Classical Music Fundamentals bagian 6.2 : Breaking the 4th Wall & The Musical Cosmos

Posted on

Perspective

“Setelah nyenggol hubungan tentang classical dan jazz, waktunya tuk nyenggol tentang 4th wall.”

 

Sebelumnya, pernah denger pernyataan bahwa semakin kita study suatu hal, semakin membuat kita merasa kerdil? Ini berlaku secara universal untuk semua subject study, regardless. Hal ini terjadi karena pas study deeper, kita bakal tau bahwa limit dari subject yang kita pelajari berpotensi ikutan melar tanpa ujung, or — kalo ikutan system klasifikasi konvensional — kita bakal nemu beberapa subject baru yang masih punya relevansi dengan subject yang sedang kita pelajari. Saat kita berdiri di border dari sebuah subject, or saat mapping dari sebuah subject udah beneran komplit n kita kuasai diluar kepala, kita akan dihadapkan pada fakta baru : ada apa diluar sana? Ada apa di balik borders? Kalo kita memutuskan tuk melihat musik dari semesta yang lebih luas, dan menyadari bahwa system yang dianut oleh musik kita saat ini hanyalah merupakan bagian kecil darinya, maka saat itulah kita “Breaking The 4th Wall”.

4th wall

Dream Theater’s Breaking The Fourth Wall

 

“Gokil. Ngapain kita terus belajar kalo justru malah bikin kita ngerasa tambah bego?” – Paijo bin Sopokae Mbuh

Weits, engke heula bray, ini nggak berarti bisa disimpulkan bahwa mendingan nggak usah belajar sekalian. Keywordnya adalah “merasa”. Dan “merasa” itu belom tentu real. Itu kan hanya perasaan Dek Paijo saja.. Faktanya, kalo orang yang belajar tentunya doi makin pinter, including bagi yang self-taught sekalipun. Perihal perasaan bahwa doi merasa makin kerdil adalah karena doi selalu nemuin hal baru diluar subject yang sudah dikuasai, bikin makin paham atas luasnya subject study-nya. Jadi belajar berasa nggak akan selesai kecuali kita sendiri yang memutuskan selesai. Dan study deeper bisa membantu tuk constantly reality checked tentang kemampuan dan pemahaman ilmu kita secara lebih objective, dan membantu kita tuk terus menapak tanah ketika pengetahuan terus tambah luas. Ini juga sering di analogikan seperti prinsip padi — makin berisi makin merunduk — yang bikin makin stay low profile, salah satu hal yang penting tuk dikampanyekan dunia showbiz, terutama bagi para performer.

“Lah, sebagian musisi, terutama para performer aktif malah pada high profile tuh?”

Tergantung konsep performance-nya, sebagian jenis musik — terutama yang berkaitan langsung dengan so called “modern pop based music industry” — emang menuntut performer untuk high profile, di saat performance. Industri musik — yang sayang sekali cenderung nggak berlandaskan creative patronage, alias lebih mirip dengan industri lainnya yang berisi pure business, dan kita musti berkompromi kalo mau commit masuk didalamnya — dari awal emang nge-push agenda tentang idolatry, bikin populasi fans yang fanatik, yang tentu saja tujuan utamanya money milking. Karena merasa dipuja on stage, nggak sedikit performer yang kebablasan keterusan high profile saat turun stage dan berlanjut dalam lifestyle keseharian. Untuk para legends, veterans n world class performers, mungkin society pada maklum karena nampaknya unavoidable, meskipun kalo mereka pada stay low profile tentu saja jadi point plus dalam society. Nah kalo ada performer yang cuman aktif setingkat komunitas lokal tapi sengaja tengil bin songong karena merasa emang musisi musti begono — or karena idola mereka begono dan karena bisa covering musiknya berarti musicality-nya dianggap setara, lalu boleh dong tengil bin songong juga — itu sih kebangetan..

Head in Hands

“Two things define you : your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything.”

 

Walopun yang rentan kena penyakit tengil bin songong adalah performer, tapi musisi itu sendiri juga nggak melulu tentang performer. Yang aktif di belakang layar ada juga yang bisa dianggap setara or bisa lebih serem musicality-nya, seperti educator, composer, dan juga sound engineer. Yang disebut terakhir ini walopun nggak musti belajar tentang harmony n music theory secara mendalam, tapi peranannya sangat menentukan kesuksesan sebuah music performance yang melibatkan amplifikasi n mixing console. Dalam industri, ada juga music producer n music promotor, yang kalo dipersimpel ya profesinya masih musisi walopun bisa juga nyamar ngaku jadi bisnismen. Dan tentu saja kalo bahas performer yang unconventional, ada juga yang paling iconic — yang orang awam anggap paling culun dalam orchestra karena keliatanya kerjanya cuman avakadavra, padahal justru doi orang yang paling serem di stage — yaitu Conductor.

Avada Kedavra

Avada Kedavra

 

Karena saat aktif bermusik sesuai bidangnya ini mereka nggak langsung dipuja oleh audience, maka mereka relatif lebih kebal dari penyakit tengil bin songong. Terlebih lagi bagi mereka yang isi kepala n musicality-nya beneran berat — misalnya udah jauh melewati 4th wall — bakalan susah nemuin foto mereka berpose dengan dagu naek + ekspresi ja’im, apalagi foto itu dieksekusi secara selfie..

Seriously..

Unless, mereka lagi cosplay superhero..

Itupun kemungkinan besar juga masih pake topeng, minimal Batman lah..

Inside The 4th Wall

Range musik yang dibahas di seri Classical Music Fundamentals ini hanyalah merupakan sebagian kecil dari musik yang berasal dari sebuah kultur/budaya/tradisi Western — Western Art Music, or European Art Music, or orang sering bilang “THE” Classical Music, or orang yang ogah musiknya diasosiasikan dengan dinosaurus bakal menggunakan term musik sastra or written music. Area coveragenya berada di era yang berkisar antara taun 1600 – 1900, yang para theorist sering bilang “Common Practice Period”.

Common Practice Period secara berurutan berisi era Baroque, Classical, Romantic, dan nyempil didalamnya Impressionist. Baroque era berbatasan dengan era sebelum Common Practice Period, dan Romantic era/Impressionist era berbatasan dengan era sesudah Common Practice Period.

Era sebelumnya, ada era Medieval dan Renaissance :

  • Untuk era Medieval (Middle Age), ane beneran nge-blank, nggak ada yang bisa ditulis disini. Mau namatin Assassin’s Creed 10x pake blusukan sana-sini juga sama sekali nggak membantu. Ane-nya sendiri emang nggak digging subject ini. Buat yang tertarik, silakan kontak musicologist terdekat aja.
  • Kalo info tentang era Renaissance, ane kemaren sempet kecipratan dikit, terutama karena era Baroque music yang beberapa taun terakhir ane pelajari itu era-nya berbatasan dengan era Renaissance. Hal simpel yang perlu diketahui adalah, musik saat itu emphasize ke modes. Bagi yang study Baroque music, subject tentang modes ini bisa dibilang pre-requisite. Tapi yang perlu disikat cuman modes utama yang survive di modern theory aja, nggak perlu semuanya. Dan seperti biasa, bagi yang pengen info detil tentang Renaissance music, silakan kontak para musicologist aja. Ane disini cuman nulis hal-hal basic yang semua musisi modern seharusnya pada tau, karena terkait langsung dengan subject appresiasi.

Era sesudah Coomon Practice Period, ada era Modernism, Contemporary, dll. Nah, klasifikasi di era ini ada beda versi. Ada yang menyebutkan kalo akhir Romantic dan Impressionist masuk ke modernism. Don wori, perbedaan terminologi semacam ini sebenernya nggak perlu diperdebatkan dan bisa dimaklumi karena stylistic era emang dipengaruhi oleh taun, dan taun yang berdekatan bisa aja masuk 2 kategori yang berbeda. O iya, jazz n blues n seabrek stylistic music laen masuk ke era modernism ini.

Pendapat ane pribadi tentang stylistic or genre musik di era modern ini, terutama seabrek musik yang harmonic system dan set pitch-nya berasal dari standarisasi era Common Practice Period, semuanya adalah relatif. Sebegitu relatifnya sampe disatu tahap bahwa kalo kita sebagai musisi paham pondasinya — theory dari Common Practice Period — kita bakalan melihat mereka lebih kaya spektrum warna daripada kaya rak-rak CD terpisah dengan border yang jelas di Disc Tarra n Aquarius. Lagian, klasifikasi musik modern juga dipengaruhi oleh sudut pandang subject. Orang awam bilang Kenny G itu jazz, sementara jazzer bakal bilang pop. Coba tanya fans Pat Metheny tentang Kenny G.. Jadi hal ini nggak perlu diperdebatkan.

Teori relativitas juga ada di musik. Einstein bilang E=MC2, Music Theorist bilang E=Fb.

Tulisan ini berjudul Classical Music Fundamentals, tapi pada faktanya cuman ngebahas beberapa tetes info dari Common Practice Period. Alasan doi terpilih menjadi duta dari THE Classical Music saat membahas pondasi edukasi musik modern adalah karena berbagai musik hari ini berkembang menggunakan system standar yang berasal dari Common Practice Period.

THE Classical Music or European Music Timeline :

2000 SM : Pembangunan Stonehenge
1700 SM  : Hukum Hammurabi
1300 SM  : Dinasti Tutankhamun
1000 SM  : Dinasti Nabi Sulaiman a.s.
700 SM    : Berdirinya Romawi
500 SM    : Era Keemasan Yunani
300 SM    : Dinasti Alexander
0 M           : Kelahiran Jesus or Nabi Isa a.s.
300 M      : Kebangkitan Christianity
500 M      : Keruntuhan Romawi
800 M      : Dinasti Charlemagne, awal modality n organum
900 M      : Awal dari notasi musik
1000 M    : Awal penggunaan garis paranada (staff)
1100 M     : Perjanjian Magna Carta, awal polyphony
1200 M     : Penggunaan Fauxbourdon dalam harmony
1300 M     : Nongolnya ars nova style, awal penggunaan keyboard
1400 M     : Renaissance, awal dari buku musik
1500 M     : Pre-Baroque, Common Practice Period biasanya ngebahas era ini sebagai supplement or intro
1600 M     : Awal Common Practice Period, terbentuknya Tonality n Functional Harmony
1900 M     : Akhir Common Practice Period, awal 20th Century Modern Music, penggunaan pandiatonic dan                                         explorasi atonality, cross-overs n cross-influence music, complex & uncategorized music
2000 M    : Sekarang

evolution of music notation

evolusi dari notasi musik

 

“Lah, Stonehenge nyambung sama classical music?”
“Perkembangan musik itu tidak bisa lepas dari kebudayaan. Kalo timeline-nya mundur sejauh itu jadi make sense.”

Jangan lupa kalo ini hanyalah sejarah music yang berasal dari European Tradition yang dibahas di teori musik. Ada berbagai macam jenis musik lainnya di tiap wilayah di bumi, di rentang waktu yang sama. Diluar art music (musik yang terstruktur n sistematic, punya teori tertulis yang bisa diajarkan) ada juga yang namanya traditional/ethnic music (musik yang berkembang secara oral/aural). Untuk efek bengong yang maksimal, coba ngobrol dengan para musicologist.

Notation System vs Oral/Aural System :

Saat study by hearing — ngulik tiap not yang kita denger lalu dimaenin, or nge-beo — kita emang nggak perlu musti ngerti aturan syntax (subject, predikat, object) dan hubungannya dengan intonasi, dll, karena semua konteks nantinya musti dipelajari on the fly. Tapi musik yang dipelajari dengan cara ini butuh jam terbang yang sangat tinggi untuk sampe beneran paham mendetail tentang essence musiknya, karena kesimpulan dari essence-nya cuman bisa didapat setelah punya sangat banyak vocabs berikut konteks penggunaanya. Study by theory bisa bantu bypass prosesnya dengan ngasih clues tentang aturan umum — or karakteristik — dari berbagai jenis musik. So, teori juga berperan penting kalo pengen ngerti lebih detil tentang musik.

“Tapi kan musik itu kan musti bisa dimaenin.. Ngapain bermusik kalo cuman diomongin doang teori, history or fakta2nya..?”


Ane pribadi setuju kalo musik musti dimaenin, terutama kalo diliat dari perspektif performer, tapi itu tetep nggak bisa jadi pembenaran tuk nggak peduli sama sekali dengan teori musik, dan juga berbagai dimensi serta perspektif lain dalam melihat musik. Memang akan lebih ok kalo theorist — terutama yang merangkap educator — juga bisa maeninin, ngebunyiin dan ngebuktiin teorinya. Jadi sebuah teori akan lebih make sense saat theoristnya bisa mempraktekin teorinya sendiri — or teori yang dia anut — secara in-context. Jadi musti sinergi. Kalo ada theorist/educator yang bilang, misalnya speed playing itu begini dan begitu, mustinya dia-nya juga bisa ngelakuinnya. Jazz ini begini-begitu, contohnya ada. Jangan sampe kaya yang orang jawa bilang JARKONI (iso ngajari, ora iso ngelakoni). Ini juga sekaligus bisa membantah idiom yang bule bilang “Those who can, do. Those who can’t, teach.” yang bikin seolah profesi pengajar di kelas cuman diambil oleh orang yang gagal di lapangan.

Di kelas manapun di bidang apapun, nggak ada murid yang pengen diajar oleh JARKONI. Pengajar selalu musti lebih tau, lebih mampu dan lebih experienced daripada muridnya.

Well, sebenernya kalo hal ini pengen disenggol lebih luas lagi daripada sekedar teori, dunia musik itu sendiri juga nggak melulu terhubung langsung dengan showbiz, performance n tepuk tangan juga sih. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari budaya, dunia musik juga ngelibatin banyak hal lain, termasuk dunia engineering dari berbagai disiplin. Contoh tergampil selain sound engineering : untuk membuat berbagai macam instrument musik itu sendiri butuh banyak kombinasi dari berbagai ilmu : dari milih material sampe scale n ratio-nya, sampe playability-nya, sampe tahap estetika-nya, dll.

Ane inget dulu info pas Suhr nge-release Guthrie Govan signature seri Antique Modern, finishnya (or lapisan cat-nya) musti make nitrocellulose biar sound-nya lebih musical n natural. Nitro adalah finish yang dipake di gitar 50’s dan 60’s. Tau sendiri gimana komunitas gitaris pada menggilai gitar jadul. Emang sih kedengeran cukup jelas bedanya saat di benchmarking dengan signature GG seri sebelumnya yang make finish modern (polyurethane), tapi resikonya si gitar bakalan lebih rentan goresan. John Suhr sendiri awalnya sebenernya nggak setuju, beliau lebih cenderung prefer make coating yang lebih protektif wong gitar produksinya kan kelas premium. Sebagian luthiers lain juga menganggap pengaruh finish pada sound itu bisa diabaikan. Tapi bukan GG namanya kalo musti kompromi. Gitarnya jadi diproduksi, beliau tur dengan make sebiji gitar seri Antique Modern — konon tanpa backup gitar sama sekali, gokil! — sampe gitarnya pada baret. Setelah kontrak selesai dengan Suhr, beberapa saat kemudian beliau pindah ke Charvel n dapet signature yang lebih natural lagi dari segi sound dan tampang-nya.

0004930_charvel-guthrie-govan-signature-model

Charvel Guthrie Govan Signature Model

 

 BTW, ini baru sekedar ngebahas pengaruh cat doang di gitar secara mendetail, belum lagi ngebahas yang lain-nya, macam plek machine yang bikin action maknyus, buzz feiten yang bikin koreksi intonasi open string, roasted wood + graphite reinforced neck yang bikin neck relatif nggak kepengaruh suhu n humidity, dll.

Dunia hari ini emang dipenuhi nerdy n geeky people. Mungkin emang udah jadi standar di era internet.

“Kenapa malah ngebahas begituan To, ceunah sharing info musical? Kagak ada lagi fretboard mapping, scales or trick tapping string skipping?”

“Ya ini kan juga termasuk sharing info musical, cuman pas kebetulan lagi ngebahas tentang apresiasi. Tulisannya emang rada edgy n liar nyangkut kemana-mana karena emang lagi ngebahas expanding horizon.”

OK dah, cukup ngelanturnya. Intinya, ketika kita bisa membahas musik dari berbagai sudut teori, history dan dari berbagai perspektif lainnya, itu berarti kita dah mampu keluar dari 4th wall, mampu memahami dan mengapresiasi musik dengan lebih luas, dan otomatis bikin mindest dan musicality kita berkembang.

The Musical Cosmos

Alasan kenapa kita musti break the 4th wall saat nyampe border adalah untuk memperluas paradigma dan appresiasi, yang keduanya ngefek langsung ke musicality.

Paradigma

Mindset yang ok adalah hal utama yang dibutuhkan tuk membuat berbagai teori baku bisa diubah bentuknya ke karya/expressi musical. Kalo mindset kita sempit, musiknya bakalan gitu-gitu aja, dan kalo mindset kita melar, musik kita juga ikut melar. Contoh gampil-nya  :

Saat sharing info tentang impro, yang terjadi adalah kita exploit mindset n perspektifnya, sementara teori, teknik, harmony dll — yang mustinya udah pada standby diluar kepala sebelumnya — itu jadi fixed objects, mereka menjadi acuan dalam system n nggak berubah. Saat eksekusi impro, kita mungkin masih dihadapkan pada set pitch yang sama, akord progresi yang sama, birama yang sama, tempo yang sama, tapi hasilnya bisa sama sekali beda tiap orang, dan itu sama sekali nggak ngawur or sekedar milih random not dari scales.

Kalo ternyata ada begitu banyak musisi yang impro-nya selalu layak rekam n layak dengar sejak take pertama-nya, berarti mindset mereka terhadap unsur fixed objects itulah yang membuat impro itu jadi magical. Karena basic teori bisa gampang didapatkan dari berbagai sumber, dan basic technical level itu pada dasarnya cuman soal waktu aja sampe bisa merasakan sensasi dari syaraf motorik untuk mampu merespon ide lalu bergerak sesuai insting, maka pelajaran yang sesungguhnya dalam impro adalah exploitasi mindset.

“There are no facts, only interpretations.” – Friedrich Nietzsche 

Appresiasi

Study apresiasi dan breaking 4th wall adalah menu wajib bagi musisi yang pengen tumbuh jadi lebih dewasa dan pengen melihat dunia musik dari perspektif yang lebih objective, serta menikmatinya dengan intensitas yang lebih dalam. Musisi yang udah pewe dengan musiknya dan nggak pengen ngerti ada apa lagi diluar disana, nggak perlu lagi study macem-macem.

“Tanpa breaking the 4th wall kita nggak bisa melihat berbagai hal baru dalam dunia musik, boro-boro bisa menikmatinya.”

  • Semua orang bisa menikmati lagu anak-anak karena lyricnya gamblang, dengan vocabs super basic yang dikuasai balita, struktur harmony yang sesimpel mungkin, melody yang bergerak se-stepwise dan se-predictible/se-cliche mungkin, dll.
  • Nah orang dewasa mustinya bisa menikmati lagu dengan lyric yang make metaphor, vocabs yang lebih advanced, struktur harmony yang lebih tasty n colorful, melody yang bergerak lebih bebas dengan berbagai surprises, dll.

Gimana orang dewasa bisa ngerti itu semua kalo nggak ada proses study? Menjadi makin dewasa berarti makin aware tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan, locally n globally, including taboo subjects dan berbagai nilai moral yang kompleks, sampe ke beyond physical subject alias spiritual realm. Musically, same thing. Analoginya bakalan lebih gampil make film, karena prinsip apresiasinya sama. Semua penonton yang masih bocah bakal demen dengan hal-hal yang flashy n banyak eye candy (yang penting rame, ada kebut-kebutan, ada tembak-tembakan, ada robot, ada alien, ada zombie, ada kamehameha, dll), sementara penonton dewasa bakalan lebih demen dengan kombinasi yang pas dari berbagai layer yang berbeda, seperti acting-nya, story-nya, screenplay-nya, dll. You get the point.

Semua bocah pasti demen diajak nonton ‘Transformers : Age of Extinction’ (2014), tapi ta jamin mereka bakal bobo pas nonton ‘All Is Lost’ (2013). BTW, bagi yang jarang follow movies tapi ngaku jazzer — apalagi drummer — coba cek ‘Whiplash’ (2014). Thank me later. 

whiplash-bloody-drumsticks

‘Whiplash’ (2014)

 

Bagi yang demen Dream Theater, ane tebak pas masih kecil dulu lebih demen OST film kartun yang tayang tiap Minggu pagi — or anytime, bagi yang langganan cable n satellite TV — daripada musiknya Rush/Yes/Pink Floyd/Iron Maiden, tul gak? Pertumbuhan selera dari tingkat musik bocah sampe Dream Theater tentu melewati beberapa step yang ngaruh ke perspektif n apresiasi kita terhadap musik. Step apresiasi ini bisa terjadi tanpa disadari or disengaja, step-nya terus berlanjut tergantung lingkungan musical kita. Para pemaen cover band DT juga kalo banyak ngejem dengan para jazzer bisa demen fusion. Kalo pada doyan nonton anime bisa demen musik jejepangan. Kalo pada maen Top 40 bisa pada paham groove, latin rhythm, dll. Kalo banyak maen Final Fantasy bisa juga demen sama scoring & orchestra, dst.

Apresiasi di level surface bisa terjadi secara gradual setelah cukup lama terekspose musik baru, tapi nggak akan ada yang bisa kita serap dari musik baru itu tanpa proses study.

Berikut adalah beberapa tips agar bisa gampil mengapresiasi berbagai jenis musik :

  • Open mind, kontak dan berteman dengan berbagai macam musisi dari berbagai background dan level, dan juga menganggap serius musik mereka. Dengan begono otomatis kuping kita kenal dengan berbagai macam musik, sekaligus nyengir ngeliat teman kita mengomentari musiknya saat dimainkan. Celetukan berikut ini nggak akan asing lagi bagi kuping :


    “Nih, habis ini ada slap back delay To, asik bener. Habis itu langsung nyambung ke bagian verse yang drumsnya dobel pedal..”

    “Bentar belum beres, pausenya emang rada lama. Bagian depan nya entar nongol lagi dengan nuansa yang lebih gloomy..”

    “Groove-nya gokil nih, funky pisan.. Tariik maang Jupri..”

    “Gua sampe merinding denger dia bisa nyanyi setinggi itu tanpa nongol urat leher sama sekali..”

    “Itu not emang cuman diulang-ulang sambil naikin dinamika, tapi efeknya justru kena..”

    “Headbaaangg To!!!”

    dll..

    Kita jadi tau apa yang bikin temen kita suka terhadap musik tersebut, dan juga perspektif mereka masing-masing terhadap musiknya. Mengapresiasi musik dari suatu elemen or layer tertentu bisa dibilang level basic dari apresiasi musik. Semua penikmat musik minimal berada di level ini.

  • Penasaran n study. Tanpa penasaran, kita nggak akan dig in n mendengarkan musiknya secara berulang kali. Saat ngulangin berkali-kali, kita jadi tau karakter musiknya, dan jadi tau tiap detil elemen yang menyusun musiknya :
     
    > Kita jadi tau kalo tempo itu ada yang straight, ada yang shuffle, ada yang rubato, ada accelerando dan retardation, dll.
     
    > Kita jadi tau kalo biola n piano itu bisa maen not super tinggi (pitch range), kita juga jadi tau beda karakter bunyi dari woodwind dan brass (timbre), dll.
     
    > Kita jadi tau kalo suatu lagu itu bisa dipake buat senam (birama duple n quadruple), dansa waltz (birama triple), dan juga dipake tuk latihan berhitung (odd time signature).
     
    > dll..
     
    Even orang yang study formal juga sebagian awalnya pada nggak ngerti kenapa dapet assignment suatu musik yang sekilas nggak nyambung dengan apa yang pengen mereka pelajari. Tapi karena mereka musti paham berbagai unsur elemen dalam musik sebelum bisa diakui jadi musisi, maka dosen/educator membuat mereka terekspose dengan berbagai macam musik biar pada tau jelas. Berapa banyak dari kita yang awalnya nggak demen, tapi setelah ngerti bagian mana yang bikin doi keren, tiba-tiba pada nge-fans berat? Semuanya kayanya ngalamin.
     
    So, appresiasi itu ngaruh langsung dengan study musik. Bagi yang nggak study formal, tingkatan pemahaman musik kita dipengaruhi oleh dengan siapa kita bergaul tiap hari.

     

    Intinya, dengan study kita jadi makin paham berbagai unsur penyusun musik, dan makin bisa mengagumi bagaimana berbagai hal yang berbeda itu bisa saling bersinergi untuk menyampaikan pesan via bunyi, dari composer ke audience. Mengapresiasi takaran dari kombinasi berbagai elemen dan layer yang berbeda adalah level lanjutan dari apresiasi musik. Para musisi mustinya minimal berada di level ini.

yummy

yummy

 

Beberapa elemen utama penyusun musik di era Common Practice Period :

Tonality

Umumnya berpusat pada sebuah not or pitch, yang berfungsi sebagai home bagi para audience. Pitch laen berfungsi sebagai support. Explorasi tonic bisa juga dilakakuan dalam sebuah frase biar nggak boring. Tiap frase umumnya berdurasi antar 4, 8, or 16 bar, dan semuanya berakhir dengan cadence untuk konfirmasi tonic

Pattern

Umumnya menggunakan diatonic major n minor scales, beserta modes-nya. Not-not kromatik (5 not yang nggak dipake di diatonic scales) tetep digunakan buat coloring.

Texture

Umumnya make counterpoint, yaitu 2 atau lebih lines yang dimainkan secara bersamaan, masing – masing dimainkan secara independent, masing-masing masih terikat dengan prinsip tonality (point 1) dan pattern-nya menggunakan major n minor scales (point 2).

Chord

Umumnya berkarakter consonant, terbuat dari 3 not (triad), yang tersusun berjarak 3rd (tertian). Dissonance juga bisa digunakan. Dissonance bisa terbuat dari 4 not (tetrad) yang ditumpuk berjarak 3rd (tertian), bisa juga berjarak bebas (non-chordal embellishment seperti passing n neighbouring tones, suspension, pedal, dll). Dissonance wajib resolve.

Timing

Umumnya menggunakan birama simple dan compound, dengan 2, 3, or 4 ketuk per bar secara konsisten (alias duple, triple or quadruple). Simple adalah kalo tiap ketuk bisa dibagi jadi 2 not yang bervalue sama, dan compound adalah kalo tiap ketuk bisa dibagi jadi 3 not bervalue sama.

“Gimana kalo birama-nya bisa dibagi 2 dan juga 3 seperti 6? Misalnya 6/8?”

6/8 emang bisa aja dimasukin ke birama simple yaitu grouping dengan 3 ketuk per bar dengan tiap ketuk dihitung “one-and”, tiap hitungan bernilai 1/8. Tapi kalo make grouping ini, akan lebih ok kalo make versi 3/4 aja biar angkanya kecil n nggak mengintimidasi readers, wong hasilnya sama persis. Para mathematician juga setuju kalo 6/8 = 3/4.

6/8 bakal worth it saat kita berani clash dengan para mathematician n ngotot kalo doi konteksnya nggak sama dengan 3/4, n nggak sekedar doubling resolusinya juga. 6/8 dipake saat grouping-nya berisi 2 ketuk per bar dengan tiap ketuk dihitung “one-and-a”, tiap hitungan bernilai 1/8. Jadi bedanya ada di lokasi ketukan dan subdivisi dari tiap ketukan.

Nah berikutnya, kita bisa melihat beberapa musik lain dengan menggunakan 5 elemen dari Common Practice Period :

Jazz

JLCO_lineup0209

Walaupun udah pernah dibahas di tulisan sebelumnya (feat. Paijo bin Sopokae Mbuh), disini bakal dibahas n dilengkapi lagi. Jazz adalah musik Amerika yang unik, hasil peranakan dari tradisi musik Eropa dengan Africa. Doi bisa dimainkan secara 90 % blues + 10 % classical, bisa juga 10 % blues + 90 % classical. Doi juga fleksibel tuk dicombi dengan berbagai stylistic dari musik lain, hal yang menjadi salah satu alasan utama kenapa ane pewe explore di teritori musik ini sambil sesekali celingukan di luar border-nya.

In essence, jazz berkembang dengan cara oral/aural alias nggak ada notasi tertulis tentang notes, kumaha n kunaon-nya. Orang musti belajar musik ini by hearing n copying semuanya, layaknya bocah lagi belajar ngomong. Tapi berhubung instruments yang digunakan tuk maenin jazz adalah instruments yang dikembangkan di classical music, maka musisi jazz bisa nebeng system notasi yang dianut dari classical music, berikut teorinya. Teorinya langsung nyambung karena jazz juga make major & minor tonality beserta bermacam diatonic modes yang udah ada di classical music. Ini rada beda sama blues, karena doi make “blues scale” dengan beberapa not yang pitch-nya tidak terdaftar secara resmi di classical system. Instrument yang nggak bisa modifikasi pitch tuk keluar dari classical system — misalnya piano — cuman bisa berkompromi saat musti maen blues. Tapi untungnya teori dan notasi dari classical system masih bisa dipake dengan tambahan keterangan seperti 1/4 bend, dll. So, blues juga bisa diajarkan secara “formal” bagi yang pengen.

Sejauh mata memandang, jazz berbatasan dengan almost semua stylistic music. Jazz Rock ada, Jazz Blues ada, Gypsy Jazz ada, Jazzy World Music ada, Latin Jazz ada, Prog metal orang bilang metal make harmony jazz plus birama kumaha maneh-na, Classical Jazz esensinya adalah kaya sekedar ngegeser dimmer switch, dll.. Keroncong + Jazz? Kayanya nyambung juga.. More exploit on all of that later..

Tonality

Karena seringkali berasal dari lagu pop, tonality-nya jelas. Rada kurang afdol nyebut jazz kalo nggak ada impro didalamnya. Improviser bisa bikin musiknya berubah drastis tergantung pemahamannya dan personality-nya. Dari frasenya, progresi, cadence, scale, pattern, dll, hampir semuanya bisa beda dari original song-nya, even theme-nya masih sama. Disini rada susah misahin term “composer” dan “performer” karena dengan adanya impro, maka “performer” otomatis jadi “composer” secara instant (impro = instant composing).

Pattern

Sering kali berasal dari bebop, pentatonic n blues scale. Blue notes juga digunakan, yaitu not yang exact pitch-nya nggak terdapat di Western System. Gitaris n kibordis bisa bending, pianist cuman bisa ngiri. Sebagian jazzer juga explore ke non-traditional scales macam whole tone n octotonic. Jazzer yang lebih nekat juga bisa make Schoenberg’s 12 tone row.

Texture

Level texture di jazz umumnya dibagi jadi 3, yaitu melodic (lead/solo), harmonic (progresi akord), n rhytmic (bass line). Ketiganya bergerak secara simultan bikin counterpoint, tapi struktur-nya lebih bebas — Parallel Perfect Consonant-nya halal, sementara doi haram di Classical. Walopun sebagian jazz improviser bisa memainkan counterpoint dan bikin texture-nya kedengeran rumit, tapi mindset jazzer saat bikin counterpoint itu lebih cenderung berdasarkan progresi harmony, alias mirip reverse engineering dari versi classical improviser yang maen counterpoint berdasarkan teori, dan darinya menghasilkan harmony.

Akord

Tetrad lebih banyak digunakan daripada triad. Menggunakan berbagai simbol untuk mewakili deretan pitch-nya — sementara di Classical make figured bass. Extended chord juga banyak digunakan, bikin sebuah fungsi harmonic bisa diwakili oleh berbagai macam extended chord — D7, D9, D13, Dsus berfungsi sama di key G. Altered chord juga digunakan untuk lebih mendramatisir progresi.

Timing

Syncopation adalah karakter utama jazz. Penekanan yang biasanya dieksekusi saat strong beat seringkali di eksekusi sesaat sebelumnya di weak beat. Sebagian besar jazz juga menggunakan swing feel. Dan karena swing feel sebenernya kadarnya bisa naik turun, doi nggak bisa dinotasikan secara akurat dengan dotted notes or tuplet marking. BTW, di jazz juga ada backbeat, yaitu penekanan pada upbeat.

Impressionism

Impressionism adalah cabang dalam sejarah dunia seni yang mengedepankan ide dari suatu object, tapi bukan objectnya itu sendiri. Jangan puyeng dengan definisi itu, coba cek contoh dan deskripsi berikut :

impressionism

Disitu kita lebih disodorin pada gradasi spektrum pencahayaan dan warna daripada batasan yang tegas untuk membentuk suatu object. Style ini berhubungan erat dengan symbolist poetry — yang fokus pada inner life, ditulis dengan gaya yang misterius n ambigu, bikin tiap orang punya interpretasinya sendiri. Contoh tulisan aneh yang keren bisa dicek di :

https://prisonerofzenda.wordpress.com/

Secara umum, karakter impressionism adalah barter antara detail dengan kesan utama yang disampaikan –dengan mengurangi detail yang spesifik, menggantinya dengan berbagai kiasan untuk menyampaikan pesan. Orang butuh imajinasi untuk bisa nangkep pesan dari seni yang disampaikan secara impressionist, semakin gokil creator-nya butuh audience yang makin gokil juga imajinasinya. Analogi tersimpel yang semua orang bisa paham adalah cerita yang disampaikan via komik or pilem vs novel. Di film jelas banget Dumbledore itu digambarkan detilnya begini dan begitu, cocok untuk orang yang males ngebayangin, or bocah yang blom punya cukup vocabs + experience untuk ngebayangin. Sebaliknya, novel ngasih kita sedikit kebebasan untuk menggambarkan sosok Dumbledore — walopun dengan koridor tertentu — sesuai interpretasi kita masing-masing terhadap deskripsinya. Karena itu, novel bakal ngasih experience yang lebih intense daripada nonton pilem, karena pikiran kita masuk lebih jauh ke dalam alam imajinasi.

Dalam hal musical, impressionism hampir nggak bisa dipisahkan dengan Claude Debussy, dengan karakter tonality, harmony n rhythm yang ambigu dan tidak disampaikan dengan jelas. Kalo mau nekat, tonality-nya seringkali cuman bisa ditentukan dari pedal point saja, sementara counterpoint — karakter utama dari Common Practice Period — bisa dibilang kagak ada.

Dalam ber-evolusi, impressionism dalam musik nampaknya mengalami kebuntuan. Debussy himself explore ke area lain sebelum akhir hidupnya. Tapi konsep yang dikembangkan di style ini masih terus digunakan oleh berbagai komposer sampai hari ini.

Tonality

Even nggak disampaikan dengan jelas dan tanpa traditional voice leading, impressionism masih termasuk musik tonal. Cara nentuinnya tonality-nya lebih ke absensi — not yang sering nongol jadi tersangka utama sebagai tonic — dan ada cara lain yang disebutkan diatas, yaitu via pedal point. Pergerakan melody-nya juga cenderung surprising. Cadence-nya bisa lebih bebas dan nggak bergantung pada leading tone, tapi endingnya tetep aja ke harmony dengan karakter stabil (consonance).

Pattern

Semua scale dari traditional diatonic, pentatonic, symmetrical, exotic, sampe ke scale kumaha maneh-na, bisa dipake. Cara nentuin scale or modes-nya adalah dengan cara Pitch Inventory(*). Kalo tonic-nya ketemu, sisa not yang hadir tinggal dirangkai buat ngebikin scale. Chromatic scale juga digunakan dengan lebih bebas daripada sekedar coloring not-not dari diatonic scales.

Texture

Counterpoint almost nggak hadir, dan kalopun ada, biasanya super simpel, dengan dosis rendah, dan lokasinya berada di daerah cadence. Karakter texture-nya sering disebut monolinear, yang berfokus pada sebuah melodic line utama. Explorasinya make pedal point, ostinati (2 atau lebih ostinato), dan planning — yaitu pergerakan parallel harmony yang diharamkan oleh Common Practice Period! — yang sekilas nampaknya multi-linear, tapi sebenernya doi masih monolinear karena semua voice dalam harmony bergerak mengikuti sebuah melody utamanya. Planing bisa dieksekusi ngikut key (Diatonic) or bisa juga mukul rata intervalnya (Chromatic).

Akord

Harmony-nya bisa disusuan dengan beragam cara, bisa secara tertian (numpukin interval 3rd), quartal (numpukin interval 4th) or juga quintal (numpukin interval 5th). Doi juga bisa terdiri dari 3 not (triads) or 4 not (tetrads) or 5 not (pentads), or lebih, dan masing-masing juga bisa dibikin inversi-nya seperti biasanya di tertian harmony. Dissonansi nggak perlu resolve secara traditional — planning texture bisa ngambang kemana-mana kumaha manehna.

Timing

Strong beatnya rada blur n nggak jelas gara-gara syncopations dan hemiolas. Umumnya make birama compound dengan banyak cross rhythm — misalnya di 6/8 kita nekat maen 3/4.

(*) Pitch Inventory :

Pitch Inventory adalah cara nentuin scale or modes yang digunakan di musik yang melody-nya nggak kedengeran maenin scales tertentu secara jelas. Berikut adalah contoh dari menggunakan Pitch Inventory yang melibatkan major & minor diatonic, harmonic minor, melodic minor, pentatonic, blues, whole tone dan chromatic.

1. Doi Diatonic.
1.1. Kalo jelas tonic-nya, tinggal nentuin Major/Minor/Modes-nya.
1.1.2. Kalo ada jarak 3 semitones, dan tonic-nya jelas, maka doi adalah Harmonic Minor Scale.

2. Doi lebih banyak not-nya dari Diatonic.
2.1. Kalo ada 2 not berbeda abjad masing-masing muncul 2x dengan pitch yang berbeda (salah satunya make accidental), dan saat ketemu tonality-nya kedua not itu terletak di “6” dan “7” dalam scale, maka doi adalah Melodic Minor Scale.
2.2. Kalo ada lebih dari 2 not berbeda abjad masing-masing muncul 2x dengan pitch yang berbeda (salah satunya make accidental), maka doi adalah Chromatic Scale.

3. Doi lebih sedikit not-nya dari Diatonic.
3.1. Kalo cuman ada 5 not dan semuanya membentuk 1, 2, 3, 5, dan 6 dari sebuah Major Scale, maka doi adalah Pentatonic Scale.
3.2. Kalo doi ada 6 not dan semuanya berjarak 2 semitones, maka doi adalah Whole Tone Scale.
3.3. Kalo doi ada 6 not dengan jarak tidak teratur, maka kemungkinan doi bisa jadi adalah Blues Scale.

Cara ini sebenernya cukup gampil bagi yang udah ngerti basic theory, dan bisa diandalin tuk ngulik sebagian besar musik sampe tingkat intermediate. Tapi selebihnya, doi kurang reliable tuk ngulik musik sampe tingkat musik advanced karena disono cenderung nyampurin semua jenis scales, modes, arpeggios, sampe nongolnya berbagai chordal fragment, dll. Yang lebih bisa diandalin saat ngulik di level itu adalah advanced theory (buat ngerti konteks yang bikin tebakan jadi jauh lebih akurat), dan hearing (ear training).

Expressionism

arnold-schoenberg

Mr. Arnold Schoenberg

 

Expressionism — yang juga sering disebut non-serial atonality, cikal bakal dari Serialism — adalah periode lanjutan dari Common Practice Period. Arnold Schoenberg awalnya composing make tradisi Romantic, tapi kemudian explore ke area full dissonansi dengan chromaticism. Beliau tidak ngikut standar tonal center, dan membebaskan dissonansi untuk berkeliaran tanpa resolve. Melodinya awalnya cuma berupa motive simple dan kemudian akhirnya jadi sekedar intervals doang.

Walopun lebih sering diasosiasikan dengan “atonality” yang artinya nggak ada tonal center, tapi beberapa theorist bilang kalo Expressionism lebih akurat untuk diasosiasikan dengan “pantonality” yang artinya kurang lebih semua pitch sama pentingnya. Kayanya ini cuman sekedar perspektif kaya penamaan not enharmonis.

Tonality

Nggak ada tonic. Walopun seringkali ada beberapa not yang nampaknya kedengeran cukup penting, tapi itu bukan disengaja oleh composernya. Semua pitch sama kedudukannya dihadapan Expressionism. Dan karena prinsip emansipasi yang extreme itu, otomatis bakal sangat susah tuk mendengar sebuah phrase n cadence disini.

Pattern

Semua not dari A sampe G# halal. Melody cenderung berbentuk motive pendek. Individual pitch disini kurang berperan penting, sementara pergerakan interval antar pitch lebih berperan penting saat analysis. Intervals bisa dimasukan dalam kelompok yang disebut CELLS, or SETS. Buat yang pengen paham lebih lanjut, silakan study subject Interval Vectors.

Texture

Bebas, naon wae hayu. Kalo biasanya melody bergerak by scale-steps dan harmony by 3rds, di Expressionism struktur keduanya nggak dibedain dan keduanya make dibuat dengan prinsip yang sama. Dinamika juga bisa berubah drastis, misalnya dari ppp ke ff.

Akord

Nggak formula tertentu, nggak ada struktur tertentu, nggak ada karakter tertentu, wong nggak ada aturan-nya. Dissonance bebas dibunyikan tanpa resolve.

Timing

Kompleks dan mlintir karena make irregular rhythm dan terus menerus ganti birama. Yang ngefans sama Dream Theater pasti paham bener apa yang dimaksud. ‘The Dance of Eternity’ ganti birama 128x dalam sekitar 6 menit.

Sebenernya masih banyak stylistic music lain diluar Common Practice Period yang masih menggunakan set pitch yang sama. Bagi para explorer, silakan cek sendiri sesuai minat masing-masing. Diluar scope Western Art Music, masih banyak berbagai jenis musik lain yang menggunakan berbagai system including penggunaan microtonal (interval yang satuannya dibawah semitones). Beberapa contoh :

> Tradisi Gamelan di Indonesia, pitch system-nya menggunakan Pelog dan Slendro.
> Tradisi Carnatic & Hindustani di India, pitch system-nya menggunakan Raga.
> Berbagai tradisi Arabian music, pitch system-nya menggunakan Maqam.

Bagi yang berminat menggali lebih jauh tentang mereka, silakan kontak para Ethnomusicologist.

Musik itu sedemikian luasnya, doi bisa bermakna berbeda bagi tiap individu. Musik bisa sesimpel lullaby yang bisa dinyanyikan semua emak-emak tanpa perlu latihan apapun, doi juga bisa serumit symphonic orchestra yang butuh orang-orang dengan musicality yang gokil biar bisa ngeluarin magic-nya. Doi bisa dinikmati sebagai background — sambil nyangkul misalnya — bisa juga dinikmati sebagai foreground — misalnya pas nonton konser. Doi bisa dianggap subject yang cukup simpel yang bisa dipelajari sendiri, doi juga bisa jadi materi study yang bisa bikin mlintir para scholar di berbagai university.

Setelah tulisan tentang breaking the 4th wall ini, nantinya diharapkan kalo ane sharing dari perspektif baru (pianis) bisa rada santai tanpa musti convert tiap detilnya tuk para pembaca gitaris, yang merupakan audience utama di blog ini so far. Toh, bukan hal yang tabu bagi para gitaris baca-baca materi pianis, bahkan udah cukup lazim, terutama di tingkat intermediate keatas. Bagi pembaca pemula yang baru nyasar ke blog ini, bisa backtracking baca-baca post lama sambil aktif study dari berbagai resources (biasanya hal-hal yang basic nggak terlalu susah dicari, baik itu di real world maupun internet).

Nah, tuk para gitaris shredder, balik maning kiye. Coba cek musik Neo-Classical — or lebih cenderung ke Neo-Romantic — yang kedengeran lebih real deal n bukan sekedar standar speed metal yang lagi nyamar :

Para gitaris shredder yang paham apresiasi bakal pada maklum kalo rujukan yang diangkat disini adalah Daniele Gottardo. Berhubung jumlah elemen yang saling kontras dalam musiknya lebih banyak daripada standar kebanyakan Neo-Classical di dunia shred guitar, maka musiknya cenderung kedengeran lebih tasty n less predictible, yang merupakan indikasi dari musik yang bagus buat study. Saat interview, Daniele Gottardo bilang urutan tingkat kesulitan dalam musiknya adalah Neo-Classical Metal < Jazz Rock Fusion < Neo-Romantic. Sebenernya ada beberapa contoh musik lain dengan dosis yang lebih extreme, tapi musik yang terlalu spicy juga rada kurang cocok tuk rujukan study. Misalnya pas bahas fusion, kayanya bakalan susah tuk nemuin educator ngasih rujukan ‘Tilt’ nya Richie Kotzen/Greg Howe yang berisi impro gila-gilaan dengan not yang pada bertebaran kemana-mana.

Subject apresiasi musik dan breaking the 4th wall juga bakal bisa memperluas persepsi para gitaris shredder traditional yang umumnya cukup sempit : cuman mau maenin lagu yang ada speed playing or akrobatic licks doang, dan kurang mempedulikan elemen lain dalam musik-nya. Shredder yang udah berada di luar 4th wall bisa maen dengan sedikit not saat lagu membutuhkannya — dan doi maen dengan enjoy tanpa malu dengan temen sesama shredder, karena tau mana yang diapresiasi — doi juga bisa maen beyond traditional shredding dan tetep berbunyi fresh — karena doi explore berbagai style dan bisa nyontek lines dari instrument non gitar, misalnya sax or piano. Musik itu beneran luas, sayang banget kalo membatasi diri di satu area doang.

Kebalikan dari speed metal shred yang berisi notes party dosis tinggi diekskusi secara non-stop, ini adalah contoh aplikasi paling extreme dari penggunaan silent dalam musik : John Cage’s 4’33”

Sebelum pada berhenti ngakak or pada komentar “WTF”, silakan bagi tertarik, musiknya juga bisa dibeli di iTunes, monggo :

https://itunes.apple.com/us/album/433/id406490689

Not sure gimana cara bikin copyright-nya tuh..

Closing :

So, there you have it. Music system yang dibangun di era common practice period adalah essence dari sebagian besar musik hari ini. Bagi yang dig in deeper berbagai jenis musik yang ngetren hari ini — terutama dari segi improvisasi-nya — maka subject dari dunia classical cepat ato lambat bakalan masuk ke daftar menu utama. Musik era Baroque sampe Impressionist menyampaikan jauh lebih banyak hal daripada yang disampaikan oleh standar musik yang ngetrend hari ini, kita membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam untuk bisa mengapresiasinya secara utuh. In fact, bisa dibilang impossible tuk ngebahas classical music tanpa pemahaman mendalam dalam apresiasi musiknya. Dan itu baru ngebahas doang, belum sampai ke mencoba memainkan karya-karya berbagai komposer besar dari tiap era. Music appreciation setingkat ini mungkin sekedar jadi menu sampingan bagi non-traditional classical musicians & audiences, tapi doi berubah jadi salah satu menu yang wajib disikat sebelum masuk ke dunia classical, baik sebagai pemain maupun penikmat.

In the end of the day, apresiasi musik adalah subject yang secara umum perlu kita kampanyekan ditengah tren situasi saat ini dimana musik berkualitas — yaitu yang terbentuk dari kombinasi beragam elemen berbeda dengan takaran yang pas — semakin dianggap nggak bernilai.

Jika penyebabnya adalah ketidaktahuan tentang apa yang musti diapresiasi, maka tulisan disini mungkin bisa bantu tuk jadi remedy. Jika penyebabnya adalah ketidakpedulian, maka tulisan disini — dan seabrek resources lain — dipastikan nggak akan bisa bantu apapun.

Semoga tulisan ini bisa membuat classical music lebih accessible dan membuatnya jadi less aristocrat’s-exclussive-music tanpa mengurangi nilai elegan-nya, dan juga membantu kita semua tuk lebih tau tentang luasnya dunia musik, membuat kita beberapa step lebih dalam saat mengapresiasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s