berfungsi dalam key center tertentu). Para gitaris silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/01/29/penggunaan-modes/

  • Saat di progresi dengan pergerakan akord berdurasi singkat, lebih ok tuk impro make perspektif chordal. Kita nggak butuh mindset dengan 7 not, karena tiap not-nya nggak bakalan sempet dibunyiin semua in context.
  • Di tonal music (akord yang berfungsi dalam key center), perspektif chordal umumnya lebih ok daripada make modes. Saat keduanya dikombinasikan, aplikasinya bisa memungkinkan tuk bermain lebih liar dan sekaligus tetep terstruktur daripada sekedar maen pake kombinasi modes saja.
  • Saat di progresi dengan pergerakan akord berdurasi singkat, modes masih bisa dipake dengan cara meng-highlight not terpenting-nya. Silakan baca :

https://ditomusicman.wordpress.com/2013/10/01/4197/

Warning : avoid notes musti segera bergerak ke chord tones.

  • Setelah paham semua modes, kita bisa memperlakukan mereka seperti spektrum dengan melakukan berbagai kombinasi. Di sample ‘On The Sky’ diatas ada bebeapa modes yang dipake saat 3:20- 3:36.
  • Para shredder juga demen make Dorian-Mixolydian sebagai pondasi dari blues licks mereka. Dorian-Mixolydian adalah 2 modes yang bersamaan dieksekusi di 1 root, hasilnya kedengeran bluesy dengan lebih banyak not yang bisa tuk dipake kebut-kebutan. Saat dikombinasikan dengan “playing changes”, kita bisa dapetin hasil yang cukup unconventional :

  • Dalam situasi di lapangan, saat orang bilang maen satu mode tertentu sepanjang lagu, hampir bisa dipastikan  doi nggak akan exclussive beneran maen make 1 mode or 1 scale tok, terutama kalo orang itu menguasai berbagai scale/mode lain untuk complement. Hal ini adalah karena untuk menyampaikan ide yang lebih ok, seringkali kita perlu minjem konteks dari scale/mode lain. Even sample ‘Hip-Hop (Jazz Funk)’ diatas nggak beneran make Lydian Dominant tok, doi make berbagai chromaticism tuk dekorasi di sana sini.

Nah, sekian pendapat ane pribadi tentang modes, semoga bisa bantu semua yang baca tuk jadi lebih paham. Memang ada beberapa terms yang belum pernah disenggol disini sebelumnya, tapi itu nggak bisa dihindari, karena untuk ngebahas satu hal memang nggak bisa lepas dari nyenggol hal lainnya. Dan seperti biasa, hal itu bisa ditanyakan disini, or via inbox, or mungkin next time juga bakal dibahas. Untuk hasil pemahaman yang lebih ok, silakan tanya pendapat personal dari berbagai musisi lain tentang modes. Dari situ bisa dikumpulkan data tuk dapetin gambaran yang lebih kumplit tentang modes dan penggunaanya.

Selamat explore..

7 thoughts on “Modes : Personal Perspective

    anjani said:
    Mei 28, 2015 pukul 10:50 am

    assalamu”alaikum, kak dito mau tanya nih,
    1. bacaimana cara mudah bermain melodi mengukuti peprpindahan chord ( playing changes ) ?
    2. misal, kita punya progresi chord C-Am-F-G, untuk keseluruhan progresi masuk tidak kalau kita hanya memainkan C Major Scale saja secara bebas tanpa memperdulikan perpindahan chord, apakah pas diketukan kuat jatuh dichordtones apa tidak, pokoknya main bebas aja?
    3.ketika kita berimprovisasi menggunakan scale secara linear apakah target not nya tetap harus jatuh ke chord tones?
    4. misal contoh progersi diatas, pas di C main C ionian, pas di Am main A aeolian, pas di F main F lydian, pas di G main G main G mixolodyan, bagaimana caranya supaya gravitasi permainan kita itu berubah ubah mengikuti perpidahan chord?
    makasih ,mohon jawaban dengan bahasa yg mudah dimengerti he..he..he maklum baru belajar

      ditomusicman responded:
      September 9, 2015 pukul 10:58 pm

      Wa alaikum salam wr. wb.

      1. Tergampang dan ter-aman adalah sekedar maen arpeggionya. Tapi karena kedengeran boring, kita perlu menyisipkan scale di sela-sela arpeggio. Nah scale-nya bebas tergantung pemahaman terhadap harmony, dan efek yang pengen disampaikan.

      2. Kalo dibilang masuk, kemungkinan 70-80% masuk karena scale yang dipake soloing sama dengan scale yang dipake bikin progresi. Kalo kita meng-absen semua daftar not dari akord C-Am-F-G kan kita bakal ketemu dengan C major scale. Cuman soloing kaya ini adalah bentuk soloing yang paling super duper basic, karena semua balita juga bisa maen di piano modal ngasal mencet tuts putih.

      20-30% cara ini bakal kedengeran nggak masuk, yaitu saat kita maenin not F saat akord C dibunyikan, dan maenin not C saat akord G dibunyikan. Solusi-nya, kedua not itu nggak boleh ditahan lama, n musti segera pindah kesebelahnya, karena sebelahnya adalah not penyusun akord :

      F musti pindah ke E or G saat akordnya C. Akord C berisis C-E-G

      C musti pindah ke B or D saat akordnya G. Akord G berisi G-B-D.

      3. Untuk tahap belajar impro, jawabnya ya. Alasannya adalah biar selalu harmonis. Untuk yang udah lancar impro n mau experiment bikin musik lebih tasty, jawabnya nggak. Karena itulah not diluar chord tones disebut coloring notes, or embellishment, or ornaments.

      Saat pelajaran menggambar dulu, coloring adalah tahap lanjutan saat struktur benda selesai digambar. Di musik, same thing.

      4. Caranya adalah fokus pada not pembentuk akord saat progresi berganti :

      Di C, landing di C or E or G
      Di Am, landing di A or C or E
      Di F, landing di F or A or C
      Di G, landing di G or B or D

      Simpel kan? Tinggal soal waktu latihan ngebiasain, maka semua orang bisa jadi improviser😉

      Semoga bahasanya cukup mudah dimengerti. Kalo masih kurang, silakan tanya lagi aja GPP, santai.

    anjani said:
    September 22, 2015 pukul 4:05 pm

    apa yg dimaksud comping, apa bedanya sama rythem?

    Anonim said:
    Oktober 2, 2015 pukul 6:06 am

    waduh…berat mas…hehehe

    anjani said:
    November 27, 2015 pukul 3:53 pm

    kalau mau belajar musik blues, apa aja yg harus di pelajari?

    anjani said:
    Desember 4, 2015 pukul 4:32 pm

    1.kalau di ibaratkan sebuah kalimat, lick itu masih kata atau sudah jadi kalimat?
    2.kalau baru mau mulai belajar gitar, sebaiknya berangkatnya dari mana ( blues, rock, jazz )?
    3. apa benar blues itu akar dari segala jenis musik yg ada sekarang?

    anjani said:
    Februari 25, 2016 pukul 4:28 pm

    kalau mau membuat lick untuk chord A minor, apakah akhirnya harus ke not A ( root ), boleh tidak ke not C atau ke E?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s