Classical Music Fundamentals bagian 6.2 : Breaking the 4th Wall & The Musical Cosmos

Posted on

Perspective

“Setelah nyenggol hubungan tentang classical dan jazz, waktunya tuk nyenggol tentang 4th wall.”

 

Sebelumnya, pernah denger pernyataan bahwa semakin kita study suatu hal, semakin membuat kita merasa kerdil? Ini berlaku secara universal untuk semua subject study, regardless. Hal ini terjadi karena pas study deeper, kita bakal tau bahwa limit dari subject yang kita pelajari berpotensi ikutan melar tanpa ujung, or — kalo ikutan system klasifikasi konvensional — kita bakal nemu beberapa subject baru yang masih punya relevansi dengan subject yang sedang kita pelajari. Saat kita berdiri di border dari sebuah subject, or saat mapping dari sebuah subject udah beneran komplit n kita kuasai diluar kepala, kita akan dihadapkan pada fakta baru : ada apa diluar sana? Ada apa di balik borders? Kalo kita memutuskan tuk melihat musik dari semesta yang lebih luas, dan menyadari bahwa system yang dianut oleh musik kita saat ini hanyalah merupakan bagian kecil darinya, maka saat itulah kita “Breaking The 4th Wall”.

4th wall

Dream Theater’s Breaking The Fourth Wall

 

“Gokil. Ngapain kita terus belajar kalo justru malah bikin kita ngerasa tambah bego?” – Paijo bin Sopokae Mbuh

Weits, engke heula bray, ini nggak berarti bisa disimpulkan bahwa mendingan nggak usah belajar sekalian. Keywordnya adalah “merasa”. Dan “merasa” itu belom tentu real. Itu kan hanya perasaan Dek Paijo saja.. Faktanya, kalo orang yang belajar tentunya doi makin pinter, including bagi yang self-taught sekalipun. Perihal perasaan bahwa doi merasa makin kerdil adalah karena doi selalu nemuin hal baru diluar subject yang sudah dikuasai, bikin makin paham atas luasnya subject study-nya. Jadi belajar berasa nggak akan selesai kecuali kita sendiri yang memutuskan selesai. Dan study deeper bisa membantu tuk constantly reality checked tentang kemampuan dan pemahaman ilmu kita secara lebih objective, dan membantu kita tuk terus menapak tanah ketika pengetahuan terus tambah luas. Ini juga sering di analogikan seperti prinsip padi — makin berisi makin merunduk — yang bikin makin stay low profile, salah satu hal yang penting tuk dikampanyekan dunia showbiz, terutama bagi para performer.

“Lah, sebagian musisi, terutama para performer aktif malah pada high profile tuh?”

Tergantung konsep performance-nya, sebagian jenis musik — terutama yang berkaitan langsung dengan so called “modern pop based music industry” — emang menuntut performer untuk high profile, di saat performance. Industri musik — yang sayang sekali cenderung nggak berlandaskan creative patronage, alias lebih mirip dengan industri lainnya yang berisi pure business, dan kita musti berkompromi kalo mau commit masuk didalamnya — dari awal emang nge-push agenda tentang idolatry, bikin populasi fans yang fanatik, yang tentu saja tujuan utamanya money milking. Karena merasa dipuja on stage, nggak sedikit performer yang kebablasan keterusan high profile saat turun stage dan berlanjut dalam lifestyle keseharian. Untuk para legends, veterans n world class performers, mungkin society pada maklum karena nampaknya unavoidable, meskipun kalo mereka pada stay low profile tentu saja jadi point plus dalam society. Nah kalo ada performer yang cuman aktif setingkat komunitas lokal tapi sengaja tengil bin songong karena merasa emang musisi musti begono — or karena idola mereka begono dan karena bisa covering musiknya berarti musicality-nya dianggap setara, lalu boleh dong tengil bin songong juga — itu sih kebangetan..

Head in Hands

“Two things define you : your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything.”

 

Walopun yang rentan kena penyakit tengil bin songong adalah performer, tapi musisi itu sendiri juga nggak melulu tentang performer. Yang aktif di belakang layar ada juga yang bisa dianggap setara or bisa lebih serem musicality-nya, seperti educator, composer, dan juga sound engineer. Yang disebut terakhir ini walopun nggak musti belajar tentang harmony n music theory secara mendalam, tapi peranannya sangat menentukan kesuksesan sebuah music performance yang melibatkan amplifikasi n mixing console. Dalam industri, ada juga music producer n music promotor, yang kalo dipersimpel ya profesinya masih musisi walopun bisa juga nyamar ngaku jadi bisnismen. Dan tentu saja kalo bahas performer yang unconventional, ada juga yang paling iconic — yang orang awam anggap paling culun dalam orchestra karena keliatanya kerjanya cuman avakadavra, padahal justru doi orang yang paling serem di stage — yaitu Conductor.

Avada Kedavra

Avada Kedavra

 

Karena saat aktif bermusik sesuai bidangnya ini mereka nggak langsung dipuja oleh audience, maka mereka relatif lebih kebal dari penyakit tengil bin songong. Terlebih lagi bagi mereka yang isi kepala n musicality-nya beneran berat — misalnya udah jauh melewati 4th wall — bakalan susah nemuin foto mereka berpose dengan dagu naek + ekspresi ja’im, apalagi foto itu dieksekusi secara selfie..

Seriously..

Unless, mereka lagi cosplay superhero..

Itupun kemungkinan besar juga masih pake topeng, minimal Batman lah..

Inside The 4th Wall

Range musik yang dibahas di seri Classical Music Fundamentals ini hanyalah merupakan sebagian kecil dari musik yang berasal dari sebuah kultur/budaya/tradisi Western — Western Art Music, or European Art Music, or orang sering bilang “THE” Classical Music, or orang yang ogah musiknya diasosiasikan dengan dinosaurus bakal menggunakan term musik sastra or written music. Area coveragenya berada di era yang berkisar antara taun 1600 – 1900, yang para theorist sering bilang “Common Practice Period”.

Common Practice Period secara berurutan berisi era Baroque, Classical, Romantic, dan nyempil didalamnya Impressionist. Baroque era berbatasan dengan era sebelum Common Practice Period, dan Romantic era/Impressionist era berbatasan dengan era sesudah Common Practice Period.

Era sebelumnya, ada era Medieval dan Renaissance :

  • Untuk era Medieval (Middle Age), ane beneran nge-blank, nggak ada yang bisa ditulis disini. Mau namatin Assassin’s Creed 10x pake blusukan sana-sini juga sama sekali nggak membantu. Ane-nya sendiri emang nggak digging subject ini. Buat yang tertarik, silakan kontak musicologist terdekat aja.
  • Kalo info tentang era Renaissance, ane kemaren sempet kecipratan dikit, terutama karena era Baroque music yang beberapa taun terakhir ane pelajari itu era-nya berbatasan dengan era Renaissance. Hal simpel yang perlu diketahui adalah, musik saat itu emphasize ke modes. Bagi yang study Baroque music, subject tentang modes ini bisa dibilang pre-requisite. Tapi yang perlu disikat cuman modes utama yang survive di modern theory aja, nggak perlu semuanya. Dan seperti biasa, bagi yang pengen info detil tentang Renaissance music, silakan kontak para musicologist aja. Ane disini cuman nulis hal-hal basic yang semua musisi modern seharusnya pada tau, karena terkait langsung dengan subject appresiasi.

Era sesudah Coomon Practice Period, ada era Modernism, Contemporary, dll. Nah, klasifikasi di era ini ada beda versi. Ada yang menyebutkan kalo akhir Romantic dan Impressionist masuk ke modernism. Don wori, perbedaan terminologi semacam ini sebenernya nggak perlu diperdebatkan dan bisa dimaklumi karena stylistic era emang dipengaruhi oleh taun, dan taun yang berdekatan bisa aja masuk 2 kategori yang berbeda. O iya, jazz n blues n seabrek stylistic music laen masuk ke era modernism ini.

Pendapat ane pribadi tentang stylistic or genre musik di era modern ini, terutama seabrek musik yang harmonic system dan set pitch-nya berasal dari standarisasi era Common Practice Period, semuanya adalah relatif. Sebegitu relatifnya sampe disatu tahap bahwa kalo kita sebagai musisi paham pondasinya — theory dari Common Practice Period — kita bakalan melihat mereka lebih kaya spektrum warna daripada kaya rak-rak CD terpisah dengan border yang jelas di Disc Tarra n Aquarius. Lagian, klasifikasi musik modern juga dipengaruhi oleh sudut pandang subject. Orang awam bilang Kenny G itu jazz, sementara jazzer bakal bilang pop. Coba tanya fans Pat Metheny tentang Kenny G.. Jadi hal ini nggak perlu diperdebatkan.

Teori relativitas juga ada di musik. Einstein bilang E=MC2, Music Theorist bilang E=Fb.

Tulisan ini berjudul Classical Music Fundamentals, tapi pada faktanya cuman ngebahas beberapa tetes info dari Common Practice Period. Alasan doi terpilih menjadi duta dari THE Classical Music saat membahas pondasi edukasi musik modern adalah karena berbagai musik hari ini berkembang menggunakan system standar yang berasal dari Common Practice Period.

THE Classical Music or European Music Timeline :

2000 SM : Pembangunan Stonehenge
1700 SM  : Hukum Hammurabi
1300 SM  : Dinasti Tutankhamun
1000 SM  : Dinasti Nabi Sulaiman a.s.
700 SM    : Berdirinya Romawi
500 SM    : Era Keemasan Yunani
300 SM    : Dinasti Alexander
0 M           : Kelahiran Jesus or Nabi Isa a.s.
300 M      : Kebangkitan Christianity
500 M      : Keruntuhan Romawi
800 M      : Dinasti Charlemagne, awal modality n organum
900 M      : Awal dari notasi musik
1000 M    : Awal penggunaan garis paranada (staff)
1100 M     : Perjanjian Magna Carta, awal polyphony
1200 M     : Penggunaan Fauxbourdon dalam harmony
1300 M     : Nongolnya ars nova style, awal penggunaan keyboard
1400 M     : Renaissance, awal dari buku musik
1500 M     : Pre-Baroque, Common Practice Period biasanya ngebahas era ini sebagai supplement or intro
1600 M     : Awal Common Practice Period, terbentuknya Tonality n Functional Harmony
1900 M     : Akhir Common Practice Period, awal 20th Century Modern Music, penggunaan pandiatonic dan                                         explorasi atonality, cross-overs n cross-influence music, complex & uncategorized music
2000 M    : Sekarang

evolution of music notation

evolusi dari notasi musik

 

“Lah, Stonehenge nyambung sama classical music?”
“Perkembangan musik itu tidak bisa lepas dari kebudayaan. Kalo timeline-nya mundur sejauh itu jadi make sense.”

Jangan lupa kalo ini hanyalah sejarah music yang berasal dari European Tradition yang dibahas di teori musik. Ada berbagai macam jenis musik lainnya di tiap wilayah di bumi, di rentang waktu yang sama. Diluar art music (musik yang terstruktur n sistematic, punya teori tertulis yang bisa diajarkan) ada juga yang namanya traditional/ethnic music (musik yang berkembang secara oral/aural). Untuk efek bengong yang maksimal, coba ngobrol dengan para musicologist.

Notation System vs Oral/Aural System :

Saat study by hearing — ngulik tiap not yang kita denger lalu dimaenin, or nge-beo — kita emang nggak perlu musti ngerti aturan syntax (subject, predikat, object) dan hubungannya dengan intonasi, dll, karena semua konteks nantinya musti dipelajari on the fly. Tapi musik yang dipelajari dengan cara ini butuh jam terbang yang sangat tinggi untuk sampe beneran paham mendetail tentang essence musiknya, karena kesimpulan dari essence-nya cuman bisa didapat setelah punya sangat banyak vocabs berikut konteks penggunaanya. Study by theory bisa bantu bypass prosesnya dengan ngasih clues tentang aturan umum — or karakteristik — dari berbagai jenis musik. So, teori juga berperan penting kalo pengen ngerti lebih detil tentang musik.

“Tapi kan musik itu kan musti bisa dimaenin.. Ngapain bermusik kalo cuman diomongin doang teori, history or fakta2nya..?”


Ane pribadi setuju kalo musik musti dimaenin, terutama kalo diliat dari perspektif performer, tapi itu tetep nggak bisa jadi pembenaran tuk nggak peduli sama sekali dengan teori musik, dan juga berbagai dimensi serta perspektif lain dalam melihat musik. Memang akan lebih ok kalo theorist — terutama yang merangkap educator — juga bisa maeninin, ngebunyiin dan ngebuktiin teorinya. Jadi sebuah teori akan lebih make sense saat theoristnya bisa mempraktekin teorinya sendiri — or teori yang dia anut — secara in-context. Jadi musti sinergi. Kalo ada theorist/educator yang bilang, misalnya speed playing itu begini dan begitu, mustinya dia-nya juga bisa ngelakuinnya. Jazz ini begini-begitu, contohnya ada. Jangan sampe kaya yang orang jawa bilang JARKONI (iso ngajari, ora iso ngelakoni). Ini juga sekaligus bisa membantah idiom yang bule bilang “Those who can, do. Those who can’t, teach.” yang bikin seolah profesi pengajar di kelas cuman diambil oleh orang yang gagal di lapangan.

Di kelas manapun di bidang apapun, nggak ada murid yang pengen diajar oleh JARKONI. Pengajar selalu musti lebih tau, lebih mampu dan lebih experienced daripada muridnya.

Well, sebenernya kalo hal ini pengen disenggol lebih luas lagi daripada sekedar teori, dunia musik itu sendiri juga nggak melulu terhubung langsung dengan showbiz, performance n tepuk tangan juga sih. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari budaya, dunia musik juga ngelibatin banyak hal lain, termasuk dunia engineering dari berbagai disiplin. Contoh tergampil selain sound engineering : untuk membuat berbagai macam instrument musik itu sendiri butuh banyak kombinasi dari berbagai ilmu : dari milih material sampe scale n ratio-nya, sampe playability-nya, sampe tahap estetika-nya, dll.

Ane inget dulu info pas Suhr nge-release Guthrie Govan signature seri Antique Modern, finishnya (or lapisan cat-nya) musti make nitrocellulose biar sound-nya lebih musical n natural. Nitro adalah finish yang dipake di gitar 50’s dan 60’s. Tau sendiri gimana komunitas gitaris pada menggilai gitar jadul. Emang sih kedengeran cukup jelas bedanya saat di benchmarking dengan signature GG seri sebelumnya yang make finish modern (polyurethane), tapi resikonya si gitar bakalan lebih rentan goresan. John Suhr sendiri awalnya sebenernya nggak setuju, beliau lebih cenderung prefer make coating yang lebih protektif wong gitar produksinya kan kelas premium. Sebagian luthiers lain juga menganggap pengaruh finish pada sound itu bisa diabaikan. Tapi bukan GG namanya kalo musti kompromi. Gitarnya jadi diproduksi, beliau tur dengan make sebiji gitar seri Antique Modern — konon tanpa backup gitar sama sekali, gokil! — sampe gitarnya pada baret. Setelah kontrak selesai dengan Suhr, beberapa saat kemudian beliau pindah ke Charvel n dapet signature yang lebih natural lagi dari segi sound dan tampang-nya.

0004930_charvel-guthrie-govan-signature-model

Charvel Guthrie Govan Signature Model

 

 BTW, ini baru sekedar ngebahas pengaruh cat doang di gitar secara mendetail, belum lagi ngebahas yang lain-nya, macam plek machine yang bikin action maknyus, buzz feiten yang bikin koreksi intonasi open string, roasted wood + graphite reinforced neck yang bikin neck relatif nggak kepengaruh suhu n humidity, dll.

Dunia hari ini emang dipenuhi nerdy n geeky people. Mungkin emang udah jadi standar di era internet.

“Kenapa malah ngebahas begituan To, ceunah sharing info musical? Kagak ada lagi fretboard mapping, scales or trick tapping string skipping?”

“Ya ini kan juga termasuk sharing info musical, cuman pas kebetulan lagi ngebahas tentang apresiasi. Tulisannya emang rada edgy n liar nyangkut kemana-mana karena emang lagi ngebahas expanding horizon.”

OK dah, cukup ngelanturnya. Intinya, ketika kita bisa membahas musik dari berbagai sudut teori, history dan dari berbagai perspektif lainnya, itu berarti kita dah mampu keluar dari 4th wall, mampu memahami dan mengapresiasi musik dengan lebih luas, dan otomatis bikin mindest dan musicality kita berkembang.

The Musical Cosmos

Alasan kenapa kita musti break the 4th wall saat nyampe border adalah untuk memperluas paradigma dan appresiasi, yang keduanya ngefek langsung ke musicality.

Paradigma

Mindset yang ok adalah hal utama yang dibutuhkan tuk membuat berbagai teori baku bisa diubah bentuknya ke karya/expressi musical. Kalo mindset kita sempit, musiknya bakalan gitu-gitu aja, dan kalo mindset kita melar, musik kita juga ikut melar. Contoh gampil-nya  :

Saat sharing info tentang impro, yang terjadi adalah kita exploit mindset n perspektifnya, sementara teori, teknik, harmony dll — yang mustinya udah pada standby diluar kepala sebelumnya — itu jadi fixed objects, mereka menjadi acuan dalam system n nggak berubah. Saat eksekusi impro, kita mungkin masih dihadapkan pada set pitch yang sama, akord progresi yang sama, birama yang sama, tempo yang sama, tapi hasilnya bisa sama sekali beda tiap orang, dan itu sama sekali nggak ngawur or sekedar milih random not dari scales.

Kalo ternyata ada begitu banyak musisi yang impro-nya selalu layak rekam n layak dengar sejak take pertama-nya, berarti mindset mereka terhadap unsur fixed objects itulah yang membuat impro itu jadi magical. Karena basic teori bisa gampang didapatkan dari berbagai sumber, dan basic technical level itu pada dasarnya cuman soal waktu aja sampe bisa merasakan sensasi dari syaraf motorik untuk mampu merespon ide lalu bergerak sesuai insting, maka pelajaran yang sesungguhnya dalam impro adalah exploitasi mindset.

“There are no facts, only interpretations.” – Friedrich Nietzsche 

Appresiasi

Study apresiasi dan breaking 4th wall adalah menu wajib bagi musisi yang pengen tumbuh jadi lebih dewasa dan pengen melihat dunia musik dari perspektif yang lebih objective, serta menikmatinya dengan intensitas yang lebih dalam. Musisi yang udah pewe dengan musiknya dan nggak pengen ngerti ada apa lagi diluar disana, nggak perlu lagi study macem-macem.

“Tanpa breaking the 4th wall kita nggak bisa melihat berbagai hal baru dalam dunia musik, boro-boro bisa menikmatinya.”

  • Semua orang bisa menikmati lagu anak-anak karena lyricnya gamblang, dengan vocabs super basic yang dikuasai balita, struktur harmony yang sesimpel mungkin, melody yang bergerak se-stepwise dan se-predictible/se-cliche mungkin, dll.
  • Nah orang dewasa mustinya bisa menikmati lagu dengan lyric yang make metaphor, vocabs yang lebih advanced, struktur harmony yang lebih tasty n colorful, melody yang bergerak lebih bebas dengan berbagai surprises, dll.

Gimana orang dewasa bisa ngerti itu semua kalo nggak ada proses study? Menjadi makin dewasa berarti makin aware tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan, locally n globally, including taboo subjects dan berbagai nilai moral yang kompleks, sampe ke beyond physical subject alias spiritual realm. Musically, same thing. Analoginya bakalan lebih gampil make film, karena prinsip apresiasinya sama. Semua penonton yang masih bocah bakal demen dengan hal-hal yang flashy n banyak eye candy (yang penting rame, ada kebut-kebutan, ada tembak-tembakan, ada robot, ada alien, ada zombie, ada kamehameha, dll), sementara penonton dewasa bakalan lebih demen dengan kombinasi yang pas dari berbagai layer yang berbeda, seperti acting-nya, story-nya, screenplay-nya, dll. You get the point.

Semua bocah pasti demen diajak nonton ‘Transformers : Age of Extinction’ (2014), tapi ta jamin mereka bakal bobo pas nonton ‘All Is Lost’ (2013). BTW, bagi yang jarang follow movies tapi ngaku jazzer — apalagi drummer — coba cek ‘Whiplash’ (2014). Thank me later. 

whiplash-bloody-drumsticks

‘Whiplash’ (2014)

 

Bagi yang demen Dream Theater, ane tebak pas masih kecil dulu lebih demen OST film kartun yang tayang tiap Minggu pagi — or anytime, bagi yang langganan cable n satellite TV — daripada musiknya Rush/Yes/Pink Floyd/Iron Maiden, tul gak? Pertumbuhan selera dari tingkat musik bocah sampe Dream Theater tentu melewati beberapa step yang ngaruh ke perspektif n apresiasi kita terhadap musik. Step apresiasi ini bisa terjadi tanpa disadari or disengaja, step-nya terus berlanjut tergantung lingkungan musical kita. Para pemaen cover band DT juga kalo banyak ngejem dengan para jazzer bisa demen fusion. Kalo pada doyan nonton anime bisa demen musik jejepangan. Kalo pada maen Top 40 bisa pada paham groove, latin rhythm, dll. Kalo banyak maen Final Fantasy bisa juga demen sama scoring & orchestra, dst.

Apresiasi di level surface bisa terjadi secara gradual setelah cukup lama terekspose musik baru, tapi nggak akan ada yang bisa kita serap dari musik baru itu tanpa proses study.

Berikut adalah beberapa tips agar bisa gampil mengapresiasi berbagai jenis musik :

  • Open mind, kontak dan berteman dengan berbagai macam musisi dari berbagai background dan level, dan juga menganggap serius musik mereka. Dengan begono otomatis kuping kita kenal dengan berbagai macam musik, sekaligus nyengir ngeliat teman kita mengomentari musiknya saat dimainkan. Celetukan berikut ini nggak akan asing lagi bagi kuping :


    “Nih, habis ini ada slap back delay To, asik bener. Habis itu langsung nyambung ke bagian verse yang drumsnya dobel pedal..”

    “Bentar belum beres, pausenya emang rada lama. Bagian depan nya entar nongol lagi dengan nuansa yang lebih gloomy..”

    “Groove-nya gokil nih, funky pisan.. Tariik maang Jupri..”

    “Gua sampe merinding denger dia bisa nyanyi setinggi itu tanpa nongol urat leher sama sekali..”

    “Itu not emang cuman diulang-ulang sambil naikin dinamika, tapi efeknya justru kena..”

    “Headbaaangg To!!!”

    dll..

    Kita jadi tau apa yang bikin temen kita suka terhadap musik tersebut, dan juga perspektif mereka masing-masing terhadap musiknya. Mengapresiasi musik dari suatu elemen or layer tertentu bisa dibilang level basic dari apresiasi musik. Semua penikmat musik minimal berada di level ini.

  • Penasaran n study. Tanpa penasaran, kita nggak akan dig in n mendengarkan musiknya secara berulang kali. Saat ngulangin berkali-kali, kita jadi tau karakter musiknya, dan jadi tau tiap detil elemen yang menyusun musiknya :
     
    > Kita jadi tau kalo tempo itu ada yang straight, ada yang shuffle, ada yang rubato, ada accelerando dan retardation, dll.
     
    > Kita jadi tau kalo biola n piano itu bisa maen not super tinggi (pitch range), kita juga jadi tau beda karakter bunyi dari woodwind dan brass (timbre), dll.
     
    > Kita jadi tau kalo suatu lagu itu bisa dipake buat senam (birama duple n quadruple), dansa waltz (birama triple), dan juga dipake tuk latihan berhitung (odd time signature).
     
    > dll..
     
    Even orang yang study formal juga sebagian awalnya pada nggak ngerti kenapa dapet assignment suatu musik yang sekilas nggak nyambung dengan apa yang pengen mereka pelajari. Tapi karena mereka musti paham berbagai unsur elemen dalam musik sebelum bisa diakui jadi musisi, maka dosen/educator membuat mereka terekspose dengan berbagai macam musik biar pada tau jelas. Berapa banyak dari kita yang awalnya nggak demen, tapi setelah ngerti bagian mana yang bikin doi keren, tiba-tiba pada nge-fans berat? Semuanya kayanya ngalamin.
     
    So, appresiasi itu ngaruh langsung dengan study musik. Bagi yang nggak study formal, tingkatan pemahaman musik kita dipengaruhi oleh dengan siapa kita bergaul tiap hari.

     

    Intinya, dengan study kita jadi makin paham berbagai unsur penyusun musik, dan makin bisa mengagumi bagaimana berbagai hal yang berbeda itu bisa saling bersinergi untuk menyampaikan pesan via bunyi, dari composer ke audience. Mengapresiasi takaran dari kombinasi berbagai elemen dan layer yang berbeda adalah level lanjutan dari apresiasi musik. Para musisi mustinya minimal berada di level ini.

yummy

yummy

 

Beberapa elemen utama penyusun musik di era Common Practice Period :

Tonality

Umumnya berpusat pada sebuah not or pitch, yang berfungsi sebagai home bagi para audience. Pitch laen berfungsi sebagai support. Explorasi tonic bisa juga dilakakuan dalam sebuah frase biar nggak boring. Tiap frase umumnya berdurasi antar 4, 8, or 16 bar, dan semuanya berakhir dengan cadence untuk konfirmasi tonic

Pattern

Umumnya menggunakan diatonic major n minor scales, beserta modes-nya. Not-not kromatik (5 not yang nggak dipake di diatonic scales) tetep digunakan buat coloring.

Texture

Umumnya make counterpoint, yaitu 2 atau lebih lines yang dimainkan secara bersamaan, masing – masing dimainkan secara independent, masing-masing masih terikat dengan prinsip tonality (point 1) dan pattern-nya menggunakan major n minor scales (point 2).

Chord

Umumnya berkarakter consonant, terbuat dari 3 not (triad), yang tersusun berjarak 3rd (tertian). Dissonance juga bisa digunakan. Dissonance bisa terbuat dari 4 not (tetrad) yang ditumpuk berjarak 3rd (tertian), bisa juga berjarak bebas (non-chordal embellishment seperti passing n neighbouring tones, suspension, pedal, dll). Dissonance wajib resolve.

Timing

Umumnya menggunakan birama simple dan compound, dengan 2, 3, or 4 ketuk per bar secara konsisten (alias duple, triple or quadruple). Simple adalah kalo tiap ketuk bisa dibagi jadi 2 not yang bervalue sama, dan compound adalah kalo tiap ketuk bisa dibagi jadi 3 not bervalue sama.

“Gimana kalo birama-nya bisa dibagi 2 dan juga 3 seperti 6? Misalnya 6/8?”

6/8 emang bisa aja dimasukin ke birama simple yaitu grouping dengan 3 ketuk per bar dengan tiap ketuk dihitung “one-and”, tiap hitungan bernilai 1/8. Tapi kalo make grouping ini, akan lebih ok kalo make versi 3/4 aja biar angkanya kecil n nggak mengintimidasi readers, wong hasilnya sama persis. Para mathematician juga setuju kalo 6/8 = 3/4.

6/8 bakal worth it saat kita berani clash dengan para mathematician n ngotot kalo doi konteksnya nggak sama dengan 3/4, n nggak sekedar doubling resolusinya juga. 6/8 dipake saat grouping-nya berisi 2 ketuk per bar dengan tiap ketuk dihitung “one-and-a”, tiap hitungan bernilai 1/8. Jadi bedanya ada di lokasi ketukan dan subdivisi dari tiap ketukan.

Nah berikutnya, kita bisa melihat beberapa musik lain dengan menggunakan 5 elemen dari Common Practice Period :

Jazz

JLCO_lineup0209

Walaupun udah pernah dibahas di tulisan sebelumnya (feat. Paijo bin Sopokae Mbuh), disini bakal dibahas n dilengkapi lagi. Jazz adalah musik Amerika yang unik, hasil peranakan dari tradisi musik Eropa dengan Africa. Doi bisa dimainkan secara 90 % blues + 10 % classical, bisa juga 10 % blues + 90 % classical. Doi juga fleksibel tuk dicombi dengan berbagai stylistic dari musik lain, hal yang menjadi salah satu alasan utama kenapa ane pewe explore di teritori musik ini sambil sesekali celingukan di luar border-nya.

In essence, jazz berkembang dengan cara oral/aural alias nggak ada notasi tertulis tentang notes, kumaha n kunaon-nya. Orang musti belajar musik ini by hearing n copying semuanya, layaknya bocah lagi belajar ngomong. Tapi berhubung instruments yang digunakan tuk maenin jazz adalah instruments yang dikembangkan di classical music, maka musisi jazz bisa nebeng system notasi yang dianut dari classical music, berikut teorinya. Teorinya langsung nyambung karena jazz juga make major & minor tonality beserta bermacam diatonic modes yang udah ada di classical music. Ini rada beda sama blues, karena doi make “blues scale” dengan beberapa not yang pitch-nya tidak terdaftar secara resmi di classical system. Instrument yang nggak bisa modifikasi pitch tuk keluar dari classical system — misalnya piano — cuman bisa berkompromi saat musti maen blues. Tapi untungnya teori dan notasi dari classical system masih bisa dipake dengan tambahan keterangan seperti 1/4 bend, dll. So, blues juga bisa diajarkan secara “formal” bagi yang pengen.

Sejauh mata memandang, jazz berbatasan dengan almost semua stylistic music. Jazz Rock ada, Jazz Blues ada, Gypsy Jazz ada, Jazzy World Music ada, Latin Jazz ada, Prog metal orang bilang metal make harmony jazz plus birama kumaha maneh-na, Classical Jazz esensinya adalah kaya sekedar ngegeser dimmer switch, dll.. Keroncong + Jazz? Kayanya nyambung juga.. More exploit on all of that later..

Tonality

Karena seringkali berasal dari lagu pop, tonality-nya jelas. Rada kurang afdol nyebut jazz kalo nggak ada impro didalamnya. Improviser bisa bikin musiknya berubah drastis tergantung pemahamannya dan personality-nya. Dari frasenya, progresi, cadence, scale, pattern, dll, hampir semuanya bisa beda dari original song-nya, even theme-nya masih sama. Disini rada susah misahin term “composer” dan “performer” karena dengan adanya impro, maka “performer” otomatis jadi “composer” secara instant (impro = instant composing).

Pattern

Sering kali berasal dari bebop, pentatonic n blues scale. Blue notes juga digunakan, yaitu not yang exact pitch-nya nggak terdapat di Western System. Gitaris n kibordis bisa bending, pianist cuman bisa ngiri. Sebagian jazzer juga explore ke non-traditional scales macam whole tone n octotonic. Jazzer yang lebih nekat juga bisa make Schoenberg’s 12 tone row.

Texture

Level texture di jazz umumnya dibagi jadi 3, yaitu melodic (lead/solo), harmonic (progresi akord), n rhytmic (bass line). Ketiganya bergerak secara simultan bikin counterpoint, tapi struktur-nya lebih bebas — Parallel Perfect Consonant-nya halal, sementara doi haram di Classical. Walopun sebagian jazz improviser bisa memainkan counterpoint dan bikin texture-nya kedengeran rumit, tapi mindset jazzer saat bikin counterpoint itu lebih cenderung berdasarkan progresi harmony, alias mirip reverse engineering dari versi classical improviser yang maen counterpoint berdasarkan teori, dan darinya menghasilkan harmony.

Akord

Tetrad lebih banyak digunakan daripada triad. Menggunakan berbagai simbol untuk mewakili deretan pitch-nya — sementara di Classical make figured bass. Extended chord juga banyak digunakan, bikin sebuah fungsi harmonic bisa diwakili oleh berbagai macam extended chord — D7, D9, D13, Dsus berfungsi sama di key G. Altered chord juga digunakan untuk lebih mendramatisir progresi.

Timing

Syncopation adalah karakter utama jazz. Penekanan yang biasanya dieksekusi saat strong beat seringkali di eksekusi sesaat sebelumnya di weak beat. Sebagian besar jazz juga menggunakan swing feel. Dan karena swing feel sebenernya kadarnya bisa naik turun, doi nggak bisa dinotasikan secara akurat dengan dotted notes or tuplet marking. BTW, di jazz juga ada backbeat, yaitu penekanan pada upbeat.

Impressionism

Impressionism adalah cabang dalam sejarah dunia seni yang mengedepankan ide dari suatu object, tapi bukan objectnya itu sendiri. Jangan puyeng dengan definisi itu, coba cek contoh dan deskripsi berikut :

impressionism

Disitu kita lebih disodorin pada gradasi spektrum pencahayaan dan warna daripada batasan yang tegas untuk membentuk suatu object. Style ini berhubungan erat dengan symbolist poetry — yang fokus pada inner life, ditulis dengan gaya yang misterius n ambigu, bikin tiap orang punya interpretasinya sendiri. Contoh tulisan aneh yang keren bisa dicek di :

https://prisonerofzenda.wordpress.com/

Secara umum, karakter impressionism adalah barter antara detail dengan kesan utama yang disampaikan –dengan mengurangi detail yang spesifik, menggantinya dengan berbagai kiasan untuk menyampaikan pesan. Orang butuh imajinasi untuk bisa nangkep pesan dari seni yang disampaikan secara impressionist, semakin gokil creator-nya butuh audience yang makin gokil juga imajinasinya. Analogi tersimpel yang semua orang bisa paham adalah cerita yang disampaikan via komik or pilem vs novel. Di film jelas banget Dumbledore itu digambarkan detilnya begini dan begitu, cocok untuk orang yang males ngebayangin, or bocah yang blom punya cukup vocabs + experience untuk ngebayangin. Sebaliknya, novel ngasih kita sedikit kebebasan untuk menggambarkan sosok Dumbledore — walopun dengan koridor tertentu — sesuai interpretasi kita masing-masing terhadap deskripsinya. Karena itu, novel bakal ngasih experience yang lebih intense daripada nonton pilem, karena pikiran kita masuk lebih jauh ke dalam alam imajinasi.

Dalam hal musical, impressionism hampir nggak bisa dipisahkan dengan Claude Debussy, dengan karakter tonality, harmony n rhythm yang ambigu dan tidak disampaikan dengan jelas. Kalo mau nekat, tonality-nya seringkali cuman bisa ditentukan dari pedal point saja, sementara counterpoint — karakter utama dari Common Practice Period — bisa dibilang kagak ada.

Dalam ber-evolusi, impressionism dalam musik nampaknya mengalami kebuntuan. Debussy himself explore ke area lain sebelum akhir hidupnya. Tapi konsep yang dikembangkan di style ini masih terus digunakan oleh berbagai komposer sampai hari ini.

Tonality

Even nggak disampaikan dengan jelas dan tanpa traditional voice leading, impressionism masih termasuk musik tonal. Cara nentuinnya tonality-nya lebih ke absensi — not yang sering nongol jadi tersangka utama sebagai tonic — dan ada cara lain yang disebutkan diatas, yaitu via pedal point. Pergerakan melody-nya juga cenderung surprising. Cadence-nya bisa lebih bebas dan nggak bergantung pada leading tone, tapi endingnya tetep aja ke harmony dengan karakter stabil (consonance).

Pattern

Semua scale dari traditional diatonic, pentatonic, symmetrical, exotic, sampe ke scale kumaha maneh-na, bisa dipake. Cara nentuin scale or modes-nya adalah dengan cara Pitch Inventory(*). Kalo tonic-nya ketemu, sisa not yang hadir tinggal dirangkai buat ngebikin scale. Chromatic scale juga digunakan dengan lebih bebas daripada sekedar coloring not-not dari diatonic scales.

Texture

Counterpoint almost nggak hadir, dan kalopun ada, biasanya super simpel, dengan dosis rendah, dan lokasinya berada di daerah cadence. Karakter texture-nya sering disebut monolinear, yang berfokus pada sebuah melodic line utama. Explorasinya make pedal point, ostinati (2 atau lebih ostinato), dan planning — yaitu pergerakan parallel harmony yang diharamkan oleh Common Practice Period! — yang sekilas nampaknya multi-linear, tapi sebenernya doi masih monolinear karena semua voice dalam harmony bergerak mengikuti sebuah melody utamanya. Planing bisa dieksekusi ngikut key (Diatonic) or bisa juga mukul rata intervalnya (Chromatic).

Akord

Harmony-nya bisa disusuan dengan beragam cara, bisa secara tertian (numpukin interval 3rd), quartal (numpukin interval 4th) or juga quintal (numpukin interval 5th). Doi juga bisa terdiri dari 3 not (triads) or 4 not (tetrads) or 5 not (pentads), or lebih, dan masing-masing juga bisa dibikin inversi-nya seperti biasanya di tertian harmony. Dissonansi nggak perlu resolve secara traditional — planning texture bisa ngambang kemana-mana kumaha manehna.

Timing

Strong beatnya rada blur n nggak jelas gara-gara syncopations dan hemiolas. Umumnya make birama compound dengan banyak cross rhythm — misalnya di 6/8 kita nekat maen 3/4.

(*) Pitch Inventory :

Pitch Inventory adalah cara nentuin scale or modes yang digunakan di musik yang melody-nya nggak kedengeran maenin scales tertentu secara jelas. Berikut adalah contoh dari menggunakan Pitch Inventory yang melibatkan major & minor diatonic, harmonic minor, melodic minor, pentatonic, blues, whole tone dan chromatic.

1. Doi Diatonic.
1.1. Kalo jelas tonic-nya, tinggal nentuin Major/Minor/Modes-nya.
1.1.2. Kalo ada jarak 3 semitones, dan tonic-nya jelas, maka doi adalah Harmonic Minor Scale.

2. Doi lebih banyak not-nya dari Diatonic.
2.1. Kalo ada 2 not berbeda abjad masing-masing muncul 2x dengan pitch yang berbeda (salah satunya make accidental), dan saat ketemu tonality-nya kedua not itu terletak di “6” dan “7” dalam scale, maka doi adalah Melodic Minor Scale.
2.2. Kalo ada lebih dari 2 not berbeda abjad masing-masing muncul 2x dengan pitch yang berbeda (salah satunya make accidental), maka doi adalah Chromatic Scale.

3. Doi lebih sedikit not-nya dari Diatonic.
3.1. Kalo cuman ada 5 not dan semuanya membentuk 1, 2, 3, 5, dan 6 dari sebuah Major Scale, maka doi adalah Pentatonic Scale.
3.2. Kalo doi ada 6 not dan semuanya berjarak 2 semitones, maka doi adalah Whole Tone Scale.
3.3. Kalo doi ada 6 not dengan jarak tidak teratur, maka kemungkinan doi bisa jadi adalah Blues Scale.

Cara ini sebenernya cukup gampil bagi yang udah ngerti basic theory, dan bisa diandalin tuk ngulik sebagian besar musik sampe tingkat intermediate. Tapi selebihnya, doi kurang reliable tuk ngulik musik sampe tingkat musik advanced karena disono cenderung nyampurin semua jenis scales, modes, arpeggios, sampe nongolnya berbagai chordal fragment, dll. Yang lebih bisa diandalin saat ngulik di level itu adalah advanced theory (buat ngerti konteks yang bikin tebakan jadi jauh lebih akurat), dan hearing (ear training).

Expressionism

arnold-schoenberg

Mr. Arnold Schoenberg

 

Expressionism — yang juga sering disebut non-serial atonality, cikal bakal dari Serialism — adalah periode lanjutan dari Common Practice Period. Arnold Schoenberg awalnya composing make tradisi Romantic, tapi kemudian explore ke area full dissonansi dengan chromaticism. Beliau tidak ngikut standar tonal center, dan membebaskan dissonansi untuk berkeliaran tanpa resolve. Melodinya awalnya cuma berupa motive simple dan kemudian akhirnya jadi sekedar intervals doang.

Walopun lebih sering diasosiasikan dengan “atonality” yang artinya nggak ada tonal center, tapi beberapa theorist bilang kalo Expressionism lebih akurat untuk diasosiasikan dengan “pantonality” yang artinya kurang lebih semua pitch sama pentingnya. Kayanya ini cuman sekedar perspektif kaya penamaan not enharmonis.

Tonality

Nggak ada tonic. Walopun seringkali ada beberapa not yang nampaknya kedengeran cukup penting, tapi itu bukan disengaja oleh composernya. Semua pitch sama kedudukannya dihadapan Expressionism. Dan karena prinsip emansipasi yang extreme itu, otomatis bakal sangat susah tuk mendengar sebuah phrase n cadence disini.

Pattern

Semua not dari A sampe G# halal. Melody cenderung berbentuk motive pendek. Individual pitch disini kurang berperan penting, sementara pergerakan interval antar pitch lebih berperan penting saat analysis. Intervals bisa dimasukan dalam kelompok yang disebut CELLS, or SETS. Buat yang pengen paham lebih lanjut, silakan study subject Interval Vectors.

Texture

Bebas, naon wae hayu. Kalo biasanya melody bergerak by scale-steps dan harmony by 3rds, di Expressionism struktur keduanya nggak dibedain dan keduanya make dibuat dengan prinsip yang sama. Dinamika juga bisa berubah drastis, misalnya dari ppp ke ff.

Akord

Nggak formula tertentu, nggak ada struktur tertentu, nggak ada karakter tertentu, wong nggak ada aturan-nya. Dissonance bebas dibunyikan tanpa resolve.

Timing

Kompleks dan mlintir karena make irregular rhythm dan terus menerus ganti birama. Yang ngefans sama Dream Theater pasti paham bener apa yang dimaksud. ‘The Dance of Eternity’ ganti birama 128x dalam sekitar 6 menit.

Sebenernya masih banyak stylistic music lain diluar Common Practice Period yang masih menggunakan set pitch yang sama. Bagi para explorer, silakan cek sendiri sesuai minat masing-masing. Diluar scope Western Art Music, masih banyak berbagai jenis musik lain yang menggunakan berbagai system including penggunaan microtonal (interval yang satuannya dibawah semitones). Beberapa contoh :

> Tradisi Gamelan di Indonesia, pitch system-nya menggunakan Pelog dan Slendro.
> Tradisi Carnatic & Hindustani di India, pitch system-nya menggunakan Raga.
> Berbagai tradisi Arabian music, pitch system-nya menggunakan Maqam.

Bagi yang berminat menggali lebih jauh tentang mereka, silakan kontak para Ethnomusicologist.

Musik itu sedemikian luasnya, doi bisa bermakna berbeda bagi tiap individu. Musik bisa sesimpel lullaby yang bisa dinyanyikan semua emak-emak tanpa perlu latihan apapun, doi juga bisa serumit symphonic orchestra yang butuh orang-orang dengan musicality yang gokil biar bisa ngeluarin magic-nya. Doi bisa dinikmati sebagai background — sambil nyangkul misalnya — bisa juga dinikmati sebagai foreground — misalnya pas nonton konser. Doi bisa dianggap subject yang cukup simpel yang bisa dipelajari sendiri, doi juga bisa jadi materi study yang bisa bikin mlintir para scholar di berbagai university.

Setelah tulisan tentang breaking the 4th wall ini, nantinya diharapkan kalo ane sharing dari perspektif baru (pianis) bisa rada santai tanpa musti convert tiap detilnya tuk para pembaca gitaris, yang merupakan audience utama di blog ini so far. Toh, bukan hal yang tabu bagi para gitaris baca-baca materi pianis, bahkan udah cukup lazim, terutama di tingkat intermediate keatas. Bagi pembaca pemula yang baru nyasar ke blog ini, bisa backtracking baca-baca post lama sambil aktif study dari berbagai resources (biasanya hal-hal yang basic nggak terlalu susah dicari, baik itu di real world maupun internet).

Nah, tuk para gitaris shredder, balik maning kiye. Coba cek musik Neo-Classical — or lebih cenderung ke Neo-Romantic — yang kedengeran lebih real deal n bukan sekedar standar speed metal yang lagi nyamar :

Para gitaris shredder yang paham apresiasi bakal pada maklum kalo rujukan yang diangkat disini adalah Daniele Gottardo. Berhubung jumlah elemen yang saling kontras dalam musiknya lebih banyak daripada standar kebanyakan Neo-Classical di dunia shred guitar, maka musiknya cenderung kedengeran lebih tasty n less predictible, yang merupakan indikasi dari musik yang bagus buat study. Saat interview, Daniele Gottardo bilang urutan tingkat kesulitan dalam musiknya adalah Neo-Classical Metal < Jazz Rock Fusion < Neo-Romantic. Sebenernya ada beberapa contoh musik lain dengan dosis yang lebih extreme, tapi musik yang terlalu spicy juga rada kurang cocok tuk rujukan study. Misalnya pas bahas fusion, kayanya bakalan susah tuk nemuin educator ngasih rujukan ‘Tilt’ nya Richie Kotzen/Greg Howe yang berisi impro gila-gilaan dengan not yang pada bertebaran kemana-mana.

Subject apresiasi musik dan breaking the 4th wall juga bakal bisa memperluas persepsi para gitaris shredder traditional yang umumnya cukup sempit : cuman mau maenin lagu yang ada speed playing or akrobatic licks doang, dan kurang mempedulikan elemen lain dalam musik-nya. Shredder yang udah berada di luar 4th wall bisa maen dengan sedikit not saat lagu membutuhkannya — dan doi maen dengan enjoy tanpa malu dengan temen sesama shredder, karena tau mana yang diapresiasi — doi juga bisa maen beyond traditional shredding dan tetep berbunyi fresh — karena doi explore berbagai style dan bisa nyontek lines dari instrument non gitar, misalnya sax or piano. Musik itu beneran luas, sayang banget kalo membatasi diri di satu area doang.

Kebalikan dari speed metal shred yang berisi notes party dosis tinggi diekskusi secara non-stop, ini adalah contoh aplikasi paling extreme dari penggunaan silent dalam musik : John Cage’s 4’33”

Sebelum pada berhenti ngakak or pada komentar “WTF”, silakan bagi tertarik, musiknya juga bisa dibeli di iTunes, monggo :

https://itunes.apple.com/us/album/433/id406490689

Not sure gimana cara bikin copyright-nya tuh..

Closing :

So, there you have it. Music system yang dibangun di era common practice period adalah essence dari sebagian besar musik hari ini. Bagi yang dig in deeper berbagai jenis musik yang ngetren hari ini — terutama dari segi improvisasi-nya — maka subject dari dunia classical cepat ato lambat bakalan masuk ke daftar menu utama. Musik era Baroque sampe Impressionist menyampaikan jauh lebih banyak hal daripada yang disampaikan oleh standar musik yang ngetrend hari ini, kita membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam untuk bisa mengapresiasinya secara utuh. In fact, bisa dibilang impossible tuk ngebahas classical music tanpa pemahaman mendalam dalam apresiasi musiknya. Dan itu baru ngebahas doang, belum sampai ke mencoba memainkan karya-karya berbagai komposer besar dari tiap era. Music appreciation setingkat ini mungkin sekedar jadi menu sampingan bagi non-traditional classical musicians & audiences, tapi doi berubah jadi salah satu menu yang wajib disikat sebelum masuk ke dunia classical, baik sebagai pemain maupun penikmat.

In the end of the day, apresiasi musik adalah subject yang secara umum perlu kita kampanyekan ditengah tren situasi saat ini dimana musik berkualitas — yaitu yang terbentuk dari kombinasi beragam elemen berbeda dengan takaran yang pas — semakin dianggap nggak bernilai.

Jika penyebabnya adalah ketidaktahuan tentang apa yang musti diapresiasi, maka tulisan disini mungkin bisa bantu tuk jadi remedy. Jika penyebabnya adalah ketidakpedulian, maka tulisan disini — dan seabrek resources lain — dipastikan nggak akan bisa bantu apapun.

Semoga tulisan ini bisa membuat classical music lebih accessible dan membuatnya jadi less aristocrat’s-exclussive-music tanpa mengurangi nilai elegan-nya, dan juga membantu kita semua tuk lebih tau tentang luasnya dunia musik, membuat kita beberapa step lebih dalam saat mengapresiasinya.

Modes : Personal Perspective

Posted on

Kids

Kenapa inbox ane di sepanjang 2014 sebagian besar berisi variasi pertanyaan tentang modes dan penerapannya? Kayanya beberapa materi tentang modes di blog ini masih belum cukup jelas, at least bagi mereka yang nanya. Well, don wori, ane akan mencoba nyenggol modes lagi secara lebih personal, karena mungkin alesan personal ane bisa jadi potongan puzzle yang bakal membantu melengkapi gambaran utuh tentang modes.

Dibawah ini adalah beberapa variasi dari FAQ tentang modes di inbox, ane akan coba jawab ulang secara lebih personal tanpa terikat dengan perspektif standar dari para theorist mainstream, plus disertai beberapa contoh penerapan :

Q : Apaan tuh modes?

A : Modes adalah rotasi dari sebuah scale. Definisi ini jauh lebih simpel dari definisi di buku – buku teori yang lebih panjang dan berpeluang untuk disalah pahami dari perspektif improviser pemula. Dengan definisi ini, penting ditekankan bahwa modes itu sama dengan scale, hanya diputer aja not yang berperan jadi root-nya.

Q : Siapa yang bikin modes?

A : Entahlah. Kayanya nggak mungkin leluhurnya si Paijo bin Sopokae Mbuh. Kalo ngeliat nama – nama dari diatonic modes, kemungkinan besar sih wong Yunani. Silakan coba tanya ke para musicologist. Ane pribadi sih lebih nyaranin tuk paham penerapapannya daripada nyelidikin siapa yang bikin.

Q : Modes teh aya sabaraha hiji?

A : Modes yang paling terkenal di buku teori ada 7, yang berasal dari sebuah diatonic scale. 7 modes itu masing – masing punya nama – namanya sendiri. Nah yang nggak terkenal dan nggak bernama sebenernya masih ada banyak. Kalo pengen tau persisnya, jumlah modes = jumlah penyusun not dalam scale. Nah karena scale sendiri ada banyak, jadi modes ada lebih banyak lagi.

Q : Darimana asal modes?

A : Doi berasal dari scale. Kalo nanyain asal penamaan dari diatonic modes, konon mereka berasal dari nama kerajaan dan suku – suku dari daerah mediteranian saat peradaban Yunani Kuno.

Q : Kapan kita musti make suatu modes tertentu?

A : Nggak ada yang “musti” dalam musik, ini kayanya lebih ke soal selera dan konteks. Walo begono, umumnya suatu modes dianggap hanya cenderung fit di situasi harmony tertentu yang karakter bunyinya serupa. Di situasi harmony lain, modes + harmony dengan karakter yang berbeda bisa dipake saling melengkapi untuk membentuk karakter bunyi baru (superimposisi), sementara di situasi lainnya lagi kalo dipaksakan bisa saja bunyinya kedengeran kaya suami-istri yang lagi berantem. Jadi, pada dasarnya modes yang “musti” dimainkan itu ditentukan oleh harmony.

Q : Sejak kapan para musisi pada make modes? Apakah modes juga di pake di classical music?

A : Weits, yoi dong, mereka juga dipake di classical music. Perihal detil sejarah kayanya akan lebih ok kalo ditanyain ke para musicologist. Modes yang terkenal dan dipake hari ini itu adalah cuma segelintir dari berbagai modes yang bisa bertahan hidup sejak jaman Yunani Kuno.

Q : Modes apa aja yang bisa bikin musik kedengeran lebih bagus?

A : Damn, yang ini rada susah dijawab.

Basically, modes bukanlah komponen utama yang bisa diandalin buat bikin musik selalu kedengeran keren, walopun istilah “keren” sendiri bisa sangat subjective. Pas demen shredding saat awal belajar musik dulu, perspektif ane masih cukup sempit, saat soloing bisa dipastikan ane cenderung maen scalar (lurus naik, lurus turun, or kombinasi keduanya, sequential pattern based) as it is, tanpa pertimbangan lain. Dengan perspektif ini ane menyangka bahwa maenin deretan not yang nggak standar (penggunaan bebas diatonic modes dan juga maenin exotic scales) adalah “rahasia” dari solo impro yang tasty. Menggunakan modes secara non standar memang bisa bikin musik kedengeran bervariasi, tapi tetep nggak otomatis bikin musik kedengeran keren. Memang pada awal mulai bermusik, begitulah definisi musik keren bagi ane. Sekedar maen scale n modes yang bisa dikebut naik turun itu keren. Tapi beberapa saat setelah ane study musik lebih jauh, standar definisi “keren” ane mulai meningkat drastis. Scale n modes hanyalah sebagian kecil dari banyak hal lain yang buat bikin musik jadi keren, plus mereka nggak bisa dipake dengan sembarangan/random/kumaha manehna. Dalam peranannya untuk menyampaikan ide via musik, mereka hanyalah sekedar deretan abjad. Mereka bahkan belum berbentuk kata, masih jauh dari kalimat, sangat jauh dari paragraf, dst.

Belum lagi dalam diatonic modes ada yang namanya “avoid note”, yang artinya kurang lebih not yang musti dimainkan dengan hati – hati karena potensial ngerusak harmony.

avoid
yang pengen maen aman, silakan belok kanan

Kalopun ada scale yang bisa dibilang relatif lebih bisa diandalin di berbagai situasi, mungkin adalah pentatonic (yang anhematonic alias nggak punya half step). Tapi saat dimaenin secara exclussive dan dimaenin plek sesuai harmony, scale ini termasuk scale yang hambar, nggak tasty dan terlalu aman bagi orang yang demen spicy music. Scale ini dibilang aman karena nggak punya half step yang umumnya potensial bikin trouble di kebanyakan lagu. Dengan alesan yang sama, doi jadi kedengeran kurang karakter kalo dimaenin polosan tanpa kombinasi dengan scale lain, karena half step itulah yang bikin karakter (contoh : coba cek mode phrygian dan scale harmonic/melodic minor).

Biasanya para pemula berkenalan dengan anhematonic pentatonic duluan buat bluffing impro di depan temen – temennya, tapi scale yang dianggap hambar ini bukanlah beginner’s exclussive scale. In fact, nggak ada di musik yang namanya beginner’s exclussive thing. Di gitar, para jagoan tetep make open position chords, power chords, barre chords, dll. Di piano, “student’s voicing” chords juga tetep banyak dipake oleh para professors (upper structure). Ini berlaku untuk semua hal, termasuk pentatonic scales. Yang bikin beda antara beginner/student level dengan para veteran adalah konteks penggunaanya.

Walopun nggak nambah vocab baru, or teknik baru, teori baru, or apapun yang baru, tapi kalo bisa nambah pemahaman tentang konteks, itu udah cukup untuk bikin para beginner/student players bisa step by step naek level hingga advanced players. Nggak percaya? Silakan cek para traditional blues players.

Bagi spicy musicians, anhematonic pentatonic bisa dimainkan secara bebas sesuai konteks yang diinginkan dan nggak melulu dimainkan buat bunyiin karakter tradisionalnya (Minor 7add11 or Major 6/9). Di akord dominant, kita biasanya masih bisa make minor pentatonic di root untuk efek bunyi yang bluesy, tapi sebenernya skala minor pentatonic juga bisa dimaenkan di b3 dan 5 dan b7 dari dominant chords untuk bikin karakter altered. Dengan begono, tiap not dari pentatonic bakalan membantu mendramatisir karakter tension dari akord dominant. Ini adalah contoh penerapan dari superimposisi (layering dari elemen yang berbeda karakter tuk bikin karakter baru) dalam musik.

So, intinya nggak ada modes yang bisa memastikan musik bakal selalu kedengeran bagus. Sebenernya kita bisa bikin musik bagus dengan hanya fokus ke sebuah mode aja, asalkan harmonic n rhythmic konteksnya nya ok bisa dipastikan musiknya juga bakal kedengeran ok. Sebaliknya, kalo kita maen menggunakan berbagai modes tanpa beneran paham harmonic n rhythmic konteks nya dalam musik, hasilnya kemungkinan besar bakalan kedengeran nggak ok.

Jadi kalo mau musik kedengeran bagus, lebih ok tuk prioritas study harmony n rhythm duluan daripada explorasi modes.

Sample : Explorasi impro make mode lydian dominant di lagunya Mike Stern ‘Jazz Funk’ :

Q : Modes apa yang paling tepat buat maen outside?

A : Sebenernya maen outside itu nggak ada rekomendasi khusus, namun walopun begono ane bisa bikin 3 kategori tentang approach yang dipake tuk maen outside. Sebelumnya silakan baca ini duluan :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/02/05/outside-playing/

Kategori 1 : Simple Approach

Pendekatan ini adalah sekedar maenin scale/modes/licks apapun yang berjarak 1/2 step (diatas or dibawah) dari saat maen inside. Approach ini lebih banyak diadopsi oleh para pemain fusion dari background rock buat mempergampil shredding, karena mindset + fingeringnya simpel. Semua orang bisa langsung nyobain dengan hasil yang cukup ok tuk bluffing, dan tingkat kesuksesannya tergantung pada kelihaian masing – masing orang saat kembali inside*, karena itu adalah point terpenting-nya. Para pemain fusion yang nggak “playing changes”** kemungkinan besar pada make approach ini.

Prerequisite : Inside Scales or Modes

* In reverse dari approach untuk outside, not inside bisa juga didapatkan dengan mudah karena juga berjarak 1/2 step dari not outside. So kembali inside saat make metode ini segampil maen outside-nya, cuman soal side-stepping doang. Buat visualisasi, silakan cek black keys di piano yang lokasinya selalu diapit oleh white keys. Saat eksekusinya tinggal hati-hati aja terhadap avoid note-nya.

** “Playing changes” adalah bermain berdasarkan pada progresi akord, yang versi terpolosnya adalah sekedar maenin arpeggio-nya. Kita musti paham hubungan antara scale/modes dengan akord progresi sebelum mulai belajar “playing changes”. Pemain yang bisa “playing changes” bakalan bisa impro single lines sendirian tanpa iringan, tapi audience tetep bisa tau karakter bunyi akord saat itu dan perpindahan ke akord berikutnya.

Sample : Side-stepping dalam “playing changes” di non-traditional blues :

Warning : Kategori 2 dan 3 berpeluang besar bikin bingung bagi yang masih nanya “modes paling tepat untuk outside” ini. Kategori dibawah ini lebih ditujukan bagi yang udah lebih paham modes dan aplikasinya, dan pengen tau lebih banyak lagi. Sengaja ane tulis karena pas kebetulan kepikiran, jadi sekalian aja wong mumpung lagi dibahas. Yang belum paham modes, sebaiknya langsung skip ke FAQ berikutnya.

Kategori 2 : Better Approach

Pendekatan ini sama dengan pendekatan diatas, cuman jaraknya nggak terbatas pada 1/2 step dari saat maen inside, dan melibatkan prinsip dari voice leading + superimposisi. Bentuk dan kontur dari lick outside di metode ini juga lebih fleksibel dan nggak harus exact copy dari lick inside. Penentuan jaraknya outside-nya dipengaruhi oleh lokasi chord tones dari akord imajiner yang dipake buat outside (buat superimposisi). Akord imajiner yang dipake outside ini bisa akord apapun yang basic chord tonesnya berada di luar key center, dan not yang beda itulah di diprioritaskan tuk di emphasize saat maen outside. Bagi yang paham functional harmony, superimposisi ini berfungsi buat memaksa akord apapun saat itu jadi berkarakter tension. Dengan paham approach ini, maen impro bakalan super fun. Dan karena nggak ada unsur random or ngasal di dalam approachnya, maka hasilnya pun bakal kedengeran mantep sekaligus lebih variatif daripada kategori 1.

Note : Melodic lines (scale + modes) itu ditentukan oleh harmony (chords)-nya. Pendekatan kategori no 2 ini juga masih berpatokan ke akord, even doi sekedar imajiner dan nggak dibunyikan beneran di musiknya. Alasan berpatokan ke akord imajiner adalah supaya bisa maen lebih fearless make berbagai not daripada sekedar maenin exact copy dari lick inside yang digeser setengah (kategori 1).

Prerequisite : Superimposition + Voice Leading

Kategori 3 : Best Approach

Pendekatan ini lebih nyambung dengan prinsip impro secara lebih luas, serta melibatkan prinsip tension-resolution dalam musik. Prinsip ini bisa bikin kita punya lines yang bakalan selalu terdengar smooth, even disaat maen outside dan juga saat maenin intervallic skip sekalipun, yang umumnya bakalan kedengeran spiky dan kedengeran disconnected saat dimainkan diluar konteks. Yang bikin hal ini possible adalah karena selain penerapan point no 2, didalamnya juga terlibat pertimbangan lokasi beat (metric placement) dan juga jarak interval dari not yang dibunyikan sebelumnya.

alternate-route
ada banyak rute menuju resolution

Basic dari metric placement saat impro adalah strong beat selalu diisi inside, dan weak beats boleh diisi outside. Nah lokasi dan resolusi strong-weak ini bisa dimodifikasi sesuai konteks, kalo diperlukan bisa dipindah or diperbesar sampai beberapa bar, sehingga outsidenya bisa dibikin lebih dramatis dan melibatkan beberapa step, yang didalamnya memungkinkan untuk melakukan temporary modulasi ke berbagai unrelated key. Doi bisa dideskripsikan dengan “berbagai rute lain menuju resolution”.

Prerequisite : Functional Harmony + Counterpoint + Out-of-the-Box Mindset, or Harmonic Movement

“Apaan tuh Harmonic Movement, To?”

“Doi bisa dibilang versi lanjutan dari harmonized scale. Istilahnya sendiri kayanya sampe sekarang blom jadi standar di buku teori musik.”

Normalnya, hampir semua buku teori dan berbagai method menyebutkan kalo scale (modes) yang dipake itu ditentukan oleh akord, dan akord berasal dari scale. Ketika tiap individual notes dalam akord bergerak sesuai scale, itu disebut harmonized scale. Subjectnya kemudian berlanjut dengan penjelasan dan penerapannya, kemungkinan besar larinya ke subject chord family lalu ke functional harmony, lalu ke substitution, lalu ke reharmonization. Saat nyampe reharm, biasanya materi tertian harmony dianggap beres lalu skip ke materi tentang quartal harmony dan explorasinya.

Kalo pas sampe subject reharm materi tertian harmony dikembangkan lebih jauh, kita bisa bikin mindset bahwa harmony bisa dibentuk dari beberapa scale yang berbeda, dan individual note-nya juga bergerak sesuai scale yang berbeda, tetapi masih tetep berfungsi secara tonal. Ini bisa dilakukan karena cara pandang kita terhadap scale juga sebenernya bisa diubah out-of-the-box sesuai konteks : sebuah chromatic scale bisa terbuat dari 2 whole tone scale or 3 buah diminished 7th chords, or 4 buah augmented triad, or 6 buah whole tones, or 12 semitones. Perspektif ini juga bisa diaplikasikan ke scale lain, misalnya C Ionian terbuat dari akord C triad dan Bm7b5, C Harmonic Minor terbuat dari akord Cm triad dan Bdim7, dsb. Nah itulah sebagian hal yang jadi basic mindset dari harmonic movement.

Walopun sekilas nampak seperti sekedar ngasih nama lain bagi suatu hal yang udah punya nama sebelumnya, tapi mindset ini bakal ngasih kita info tentang banyak hal dalam musik yang saling terhubung dan ngasih kita banyak konteks dan berbagai rute buat diapproach. After all, cara tuk impro dan maen outside pada dasarnya lebih ke soal mindset + approach + konteks daripada sekedar apal n lancar scale + modes. Bagi yang udah paham kalo Amin7 = Cmaj6 dan Bm7b5 = Dm6 bakalan demen sama konsep ini.

Bagi ane pribadi, mindset ini lebih ok dan lebih reliable buat outside daripada mindset konvensional (treatment target dengan ii-V’s, tritone subs, superimposition, dll), karena bisa selalu terdengar smooth dengan tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi.

Bagi yang tertarik tuk ngicipin basic dari approach ini, bisa mulai mencoba melihat harmony dari perspektif yang bukan dieksekusi oleh akord, yaitu :

  • Dieksekusi oleh sebuah melody (harmonic melody).

Umumnya mayoritas orang beranggapan bahwa melody butuh pendamping buat ngasi tau audience tentang harmony. Tapi sebenernya, melody by itself juga udah bisa ngasih tau harmony kalo kita paham chord tones dalam melody, serta hubungannya dengan metric placement. Semua single lines yang dieksekusi saat “playing changes” menggunakan prinsip ini, dan musik dari Bach juga menggunakan prinsip ini. Ini adalah asal usul kenapa Bach dianggap seorang jazzer. Sebenernya jazz banyak make prinsip dari classical music, dan para improviser jazz udah pada familier dengan harmonic melody.

Scale/modes bisa bergerak dengan berbagai intervallic skips (chordal/arpeggiated), dan tiap chord tones bisa bergerak sesuai scale/modes. Dalam mindset ini, mereka essensinya dianggap sama, beda penerapan doang.

Sample : Experiment harmonic melody + octave displacement di lagu ‘Tuhan’ by Bimbo :

  • Dieksekusi oleh beberapa melody yang berbunyi bersamaan (counterpoint).

Saat aturan counterpoint dipatuhi, kita bisa denger harmony dari melody yang dimainkan bersamaan. Dengan make perspektif ini, music bakal bisa kedengeran lebih artistik, dan even pas dissonansi nya sekalipun jelas kedengeran kalo eksekusinya sama sekali nggak ngasal karena kita musti memperhatikan semua not sebagai bagian dari melodi (yang by itself musti kedengeran logic n keren), serta kita juga memperhatikan efek dari tiap not dalam melodi itu saat dibunyikan dengan melody lainnya yang menghasilkan efek pergerakan harmony (yang juga musti kedengeran logic, flowing dan juga functional).

Jason Becker dianggap jenius bukan hanya karena speed playingnya, tapi lebih karena kemampuan bikin komposisi gokil make counterpoint saat masih berumur 15 taunan. Cek ‘Air’ di album ‘Perpetual Burn’.

Jason Becker
Jason Becker

OK, that’s it, ane cuman bisa share sebatas ini di tulisan ini, karena kalo diterusin, penjelasannya bisa rada kontroversial terhadap fundamental yang udah disenggol di FAQ sebelumnya bahwa modes berasal dari scale, dan penggunaanya ditentukan oleh akord. Tapi bagi masih yang penasaran dengan yang ane maksud, silakan intip sedikit contoh fakta menarik ini :

“Mixolydian sebenarnya bukanlah mode yang beneran berasal dari tonal musik tuk digunakan saat akord dominant.”

Akord dominant 7th dan tonal music itu belum ada ketika mode mixolydian dan para modes lainnya nongol. Para modes udah dipake sejak era pre-tonal. Istilah pre-tonal (juga post-tonal dan atonal) itu berarti musiknya nggak make major ato minor key center.

Pengaruhnya, saat outlining dominant harmony di music tonal (functional harmony), sebagian besar sikon akan mengharuskan kita tuk make “dominant scale” (modifikasi dari mixolydian mode supaya saat dimainkan chord tonesnya bisa selalu fit dengan prinsip dari metric placement) daripada sekedar make standar-konvensional-textbook-based mixolydian mode. Prinsip ini dipake oleh para improviser jazz di era bebop, dan menjadi asal terbentuknya bebop scale. Cek bebop scale :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/09/07/classical-music-fundamentals-bagian-5-4-harmonic-minor-melodic-minor-bebop-scale/

Note : Beberapa istilah dari kategori no 3 diatas mungkin nggak ada di buku teori karena blom ada standarisasinya, jadi sebenernya bakalan lebih gampil buat ngecontohin langsung daripada musti ngejelasin bertele-tele gini. So far, kita udah tau bahwa berbagai standardized theory yang dipraktekan secara literal saja nggak otomatis langsung bikin musik kedengeran ok. Nyatanya, kita tetep butuh beberapa modifikasi di sana sini (terutama dari segi perspektif) biar musik kedengeran lebih ok.

Why Modes? Why..?

“The “why” of the thing, is the foundation. And as the foundation, it must be solid.”

Q : Kenapa modes penggunaanya rumit bener? Penerapannya terkesan dipaksakan, asal masuk dan nggak ada karakter..

A : Modes itu sebenernya super simpel, doi seolah jadi keliatan ribet gara-gara salah paham or salah ngajarin aja. Ada 3 perspektif utama dalam memandang Modes, dan itu menentukan tingkat kerumitan serta penerapannya. Sebelumnya, ane udah pernah nulis tentang perspektif turunan dan parallel, dan sebenernya masih ada 1 lagi perspektif yang justru penganutnya paling banyak tapi nggak pernah dibahas disini, yaitu perspektif masa bodo (istilahnya ane bikin sendiri).

“Sebenernya musik itu nggak ribet, yang ribet adalah perspektif musisinya.”

spooky
yang bikin spooky adalah perspektif nya

1. Perspektif Derivative (Turunan) :

Perspektif derivative adalah perspektif yang harus bertanggung jawab terhadap sebagian besar kasus kebingungan para pemula/students terhadap definisi modes (dan aplikasinya). Modes akan lebih ok saat dijelasin BUKAN by standard definition (Mode x adalah skala y dengan dimulai dari not ke n), karena berpeluang bikin puyeng saat musti dimaenin. Para pelajar yang diajar dengan cara ini pas lulus bakalan lebih cocok jadi detektif daripada improviser. Bukannya belajar mengenali karakter tiap modes tuk dimaenin secara instant, pelajar malah musti melakukan berbagai assosiasi kaya yang dilakukan oleh para penyelidik KPK :

“Coba maenin Bb Phrygian..”

“Bentar, phrygian itu mode ketiga, berarti.. Tu.. Dua.. Tiga.., oh key nya di Gb To!”

“Nggak ada yang nanya key-nya Gan..”

“Oh ok.. Berarti Gb scale yang dimaenin dari Bb.. Hmm, ok bentar..”

“…”

Buat ane, perspektif ini nggak bisa diandalin buat maen modes, karena latency-nya kegedean. Kita perlu perspektif dengan zero latency saat impro.

Shortcut :

Informasi di tulisan ini dulu awalnya bermaksud buat jadi shortcut bagi para penganut perspektif derivative. Tapi pas diliat lagi, kayanya nggak terlalu ngaruh karena mindsetnya masih sama dan kurang radical :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/12/06/modes-bagian-10-perspektif-derivative/

Bagi selain gitaris, shortcut-nya same thing, tinggal konversi jarak fret ke semitones. 1 fret = 1 semitone.

2. Perspektif Parallel :

Nah, ini adalah perspekfif rekomendasi ane, dan mungkin juga direkomendasikan oleh semua improvisers + educator lain. Perspektif ini bikin kita bisa instant maen modes apapun dengan cuman modal apal major n minor scale, tanpa musti jadi detektif dan segala macem blablabla-nya. Walopun mindsetnya beda secara radical, perspektif ini lebih manjur buat dipake semua improvisers dengan hasil yang sama dari mindset konvensional :

“Coba maen Bb Phrygian..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Bb minor b2)

“Coba F# Lydian..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale F# major #4)

“Coba maen G# Harmonic Minor..”

“Ok.. ♪ ♫ (Maen scale G# minor ♮7)

“Coba Db Melodic Minor.. “

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Db major b3)

“Coba maen Eb Lydian Dominant..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Eb major #4 dan b7)

“Good!”

See? Gampil kan? Yang kita butuhkan cuman modifikasi interval dari not penyusun major/minor scale doang, dan voila.. Any modes siap dibunyikan dengan instant, zero latency.

Shortcut :

  • Bagi gitaris, cek tulisan berikut sampai bagian comment :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/11/06/modes-bagian-8-perspektif/

  • Bagi bukan gitaris, basicnya same thing. Copas dari comment section :

Lydian = Major #4th
Mixolydian = Major b7th
Dorian = Minor major 6th
Phrygian = Minor b2nd
Locrian = Phrygian b5th or Minor b2nd b5th

3. Perspektif Masa Bodo :

whatever

Ini adalah perspektif yang berguna disaat tertentu, tapi nggak cocok tuk jadi landasan belajar modes. Bagi yang beneran pengen tau tentang modes, jangan cepet puas kalo diberi jawaban yang berisi simplifikasi dari perspektif masa bodo ini, karena bukan itu real answernya. Silakan study perspektif parallel buat dapetin jawabannya, dan berikutnya juga perspektif derivative buat supplement.

Perspektif ini adalah mukul rata semua akord yang ada berdasarkan key centernya, dan nggak peduli sama pergerakan progresinya. Ini umumnya adalah perspektif impro kita semua saat baru mulai kenal musik, saat demen banget bisa bunyiin sebuah scale naek turun dalam suatu musik tanpa ada not yang salah (outside).  Perspektif ini cuman bisa dieksekusi di lagu dengan akord simpel, dan itu juga nggak selalu berhasil di semua situasi, terutama di situasi lagu dengan akord yang lebih berkarakter dan juga lagu yang dalam progresinya terdapat surprise chord (akord terbuat dari key center yang berbeda, yang tentunya non-functional terhadap key center yang lagi dipake).

  • Saat pemula pake perspektif ini, even maennya nggak ada not yang salah tapi solonya tetep bakal kedengeran ngambang n kaya orang linglung. Impronya kedengeran nggak berada dalam musiknya (lines-nya nggak punya konteks, asal jalan aja).
  • Saat orang yang ngerti tension-release make perspektif ini, solonya bisa kedengeran ok karena ada targetting dan kedengeran gravitasinya. Akord progresi yang dipukul rata disini bisa jadi contoh tergampil dari superimposisi.

Sample : Eksekusi dengan melakukan superimposisi terhadap semua akord dalam progresi, make akord dari key center-nya (switch bolak balik based on C dan Am biar nggak predictible banget). Even pas eksekusinya ada berbagai macam ornamentation, kalo dicek beneran, hampir semua not yang dimaenin saat ganti akord cuman berasal dari C or Am tok. Ada sedikit explorasi modes di 3:20- 3:36 :

  • Saat orang dengan insting dan hearing yang ok make perspektif ini, maka hasilnya bisa kaya orang yang paham penerapan macem – macem modes walo doi nggak mikirin modes sama sekali. Sering kali orang yang bilang “sikat bleh” or “hajar bleh” saat jamming lebih merujuk pada perspektif ini.

Sample : Instinctive improvisation di latin grooves (samba, mambo and songo). Scale yang dipake adalah harmonic minor :

Penggunaan Modes

Berikut adalah beberapa pertimbangan saat make modes, terutama dalam situasi tonal music :

  • Modes major untuk akord major, dan modes minor untuk akord minor, modes dominant untuk akord dominant, modes locrian untuk half diminished, symmetrical diminished scale untuk akord dominant7b9, inverse symmetrical diminished untuk akord diminished7, altered scale untuk akord altered, dst. Tentang altered scale :

https://ditomusicman.wordpress.com/2013/12/29/melodic-minor-altered-scale/

  • Major or minor modes yang digunakan adalah sesuai fungsi dari akord. Di diatonic key, akord IV make Lydian, akord ii make Dorian, akord iii make Phrygian. Kita perlu mengetahui fungsi akord itu duluan sebelum menentukan modesnya.
  • Sebelum menentukan fungsi akord, kita perlu tau key centernya duluan. Untuk menentukan key center, silakan baca :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/11/13/modes-bagian-9-tonal-center/

  • Study tentang chord family dan functional harmony bikin kita bisa otomatis nentuin modes yang tepat tanpa steps yang bertele – tele.
  • Kalo nggak ada petunjuk lain or nggak yakin kalo akord itu berfungsi tonal, umumnya yang digunakan adalah untuk akord major pake lydian, akord minor pake dorian, akord dominant pake lydian dominant (mode ke 4 dari melodic minor), dst.
  • Prinsip dari mode yang digunakan point diatas adalah menyelipkan sebuah non-chord tone yang minimal berjarak 1 STEP DIATAS chord tones. Ini berlaku semua untuk akord lainnya, dan dilakukan tuk menghindari kemunculan “avoid notes”.
  • “Avoid note” adalah note yang musti dimainkan dengan hati – hati sesuai konteks karena lokasinya yang berjarak HALFSTEP DIATAS chord tones. Doi potensial ngerusak karakter harmony saat di emphasize di strong beat.
  • Semua not dalam scale/modes yang didalamnya nggak ada avoid note bisa bebas digunakan. Non-chord tonesnya bisa untuk coloring tanpa khawatir ngerusak karakter harmony.
  • Salah satu metode yang dikenal paling ok tuk latihan modes adalah dengan penerapan pitch axis theory. Basicnya doi adalah teknik bikin akord progresi yang terbuat dari 1 not yang sama sebagai root. Cek perspektif parallel diatas.
  • Salah satu contoh yang paling dikenal dalam penerapan pitch axis theory adalah progresi akord saat tapping section di ‘Satch Boogie’ nya Joe Satriani. Contoh lainnya adalah berbagai macam musik yang menggunakan pedal point (progresi akord dengan bass yang nggak bergerak).
Joe Satriani
Joe Satriani

 

  • Ketika orang maen scale/modes, orang itu nggak beneran maen naek turun deretan not-nya dari root ke root secara urut. Seringkali yang dimaksud adalah licks/ide/motif/phrase yang based on (berdasarkan notes dari) scale/modes-nya. Saat “playing changes”, pembentukan licks ini selalu berdasarkan pada progresi akord.
  • Penggunaan modes itu prinsipnya sama dengan scales. Ketika orang maen C major scale, berarti maksudnya bebas maenin not yang berasal dari C major scale, tapi dengan menitik beratkan C nya sebagai home.
  • Jadi kalo ada orang bilang : “Gua maen D Dorian, G Mixolydian lalu C Ionian.” Itu artinya sama aja doi sekedar maen C major scale dengan gravitasi yang berubah – ubah : D pas D Dorian, G pas G Mixolydian dan C pas C Ionian.
  • Apakah ini berarti sama aja dengan perspektif masa bodo? Beda, kalo pemainnya nggak punya hearing n insting yang ok, gravitasinya nggak bakalan otomatis berubah ngikut progresi. Kalo nggak percaya, silakan coba maen solo sendirian tanpa iringan.
  • Di progresi diatonik tanpa modulasi (yang semua akordnya terbuat dari sebuah harmonized scale), maenin modes beneran (perspektif parallel) bisa membantu bikin efek harmonic melody (melody yang ngasi tau akord saat itu), yang merupakan salah satu dasar dari “playing changes”. Sementara kalo make perspektif masa bodo (pukul rata dari key center), melody nggak akan kedengeran perubahan harmonynya.
  • Kalo blom punya hearing n insting yang ok, perspektif masa bodo masih bisa dipake dengan cara superimposisi di key center. Cek sample ‘On The Sky’ diatas yang semuanya di sikat berdasar C dan Am. Cara ini cuman bisa dieksekusi di lagu dengan akord simpel, dan itu juga nggak selalu berhasil di semua sikon.
  • Gua punya insting n hearing yang cukup ok, apakah gua perlu belajar modes? Nggak perlu kalo nggak pengen bahas modes (dan teori musik) bareng orang laen.
  • Gua punya insting n hearing yang cukup ok, apakah gua perlu belajar improvisasi? Ya jelas, even orang dengan great technique n perfect pitch tetep musti study cara kerja musik dulu sebelum bisa fearless impro di any music, any key, at any tempo. Nggak ada insting dan hearing yang dianggap cukup ok buat bisa menggantikan study musik.
  • Modes lebih ok dipake untuk impro dengan akord berdurasi lama, dan  di akord yang non-functional (nggak berfungsi dalam key center tertentu). Para gitaris silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/01/29/penggunaan-modes/

  • Saat di progresi dengan pergerakan akord berdurasi singkat, lebih ok tuk impro make perspektif chordal. Kita nggak butuh mindset dengan 7 not, karena tiap not-nya nggak bakalan sempet dibunyiin semua in context.
  • Di tonal music (akord yang berfungsi dalam key center), perspektif chordal umumnya lebih ok daripada make modes. Saat keduanya dikombinasikan, aplikasinya bisa memungkinkan tuk bermain lebih liar dan sekaligus tetep terstruktur daripada sekedar maen pake kombinasi modes saja.
  • Saat di progresi dengan pergerakan akord berdurasi singkat, modes masih bisa dipake dengan cara meng-highlight not terpenting-nya. Silakan baca :

https://ditomusicman.wordpress.com/2013/10/01/4197/

Warning : avoid notes musti segera bergerak ke chord tones.

  • Setelah paham semua modes, kita bisa memperlakukan mereka seperti spektrum dengan melakukan berbagai kombinasi. Di sample ‘On The Sky’ diatas ada bebeapa modes yang dipake saat 3:20- 3:36.
  • Para shredder juga demen make Dorian-Mixolydian sebagai pondasi dari blues licks mereka. Dorian-Mixolydian adalah 2 modes yang bersamaan dieksekusi di 1 root, hasilnya kedengeran bluesy dengan lebih banyak not yang bisa tuk dipake kebut-kebutan. Saat dikombinasikan dengan “playing changes”, kita bisa dapetin hasil yang cukup unconventional :

  • Dalam situasi di lapangan, saat orang bilang maen satu mode tertentu sepanjang lagu, hampir bisa dipastikan  doi nggak akan exclussive beneran maen make 1 mode or 1 scale tok, terutama kalo orang itu menguasai berbagai scale/mode lain untuk complement. Hal ini adalah karena untuk menyampaikan ide yang lebih ok, seringkali kita perlu minjem konteks dari scale/mode lain. Even sample ‘Hip-Hop (Jazz Funk)’ diatas nggak beneran make Lydian Dominant tok, doi make berbagai chromaticism tuk dekorasi di sana sini.

Nah, sekian pendapat ane pribadi tentang modes, semoga bisa bantu semua yang baca tuk jadi lebih paham. Memang ada beberapa terms yang belum pernah disenggol disini sebelumnya, tapi itu nggak bisa dihindari, karena untuk ngebahas satu hal memang nggak bisa lepas dari nyenggol hal lainnya. Dan seperti biasa, hal itu bisa ditanyakan disini, or via inbox, or mungkin next time juga bakal dibahas. Untuk hasil pemahaman yang lebih ok, silakan tanya pendapat personal dari berbagai musisi lain tentang modes. Dari situ bisa dikumpulkan data tuk dapetin gambaran yang lebih kumplit tentang modes dan penggunaanya.

Selamat explore..

Classical Music Fundamentals bagian 6.1 : Jazz Parallel & Music Appreciation

Posted on Updated on

Boy giving thumbs up
jazz & classical are good

 

“Gue benci musik jazz, karena monoton bgt. ga ada klimaksnya dan ga berskill!” – Paijo bin Sopokae Mbuh, di Bandung.

Tulisan ini rencana awalnya dibikin untuk merespon komentar diatas dengan cara reply langsung ke orang-nya, tetapi kemudian nggak jadi karena pas ditulis, materinya ternyata malah ngelantur kemana – mana n terlihat cukup fit in untuk jadi sequel seri Classical Music Fundamentals, yang kebetulan udah beberapa bulan ini emang blom sempet diupdate. Tulisan ini rencananya nggak akan exclussive ngebahas classical music tok, tapi merembet ke beberapa musik lain. Namun begono, judulnya tetep nggak ada perubahan, terutama karena era (dan juga area) dari asal classical music yang cukup jauh dari waktu dan tempat kita hidup sekarang, akan lebih gampil tuk mengapresiasinya kalo dibahas secara backwards. Dan point backwardsnya sebenernya bisa dari manapun, dari musik death metal, prog rock, pop, country, jazz, or even blues : asalkan musiknya bisa ditulis di partitur, doi dipastikan masih ada hubungan sama tradisi musik dari eropa (classical music), at least di pitch dan harmonic systemnya. Nah dari salah satu point itulah khotbah promo tentang classical music ini dimulai. Komplain Paijo diatas bikin tulisan ini dimulai dari point jazz.

Dari komentar diatas, kita bisa sepakat tuk menganggap si Paijo baru melihat jazz dari kulit terluarnya aja. Dan prediksi ane, source-nya kemungkinan besar dari pengaruh media yang semua orang denger sehari – hari, bisa dari radio (dare I say, doi nggak nyetel KLCBS), or TV, or dari pengaruh temen – temennya (yang tentunya bukan straight-ahead-jazzer). Asumsinya, Paijo blom punya source yang berfungsi sebagai guru or penasehat di bidang musik, or sialnya, bisa juga si Paijo basicnya adalah orang yang close minded, or bahkan mungkin malah punya masalah personal. Ok, ini emang rada kejauhan terawangannya. Jazz dari perspektif orang awam mirip dengan “sesuatu” yang lain, yang tentunya musti dinilai secara lain juga. Seberapa “lain” itu tergantung pemahaman kita masing – masing. Buat gambaran, orang yang paham cara kerja western harmony bakal ngeliat semua musik yang make western system seperti ngeliat piramida kingdom plantae or kingdom animalia : dari heavy metal, sampe jazz, sampe classical (dan bahkan bisa juga blues) semuanya jelas terhubung. Mereka dari dekat emang terlihat seperti berada di klasifikasi yang berbeda, tetapi dari jauh bordernya bakal terlihat makin blur, sementara benang merah nya terlihat makin jelas, dan mengerucut ke satu arah : classical music (or lebih spesifiknya dari Baroque Era). Nah, Paijo dalam hal ini kalo mau mengapresiasi musik secara lebih objective, musti bisa rada mundur tuk ngeliat dari jauh biar bisa keliatan gambaran utuhnya.

Alasan “monoton banget”, “ga ada klimaksnya”, dan “ga berskill” bisa dimaklumi kalo yang dimaksud adalah sample impro ‘Giant Steps’ berikut ini :

  1. Doi boring n monoton, solonya cuman make not 1/8 non-stop, dinamikanya cenderung rata, strukturnya bolak balik (lha wong compingnya pake looper tok, kepriben maning..) Yoi, singkatnya doi monoton.
  2. Doi nggak ada klimaksnya. Asumsinya klimaks dieksekusi dengan berbagai high pitch dan high dynamic di kisaran 2/3 or 3/4 durasi lagu, dan disample itu nggak ada.
  3. Doi nggak berskill. Mungkin yang dimaksud Paijo, skill adalah speedy licks n flashy akrobatik licks on purpose. Di sample itu nggak ada.

Berikutnya, perkiraan pendapat dari orang yang bisa mengapresiasi sample itu (versi ane) :

  1. Pemaen emang sengaja exclussive impro make not 1/8 non-stop, sesuai dengan video description. Not dengan 1 flag inilah yang jadi “bendera kebangsaan” kebanyakan jazzer. Traditional jazzer emang sering make 1/8 untuk emphasize swing feel dan sesekali juga diselipin triplet or value lainnya tuk variasi, sama kaya para speed metal players macam Yngwie Malmsteen dan Jason Becker sering ngandalin make 1/16 n 1/16 sextuplet yang berderet di tiap solo-nya. Namun dosis yang kebanyakan (apalagi exclussive kaya di sample itu) tentu bikin boring.
     
    Tapi don wori, di situasi lagu normal (bukan quick sample impro kaya diatas), jazzer seperti juga layaknya musisi genre lainnya, tetep mix n match di tiap solonya.
     
  2. Jazz standard emang dari sononya cenderung lempeng – lempeng aja basic strukturnya, yang justru bikin doi jadi gampil tuk ngejem n dimaenin bareng semua orang. Tapi seperti lagu normal lainnya, tentu saja doi bisa sengaja di arrange tuk nyelipin beberapa surprise or biar lebih fit tuk dimaenin bareng orchestra, plus dimodifikasi dinamikanya.
     
    Di sample itu strukturnya basic dan bolak balik, terdengar tanpa klimaks.
     
  3. Nggak ada speed playing (tempo sample diatas blom masuk ke fast bebop style), dan cuman non-stop maen “random” not 1/8. Hal ini tentunya dianggap cukup gampil (nggak akrobatik n nggak berskill).
     
    Nah response dari point no 3 ini mungkin point tergampil yang bisa bantu orang kebanyakan (terutama para melody players) tuk mencoba appresiasi jazz dari sisi teknisnya (skill). Di kebanyakan lagu jazz, terutama yang dianggap “serem” macam ‘Giant Steps’ ini, ada daya tarik, or tantangan tersendiri bagi para melody players (improvisers), untuk bisa maen keren dan tasty sesuai struktur harmony lagu yang berkelok – kelok di tempo yang relatif cepet. Bagi improviser yang awam jazz (even bagi yang bisa speed playing dan maenin akrobatic licks sekalipun), untuk sekedar maen sesuai struktur harmony lagunya aja mungkin udah bisa jadi beban, apalagi dengan tempo cepet. Silakan coba.
     

Jazz Skill

 
Sample diatas sebenernya masih berada dikoridor basic, yaitu bermain sesuai progresi apa adanya. Sementara pada koridor yang lebih advanced, pemain biasanya akan memasukan berbagai unsur superimposisi, substitusi n outside playing di dalamnya. Kalo diperhatikan dengan detil, pilihan pitch masing – masing not 1/8 yang dipake secara non-stop buat impro di sample diatas sama sekali jauh dari random, doi emphasize (highlight dan nempel) terhadap struktur akord progresinya (yang bergerak cukup cepat n liar), dan solonya dieksekusi dengan menggunakan kombinasi dari berbagai elemen dasar dalam linear soloing (chromaticism, scalar n arpeggiation). So secara teknis, walo sekedar maenin not 1/8 tok non-stop, tapi dari perspektif harmony (bukan speed n flashy akrobatik licks) konsep soloing ini sudah bisa dibilang “ada” skillnya.

8th note
8th note

Dan tingkat skill ini bakal beberapa kali lebih susah kalo udah masuk ke area speed soloing, or bahkan naikin tempo lagu tuk masuk fast bebop. Dalam improvisasi, tingkat kesulitan (skill) ngebut di jazz bebop umumnya berada di tingkat yang lebih tinggi dari musik dengan struktur lagu tanpa modulasi, dan juga lagu dengan modulasi yang jaraknya lama. Semua bebop players bisa maen ngebut ngikutin struktur lagu dengan modulasi key center (yang unrelated) tiap 1 or 2 bar sekali, di tempo yang cepet, segitunya sampe kalo dimaenin tanpa comping, solonya potensial kedengeran nggak logis n nggak bisa dinikmati orang awam. Mereka bisa maen satu or 2 detik detik di sebuah key, detik berikutnya bisa maen di key yang berbeda. Sialnya, bebop players juga demen memperparah linesnya dengan superimpose, substitusi n maen outside, yang tentunya bakal kedengeran “salah banget” bagi orang awam, dan nggak enak didenger bagi yang blom bisa denger benang merahnya dan juga bagi yang blom bisa paham konsep tension-release (or tension-resolution) dalam musik.

Bagi para pelajar jazz yang pengen lebih paham tentang hal ini, akan lebih ok kalo punya transkrip dan analisis solo note to note dari para top bebop improvisers (or bisa juga dari para educators). Or kalo emang susah dapetinnya, coba transkrip sendiri seakurat mungkin dengan slow down musiknya (sekalian ear training), lalu analisis hubungan pilihan not impro dengan struktur akord-nya. Kalo itu juga masih kurang buat paham konsep soloingnya, silakan tambah lagi info tentang harmony sebanyak – banyaknya dari berbagai sumber. Make sense kalo ada yang bilang bahwa bebop adalah musiknya para musisi. Buat maeninnya perlu agility tingkat brutal, dan musti disertai dengan pemahaman harmony yang gokil juga.

BTW, walopun di sample itu emang nggak ada speed playing, tapi ane secara personal bisa rekomendasikan kalo konsep walking bass comping n 1/8 notes soloingnya cukup layak tuk masuk folder skill (yang musti dipelajari, terutama bagi pelajar yang pengen ngicip traditional jazz). Dan seperti layaknya sebagian besar konsep dalam jazz, konsep soloing ini musti dieksekusi dengan improvisasi. Subject improvisasi itu sendiri sebenernya udah berada didalam level yang berbeda dari sekedar composing n arranging, karena improviser nggak punya penghapus dan editor, semuanya live n on the moment. Jadi, semua yang dimaenin secara impro itu sendiri udah termasuk berskill. Dan bagi yang open minded terhadap fundamentals (dan definisi “skill” secara literal), sebenernya untuk sekedar maen lagu yang simple secara perfect-in-time-on-beat itu juga udah termasuk skill. Dan berikutnya, sengaja aksen di weak beats (a.k.a. backbeat) juga udah termasuk skill. Skill itu bisa sesimpel sekedar maenin basic groove sampe dengan segokil nranskrip by ear semua part dari symphonic orchestra.

Ini ada video jazz standard dimainkan secara non-standard (Alex Machacek maenin “Donna-Lee, The Easy Viennese Teenage Version”) yang kebetulan kalo dari perspektif ane jelas banget nge-checklist semua keluhan si Paijo :

  1. Dari note choices dan rhythmnya, jelas banget di video itu super variatif.
  2. Klimaks ada di ending solo impro, beliau sustain high note. Compingnyanya sendiri rada rata dinamikanya, mirip versi traditionalnya.
  3. Skill? Gokil! Speed ada, tapping ada, blom lagi itu di dieksekusi di lagu Donna Lee yang notabene strukturnya termasuk serem bagi mayoritas jazzer. Dieksekusi secara impro? Jelas!

Appreciation

Nah, so far, Paijo udah punya tambahan perspektif kalo jazz itu nggak selebar celana kolornya. Seperti berbagai jenis musik pada umumnya, selalu ada beberapa lagu yang menurut selera kita emang kedengeran boring. Tapi kalo ada banyak orang yang demen jenis musik itu, berarti mustinya ada juga sebagian lagu lainnya yang keren. Kalo semua lagu dari suatu jenis musik kita anggap boring, kemungkinan besar ada yang salah dengan perspektif kita dalam menilai musiknya. Tulisan ini mencoba untuk menyingkap hal itu.

Yummy..
yummy n healthy

Kita semua pasti lebih milih makanan yang menurut kita enak, tapi ada juga waktunya kita musti mengkonsumsi makanan yang sehat, walopun makanan itu bukan makanan favorit kita. Kalo tetep ogah, maka untuk tetep sehat kita cepat ato lambat bakal segera berurusan dengan suplemen, bahkan obat yang rasanya pahit nggak karuan itu. Nah begitu juga di musik. Sebagai orang yang belajar musik, kita perlu mengetahui alasan suatu karya menjadi rujukan para edukator untuk membantu membuat kita makin musical, terlepas dari selera awal kita terhadap bunyinya. Lalu kemudian kita akan mendengarnya, mempelajarinya dan mengapresiasinya. Kalo ogah, pemahaman n kemampuan musik kita nggak akan ada kemajuan.

Inilah alesan kenapa beberapa musisi yang kita idolakan dulunya belajar dari source yang kita sendiri mungkin nggak terlalu demen sama musiknya. Sedikit contoh yang cukup terkenal : Joe Satriani belajar pada bebop pianist Lennie Tristano. Lalu John Petrucci merekomendasikan study chording ke Ted Greene, seorang fingerstyle jazz guitarist.

  • Point utama dari apresiasi musik adalah melihat dari berbagai sisi ke sebuah musik dan mencari tau pesan or ekspresi yang berusaha disampaikan oleh si musisi, dan tidak menilainya dari apa yang pengen kita denger (dari si musisi).
     
    Musik yang gampil itu ibarat make bahasa gamblang, dan musik yang berat itu ibarat make bahasa kiasan, kita perlu pemahaman menyeluruh dari berbagai macam term dan konteks penggunaannya untuk bisa nangkep maknanya. Rewardnya juga serupa, paham bahasa gamblang itu semua orang udah tau dan doi dipake sehari – hari (contoh tergampil : perintah boss ke pembantu). Sementara itu, dengan paham bahasa kiasan kita jadi punya “tafsir” tuk menangkap (dan juga berbagai “konteks” tuk menyampaikan) sesuatu secara lebih artistik, lebih daripada sekedar makna asal tiap kata (contoh tergampil : puisi para pujangga)
  • Or kalo definisi “melihat dari berbagai sisi” itu masih susah dipahami, kita bisa pake analogi focus. “Melihat dari berbagai sisi” mungkin kita bisa analogikan ngeliat seseorang dari depan, samping, atas, belakang, dst. Kalo ngeliat dengan focus, berarti mirip ngeliat orang dari perspektif yang sama, tapi dengan fokus ke hal yang berbeda, bisa ke rambutnya, merek bajunya, or even jenggotnya.
     
    Musik itu terdiri dari berbagai macam elemen yang jika diperlukan, masing – masing bisa di rating secara terpisah. Dan kalo udah dipretelin, kita bakal nemu kalo sebagian orang cenderung demen teknik n speed, sebagian orang demen detil individual notes, sebagian orang demen pergerakan harmony-nya, sebagian orang demen groovenya, sebagian orang demen lyricsnya, sebagian orang demen orkestrasinya, sebagian orang bahkan mungkin demen tampang musisinya, dsb. Walopun ada cukup banyak point yang bisa kita perhatikan, sebenernya musiknya sendiri biasanya udah ngasih indikasi ke hal tertentu yang ditonjolkan untuk diapresiasi.

Contoh penerapan tergampilnya bisa make post yang udah ada. Sample ‘Giant Steps’ diatas, seperti semua sample video ane lainnya, adalah sample video singkat yang dibuat untuk keperluan referensi edukasi. Mereka semua jadi rujukan langsung di blog ini karena didalamnya memang terdapat banyak penerapan materi yang disenggol disini. Dan karena dibikin oleh orang yang sama, jadi lebih gampang tuk ngejelasin tiap detilnya dari sudut pandang objectnya langsung. Hampir semua sample ane hanya fokus pada penerapan 1 or 2 ide utama yang dieksekusi secara gamblang biar gampil didengar n nggak terlalu mengintimidasi para pelajar. Sample diatas bukanlah end result dari apa yang bisa di capai saat ‘Giant Steps’ musti dimainkan di performance level, dimana ekspektasi audience (dan juga ane pribadi) pasti beberapa tingkat lebih tinggi daripada sekedar versi quick demo nya.

Jadi untuk mengapresiasi dengan optimal, audience musti menggunakan sudut pandang (or focus) yang paling sesuai, yang indikasinya biasanya udah ada dari musiknya sendiri.

Berhubung ‘Giant Steps’ adalah salah satu lagu yang pergerakan harmony-nya ter-mlintir khususnya di jazz, maka setelah kita bisa mengapresiasinya, otomatis progresi harmony mayoritas lagu lain akan jadi relatif lebih gampil tuk diapresiasi. After all, harmony adalah salah satu aspek utama dalam musik yang langsung berpengaruh secara gamblang pada tingkat kesulitannya untuk diapresiasi. Aspek lainnya yang juga gamblang dan langsung kedengeran adalah aspek rhythm dan juga melody. Perihal rhythm, mayoritas fans Frank Zappa n Dream Theater udah pasti gampil mengapresiasi yang aneh – aneh.

Frank Zappa
Frank Zappa

Tentang contoh polyrhythm, silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2011/05/07/rhythm-bagian-11-polyrhythm/

Tentang rhythm dan meter (birama), silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/06/05/classical-music-fundamentals-bagian-3-2-rhythm-meter/

BTW, di jazz sebenernya masih ada jenis musik yang relatif lebih susah diapresiasi daripada bebop, yaitu avant-garde or free jazz. Cuman karena ane blom nyampe ke area itu (or lebih tepatnya males explore karena di gitar nggak bisa beneran bebas maen secara solo), jadi cuman bisa ngasih contoh sampe sebatas bebop aja. Tapi kalo make piano, kayanya bakal fun tuk sesekali ngicip jalan – jalan ke area itu.

Jazz Parallel

So far, sebenernya point utama dari apresiasi musik dan contohnya udah tersampaikan. Nah, kalo dari point ini kita lanjut promo classical music ke si Paijo, kemungkinan besar doi bakal lebih gampil nerima-nya. Paijo bahkan mungkin juga udah bisa mencoba langsung apply sendiri prinsip apresiasi ini ke berbagai macam jenis musik lain (rockabilly, blues, death metal, dll) tanpa bantuan contoh n penjelasan lebih jauh.

“Lah, kenapa langsung loncat dengan konklusi begono To?”

“Karena sebenernya hubungan jazz dan classical itu lebih deket daripada yang mayoritas orang kira. Para pelajar jazz n classical yang dengerin George Gershwin’s ‘Rhapsody in Blue’ pasti bakal setuju.”

Persamaan mereka :

  1. Mereka sama – sama punya basic form dan struktur.
  2. Mereka sama – sama punya rhythmic n melodic development.
  3. Mereka sama – sama make berbagai musical expression.
  4. Mereka sama – sama make akord dan skala mayor + minor.
  5. Mereka sama – sama punya akord progresi.
  6. Mereka sama – sama punya soloist dan pengiring.

Sementara beda paling nyolok-nya adalah :

  1. Rhythm. Di classical beneran literal saklek sesuai yang ditulis, sementara di jazz make swing feel.
  2. Di jazz musisinya pada demen improvisasi dan bikin musik jadi personal, di classical musisinya pada maen seakurat mungkin dengan versi aslinya (dan karena nggak ada rekamannya, ini berarti interpretasi seakurat mungkin dari partitur).
  3. Nyambung dari point sebelumnya, jazzer juga bisa bebas memodifikasi melodi aslinya, sementara di classical itu adalah dosa besar.
  4. Kombinasi instrument yang berbeda dalam ensemble. Ada drummer jazz (or rock or blues, dll), tapi nggak pernah ada drummer classical. Di classical, perkusi dipake untuk aksen, sementara di jazz (dan musik kontemporer lainnya) untuk beat keeper (time reference).

 

tidak ada drummer classical
ada drummer jazz (or rock or blues, dll), tapi nggak pernah ada drummer classical

Yang menariknya nih, kalo diperhatikan mereka bahkan punya periode sejarah yang cukup parallel :

  1. Classical : Baroque era (1600 – 1750)
    Musisi : J.S. Bach (bokapnya C.P.E. Bach), George Frederic Hendel, Antonio Vivaldi, Alessandro Scarlatti (bokapnya Domenico Scarlatti), Johann Pachelbel, dll.
     
    Jazz : Dixieland era (1900 – 1930)
    Musisi : Louis Armstrong, Jelly Roll Morton, dll.
     
  2. Classical : Classical era (1700 – 1820)
    Musisi : C.P.E. Bach, Joseph Haydn, W.A. Mozart, Domenico Scarlatti, dll.
     
    Jazz : Swing/Big Band era (1930 – 1950)
    Musisi : Duke Ellington, Benny Goodman, dll.
     
  3. Classical : Romantic era (1820 – 1900)
    Musisi : Frederic Chopin, Franz Lizst, Richard Wagner, Franz Schubert, Antonin Dvorak, Sergei Rachmaninov, Niccolo Paganini, Johann Strauss I dan II (si bapak & si anak), dll.
     
    Jazz : Bebop era (1945 – 1960)
    Musisi : Dizzy Gillespie, Charlie Parker, dll.
     
  4. Classical : Impressionist era (1890 – 1920)
    Musisi : Claude Debussy, Maurice Ravel, dll.
     
    Jazz : Cool era (1955 – 1965)
    Musisi : Miles Davis, Dave Brubeck dll.
     
  5. Classical : Expressionist era (1920 – )
    Musisi : Arnold Schoenberg, dll.
     
    Jazz : Avant-Garde (1965 – )
    Musisi : Ornette Coleman, John Coltrane, Cecil Taylor, dll.
     

Ada beberapa musisi avant-garde lain yang cukup dikenal tapi nggak langsung nyambung dengan jazz or classical secara traditional, diantaranya adalah Bjork, Buckethead, dll.

bjork
Bjork

Untuk kategori no 5, baik classical maupun jazz keduanya punya karakter yang bisa dibilang hampir sama persis :

  • Expressionist : Ngebuang semua aturan apapun dalam bermusik.
  • Avant-Garde : Sama dengan free jazz, udah jazz, free pula.. Kebayang kan?

“Kenapa ada musik yang begono To?”

“Karena basicnya, musik adalah expresi via bunyi. Ekspresi mah gimana musisi-nya aja..”

Nggak ada aturan baku untuk berekspresi. Walopun mayoritas orang lebih demen maen n denger sesuatu yang teratur n terorganisir, tapi ada juga sebagian ekspresi yang akan lebih ok disampaikan secara free flowing, unorganize, bahkan bisa juga melibatkan random sounds n natural noise. Umumnya area ini diicipin oleh orang yang udah paham ngelotok prinsip – prinsip dari organize music, mereka mencari sesuatu yang lebih fresh sounding beyond traditional rules. Bagi yang baru mulai bermusik n belom paham traditional rules, sebaiknya jangan langsung maen di area ini. Bahaya!

Kalo cuma sebentar, ane biasanya masih bisa mengapresiasi musik selevel ini secara objective (nggak ikut – ikutan pendapat orang or trend). Tapi kalo durasi-nya cukup lama, ane biasanya mulai kehilangan reference point tuk stay objective, terutama di situasi extreme yang melibatkan kata “poly” didalam musiknya macam polytonality, polytempo, dll. Musik – musik ini berada di level yang sama sekali berbeda dari musik standar, karena ada banyak hal yang terjadi secara bersamaan dengan orientasi yang berbeda. Ini mirip mengamati aktivitas banyak orang di sebuah hall studio sekaligus, misalnya didalamnya ada yang lagi syuting sinetron, ada yang lagi pengajian, dan ada lagi yang maen futsal, dst. Bagi orang kebanyakan, sangat susah untuk menikmati salah satu dari kegiatan itu, dan apalagi menikmati semuanya sekaligus.

Tips untuk tetep nyengir n memahami kondisi itu adalah kebalikan dari apresiasi secara normal. Normalnya kita akan zoom in terhadap berbagai elemen musik secara individual yang dimainkan secara sinergis, dan menilainya berdasarkan kontribusinya terhadap pesan yang kita tangkap. Tapi di musik “poly”, hal ini nggak bisa diterapkan. Cara yang bisa kita lakukan adalah dengan zoom out, dan menilai bagaimana beberapa hal yang terjadi bersamaan dan nampak unrelated satu sama lain itu ternyata juga punya ekspresi or pesan yang bisa ditangkap, dan juga diapresiasi. Dan ketika kita udah bisa menangkap maknanya, maka hal – hal yang nampaknya unrelated itu ternyata memang ada maksudnya, mereka ada disana on purpose, composernya juga nggak ngawur. Untuk lebih paham tentang hal ini, coba cek lagi film ‘Vantage Point'(2008). Disitu tiap karakter melakukan berbagai hal yang nampaknya unrelated dalam satu setting, dan kita tetep bisa nangkep story-nya.

 ‘Vantage Point'(2008)
‘Vantage Point'(2008)

Bagi yang baru pertama kali nyoba dan mengalami kesulitan tuk menikmati jenis musik baru, tips nya adalah kita perlu ngebuang sebagian preferensi pribadi dalam menikmati musik baru itu. Dengan begono ada ruang yang tersedia bagi jenis musik baru itu untuk masuk dalam folder apresiasi kita. Lalu kemudian dari situ bisa terbentuk preferensi baru dalam menikmati musik dengan parameter yang lebih luas.

Lebih jauh tentang subject music appreciation bisa digali via courses n sekolah – sekolah musik..

  • Apaan tuh music appreciation?
     
    Doi adalah musical training untuk meningkatkan kemampuan apresiasi, menambah pemahaman terhadap musik dan menambah kenalan dengan berbagai jenis musik. Umumnya subjectnya cenderung mengarah ke “classical” art music macam symphony, opera, chamber musics, dll. Tapi ada juga yang merembet ke pop, theater, world music, dll.
     
  • Kenapa musti belajar untuk menikmati musik?
     
    Karena ada beberapa jenis musik yang bakalan sangat ok tuk didengerin saat kita lebih ngerti. Kita bahkan akan lebih bisa menikmati musik yang udah kita sukai saat ini di tingkatan yang lebih tinggi. Inget pas pertama minum Coca Cola pas masih bocah dulu? Rasanya nggak karuan n jauh dari es krim kan? Tapi nyatanya sekarang kita santai aja minum Coca Cola, sebagian musisi malah udah terbiasa nenggak minuman yang lebih maknyos. Contoh lainnya yang lebih gampil lagi mungkin adalah rokok. Ane cukup yakin kalo para perokok pada batuk pas pertama kali sengaja ngisep asapnya.
     

Nah, di musik juga begono. Dengan mempelajari music appreciation, beberapa music yang tadinya nggak menarik bisa aja nantinya kita jadi demen, dan beberapa musik yang sekarang udah demen jadi makin demen.

Mendengar vs Mendengarkan

listening beda dengan hearing
hearing beda dengan listening

Hari ini musik terdengar dimana – mana, tempat shopping, restoran, elevator, bahkan toilet. Musik ini sekedar kita dengar karena mereka memang dimainkan sebagai latar, kita-nya juga nggak dengerin secara spesifik. Lagian siapa juga yang niat ke toilet buat dengerin musik? Nah ini yang dimaksud mendengar musik.

Berbeda lagi saat kita mendengarkan dengan seksama dan mencurahkan perhatian untuk itu, kita sedang mendengarkan musik. Kita musisi melakukan hal ini ketika ngulik lagu, dan seringkali kita nemu banyak hal yang nggak ketauan kalo sekedar mendengar tok.

Untuk bisa mendengarkan dengan ok, seringkali kita butuh lingkungan yang sesuai untuk itu. Musisi Rock biasanya maen di stadion, dan musisi classical biasanya maen di concert hall. Beda tempat sangat berpengaruh pada cara kita dengerin musiknya, dan beda jenis musik butuh tempat yang beda pula untuk bisa didengerin dengan ok. Tapi semua orang bakal setuju kalo definisi tempat terbaik untuk dengerin musik adalah tempat yang tenang tanpa gangguan.

Tiap aspek dari musik bakalan kedengeran lebih detil saat kita mendengarkannya di tempat yang tenang. Bakalan susah kalo kita nekat study classical music di kamar kos – kosan konvensional, apalagi kalo kamar kita sebelahan dengan fans fanatik Lamb Of God, or fans fanatik house music. Jenis musik metal n house music tentunya nggak akan nendang kalo disetel sebatas volume 1 or 2. Beda dengan mata yang bisa nolak untuk ngeliat sesuatu (dengan cara merem, or liat ke arah laen), kuping bakalan welcome semua bunyi yang ada di sekitar kita tanpa diskriminasi. Beban otak bakalan meningkat berlipat ganda kalo kita nekat ngulik di lingkungan yang rame. Di tempat itu walopun kita ganti materi study ke musik yang juga nendang macam Dream Theater sekalipun, untuk ngulik note-to-note nya Jordan Rudess tetep aja butuh lingkungan yang lebih tenang (dan juga software slow downer yang handal).

Bagi yang study musik dengan serius, sangat disarankan untuk punya tempat yang mendukung untuk itu. After all, penguin nggak tinggal di gurun dan kaktus nggak tumbuh di Himalaya. Pelajar musik juga perlu habitat yang sesuai untuk bisa tumbuh maksimal.

penguin di gurun?
penguin di gurun?

 

Kritik

 

“Nah To, gimana cara apresiasi musiknya Kufaku Band?”

Well, yang pertama musti kita apresiasi adalah vocalist Kufaku yang nggak melakukan koreksi di post produksi (dan nggak lip-sync saat live, karena tentu saja nggak ngaruh). Itu beneran murni ekspresi mereka tanpa pake bedak, topeng n karbit. Berikutnya, komposisi musiknya ini termasuk spesial case dan nampaknya kita perlu mengapresiasinya secara “expressionist” or “avant-garde”. Musik di video klip perdana-nya, mereka nampaknya menggunakan referensi tuning yang berbeda tuk tiap instrument (masing – masing selisih sekitar beberapa puluh cent), dan diatasnya juga ada vocal yang cukup sering melakukan superimpose tuning sepanjang lagu. Perpaduannya menghasilkan musik experimental yang kayanya belum pernah terdengar sebelumnya (tentu saja karya Charles Ives dan Universe Symphony-nya nggak dihitung). Mungkinkah Kufaku lagi nyoba bermain polymicrotonal di lagu pop ballad? Bisa jadi..

Nah, karena hal yang berhubungan dengan “expressionist” dan “avant-garde” ini diluar kapasitas ane, maka saat ini ane baru mampu mengapresiasi musik mereka dari sebatas sisi humornya.. Dalam hal ini, misi mereka yang satu itu sangat sukses.. Banget!

Recovery :

Buat yang baca sampe sini lalu langsung search n dengerin Kufaku Band, terutama video perdananya, kemungkinan besar mood nya akan terbawa “avant-garde”. Dalam hal ini ane musti bertanggung jawab tuk mengembalikannya, minimal seperi sebelum baca tulisan ini, or kalo bisa, much better. Salah satu yang bisa jadi solusi adalah dengan cek musiknya Frau, seorang vocalist, pianist n song writter yang sama- sama masih dari Indonesia. Lagu – lagunyanya bisa dibilang sama – sama unconventional bagi standar lokal, dengan explorasi mood n harmony serta unforgettable vocals, tapi tetep gampil didenger secara umum. Music video ini bisa tuk remedy, dan juga ok buat object study :

Note : Para fans-nya Andrew Lloyd Webber mungkin bakalan pada demen sama musik Frau diatas.

Sample lain yang bisa jadi remedy, terutama bagi penggemar musisi Jepang adalah musiknya Mika Kobayashi. Ketika sebagian besar penyanyi cewek Jepang pengen keliatan dan terdengar cute, Mika malah nekat menggila (dan tetep cute). Berikut adalah live Mika Kobayashi n Sawano Hiroyuki di lagu ‘Bauklötze’, OST Attack on Titan (Shingeki no Kyojin) :

Walopun lagunya make bahasa German yang orang Jermannya sendiri pas liat pada bilang pronunciation-nya sebagaian kurang bener, tapi hal itu malah dianggap yang bikin karakter lagunya jadi khas n spesial. Nah, kebetulan dalam subject apresiasi ini, it’s up to audience’s perpective, mau dikritik karena pronunciation-nya kurang bener, ato mengapresiasi karakter khas n power vocalnya yang gokil?

Sampe disini mungkin ada yang berpendapat bahwa akan lebih ok untuk bermusik yang bisa menyentuh banyak orang dan didengerin berulang – ulang oleh audience, daripada sekedar pengen buktiin bahwa kita jago n bisa maen banyak teknik secara flawless. Ini adalah misi dari sebagian besar musisi dan ane pribadi setuju banget. But even so, sebelum mencapai tahap itu, kita tetep aja butuh banyak informasi serta fasilitas musical yang memadai, dan teknik adalah salah satunya.

Godaan terbesar bagi yang baru aja menguasai teknik adalah keinginan tuk mengumbarnya tiap saat dengan dosis tinggi sebagai sajian utama dalam musiknya, tanpa peduli konteks penggunaannya. Ini terjadi disekitar kita sebegitunya sampe sebagian musisi pada lupa tujuan awalnya, yaitu menyentuh banyak orang, beneran didengerin pesannya dan dinikmati musiknya. Yang udah lama punya temen musisi dan ngamatin musiknya sejak masih culun sampe jago pasti tau perubahan temen – temennya ini. Subject ini nyambung dengan tulisan sebelumnya yang ngebahas shredding :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/10/08/technique-speed-playing-shredding/

Kalo diperhatikan dari tulisan – tulisan sebelumnya, sebenernya udah ada beberapa posts yang menawarkan berbagai perspektif untuk bisa mengapresiasi berbagai macam jenis musik.

Knowledge is one of the main key

Karena sifatnya yang cenderung negatif, ane akan singkat aja nyenggol hal yang berhubungan dengan mengkritik musisi/musik lain. Dengan tau apresiasi, sebenernya kita juga otomatis tau cara mengkritiknya (mampu nge-gambar ‘yang’ otomatis keliatan ‘yin’-nya). Cuman, ane lebih menyarankan untuk menghindari mengkritik musisi/musik orang lain, unless pekerjaan kita emang jadi kritisi musik (music critic), or unless kita diminta untuk itu (juri kompetisi, dsb).

Why is that?

Karena mengkritik musisi/musik lain itu adalah selalu subjective matter. Fokus pada jeleknya nggak akan bikin kita jadi hepi, apalagi bagi musisi yang dikritik.

  • Para kritisi musik (para spesialis yang opininya dihormati di komunitas & industri) itu telah menempuh training dan menghabiskan hidupnya tuk study berbagai macam musik n punya kemampuan untuk menilai suatu karya seobjective mungkin. Nggak banyak orang study sedemikian rupa, otomatis nggak banyak orang bisa melakukan kritik yang beneran berbobot se-objective mungkin, apalagi pada orang yang belum dikenal luas musicality-nya. Umumnya sebagian besar musisi musti bisa diapresiasi banyak “orang awam” duluan sebelum karyanya didenger para kritisi. Tapi ada juga sih sebagian yang bisa langsung didenger karena rekomendasi musisi yang berpengaruh (professors dari sekolah musik, musisi senior, kenalan, dll).
  • Juri kompetisi yang bukan berlatar dari music critic dan nggak study musik secara mendalam, mereka akan cenderung menilai berdasarkan preferensi pribadi dan keterbatasan pemahamannya. Misalnya, kalo si Paijo (contoh awal diatas) jadi juri, bisa – bisa semua musisi traditional jazz dan pengikut Arnold Schoenberg yang ikut kompetisi pada fail dalam hal “klimaks” dan “skill”. Tapi ini adalah hal yang nggak bisa dihindari : Saat seseorang jadi juri, para peserta kompetisi musti mempercayakan kompetisi itu pada penilaiannya (or seleranya).

Musik apapun dan dimanapun granted selalu ada beberapa kalangan yang harder to impress daripada kalangan lainnya, karena tiap orang punya pemahaman dan standarnya masing – masing (subjective matter). Tapi even bersifat subjective, critics tetep musti constructive terhadap object (musiknya) dan juga nggak mengarah dengan sesuatu yang secara nggak langsung berhubungan dengan musiknya.

Adele
Adele

“I don’t make music for eyes. I make music for ears” – Adele

Sialnya, even bagi kalangan yang paham apresiasi musik kelas berat macam di liga classical sekalipun, masih tetep ada juga yang sengaja publishing kritik yang nyelipin komentar konyol, non-musical, dan cenderung melecehkan (terutama pada pendatang baru yang lagi debut, jadi rada mirip lagi di ospek), seperti “kalo aja si pianist mau make rok yang lebih mini lagi, audience mungkin mau bayar lebih mahal”. Hal ini beneran terjadi, sebuah official review yang ditujukan ke musisi selevel world class concert pianist, oleh world class media.

Mungkin, satu – satunya musik yang nggak akan dapet kritik serius dari kalangan manapun adalah lagu anak – anak yang umum macam ‘Balonku’ or ‘Burung Kakaktua’.

Berbagai hal yang sensasional seperti review konyol oleh major media cukup umum terjadi sekarang ini, karena walopun untuk maen musik saat ini relatif lebih gampang daripada jaman dulu (thanx to internet dll), tapi saat ini untuk menghasilkan banyak duit dari musik tetep nggak lebih gampang daripada jaman dulu (jumlah kompetitor bertambah luar biasa banyak, plus berbagai sikon yang nggak support musisi). Saat ini standar musicality meningkat drastis, sementara banyak musik berkualitas bisa didapat dengan gratis. Saat ini, butuh musicality yang exceptional dan juga hal yang sensasional agar musisi bisa mendapat perhatian banyak orang. Dan itu juga baru sebatas perhatian, belum masuk ke apresiasi lalu komersialisasi untuk support musisi-nya.

Dari perspektif audience, salah satu yang bisa kita lakukan dalam menyikapi hal ini adalah meningkatkan apresiasi musik agar art music dan berbagai musik yang kita anggap keren nggak pada punah. Dari perspektif musisi juga sama, kita musti tetep terus aktif berkarya dan sharing ilmu pada sesama biar musik – musik yang kita anggap keren bisa tetep terus terdengar dan dimaenin banyak orang.

Gimana dengan musik yang nggak kita anggap keren?

No big deal. Musik kita nggak akan tambah keren hanya dengan menjelek – jelekan musik dari musisi laen kan?

dave grohl
Dave Grohl (Nirvana)

2014 in review

Posted on

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 71.000 kali di 2014. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 3 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Technique, Speed Playing & Shredding

Posted on Updated on

shredder-shredding

Setelah nyenggol Bebop n Rocksteady (ya anggap aja udah, wong semua orang bisa maen steady beat), sekarang tiba waktunya nyenggol boss mereka :

Shredder!

Ini emang rada nyimpang dikit dari seri Classical Music Fundamentals, tapi GPP, ceritanya refreshing n revisiting guitar chapter sejenak. Sebelum ke shredding, ada baiknya tuk nyenggol teknik n speed playing secara umum dulu :

Teknik

Teknik adalah cara kita mengeksekusi sesuatu.

  • Dalam music playing, dengan mengetahui prinsip dasar dari teknik maennya, bisa bikin orang bisa maen musik. Dan yang nggak tau dasar tekniknya, nggak akan bisa maen. Teknik ini walopun punya beberapa variant resmi (school), tetapi basic filosofinya sama, yaitu cara terefisien yang bisa digunakan secara umum untuk maen. Nah kalo udah bisa maen, lalu apa yang mau dimaenin? Kalo definisi diatas adalah teknik sebagai cara fisik kita untuk mengeksekusi bunyi, istilah teknik juga bisa mencakup cara kita memilih notes :
  • Dalam improvisasi, komposisi n orkestrasi, dengan mengetahui prinsip dasar dari cara kerja harmony (teori) dan device (or ide), bisa bikin orang berkreasi secara musical dengan lebih ekspresif, dan juga mengapresiasinya. Dan orang yang nggak tau prinsip dasar ini, mungkin masih tetep bisa berkreasi via trial n error. Tapi proses ini terlalu tedious untuk jaman instan macam sekarang ini. Info-info di blog ini bisa bantu tuk jadi remedy.

Kenapa explorasi di 2 jenis teknik ini penting?

  • Speed Playing! Tentu saja, cara tergampil untuk bedain orang bisa or kagak (terlepas dari aspek musicality nya) adalah dengan melihat kecepatannya. Orang bisa lari or kagak diliat dari kecepatan. Orang bisa berenang or kagak diliat dari kecepatan. Orang bisa ngetik or kagak diliat dari kecepatan. Semua orang cenderung bisa eksekusi apapun dengan pelan, even bagi yang masih ngetik pake 11 jari sambil nyari lokasi huruf, pada akhirnya bakal bisa nulis sesuatu. Tapi definisi ini beda dengan ‘bisa’ yang dibahas disini, karena di musik punya parameter time n groove. Semua orang bisa maen akord CAGED (walo misalnya tiap akord butuh semenit untuk memposisikan jari), cuman kagak semuanya bisa maen groovy, in time, dan in context. Speed playing juga bisa digunakan untuk mengukur efisiensi dari teknik seseorang, karena speed playing mustahil dieksekusi dengan brute force. Kalo nekat, berarti siap – siap tuk cidera serius, or bahkan memungkinkan tuk cacat permanen yang bikin kita cuman bisa pasrah jadi audience seumur hidup.
  • Biar kita bisa maen banyak musik dari berbagai gaya. Tentu saja bakal boring tuk maenin C – Am – Dm – G ke C lagi dengan pola yang sama berulang – ulang. Dengan explore n menambah vocab tentang comping, kita bisa eksekusi dengan style yang macem – macem, dan mengkombinasikannya untuk bikin permainan kita selalu fresh, walo akordnya masih sama. Dan kalo masih kurang, kita bisa study teori n improvisasi untuk melakukan twisting secara personal, in real time, di akord yang masih sama dengan hasil yang musical. Maen impro a la aransemen Dirty Loops bukanlah hal yang impossible kalo udah paham sampe tahap ini.
  • Lebih nyambung sama banyak musisi. Tentu saja jadi musisi otodidak bukanlah hal yang tercela, tapi kalo kita bisa punya vocab yang cukup banyak dan memahami istilah – istilah baku, kita bisa lebih nyambung ngobrol sama berbagai pihak yang berasal dari berbagai kalangan, dari anak komunitas grunge sampe dengan pemain classical. Buat performers, ini berarti kesempatan jobs jadi tambah luas.

Dan bonusnya, kalo mau ente juga bisa aktif sharing info n nekat nulis blog konyol macam ini Juragan!

dirty-loops-henrik-linder
Henrik Linder of Dirty Loops

 

Gimana cara explore-nya?

Salah satu cara paling cepat n efektif tuk explore adalah dengan selalu mencari lingkungan yang membuat kita bego. Gaul sama musisi/guru yang jauh lebih musical adalah salah satu cara efektif untuk membuat kita bego. Sekalinya kita kira – kira udah sepantaran or lebih pinter, cari lagi lingkungan laen yang bikin kita bego. Kita pan kagak mungkin pinter di semua hal (even dalam musik), jadi explore ini mirip hidup kita masing – masing, sebuah perjalanan tanpa henti.

Speed Playing

Speed playing bisa kedengeran dari musik berlatar apapun, kagak cuman rock n heavy metal doang. Bagi pembaca yang berlatar Country Music dan European Jazz (Gypsy Jazz) tentu udah pada nyengir – nyengir pas baca ini. In fact, dalam speed playing secara teknikal mereka bisa dibilang lebih advanced daripada musik rock n semua variant nya yang melibatkan kompresi (dari distortion amp/pedal), karena pemaen country n gypsy bisa mengeksekusi sama kencengnya dengan dinamika yang rapi, tanpa bantuan kompresi. Terlebih lagi, khususnya pemaen gypsy, mereka udah terbiasa maen dengan tradisinya menggunakan gypsy guitar (dengan konstruksi yang rada beda dari traditional acoustic guitar) dengan senar heavy dan action yang cukup tinggi.

Bagaimana mungkin mereka bisa melakukannya?

Dengan teknik yang bener, almost semuanya possible. Form dari picking hand pemaen country dan gypsy cenderung  beda dari form traditional  di electric guitar untuk blues, funk, jazz, rock n metal, dll. Country players make finger picking, dan gypsy player make floating wrist untuk power n speed picking. BTW, ane kagak akan ngebahas lebih detil perihal individual technique nya, karena bisa menjerumuskan ane tuk lanjutin guitar chapter. Silakan explore sendiri  or cek ke guru n sekolah musik masing – masing aja untuk info lebih jauh.

Disisi lain, tanpa mempertimbangkan faktor latar musiknya, speed playing bakalan cenderung lebih sering kedengeran dimainkan oleh ABG s/d awal usia dewasa.

Alasannya bukanlah faktor musical, tapi cenderung usia.

Fast-and-Furious-7-Production-Release-Date-Delay-Paul-Walker-Death

Unless pembalap pro, di event pro, di sirkuit pro dan di pilem, kita bakal jarang liat orang yang udah berumur kebut – kebutan di jalan. Beda sama ABG, mereka cenderung baru ngerasain bisa ngebut untuk pertama kalinya, it feels fun, dan diulang – ulang terus, di tiap kesempatan. Kagak jalan tol kagak jalan tikus, kalo sepi, gas poool! Perkara konteks, urusan entar, penting having fun duluan. ABG pan punya kecenderungan anti kemapanan, kalo berandal baru macho n keren.

Sayangnya, cuman sebagian kecil dari pembalap amatir ini yang nantinya naek level jadi pembalap pro. Musically speaking, pembalap pro ini berarti musisi yang memerlukan kecepatan sebagai bagian dari musik yang dijualnya secara professional. Untuk sampe ke tahap ini, kita perlu paham konteks dari kecepatan dalam musik yang kita mainkan. Untuk paham konteks kita perlu explore, dan untuk explore kita perlu quality time. Siapa yang punya quality time ditengah era distractions sekarang ini?

Berhubung lingkungan sangat berpengaruh untuk perkembangan musik kita, jauhilah gamers dan komunitas nya.

“To, FF XIII besok direlease di PC loh, official!”

“Bodo!”

“To, MGSV Desember tuh, dah siap – siap DDR4 sama SSD blom?”

“…”

“To, Keith Jarrett bikin masterclass loh!”

“Hah, serius lo?”

 

Keith Jarrett
Keith Jarrett

Anyway, sebagian besar musisi sebenernya bisa speed playing tanpa musti jadi pembalap pro.  Rata – rata pemaen senior (yang biasanya diremehin para speedy n flashy  junior players) dulunya pas jadi junior juga cenderung doyan ngebut. Mereka cenderung kagak  ngebut lagi karena itulah cara yang paling efisien (baik untuk nyetir, dan untuk menyampaikan ide musical). Sesekali ngebut in context is fine, pas nyetir kita juga perlu sesekali ngebut untuk nyalip tronton yang ban nya ngegeol.

Sebenernya usia bukan penentu saklek, doi cuman kecenderungan, sama kaya hubungan antara usia dan kedewasaan. Kebanyakan senior cenderung lebih dewasa dalam memahami musik, karena secara alami, pemahaman musik itu memang perlu waktu n pengalaman. Ada sebagian kecil musisi junior yang udah ngerti prinsip musik dan konteks penggunaanya dalam tradisi. Orang – orang yang begono lah yang disebut berbakat. Walo begono, kagak ada yang bisa ngalahin waktu n pengalaman dalam teknik tuk eksekusi. Banyak bocah yang ngaku bisa maenin musiknya Yngwie Malmsteen (the icon tea), dan sekilas keliatan keren karena yang maen bocah, tapi musically, tetep aja eksekusinya masih sangat jauh dari level Yngwie Malmsteen.

 Shredding

Bagi yang merasa udah bisa shredding, yang sehari-harinya ngeshredd pagi-siang-sore-malam, dan sekarang lagi boring maen gitar, coba maen lagu pop (or yang lagi ngetop) n fokus pada detil dinamika n groove-nya. Di musik, ada jauh lebih banyak hal keren daripada sekedar shredding tok. Maen cepet itu biasanya banyak detil yang terlewat, mirip ngebut dijalan, kita nggak akan tau kondisi kiri – kanan dengan detil. Lokasi pom bensin, pangkalan taxi, nama-nama toko, lewat semua kalo pas ngebut. Sebagian besar gitaris kehilangan makna dari filosofi “maen gitar” saat udah bisa shredding, dan menganggap speed linear playing adalah segalanya. Obat bagi yang terkena gejala ini, bisa coba maen pelan dan nikmati perjalanan sambil liat kiri – kanan, n sesekali ngerem n berhentin bentar ngasi orang nyebrang. Nah kalo pas lagi di jalan tol n kebelet pipis, hajarlah itu pedal gas sampe mentok. Sesuai sikon adalah cara yang jauh lebih fun n colorful untuk bermusik. Dan karena sikon tiap orang tidak pernah selalu sama dan berubah tiap hari (even orang itu lagi di pengasingan or penjara sekalipun), maka musik bisa lebih asik, dan variatif.

Kenapa speed bukan segalanya?

Sebagian besar pemain pro, any instrument, bisa maen speedy dengan kadar yang masuk kategori shredder, terlepas dari maenan sehari-harinya. Contoh tergampil-nya  adalah para pro-level session players. Technically n musically, mereka sebenernya jauh lebih serem daripada keliatannya. Jangan percaya kalo mereka cuman ngaku tau pentatonik doang. Itu jelas kagak cukup tuk bekal hidup jadi pro-session players, walopun sebenernya  kalo sekedar buat bluffing di komunitas junior cukup manjur. Salah satu nama yang cukup high profile di dunia gitar adalah Steve Lukather (Toto).

 

luke
Steve Lukather

Para session guitarists almost selalu punya karakter yang versatile dan well rounded dari semua aspek, baik secara technical, musical, maupun personal. Walo begono, bagaikan grafik di Winning Eleven, mayoritas gitaris session kagak ada yang skillnya mentok max semua di berbagai aspek, even para gitarist yang dianggap dewa-dewa di panggung G3 sekalipun, selalu ada kompromi, terdapat sisi kuat dan lemah. Tiap pemain cenderung punya preferensi tertentu, terutama berkaitan dengan gaya musik dan vocabs beserta teknik-teknik pendukungnya. Tentu ini adalah hal yang wajar. Mayoritas orang cenderung dig in spesifik ke 1 style tertentu yang bikin mereka jadi rocker, or jazzer, or blueser, or country player, or classical player. Fusion bikin batasan tiap style jadi lebih fleksibel, walopun dari term secara global, doi kurang lebih cenderung mewakili kombinasi dari jazz dan rock, tok. Secara faktual dilapangan, sebenernya berhubung formula dan prinsip musik non-traditional itu asalnya dari Classical, maka semua genre yang disebut tadi sebenernya bisa dikombi satu sama lain.

Perihal combi all genre ini juga bahkan berlaku untuk blues (yang notabene bukan berasal dari European Classical). Hampir semua info study tentang blues yang beredar hari ini dan digunakan oleh sebagian besar sekolah musik adalah adalah versi westernized-nya. Semua musik yang dimaenin dengan instrument yang menggunakan western music based tuning n pitches, otomatis ngikut system asalnya, western system. Dengan begono, exotic scales yang dipelajari para shredders itu sebenernya kagak akan bunyi otentik exotis beneran tanpa make instrument non-western. Or minimal kalo tetep make western based instruments, frekuensi tuningnya musti menyesuaikan dari versi asli exotic scales nya.

Kembali tentang shredders dan kombi-topic tentang genres n styles, ane bisa merekomendasikan 1 nama yang mungkin kagak max di semua skills, tapi paling nggak beliau cukup jelas kedengeran diatas rata-rata, bisa maen di semua style dengan otentik, beserta versi shredding dari tiap style :

Eng ing eng (drum rolls)..

Mang Jupri Goban (plesetan versi Betawi dari Guthrie Govan)!

Guthrie_govan
Mang Jupri

Sebenernya ada beberapa kandidat kuat lain yang cukup high profile dari background shredder, yaitu Ron Thal dan Buckethead, tapi ane cenderung milih Mang Jupri karena beliau bisa optimal versatile dengan gear yang minimal (cek klinik beliau era pra-Suhr endorsement, pas cuman make PRS n Cornford Amps doang, santai maen anything dari traditional blues, country, jazz sampe shred metal dengan otentik, cuman dengan manipulasi PU switch, knob volume + tone, dan built in booster pedal dari amp). Yang menariknya nih, dari berbagai interview, beliau berkali-kali menyatakan justru khawatir dengan “new generation shredder movement”. Shredding is just one thing, tapi yang terpenting tetep musiknya. After all, musik lah yang membedakan bahwa seorang gitaris itu musisi beneran, ato cenderung atlet (Yoi, cek guiness record speed picking).

Mang Jupri juga dikenal udah explore berbagai macam teritory di gitar’ dan dapet semua essence-nya. Walo begono, sampai dengan info terakhir yang ane ikuti, yaitu antara setelah beliau resmi release 2 seri Charvel-nya dan sesaat sebelum make Victory amps (ampli gokil dari Martin Kidd, mantan designer Cornford Amps yang bunyinya maknyus tea), beliau belum pernah kedengeran maenin traditional classical. Hal ini udah sempet sekilas ane selidiki kebelakang, sampai ke jaman demo prototype ‘Wonderful Slippery Thing’ awal taun 90 an. Tapi berhubung beliau bisa maenin dengan santai ‘Man In The Mirror’ (Michael Jackson) versi Tuck Andress, maka seharusnya genre Classical bukanlah big deal.

Explorasi dan versatility adalah sebagian alasan kenapa ane switch instrument ke piano. Berbagai prinsip musical sejak era awal yang menjadi dasar terbentuknya harmony musik hari ini tentu bisa diicipin dengan piano, dan bonusnya, bunyi dari macem-macem instruments bisa disikat di kibor (dengan sedikit kompromi disana sini). Saat switch instrument, daftar subjectnya tiba-tiba jadi sangat-sangat luas banget. Hal-hal yang baru kalo diliat dari background gitaris diantaranya adalah : Readingnya ekspansi sampe 2 – 4 part (treble n bass clef n SATB), nyikat lines counterpoint tanpa kompromi dan berbagai permutasinya (masing-masing dalam 3 versi, oblique kayanya kagak usah diitung), berbagai style impro tambahan (baroque, classical, stride, ragtime, dll), self accompanying impro (bye-bye looper pedal), sustaining  note(s) via pedal, close (n chromatic) voicings chords, poly-chords (dengan voicing sesuai imajinasi), poly-rhythm, dll. Untuk saat ini, banyaknya menu yang musti diicipin ini bikin ane makin jarang tuk sempetin ngecek blog, email, FB, dll, minimal sampe sekitar setaun kedepan. Jadi buat yang pertanyaan, or messages di inbox-nya lama di reply, harap maklum.

Wejangan


“Sredang sreding sredang sreding.. Ane blom bisa shredding nih!”

Don wori, sebenernya doi jauh lebih gampil daripada keliatannya. Basicnya, shredding adalah sekedar ngebut. Dan seperti semua yang ngebut dengan ok (tanpa benjut), kita musti bisa dulu maenin versi normal (santai) nya, in control. Mungkin “in control” adalah keyword-nya.

Berikut tipsnya :

Ini yang paling penting : relax, santai bagai lagi dipantai.


“Gile lu To, mana bisa ngebut sambil relax, yang ada juga deg2an!”

Kemungkinan besar, Yngwie Malmsteen kagak bakal bisa ngebut nonstop (almost) selama 3 jam dalam tiap konsernya kalo 1-2 lagu maennya tegang. Bagi gitaris non-shredder yang cuman sekedar pengen sesekali maen cepet, mungkin fine aja tuk rada tegang pas ngebut, tapi para shredder beneran bisa maen cepet (dan lama) sambil tetep bernafas normal. Keadaan relax ini juga sangat berbengaruh terhadap stamina bagi shredders, dan juga mencegah cidera serius jangka panjang macam tendonitis dan carpal tunnel syndrome. Di salah satu instructional video tentang picking, Mang Jupri bisa melakukan tremolo picking dalam normal picking position, tanpa batas durasi. Silakan di search videonya.

Stay di normal picking position saat tremolo picking sebenernya bukanlah hal yang termasuk yang gampil tanpa dilatih sebelumnya. Untuk eksekusi tremolo picking, sebagaian besar gitaris umumnya otomatis switch ke strumming position dengan postur yang beda dari normal picking position (untuk normal solo single lines), umumnya posturnya jadi nekuk kedalem mirip picking hand EVH saat tremolo (cek video solo ‘Eruption’) karena itu cara yang umumnya tergampil (floating wrist, rotation dengan sedikit bantuan dari elbow).

evh
EVH’s tremolo picking

Info dari para pemain mandolin (sodara deket gitaris yang demen maen tremolo), idealnya picking hand bisa berada stay di 1 posisi yang nyaman untuk semua jenis tugas picking, dari single lines tremolo sampe strumming, dengan hanya perubahan minimal sekedar untuk mengakomodasi lokasi senar 1 sampe 6. Nampaknya Mang Jupri himself juga cenderung menggunakan pendekatan ini. Ini bikin picking jadi effisien untuk semua tugas picking, termasuk untuk maenin macem-macem style. Filosofi dari cara ini adalah :

Eksekusi di 1 senar (single lines, tremolo picking) sebenernya sekedar versi minimal dari eksekusi di banyak senar (strumming), so make sense kalo kita sebenernya cuman butuh 1 form of picking untuk simplifikasi.

Dan tetep, dalam eksekusinya musti relax, santai bagai dipantai. Sehubungan dengan relax, berikut ada 4 state dari otot :

  1. Dead : Kagak ada kontraksi otot apapun whatsoever.
    Contoh tergampil : Binatang yang mati, dan nama binatangnya bukan cicak (ekornya bisa autopilot goyang dombret).
  2. Tense or tegang : Kontraksi otot yang menyebabkan kaku dan menghambat kemampuan untuk bergerak. Ini adalah kondisi killer di music playing dan kalo dipaksakan dengan berulang kali, doi potensial tuk bikin cidera/cacat permanen. Ciyus!
    Contoh tergampil : Minta gitaris non-shredder tuk speed picking/tremolo di max speed lebih dari 10 detik. Kondisi picking hand-nya bisa dipastikan tense.
  3. Movement : Kontraksi otot yang menyebabkan gerakan tanpa tense. Ini adalah target utama yang dilatih tuk music playing.
    Contoh tergampil : Orang mraktekin Tai Chi Chuan.
    Contoh terekstreme : Mike Mangini’s  Single Stroke WFD World Record : 1203 per minute (Sekitar 20 per detik).
  4. Tonus : Passive standby tension. Doi kagak menghambat kemampuan tuk bergerak sedikitpun, justru karena karakter standby nya, doi membuat kita lebih gampil bergerak, jadi katalis. Doi super important dalam relaxed playing.
    Contoh tergampil : Otot rahang. Kalo kagak ada tonus, doi bakal mangap dan susah ngomong. Sebagian emak – emak di mall yang cerewet n doyan ngegossip itu kagak pernah mengeluh rahangnya cape/pegel.

 

 

mike mangini
20 not per detik, 1203 not per menit

State no 3 dan 4 itu yang kita gunakan tuk musical activity, dengan sejauh mungkin menghindari state no 2. Kalo sampe ngalamin state no 1, yah apa boleh buat, wayahna.

Dan kalo keterangan – keterangan diatas masih kedengeran absurd, penjelasan lanjutannya adalah :

Repetisi, repetisi & repetisi..

Yoi, again, again & again! Dengan mengulangi dengan tempo pelan dan relax, kita akan membangun yang namanya muscle memory, semacam program reflex dari suatu pola eksekusi. Pola eksekusi ini merupakan vocabs bagi muscle memory, doi bisa ditambahkan terus sampai pada akhirnya mencapai tingkat independence (langsung bisa maenin variasi pola baru secara instinctive tanpa musti dilatih dulu sebelumnya, karena kemiripannya dengan berbagai pattern yang kita udah kuasai. Sangat berguna tuk patternless n surprise impro). Fungsi tambahannya adalah untuk bisa menemukan kombinasi yang paling efisien antara jumlah otot yang aktif dan yang passive dari suatu pola gerakan. Idealnya, gerakan ditekan seminimal mungkin tanpa ngorbanin dinamika n accent, dengan jumlah otot yang aktif yang juga minimal, dan tetep dalam relax state.

Goal utama dari relax n repetisi adalah : memilih otot-otot yang paling efisien untuk eksekusi dan menon aktifkan otot lainnya, sebanyak mungkin.

Coba melakukan repetisi dari sebuah pola, secara fokus dan in-time, selama beberapa jam per hari disertai permutasinya. Hampir dipastikan dalam beberapa hari (or maksimal minggu, kalo pola yang diulang cukup panjang), langsung kedengeran jelas peningkatan speednya. Naikin metronom, ulangi prosesnya, terus sampe mentok tembok, kembali ke step 1 tuk efisiensi, dst. Coba nonton pilem ‘Edge of Tomorrow’ (2014) – starring Tom Cruise, buat dapetin gambaran detil dari prinsip repetisi. Keywordnya adalah kembali ke relax, dan painless playing (“no pain, no gain” tidak bisa diartikan secara literal dalam music training or playing or any musical activity, dan bahkan in living sekalipun).

Nanti ada waktunya ketika kita udah melakukan ribuan jam latihan dengan relax n repetisi tapi tetep aja kagak ada kemajuan lagi. Ini berarti ada 2 kemungkinan, antara kita emang udah mentok, ato kita salah memahami istilah relax n repetisi saat eksekusi. Kalo udah ribuan jam latian tuk shredding tapi blom bisa maen sekitar 9 not/detik dengan super clean, itu berarti kita salah latian, or kagak efektif. Logikanya, semua orang  kalo latian dengan BENER, asalkan bisa maen dengan relax dan efisien, PASTI bisa shredding kalo mau, even dieksekusi make form/posture yang bermacam-macam (termasuk yang dibilang secara akademis salah, macam picking hand nya Marty Friedman or make strap sepanjang Slash).

Nyikat dengan santai picking lines 9-10 not per detik kayanya udah masuk kategori shredding (not 1/16 di 150 – 160an BPM), sementara shredder top macam Paul Gilbert & John Petrucci mungkin bisa stretch sampe 12-14 note per detik (limit di Rock Discipline adalah 200 BPM, not 1/16 chromatic). Cukup worth tuk dicapai kalo musik kita emang butuh speed sampe setingkat itu. Country players mungkin bisa lebih dari itu (karena melibatkan finger picking) dan cenderung lebih kedengeran musical (karena musiknya berasal dari tradisi tonal, maka mindsetnya lebih ke harmony, voice leading, n chordal fragment form).

BTW, jangan lupa selalu warming up dulu sebelum melakukan hal-hal yang akrobatik.

2 hal diatas adalah pokok yang terjadi di semua pemain dari Danny Gatton, Shawn Lane sampe Bireli Lagrene. Beberapa hal lain kayanya cenderung personal, dari string action, gauge, fretting n picking hand position, dll. Nah, silakan coba n buktikan sendiri kalo shredding sebenernya kagak susah. Dengan discipline, doi bakal datang sendiri, in time. Yang kagak gampil adalah memodifikasi dan mengkombinasikannya dengan berbagai aspek laen tuk membuatnya terdengar tasty n musical, wong kalo sekedar maenin sequence scales naek turun tok, tiap murid di semua les-lesan manapun juga pasti bakal bisa.

“Bill Gates” juga bisa shredding loh, make gypsy guitar pula :

Piano

Tulisan ini juga masuk piano chapter, tapi kenapa pianist kagak dibahas? Sebenernya sebagian besar pianist mungkin nantinya kagak akan dapet manfaat apapun dari baca tulisan di blog ini, karena mayoritas pianist biasanya sudah punya resource yang jauh lebih reliable dari para professor di conservatory-nya masing-masing, kecuali segelintir pianist otodidak or yang masih tahap starter level. Sebagian besar populasi pianist adalah manusia perfectionist dan semua classical pianist bisa dibilang masuk level perfectionist mampus pus, sampe di suatu tingkat dimana Jordan Rudess yang dari Juilliard sekalipun dianggap mbalelo dari mainstream teaching, technically. Pendapat ane, as long as it working flawless n tension free, no problemo terhadap personal preferences. Judgement ini tentu saja gara-gara background ane dari gitaris yang punya banyak banget variasi teknikal school, dari postur picking hand Marty Friedman (not sure siapa yang follow beliau) sampe cara maen Andy McKee (banyak yang make). Kemungkinan ini bisa saja berhubungan dengan ketertarikan Jordan Rudess tuk maenin synthesizer n rock music, or bisa juga pengaruh penggunaan Kurzweil workstation (Fatar keybed) selama 1 dekade dengan tetap lancar maenin Hanon, tapi ane not so sure. Teknik yang dibutuhkan tuk maenin kibor dengan hammer action emang butuh modifikasi dari teknik traditional di acoustic piano, terutama powernya. Untuk mencet bagian dalam keyboard, terutama white key yang berada di sela-sela black key, perlu beberapa kali lipat tekanan daripada maen di traditional acoustic piano, bikin hammer action keyboard beberapa kali lebih susah dimaenin daripada traditional piano (kagak berlaku untuk Kawai MP11 dengan Grand Feel Action nya yang release awal taun ini, konstruksi keybednya sama persis dengan grand piano).

Utskrift

Anyway, fakta bahwa permutasi 2 tangan dengan 10 jari itu ada banyak banget, porsi latihan pianist umumnya bisa sampe kaya kebanyakan orang ngantor (8 jam, or more) per day, yang bisa berlangsung selama beberapa taun (or belas taun) sebelum mencapai personal goal masing – masing. Pianist juga punya agenda yang jauh lebih luas daripada sekedar mamerin speed n techniques. Ada beban lebih berat dibalik gelar big boss of all western instruments. Tapi walo begono, para pianist (terutama di concert level) kagak perlu klasifikasi shredder, mereka kalo mau udah pasti bisa maen jauh lebih cepet n complicated (in more musical way) dari siapapun yang bisa maen gitar standar. Lha wong 10 jari kerja bareng je Dab. Ditambah lagi, mekanisme eksekusi not di piano umumnya cukup dengan pengaturan kombinasi antara arm weight, gravitasi, dan kecepatan finger attack (untuk dinamika forte keatas memang bisa aja ikut ngelibatin otot bahu dan body weight). Kalo mau di oversimplifikasi, maen piano seolah bisa kaya sekedar milih jari tuk berinteraksi dengan gravitasi, menopang sebagian berat tangan di keyboard (Tobias Matthay’s Arm Weight method), yang tentu saja tujuan utamanya adalah maen piano dengan weightless feel n super relaxed, way more relaxed daripada picking hand dan fretting hand di gitar (kita bakal denger dead note a.k.a. ‘jambu klutuk’ kalo frethand relaxed). Dan kalo pianist mau sekedar ngebut maen scalar tanpa terikat dengan dinamika dan attack-type, tinggal ningkatin kecepatan koordinasi jari aja kesana kemari, disertai dengan beberapa teknik-teknik pendukung, terutama thumb technique (pake so called ‘thumb-over’, biar lebih cepet n tension-free) untuk shift position, serta flatter finger position untuk efisiensi. Buat gambaran, ini salah satu contoh warming-up di piano, Russian style, maen similar & contrary motion contrapuntal playing, oleh Lola Astanova, concert pianist :

Bagi gitaris manapun kayanya bakal setuju kalo video warming up diatas masuk kategori serem dari sisi speed dan independence-nya. Walopun begono, doi adalah hal yang biasa n normal bagi kalangan pianist (terutama concert level n ekuivalen-nya). Dan kalo mau ngelantur ngebahas teknik di piano (biar lebih spooky), sebenernya masih tersembunyi teknik – teknik yang jauh lebih sinting lainnya, salah satu yang terkenal serem bahkan bagi kalangan pianist sendiri adalah doubling (biasanya yang kedengeran paling musical adalah in 3rds dan 6ths) dengan 1 tangan, jadi teorinya dengan 2 tangan bisa maenin 4 scale simultan (mirip maenin scales pada SATB staff bebarengan, sendirian). Nah, lo..

Closing

Shredding adalah salah satu ekspresi musical yang sangat umum disalah gunakan sebagai ukuran tingkat musicalitas para instrumentalist, terutama dikalangan gitaris. Sebenarnya ada banyak aspek yang mempengaruhi musicality para players, dan shredding justru tidak harus termasuk didalamnya. Konsep ‘less is more’ bisa digunakan tuk membantu shredder konvensional untuk lebih memahami musicality secara umum, terlepas dari ukuran yang ngetren di komunitas gitaris.

Hal yang umumnya dianggap paling susah bagi para musisi yang udah punya techniques adalah bermusik dengan balance dari 2 kutub yang berlawanan :

  • Yang paling sering disearch disini : Inside – Outside

Ini adalah bagian dari subject tonal harmony, subject yang cukup sering di bahas disini, terutama setelah ada workshop reguler di Dojo Gitar. Kombinasi dengan porsi yang tepat dari 2 hal itu bikin musik kita kedengeran lebih tasty.

  • Yang lebih relevan dengan subject shredding : Sound – Silence

Seringkali, kita perlu maen dengan menggunakan lebih sedikit not. Karena musisi beneran itu kagak cuman maenin bunyi, kita juga musti paham n bisa maenin silence dengan porsi yang efektif tanpa mengurangi detil pesan yang harus disampaikan. Kombinasi antara sound n silence adalah pondasi dasar musik.

  • Hal lain yang cukup relevan dengan shredding : Reduksi – Ekspansi

Ini adalah bagian dari subject tentang harmony, terutama yang mengarah ke aransemen dan orkestrasi. Basically, shredding adalah salah satu bentuk ekspansi yang efektif untuk memberi kesan agresif dalam musik (dan fans eksklusif terbesarnya dipengaruhi faktor usia, kaya yang dibahas sebelumnya diatas). Dengan lebih memahami harmony secara luas, maka umumnya saat ekspansi (shredding, orkestrasi, dll) kita bakal bisa selalu mengekskusinya in context dan lebih bisa dipertanggung-jawabkan secara musical (sangat berguna tuk para composers n improvisers).

Kalo musik kita hanya fokus berekspresi pada 1 hal melulu tentu aja bakal kedengeran boring n predictible. Aim for balance, more subtle details n juga variety buat ngasi beberapa surprise secara musical ke audience. Untungnya nih, berhubung ini adalah blog tentang musical journey dengan background ke arah edukasi, tentu saja ada beberapa resource yang cukup relevan “tersenggol” disini, yang masing-masing subject bisa diexplore sesuai kapasitas n interest dari tiap individu.

 

vladimir horowitz
Vladimir Horowitz, The Last Romantic

Jadi, dig in deeper dan selamat nyeredding..

Classical Music Fundamentals bagian 5.4 : Harmonic Minor, Melodic Minor & Bebop Scale

Posted on Updated on

Bebop&Rocksteady
Bebop & Rocksteady

 

Dalam scales, tiap not tidaklah sama (ini udah ditekankan berkali – kali dalam subject chordal vs modal improvisation, terlebih lagi saat workshops di Dojo Gitar). Ini bukan berarti kita diajarkan untuk punya preferensi terhadap not tertentu, dan menghindari not lain secara saklek kaku mampus gitu Dab. Dengan mengetahui bagaimana cara harmony bekerja dalam menceritakan sesuatu secara musically, kita bisa menggunakan tiap not secara bijak sesuai sikon, on any key, tanpa perlu melibatkan transpose.

Dalam sebuah diatonic scale, ada sebuah not yang berfungsi sebagai primary not (mirip Optimus Prime-nya para Autobots di Transformers). Not ini adalah yang jadi sandaran bagi not – not laen di dalam scale, baik dari segi nama scale-nya, formula-nya maupun tonal gravity-nya. Dalam penulisan, doi selalu dilambangkan dengan angka 1, arabic untuk scale degree dan roman untuk chord degree. Kadang ada juga penulisan menggunakan symbol R untuk Root, terutama penulisan formula scale degree. Not ini semua orang kenal dengan nama Tonic Note.

Dalam Western Music, ada 1 lagi yang perlu dikenalin yaitu Leading Note. Doi adalah not yang lokasinya 1/2 step dibawah Tonic (maj 7th degree). Karakter doi adalah cenderung unstable (based on diatonic tertian harmony build on it), dan kebelet resolve naik 1/2 step ke Tonic. Konsep Leading Note dan substitusi menjadi backbone berbagai konsep dalam komposisi dan improvisasi di tonal music, yang telah digunakan sejak era Baroque sampe dengan modern contemporary. Karakter bunyi ini digunakan untuk membangun expectasi, lalu Tonic berperan sebagai resolusi. Expectasi ini biasanya sering disebut sebagai tension (drama) dan resolusi disebut release (conclusion, kesimpulan). Mirip cerita di film, konsep tension n release ini secara umum merupakan kontributor utama dalam membangun story di musik. Konsep tension – release ini dibentuk oleh oleh kombinasi pitch (functional harmony, consonance – dissonance) dan time (strong – weak beats).

Konsep Tonic dan Leading Tone yang digabungkan dengan konsep substitusi secara umum cenderung menghasilkan line dengan chromaticism, yaitu menggunakan not – not yang terdapat di chromatic scale. Kata chroma berasal dari bahasa Yunani yang berarti color (warna). Yoi, penggunaan chromaticism dengan kadar tertentu bikin lines kita lebih colorful. Dan untuk bisa menggunakan berbagai komposisi warna dalam musik dengan ok, komposer/improviser memang perlu informasi jauh lebih banyak daripada sekedar komposisi item – putih (or dalam musik, mayor n minor).

Chromatic
Chromatic

 

Ngomongin tension – release di tonal music, tentu saja kagak bisa lepas dari cadence. Beberapa pihak mendefinisikan cadence sebagai rise and fall, sebagian lagi adalah ending dari sebuah musik. Terlepas dari definisi baku nya, ane personally lebih demen definisi “point of rest”. Coba dengerin part dari musik ente, pasti ada bagian sequence yang terasa beristirahat sejenak, lalu jalan – jalan lagi ngalor ngidul, lalu istirahat sejenak (lagi), dst sampe istirahat selamanya (ending musik). Nah doi adalah sequence dari cadence, yang terdiri dari tension and release.

Nah, cadence ini ada macem – macem, yang mau disenggol dikit disini adalah hubungan antara perfect cadence (progresi V – I) dengan modifikasi standar scale (khususnya tonic minor scale). Umumnya, untuk mendramatisir bunyi gravitasi terhadap tonic, V dalam progresi dibikin V7 (terdapat tritone dalam akord, ceritanya untuk ultimate tension).

Nah, progresi V7 – I untuk yang di major key, no problemo, kagak perlu ada modifikasi not disono. Bagaimana dengan minor key? Yoi, perfect cadence inilah yang membuat diatonic minor scale punya 2 variant tambahan : Harmonic Minor dan Melodic Minor.

Untuk membuat perfect cadence di V7 – Im, kita perlu memodifikasi skala natural minor. Biar gampil n kagak kebanyakan nulis accidentals, yang dibahas disini adalah Am. V7 – Im di key Am adalah E7 – Am. Akord E7 terdapat sebuah not yang tidak ada pada Am scale yaitu G#. Nah, supaya sebuah skala diatonik bisa digunakan dalam 2 akord tersebut maka skala Am (natural minor) dimodifikasi jadi harmonic minor.

A natural minor : A – B – C – D – E – F – G
A harmonic minor : A – B – C – D – E – F – G#

Lalu perihal melodic minor, doi adalah modifikasi lanjutan dari harmonic minor, untuk membuat step dalam scale kagak terlalu pincang n jumpy, not ke 6 (F) dinaikan setengah step (jadi F#). Ada beberapa versi alesan tentang hal ini, tapi ane lebih cenderung demen dengan alesan simpel, bahwa dengan jarak 6 yang nggak terlalu jauh dari 7, maka interval dalam skala terdengar lebih rapi n seragam, jadi nggak terlalu nyimpang jauh dari leluhurnya (natural minor kagak ada interval #2, or 3 semitones).

Natural minor intervals : T – S – T – T – S – T – T
Harmonic minor intervals : T – S – T – T – S – 1.5T (or 3S) – S
Melodic minor intervals : T – S – T – T – T – T – S

Dalam penerapannya, skala – skala ini bakal kedengeran paling ok kalo digunakan sesuai konteks, tapi untuk gambaran umum, sebagian besar orang seringkali menggunakan melodic minor saat maenin ascending line di tonic minor key, dan make natural minor saat descending.  Beberapa pihak menyebutkan melodic minor dengan nama ascending jazz minor scale. So, same thing, dan pas descendingnya kemungkinan besar jazzer lebih demen pake dorian or bebop minor scale. Untuk efek yang lebih eksotis, harmonic minor bisa digunakan.

Q : Eh, ntar dulu.. Bebop minor?
A : Yoi Dab.

Ini sekilas jadi rada kurang relevan dengan judul tulisan yang lagi ngebahas seri fundamental classical music sih, karena bebop nongolnya di era jazz. Tapi, don wori, sebenernya konsep bebop itu udah ada sejak jamannya J.S. Bach, di era Baroque. Makanya sering ada yang bilang bahwa Bach adalah jazzer. Mungkin kalimat yang lebih tepatnya adalah : ‘para jazzer make konsepnya Bach buat impro’.

Bach adalah jazzer?
Bach adalah jazzer?

Bebop scale adalah memodifikasi sembarang skala diatonik yang terdiri dari 7 not (heptatonic) menjadi 8 not. Ini berlaku untuk skala mayor dan minor, makanya ada istilah bebop minor. Ide ini dipake oleh musisi besar saat era bebop (makanya namanya bebop scale). Beberapa pihak menyebutkan cuma ada beberapa type bebop scale (major, minor, dominant, dsb), tapi sebenernya ada lebih banyak dari itu, terutama setelah kita paham aplikasi bebop dalam improvisasi, serta konsep chromaticism.

Para pemaen bebop yang bikin genre jazz jadi super technical itu selain peduli detil terhadap harmonic changes, mereka juga peduli terhadap detil ketukan. Ini perlu diperhatikan bagi para pelajar jazz, terutama bagi yang berlatar belakang shredding lulusan Hotlicks or REH videos, yang sebagian besar cenderung lebih fokus shortcut ke hal yang sensasional daripada esensi.

Bebop scale adalah scale yang membuat pemainnya selalu maenin chord tones saat strong beats, dan non-chord tones saat weak beats, baik saat ascending maupun descending tanpa intervallic skips.

Bagi yang udah tau hubungan modes dengan tetrad harmony (triad + 7th degree), terlebih chordal dan modal improvisation, maka tiap modes bisa ditambahkan sebuah passing note untuk membuat bebop scale, dan bisa langsung dimainkan dan kedengeran cukup otentik. Lokasi penambahan passing note-nya sebenernya bebas (ada 5 lokasi per diatonik modes), masing – masing akan memberikan efek yang berbeda.

Bagi yang belum tau hubungan modes dengan tetrad serta subject chordal dan modal improvisation, sebenernya tetep bisa langsung bikin macem – macem skala bebop, tapi pas nyoba aplikasi, insting dan eksekusinya mungkin blom akan kedengeran ok dan otentik. silakan study n explore dulu dari berbagai sumber. Di blog ini udah pernah beberapa kali nyenggol modes, tetrad (dengan sedikit variasi term), chordal dan modal (or scalar) improvisation. Silakan disearch.

 Bersambung..

Classical Music Fundamentals bagian 5.3 : Intermission

Posted on Updated on

PC3K8
Big Boss : you name it, she plays it

 

Yang dimaksud Boss dalam ensemble pada tulisan sebelumnya mungkin hanya berlaku pada Western music (yang tentu saja musik yang mayoritas kita dengar sehari-hari). Kalo pada sebagian atonal (modal) music, terutama pada sebagian besar non-Western traditional music, piano malah bakalan hopeless, terutama dalam hal tuning. Piano memang nampaknya didesign hanya untuk maenin Western music, almost exclusively.

However, fear not, dengan bantuan teknologi, pianist tetep bisa mempertahankan statusnya sebagai Boss, bahkan naik jadi Big Boss (so to speak) karena punya solusi gampil supaya bisa ngejem bareng gamelan dkk, yaitu via kibor. Harmony dalam traditional music jamming tetep bisa dieksekusi yaitu dengan custom tuning, or bisa juga dengan ‘all in one ultimate solution’ : via sampling. With technology, the limit is our imagination. Yoi atuh, Big Boss tea..

Jadi, yang dimaksud ‘Boss’ oleh Joe Pass adalah, dalam hal harmony, piano lebih advanced dari gitar. Dan dalam ensemble, harmony-lah yang jadi Boss, bahkan mengatur apa yang mau jadi melody-nya. Dalam musik yang kita dengar sehari-hari saat ini, misalnya pop, rock, jazz, dll, harmony dalam lagu ditentukan oleh yang kita kenal sebagai akord (progresi). Untuk menguasai harmony akord secara menyeluruh, perlu proses study yang mungkin sebanding dengan study semua permutasi melody. Kadang bisa lebih gampil, kadang bisa lebih susah, tergantung sikon dan juga perspektif :

  • Tentu saja secara umum, progresi akord ‘Sweet Child O Mine’ jauh lebih gampil daripada intro licks nya Slash, tapi..
  • Untuk sekedar lancar maenin progresi akord ‘Balonku’ versi yang tersimpel (triad), tidak segampil kalo hanya maen melody-nya. Berlaku di semua chordal instruments. Coba cek ke bocah terdekat yang blom pernah maen instruments sama sekali.

Kesimpulannya, dalam timing yang sama, maenin lebih banyak not bersamaan adalah beberapa kali lebih susah daripada maenin single lines.

“Yaahhh, itu mah bocah juga ngarti To!”

“Mungkin itu juga yang bikin para pemula lebih gampil belajar melodi duluan.”

Single lines umumnya akan dikategorikan susah kalo ada banyak not yang musti dimainkan dengan relatif cepat secara berurutan. Ini adalah area dimana bendera para shredder berkibar. Tentang shredder, kalo hanya sekedar overemphasis ke aspek shredding doang tanpa (or kurang) diimbangi dengan pengetahuan tentang harmony dan aspek lain dalam musik, yang terjadi adalah bukannya sangar, mereka malah bakalan cenderung kedengeran unyu-unyu, monoton, predictible dan un-musical (terutama dari perspektif mayoritas). Tentu saja ini terlepas dari itungan NPS-nya yang layak jadi cabang Olympiad (or Guinness World Record).

Musik yang masuk kategori keren secara universal (termasuk didalamnya impro), hampir selalu terdiri dari beberapa aspek terkait yang kadarnya pas kalo dianalisa. Selain harmony, ada beberapa hal lainnya yang seringkali dikorbankan oleh para shredder (terutama yang masih amatir) demi untuk meruncingkan speed playing-nya, termasuk diantaranya adalah hal yang super basic : dinamika. Sampe ada beberapa pemain orchestral instrument yang berkomentar :

“Jangan ngomongin texture sama timbre ke pemaen gitar, moal pada ngarti..”

Ini jelas bukan ditujukan ke semua gitaris secara umum, tetapi cenderung dimaksudkan pada sebagian gitaris yang cenderung menganggap rata dinamika karena musiknya (or sound gitarnya) terkompres dengan kadar cukup parah (yang cukup ngetrend beberapa taun belakangan). Tentu saja ini adalah tentang selera dan delivery. Dulu pas awal bermusik ane pribadi juga sempet demen musik yang relatif konstan agresif begono. Tapi beberapa taun terakhir, ane cenderung lebih demen kompresi dengan kadar yang sekedar cukup untuk membantu sustain tanpa ngebabat dinamika. Sound ini bisa dicontohkan dengan sound gitar Guthrie Govan pas make Cornford Amplification, silakan cek album beliau, ‘Erotic Cakes’.

GG n Cornford
Guthrie Govan & Cornford Richie Kotzen

Sound drive n lead beliau di album itu terdengar smooth, masih kedengeran karakter bunyi asli (clean) dari gitar, alias cukup transparan. Lead hayu, chording juga tetep detil. Sound macam beginilah yang jadi incaran oleh para tone purist : sustain iya, dinamika juga iya, kagak ada aspek musical yang jadi tumbal.

  • Warning : Maenin dengan setting ini butuh teknik yang lebih ok.
  • Reward : Way more detailed n  more expressive playing.

Back to topic. Karena harmony adalah Boss, akan lebih ok kalo dalam improvisasi kita lebih berorientasi pada chords daripada scales. Cara itu juga bikin kita nggak akan pernah kedengeran salah maenin not, kecuali mungkin teknikal (timing). Akord memang lahirnya dari scale, tapi dalam bermusik beneran, kagak ada yang bener-bener maenin scale, apalagi saat impro. Nah lo..

  • Kapanpun kita maenin scale dalam music, kita akan terdengar kaya bocah lagi latihan fingerings. Silakan coba.
  • Scales, by definition, tentu saja beda sama licks. Licks itu orientasinya adalah harmony (akord).

Untuk itu, bagi para gitaris yang ingin explore lebih jauh, akan lebih ok setelah single lines impro-nya berorientasi pada harmony, coba juga mulai memasukkan harmony dalam lines-nya. Itu mungkin bisa membantu membuat kita terdengar lebih pinter daripada keliatannya. Mengurangi ketergantungan pada backing tracks juga bisa membantu (or memaksa) supaya comping, chords vocab n groove kita lebih keren. Ini cukup penting ditekankan berkali-kali karena ada cukup banyak generasi baru yang maen leadnya gokil tapi pas ngejam bahkan nggak bisa comping. Pas ngejem mereka nyalain backing tracks, n nunggu giliran solo. Then what will happen kalo jamming-nya bareng band? Nah lo..

“Yang jadi Boss saat jamming adalah yang paling menguasai harmony, bukan yang paling mlintir n akrobatik solo-nya.”

Test simpel-nya, dari pengalaman di Dojo Gitar : Pancing kreativitas improviser dengan maenin substitusi, dari tingkat yang paling sederhana berangsur ke moderate, pas jamming dengan progresi simpel yang diulang-ulang. Orang yang cukup paham (functional) harmony bakal langsung tau kalo itu adalah sekedar “jalan lain menuju tonic”, dan doi akan mengadaptasi licks berdasarkan ilmu (dan selera) harmony-nya. Dan orang yang belum cukup paham harmony akan komplain kalo substitusi adalah akord yang salah, dan berhenti soloing karena licks yang udah diapalin kedengeran ‘kurang fit’.

Dari situ kita bisa ambil kesimpulan bahwa dalam impro, orang yang lebih paham harmony bisa maen dan explore dengan lebih fun, karena doi enjoying musik sebegitunya, doi bahkan kagak perlu nyapin (dan ngapalin) licks. Ya walopun pada awalnya study licks memang diperlukan tuk analisis n vocabs, tapi pada akhirnya, sebagai musisi dan improviser kita perlu explore karakter impro kita sendiri. Licks bisa dibikin on spot based on rhythm feel, harmony n juga mood. Makanya, explore harmony itu makanan wajib buat improviser.

metheny_mehldau
Brad Mehldau & Pat Metheny

Bagi gitaris yang udah cukup paham comping dan soloing, dan gabungan keduanya, chord melody playing memang kayanya menjadi batasan maksimal advanced harmony playing yang bisa disikat di gitar standar secara solo. Lebih dari itu, akan cenderung lebih gampil kalo disikat di piano. Bagi para advanced improviser, silakan cek permainan pianist macam Brad Mehldau, Keith Jarret, dkk, impro mereka bisa kedengeran lebih gokil dan free daripada “mayoritas improviser biasa”, karena menggunakan cara yang lebih advanced lagi dalam maenin harmony, yaitu dengan maenin polyphonic lines berdasarkan prinsip counterpoint. Teknik ini lebih dikenal dalam classical music composition, yang dimulai dari era Baroque music. Menguasai doi membuat kita nggak lagi terpaku pada progresi akord dan substitusinya. Kita bisa memainkan lebih dari 1 line melody bersamaan dan  semua lines bisa bergerak bebas serta sekaligus harmonis. Very interesting subject bagi para composers. Dan karena improvising adalah instant composing, otomatis doi juga very interesting subject buat para improvisers.

Nah dari situlah asal subject Baroque Style nongol di guitar chapter sekitar 2 taun lalu, dan piano chapter ini adalah kelanjutan journey-nya.

Bersambung..