???

FAQ

Malu bertanya, sesat dijalan.

Silakan..


39 thoughts on “???

    Dwiyan said:
    Februari 26, 2010 pukul 8:08 pm

    Assalamualaikum,

    mas, sy minta izin untuk mempublikasikan web ini dan mw ngambil artikel dari website ini untuk di pangpangkan di website kami.. g akan dikomersilkan kok… mohon bantuan nya..

      ditomusicman said:
      Februari 27, 2010 pukul 6:52 am

      Wa alaikum salam,

      Mohon maaf Dwiyan, sampai dengan saat ini saya belum ada maksud untuk mempublikasikan semua artikel disini dalam bentuk dan maksud apapun diluar blog ini, karena salah satu niat awal untuk menulisnya adalah untuk mendiskusikannya bersama temen2 pengunjung di blog saja😀

      Akan ribet kalo ada banyak sumber yang harus dicek buat aktif dalam diskusi nantinya😉

      Anyway, silakan kalo mau pasang link. Boleh tau websitenya?

    dwiyan said:
    Maret 6, 2010 pukul 7:48 pm

    ini situs na… jadi kami disini ngambil 3 konsep web. tentang agama, music, dan teknologi… naturalisme.freevar.com kami perlu artikel tentang music.. khusus nya gitar.. kami sedang cari bahan yang baik… klo misalkan kami boleh ngambil 1, or 2 artikel disini….kami snagta berterimakasih. tentang diskusi artikel tersebut dapat kami alihkan kok ke site milik kk..

      ditomusicman said:
      Maret 8, 2010 pukul 8:41 am

      Hmmm… Btw, nampaknya materi2 disini rada kurang relevan dengan materi dari blog http://naturalisme.freevar.com/ yang membahas tentang sebuah band.

      Kenapa tidak menulis saja dari sudut pandang pribadi saja? Kan jadi tetep original dan fokus tuh isi blognya😀

      Musik itu amat personal, pendekatan masing2 dari kita bisa saja amat berbeda. Bisa juga kita punya banyak kesamaan tentang banyak hal, tapi karakter dari tiap2 individu pasti berbeda.

      Silakan coba dulu tulis or share sesuatu yang khas dari musiknya NATURAL band. Para pengunjung blog akan lebih mengappresiasi kreativitas, seperti esensi dari musik itu sendiri😉

      Ok, gutlak.

    Anonim said:
    Mei 11, 2012 pukul 4:22 pm

    mas, maksud simbol R dalam rentetan arpeggios itu apa yaa, terima kasih atas jawabannya..😀

      ditomusicman said:
      Mei 15, 2012 pukul 10:45 pm

      R dalam bagan fingerings adalah singkatan dari Root [akar not]. Misalnya, kalau kita sedang mencari fingerings arpeggio A major, maka rootnya adalah not A, demikian juga kalau arpeggio C major atau minor atau major7th, rootnya juga C. Interval lain [3rd, 5th, etc] dalam arpeggio mengikuti pola yang terdapat dalam bagan sesuai CAGED system.

      Semoga cukup jelas😉

    hackerfactturixus said:
    Maret 26, 2013 pukul 7:50 pm

    Mas, boleh minta chord nya hello goodbye & hello nya makoto shinkai nggak?

    death said:
    September 15, 2013 pukul 9:50 am

    mas, cara ngulik lagu yg rumit kayak lagu dream theater atau lagu2 yngwie gimana ya mas?harus rajin ear training?trus cara nebak chord aneh yg banyak tension tu gimana mas?

      ditomusicman said:
      September 15, 2013 pukul 1:14 pm

      Kalo beberapa lagu terdengar rumit untuk diulik, maka solusinya memang ke ear training dan jam terbang terhadap jenis lagu2 tersebut. Ini juga berkaitan dengan modes yang kedengeran aneh2, akord yang kedengeran aneh2. Makin kita terbuka terhadap berbagai jenis musik, maka makin kita paham inti dari musik, dan makin paham luasnya dunia musik.

      Marian Petrescu, seorang pianis virtuoso pemenang Grammy Award pernah mengatakan dalam interviewnya bahwa musik itu luas, terlalu luas untuk dikuasai seumur hidup. Padahal beliau telah maen piano sejak umur 4, tetep aja masih banyak hal baru yang bisa dipelajari.

      Tapi jangan khawatir, pada dasarnya hampir semua hal itu kedengeran aneh pada awalnya, tapi seiring waktu dengan pemahaman, hal2 itu menjadi gampang karena terbiasa. Kita kunyah sepotong2, makanan segede apapun bakal habis.

      Keluhan paling umum dari teman2 yang otodidak adalah biasanya perkembangan musicalitasnya kurang memuaskan setelah sekian lama karena proses trial n error plus nyasar kemana2 nggak fokus. Untuk hal ini solusinya adalah disiplin dan fokus, kalo perlu sekalian belajar ke sekolah musik yang ok, biar ketemu mentor n tutor untuk menambah banyak informasi dan vocabs.

    Arif said:
    November 9, 2013 pukul 1:19 pm

    bang dito ,chord yg dipakai petrucci apa aja yg bang, satu lagi bang cara improvisasi bass gimana bang,makasih

      ditomusicman said:
      November 12, 2013 pukul 3:51 pm

      Halo Alif.

      Waduh, ini kayanya jenis pertanyaan yang paling susah dijawab. Daftar total akord yang dipake John Petrucci, mungkin bisa dibikin buku segede majalah Gitar Plus, bahkan mungkin lebih. Yang paling khas dan kedengeran keren, beliau seringkali explore menggunakan close voicing untuk mendapatkan bunyi tabrakan dari interval yang rapat. Beliau juga cukup sering menggunakan pedal tones dalam progresinya, sehingga akord2 yang dicomot dari skala yang berbeda pun bisa tetep kedengeran mengalir dan kedengeran logis. Akord2 ini jelas kedengeran di lagu2 seperti ‘Another Day’, ‘Silent Man’, ‘Hollow Years’, ‘A Change of Season’, dll. Secara umum, John Petrucci (terutama dulu) sering menggunakan akord2 model begini :

      Sample diatas dibikin beberapa saat setelah mendengar kabar meninggalnya Bayyin Nur (Audio Pro).

      BTW, Nama akordnya bisa apapun tergantung konteks. Kalo pengen serius mendalami akord2 itu, dan kebetulan posisi di Bandung, silakan mampir ke Dojo Gitar, ada acara workshop reguler tuk ngebahas berbagai macam hal.

      Perihal improvisasi bass, kayanya prinsip utamanya cenderung sama aja dengan improvisasi di instument lainya, kita tetep musti outline harmony dari point A ke point B menggunakan berbagai macam cara. Untuk lebih jelasnya, coba kontak Kang Aip SR, seorang guru bass dengan tone yang mengerikan :

      https://www.facebook.com/aipsr

    Muhammad Ihsan Nashrullah said:
    November 10, 2013 pukul 5:44 pm

    assalamulaikum ,
    bng dito aku mau nnya ni , gmna cara ngulick lgu2 ny joe pass ? soalnya sering ad perubahan nada dasar gitu . trims

      ditomusicman said:
      November 13, 2013 pukul 4:52 pm

      Wa alaikum salam, Mr. Ihsan.

      Ngulik lagu2 joe pass memang nggak gampang, dan tentu saja ‘nada dasar’ hampir sama sekali nggak bisa jadi patokan. Di classical dan jazz seringkali terdapat temporary tonality switch (tonicization), dan juga permanent tonality switch (modulasi, bukan ‘overture’ eaa). Hal ini mungkin biar tiap not nggak pada saling iri karena nggak dimaenin. Untuk nguliknya, kita bisa lebih berpatokan pada akord daripada scale (walopun faktanya akord dibuat dari scale). Untuk nguliknya, kayanya step2 ini bisa dicoba, cukup bisa diandalin untuk akord2 dan konsepnya juga bisa diterapkan tuk lines :

      1. Menentukan ketukan utama-nya. Cara ini cukup gampil pas beliau maen steady, tapi rada sedikit susah kalo pas maen rubato. Solusinya musti pake feeling. Don wori, umumnya kita bisa cepet tau karena lagunya cenderung logis ngikutin aturan alami musik western.
      2. Fokus pada akord yang dibunyikan saat ketukan utama-nya. Tanpa tau ketukan utamanya, kita akan mendengar cukup banyak akord. Pada dasarnya, mereka hanyalah ornamen dan orkestrasi aja. Setelah nyampe sini, kita bisa nyengir2 ketika denger lagu jazz dengan progresi akord seribet apapun, karena ketauan akord2 utama nya.
      3. Pada akord tersebut, fokus pada not yang paling gampang didengar, yaitu not tertinggi dan terendah nya (or bass nya, yang menentukan root dan nama akord). Dengan cara ini kita bisa lebih akurat menentukan voicing yang beliau gunakan.
      4. Diantara not tertinggi dan terendah, tambahkan 1 not untuk menentukan karakter bunyi nya. Not nya bisa jadi apapun. Kita bisa mulai mencoba dengan b3rd atau 3rd atau 4th dari root.
      5. Tambahkan not lain lagi untuk hasil yang lebih full.

      Selamat mencoba. Untuk soloingnya, silakan gunakan berbagai macam pendekatan yang lebih berpatokan pada chord tones. Beberapa informasi tentang theory (terutama functional harmony dan voice leading) serta ear training akan sangat membantu proses ngulik dan juga membantu memahami musik (western) secara lebin menyeluruh.

    aslan said:
    Januari 1, 2014 pukul 8:29 am

    bang dito cara nebak chord blues sama jazz yg rumit2 tu gimana?

      ditomusicman said:
      Januari 2, 2014 pukul 10:16 am

      Halo Mr. Aslan,

      Beberapa tips ini mungkin bisa bantu biar kita berpeluang sukses nebak akord blues dan jazz.

      Dari segi konteks :

      1. Ngerti akord dominant dan ekstensinya.
      2. Ngerti progresi basic dari blues (I-IV-V) dan jazz (ii-V-I).
      3. Ngerti prinsip dasar substitusi.

      Kalo ngerti 3 point diatas, lagu apapun beres.

      Step by step secara umum dalam ngulik akord dari segi sound biar voicing nya sama persis :

      1. Tentukan not terendahnya (Root).
      2. Tentukan not tertinggi nya (sering kali extension).
      3. Tentukan quality karakternya, diantara not tertinggi n terendah (3rd dan 7th nya kalo blom nongol).

      Lalu untuk ‘kunci jawaban’ dari tiap lagu, kita bisa buka realbook or official transcription.

      BTW, tuk para musisi beneran (bukan sekedar hobby), walopun nampaknya cukup menggoda untuk bisa maen banyak lagu secara instant, ane sama sekali nggak menyarankan tuk bergantung pada realbook dan official transcription kecuali untuk studi (ear training, harmony n analisis), karena akibatnya cukup fatal dalam jangka panjang.

      Saat workshop, ane menemukan pelajar senior yang belajar jazz lebih dari 10 taun di tempat yang cukup ternama di Bandung, tapi blom bisa denger karakter2 dasar dari akord. Ini nggak akan terjadi kalo dari awal semua orang melatih kupingnya tuk mengenali nada dan harmony.

      Kayanya itu solusi2 yang bisa dipelajari dalam waktu dekat. Semoga bisa membantu.

    toni said:
    Januari 13, 2014 pukul 6:59 pm

    selamat malam mas,dalam hal ngulik ,senjata yg mas dito pakai apa saja?software apa mas?bagi2 dong mas,atau ada misalnya trik untuk mengeraskan suara bass atau suara lead atau rhytim aja

      ditomusicman said:
      Januari 27, 2014 pukul 3:07 pm

      Halo Toni,

      ketika awal memulai dan berkenalan dengan ngulik (transcribing) sekitar 10 taun yang lalu, ane seperti kebanyakan orang cuman make Winamp, lalu make plugin bernama Pacemaker. Doi berfungsi untuk membuat pelan playback audio, yang sangat berguna tuk ngulik fast lines, walo saat itu pitch nya masih kedengeran sedikit goyang.

      Lalu beberapa taun lalu ane ketemu sama yang namanya Amazing Slow Downer, doi jauh lebih reliable tuk urusan ‘slow down-ing’ playback dengan pitch yang lebih stabil. Software ini sekarang masih terpasang di system ane walopun saat ini makin jarang digunakan. Thanx to theory, ane sekarang bisa berpeluang lebih sukses menebak lines tanpa bantuan software karena lebih paham fundamental harmony, dan konteks nya.

      BTW, ane nggak terlalu tau cara untuk mengeraskan part tertentu saat musiknya udah di mix down, selain menggunakan EQ. Jadi kita terpaksa mendengar suara berbagai macam instrument yang tinggal di frekuensi tersebut.

      Tuk mengeraskan suara bass, bisa coba boost low freq (or cut mid n high), tuk dengerin rhythm bisa coba pasang scooped EQ (or cut mid), kalo tuk dengerin lead bisa coba mid boost (or cut low n high). Ini adalah trik yang nampaknya semua orang tau.

      Ane punya trick yang mungkin nggak semua orang tau, tapi ini tidak terlalu berkaitan dengan transcribing/ngulik secara langsung, lebih ke experimental n comping playing : menghapus suara band sehingga tinggal vocal (or lead) nya saja. Prinsip ini kebalikan backing track, dimana suara vocal/lead nya yang kosong, yang bisa kita isi untuk latihan soloing/improvisation. Berikut ini contoh sample nya :

      Trick nya adalah menggunakan reverse phase tuk ngebersihin bunyi yang nggak kita inginkan dengan menggunakan 2 atau lebih track yang versi nya sama persis. Nanti rencananya kapan2 mau bikin sample begitu lagi.

      Kesimpulannya, menurut ane senjata yang terbaik untuk ngulik (atau hal2 lain dalam hidup) adalah informasi atau ilmu, dan juga insting, sehingga kita nggak terlalu tergantung dengan hardware/software. Don wori, semua hal yang kita pelajari dalam musik adalah untuk menambah informasi dan melatih insting, hingga pada akhirnya semua orang akan bisa melakukannya dengan otomatis, kalo berlatih dengan benar😉

        toni said:
        Januari 29, 2014 pukul 1:36 am

        Jadi teori apa yg saya perlukan mas dito utk ngulik,atau ada referensi buku?

          ditomusicman said:
          Februari 6, 2014 pukul 9:55 am

          Semua teori yang berhubungan langsung dengan musik yang kita ulik akan sangat bermanfaat. Ngulik itu ibarat menyingkap misteri, dan teori yang berhubungan langsung dengannya itu ibarat petunjuk untuk memecahkan misteri itu. Makin banyak petunjuk, makin gampil mecahin suatu kasus. Musisi pas ngulik itu lebih mirip detektif daripada artist😉

          Untuk rujukan buku nya, jawabannya kurang lebih sama aja. Semua buku yang berhubungan langsung dengan musik yang kita ulik akan sangat membantu, baik itu buku teknik, teori, maupun alat n sound, dll.

          Secara umum yang paling membantu untuk ngulik adalah kombinasi ear training + teknik. Berikutnya adalah theory + teknik. Berikutnya lagi pemahaman alat + teknik. Bisa juga gabungan dari semua aspek + jam terbang.

          Kenapa teknik selalu nongol? Karena walopun jika nguliknya hanya untuk transcription (buku or report), tetep aja kita diminta tuk bisa maenin apa yang kita ulik untuk membuktikan akurasi hipotesa kita.

          Musisi veteran or yang paham teori itu mirip Sherlock Holmes (sementara yang kurang paham teori mirip Thomson & Thompson). Umumnya, makin ngerti teori, makin gampil problem solving saat ngulik.

          Silakan kumpulkan semua informasinya dari berbagai sumber, the more, the better. Selamat jadi detektif..

    Muhammad Ihsan Nashrullah said:
    Januari 28, 2014 pukul 8:55 pm

    Assalamu’alaikum
    mas dito , aku mau mnta pnjlasan mslah bermain outside ni ?
    trus gimana cara bermain outside dengan pentatonik , chromatik , passing not dan modes ?
    Eee , 1 lg mas dito kalau ad sama sample video nya skalian . Hhe he
    Trims .

      ditomusicman said:
      Februari 5, 2014 pukul 1:35 pm

      Wa alaikum salaam wr. wb.

      Hoi Ihsan,

      > maen outside itu pada dasarnya sengaja maenin not (atau bisa juga akord) yang tidak berhubungan langsung dengan fungsi harmoni akord asli yang sedang dimaenin. Aturan umum dalam maen outside adalah :

      * Saat akord yang berbunyi stabil, outside bisa dilakukan di sela2 strong beat, tapi tidak di strong beat.
      * Saat akord berbunyi tension, outside bisa dilakukan dimanapun, termasuk disustain (panjang), kecuali interval maj7th (silakan coba sendiri sustain F# saat akord G7 dibunyikan, or A# saat Bm7b5 dibunyikan).

      Nah, darimana kita tau bahwa suatu not tidak berhubungan langsung dengan akord yang sedang dimainkan? Berarti kita musti tau not yang berhubungan langsung dengan akord nya kan? Yoi meeen.

      Semua orang yang bisa maen outside terlebih dahulu belajar bagaimana batasan2 tuk maen inside, setelah itu baru doi mencoba explore jalan2 outside diluar batas inside.

      Not2 yang termasuk kelompok outside adalah not2 yang tidak berhubungan langsung dengan fungsi harmoni dari akord yang sedang dimainkan. Berarti dalam hal ini, orang yang bener2 bisa maen outside juga ngerti subject functional harmony (tidak ada istilah outside dalam non-functional harmony, karena doi termasuk modal playing or atonal).

      Saat akord2 progresi berfungsi secara diatonik di key of C (misalnya progresi berisi akord C, Dm, Em, F, G, Am, Bdim), maka not outsidenya adalah C#, D#, F#, G#, A# or skala D# pentatonic minor. Semua akord yang mengandung 5 not ini juga termasuk kategori outside terhadap key of C.

      > Maen outside dengan pentatonik bisa mulai dicoba dengan menyelipkan chromatic disela2 not pentatonik.

      > Maen outside dengan chromatic bisa mulai dicoba dengan berhenti (sustain) di chord tones.

      > Passing not adalah not yang berguna tuk ngoper (or assist, or umpan lambung) antar chord scales. Doi termasuk not outside yang menghubungkan 2 not inside disebelahnya. Biasanya dimainkan di weak beat dan subdivisinya. C# adalah passing note dari C ke D, dan sebaliknya.

      > Maen outside dengan modes bisa mulai dicoba dengan menyelipkan chromatic disela2 not dalam modes.

      > Mohon maaf ane sampe sekarang blom sempet bikin sample pidio instructional karena masih sibuk mampus studi banyak hal. Mungkin next time soon. Kalo udah ada nanti ta kabarin, stay tuned😉

      Nah begitulah kira2, semoga cukup jelas..

    rezki said:
    Maret 14, 2014 pukul 12:21 am

    min, kata temen ane kalau ngulik tu perlu tau jalur nya?jalur disini apa yah min?

      ditomusicman said:
      Mei 14, 2014 pukul 12:23 pm

      Ane juga bingung tuh jalur apa, kayanya nggak mungkin dah kalo jalur bis Trans Jakarta. Mungkin maksudnya scale.

      Coba tanya temen ente dulu Gan, biar kagak salah paham.

    glenn46 said:
    Agustus 12, 2014 pukul 8:44 am

    mas dito mau nanya nih, gw kan newbie di gitar. mau nanya tentang improvisasi melodi gitar nih. masih kurang ngerti tentang improvisasi. misalkan kita maen lagu pop atau rock dengan nada dasar D Major. Improvisasinya pake scale apa nih? mohon pencerahannya🙂

      ditomusicman said:
      September 7, 2014 pukul 9:32 pm

      Nada dasar D major, kalo mau improvisasi make scale, paling ok make scale yang dibuat dari nada dasarnya itu sendiri, yaitu D major diatonic scale, dan modes2nya. Kita juga bisa ngurangi jumlahnya menjadi 5 not untuk maenin pentatonik scale, lalu menambahkan 1 passing note untuk sesekali nyisipin blues scale.

        glenn46 said:
        September 7, 2014 pukul 10:56 pm

        makasih atas pencerahannya mas.
        aku masih blm ngerti mas soal passing note. itu yg gimana? boleh dijelasin gak?
        thanks before

          ditomusicman said:
          Oktober 8, 2014 pukul 5:07 am

          Sip.

          Passing note, by definition adalah not yang bertujuan untuk ngoper dari point asal ke point tujuan, or istilah kerennya sekedar transit. Pada diatonic scale (7 not), kita bisa nyelipin sebuah not di sela-sela not dari scale berjarak 1 tone (2 fret), jadi total yang dimaenin adalah 3 not yang barjarak kromatik (sebelahan 1 fret). Kalo semua not di diatonic scale diselipin passing note, itu jadi chromatic scale.

          Perbedaan pentatonic minor dan blues scale adalah pada passing note yang terletak di antara 4th dan 5th.

          Kita bisa ekspansi prinsip ini di arpeggios. Arpeggio mayor yang terdiri dari 1, 3, dan 5 dari major scale bisa diselipin, 2, 4, 6 dan 7 untuk membentuk Ionian scale, dan bisa diselipin 2, #4, 6 dan 7 untuk Lydian scale. Contohnya bisa dicoba lebih jauh di akord/arpeggio lainnya, sekalian ngecek hubungan akord – skala. Doi udah sempet disenggol, silakan di search.

          glenn46 said:
          November 23, 2014 pukul 10:43 pm

          Makasih banyak mas dito akhirnya saya bisa ngerti juga. Anda sangat membantu saya.

          Tapi saya masih boleh nanya lagi kan mas?? Hehehe

          Saya denger2 referensi lagu dan kebetulan dapet lagunya Avenged Sevenfold – Dear God. Nah pas denger di bagian ending melodinya ada terdengar dua suara gitar yg maenin melodi di salah satu bagian. Yang saya mau tanyakan apakah itu harmoni suara 1 dan 3? Jika bener mas dito boleh bantu saya ngajarin gimana cara bikin suara 3 pada melodi gitar. Saya pengen belajar buat nada seperti itu.
          Thanks

          ditomusicman said:
          Januari 7, 2015 pukul 11:07 am

          Silakan.

          Harmony suara 1 dan 3 kok kayanya kedengeran rada kurang lazim yak.. Angka disetelah kata “suara” itu biasanya nggak langsung berhubungan dengan not, tapi grup dari single line voice. Misalnya soprano masuk grup 1 dan bass masuk grup 2, harmonynya bisa dibilang harmony suara 1 dan 2. Suara 1 bisa diisi grup apapun, dan suara 2 juga bisa diisi apapun, 3 juga, dst.

          4 part harmony biasanya diisi oleh SATB (soprano, alto, tenor, bass).

          Mungkin yang dimaksud adalah tertian harmony, yaitu harmony yang dihasilkan dari interval 3rd dalam scale. Harmony ini gampil dieksekusi kalo tau scale yang dipake.

          Caranya : Tiap kali part 1 maen suatu not, part 2 musti maenin not yang berjarak diatonic 3rd darinya, bisa diatasnya ato dibawahnya.

          Contohnya : di scale C major scale, ketika part 1 maen C, part 2 nya bisa maen E ato A. Ketika part 1 maen D, part 2 nya bisa maen F ato B. Nah, ketika line :

          Part 1 : C – D
          Part 2 : E – F , or E – B or A – F, or A – B.

          dst

          Lokasi pitch part 2 nya bisa diatas or dibawah part 1. Part yang bunyinya pengen ditonjolin pitch nya musti berada diatas. Pilihan not di part 2 pengaruhi oleh akordnya, sementara part 1 itu melody utamanya (nggak ada pilihan laen).

          Selamat mencoba.

    Andrew vante said:
    Februari 10, 2015 pukul 3:50 pm

    Bang Dito, bagaimana cara berimprovisasi hebat seperti Alex Hutchings?

      ditomusicman responded:
      September 9, 2015 pukul 10:05 pm

      Entahlah, wong ‘Happy as Larry’ ane juga dianggap fail :

      Yang pasti sih banyak latihan n terus nambah vocabs. Tuningnya Alex Hutchings make perfect 4th, yang berarti senar 1 dan 2 nya itu F dan C. Hal Itu bikin fingerings-nya jadi unconventional dan juga bisa ngaruh ke licks yang kedengeran lebih fresh.

    beno said:
    April 15, 2015 pukul 4:46 pm

    bang dito, minta contoh pattern2 sweep picking dong, hehe. bagaimana cara membangun sebuah lick agar bs dimainkan secara nyaman oleh jari kita? terima kasih

      ditomusicman responded:
      September 9, 2015 pukul 10:21 pm

      Sweep picking basically make pick tuk nyapu senar dengan satu arah, ane juga bingung gimana contoh pattern untuk picking hand-nya. Ta pikir semua orang udah tau otomatis. Aturan yang umum ane terapkan adalah :

      1. Ke arah senar yang lebih kecil selalu downstroke, unless doi adalah senar terakhir dalam proses sweep picking. ane sikat upstroke biar sisa energinya kepake untuk persiapan ke senar lain.
      2. Ke arah senar yang lebih besar selalu upstroke, unless doi senar terakhir dalam proses sweep picking, alesannya sama dengan no 1.
      3. Kalo ada not yang musti diaksen, maka not itu di eksekusi dengan downstroke, alias stop make sweep picking.

      Ketiga prinsip diatas lebih sering digunakan oleh gypsy guitarist macam Birelli Lagrene, Andreas Oberg, Joscho Stephan, dll. Karena prinsipnya udah berumur sekitar seabad, mungkin prinsip itu lebih bisa diandalin tuk diadopsi.

      Silakan coba, semoga bisa nyaman. Paling tinggal ngebiasain aja.

    Kiren Prayogi said:
    Juni 28, 2015 pukul 1:08 pm

    Mas saya mau tanya maksud dari lick, pick, riff itu apa sih,,, maklum ya newbie

      ditomusicman responded:
      September 9, 2015 pukul 10:34 pm

      Lick adalah sebuah pattern (pola) or frase (kata dalam musik) yang terdiri dari beberapa not. Umumnya dipake di melody.

      Pick adalah alat untuk memetik senar gitar, bisa dari plastik, logam, sampe yang ke material yang menghebohkan n bikin berantem dengan orang dari Greenpeace : tortoise shell.

      Riff pada dasarnya adalah ostinato or pengulangan phrase dalam musik. Umumnya dipake buat iringan (accompaniment).

    handika said:
    Desember 6, 2015 pukul 1:21 pm

    Assalamu alaikum wr.wb
    Mas dito saya mau nanya nih,saya belajar gitar udah hampir 2 tahun tapi hasilnya kayaknya gitu gitu aja monoton,boleh minta saran nya buat latihan harian biar bisa menguasai teknik,scales,modes,improvisasi,sama nentuin chord progressi nya.Maaf kalo kebayakan hehe
    Makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s