Quiz #2, berhadiah MI’s Complete Method Music Reading by David Oakes

Posted on Updated on

Hadiah :

 

 Pertanyaan :

Sebutkan akord progresi dari sample musik berikut ini :

 

 

 

Jawaban bisa dalam format analisis sederhana, misalnya :

Key : C
4/4 || C . . . | Am . . . | Dm . . . | G . . . || dst..

or even better, roman numeral analysis :

Key C
4/4 || I . . . | vi . . . | ii . . . | V . . . || dst..

Tentang roman numeral analysis nanti rencananya bakal ditulis di lanjutan seri Classical Music Fundamental.

 

Info tentang quiz :

 

https://ditomusicman.wordpress.com/2017/12/07/fur-guitarist-music-enthusiast/

Iklan

Für Guitarist/Music Enthusiast

Posted on Updated on

 

Sebelum aktif lanjut nulis lagi, ane kepikiran tuk ngasih hadiah kepada para gitaris/music enthusiast berupa beberapa buku gitar yang survive dari sesi rampokan Dojo Guitar 3 taun lalu. Selama ini kerjaan mereka hanya ngumpulin debu tanpa ngasih ilmu ke siapapun. Walo begono, ane nggak bisa ngasal ngasih mereka ngasih ke sembarang orang di jalan karena kertas2nya bisa aja berakhir sebagai alas gorengan. Who knows..

 

Kemudian muncullah ide untuk bikin beberapa pidio quiz lucu2an, ceritanya untuk sedikit membantu memastikan bahwa bukunya akan diadopsi oleh orang yang tepat.

Quiz #1, berhadiah Melbay’s Gypsy Jazz Guitar by Stephane Wrembel

 

Sinopsis :

Diantara beberapa plan materi yang belum terlaksana untuk workshop di Dojo Gitar dulu adalah tentang polyphonic improvisation & Gypsy Style. Nah beberapa rujukan info tentang Gypsy Style ada di buku ini.

The Quiz :

https://ditomusicman.wordpress.com/2017/12/07/quiz-1-berhadiah-melbays-gypsy-jazz-guitar-by-stephane-wrembel/

Quiz #2, berhadiah MI’s Complete Method Music Reading by David Oakes

 

Sinopsis :

Dulu doi diadopsi bukan sebagai rujukan utama untuk materi reading di Dojo, tapi sekedar buat nambahin angle n perspektif baru aja dalam navigasi fretboard. Kebanyakan materi reading di Dojo dulu lebih kepake untuk analysis daripada sight read. Nevertheless, bagi yang minat cari tau hubungan not balok dengan lokasinya di fretboard bisa ngandalin buku ini.

The Quiz :

https://ditomusicman.wordpress.com/2017/12/15/quiz-2-berhadiah-mis-complete-method-music-reading-by-david-oakes/

Quiz #3, berhadiah MI’s Chord Melody by Bruce Buckingham & Warner Bros’s Creative Chord Substitution by Eddie Arkin

 

Sinopsis :

Salah satu perspektif keren dalam memandang ilmu tentang jazz adalah melihatnya sebagai ilmu yang ngasih konteks ke akord2 aneh supaya bisa kedengeran OK n make sense dalam berbagai situasi musical. Untuk bisa ngasih konteks yang akurat, seseorang musti punya banyak jam terbang, plus punya banyak angle n perspektif terhadap sebuah teori. Buku ini bisa nambahin vocabs tentang berbagai hal yang bisa kita lakukan kepada para akord itu.

The Quiz :

Coming Soon

Semua buku dalam kondisi great n complete, palingan Chord Melody di ujung sampul depannya ada dikit lecek karena doi dulu yang paling sering diambilin.

Berikut keterangan quiz :

  • Deadline 2017, berlaku untuk quiz 1,2 dan 3.
  • Ongkir ane tanggung, as long as masih di Indonesia.
  • Pertanyaan ada di post individu tiap kuis. Don wori, walo cukup challenging tapi mustinya nggak terlalu susah bagi yang follow blog n aktif study.
  • Jawaban dipost sebagai comment, bisa di Blog, Youtube, or FB, sesuai pidio quiz nya.
  • Boleh menjawab sebanyak2nya.
  • Pemenang adalah yang menjawab akurat dan paling duluan. Kalo sampe ganti kalender masih blom ada yang akurat, maka yang paling mendekati yang dianggap menang. Kalo yang paling mendekati pun masih cukup jauh dari jawaban asli, doi tetep dinyatakan pemenang. Kita apresiasi orang yang udah berusaha.
  • O iya, semua buku dalam bahasa Inggris. Bagi yang belum bisa bahasa Inggris tapi tetep napsu belajar, bisa pake translator, or minta dijelasin guru masing2. Heheh, orang bilang ada banyak jalan menuju Roma.
  • Gutlak.

Quiz #1, berhadiah Melbay’s Gypsy Jazz Guitar by Stephane Wrembel

Posted on Updated on

Hadiah :

 

 

 

Pertanyaan :

 

Sebutkan akord progresi dari sample musik berikut ini :

 

 

 

Jawaban bisa dalam format analisis sederhana, misalnya :

Key : C
4/4 || C . . . | Am . . . | Dm . . . | G . . . || dst..

or even better, roman numeral analysis :

Key C
4/4 || I . . . | vi . . . | ii . . . | V . . . || dst..

Tentang roman numeral analysis nanti rencananya bakal ditulis di lanjutan seri Classical Music Fundamental.

 

Info tentang quiz :

 

https://ditomusicman.wordpress.com/2017/12/07/fur-guitarist-music-enthusiast/

Recovery Test #7 : Selamat Hari Lebaran

Posted on

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir dan batin.

Selamat Hari Lebaran ♪ Minal Aidin wal Faidzin ♫

Classical Music Fundamentals bagian 6.2 : Breaking the 4th Wall & The Musical Cosmos

Posted on

Perspective

“Setelah nyenggol hubungan tentang classical dan jazz, waktunya tuk nyenggol tentang 4th wall.”

 

Sebelumnya, pernah denger pernyataan bahwa semakin kita study suatu hal, semakin membuat kita merasa kerdil? Ini berlaku secara universal untuk semua subject study, regardless. Hal ini terjadi karena pas study deeper, kita bakal tau bahwa limit dari subject yang kita pelajari berpotensi ikutan melar tanpa ujung, or — kalo ikutan system klasifikasi konvensional — kita bakal nemu beberapa subject baru yang masih punya relevansi dengan subject yang sedang kita pelajari. Saat kita berdiri di border dari sebuah subject, or saat mapping dari sebuah subject udah beneran komplit n kita kuasai diluar kepala, kita akan dihadapkan pada fakta baru : ada apa diluar sana? Ada apa di balik borders? Kalo kita memutuskan tuk melihat musik dari semesta yang lebih luas, dan menyadari bahwa system yang dianut oleh musik kita saat ini hanyalah merupakan bagian kecil darinya, maka saat itulah kita “Breaking The 4th Wall”.

4th wall

Dream Theater’s Breaking The Fourth Wall

 

“Gokil. Ngapain kita terus belajar kalo justru malah bikin kita ngerasa tambah bego?” – Paijo bin Sopokae Mbuh

Weits, engke heula bray, ini nggak berarti bisa disimpulkan bahwa mendingan nggak usah belajar sekalian. Keywordnya adalah “merasa”. Dan “merasa” itu belom tentu real. Itu kan hanya perasaan Dek Paijo saja.. Faktanya, kalo orang yang belajar tentunya doi makin pinter, including bagi yang self-taught sekalipun. Perihal perasaan bahwa doi merasa makin kerdil adalah karena doi selalu nemuin hal baru diluar subject yang sudah dikuasai, bikin makin paham atas luasnya subject study-nya. Jadi belajar berasa nggak akan selesai kecuali kita sendiri yang memutuskan selesai. Dan study deeper bisa membantu tuk constantly reality checked tentang kemampuan dan pemahaman ilmu kita secara lebih objective, dan membantu kita tuk terus menapak tanah ketika pengetahuan terus tambah luas. Ini juga sering di analogikan seperti prinsip padi — makin berisi makin merunduk — yang bikin makin stay low profile, salah satu hal yang penting tuk dikampanyekan dunia showbiz, terutama bagi para performer.

“Lah, sebagian musisi, terutama para performer aktif malah pada high profile tuh?”

Tergantung konsep performance-nya, sebagian jenis musik — terutama yang berkaitan langsung dengan so called “modern pop based music industry” — emang menuntut performer untuk high profile, di saat performance. Industri musik — yang sayang sekali cenderung nggak berlandaskan creative patronage, alias lebih mirip dengan industri lainnya yang berisi pure business, dan kita musti berkompromi kalo mau commit masuk didalamnya — dari awal emang nge-push agenda tentang idolatry, bikin populasi fans yang fanatik, yang tentu saja tujuan utamanya money milking. Karena merasa dipuja on stage, nggak sedikit performer yang kebablasan keterusan high profile saat turun stage dan berlanjut dalam lifestyle keseharian. Untuk para legends, veterans n world class performers, mungkin society pada maklum karena nampaknya unavoidable, meskipun kalo mereka pada stay low profile tentu saja jadi point plus dalam society. Nah kalo ada performer yang cuman aktif setingkat komunitas lokal tapi sengaja tengil bin songong karena merasa emang musisi musti begono — or karena idola mereka begono dan karena bisa covering musiknya berarti musicality-nya dianggap setara, lalu boleh dong tengil bin songong juga — itu sih kebangetan..

Head in Hands

“Two things define you : your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything.”

 

Walopun yang rentan kena penyakit tengil bin songong adalah performer, tapi musisi itu sendiri juga nggak melulu tentang performer. Yang aktif di belakang layar ada juga yang bisa dianggap setara or bisa lebih serem musicality-nya, seperti educator, composer, dan juga sound engineer. Yang disebut terakhir ini walopun nggak musti belajar tentang harmony n music theory secara mendalam, tapi peranannya sangat menentukan kesuksesan sebuah music performance yang melibatkan amplifikasi n mixing console. Dalam industri, ada juga music producer n music promotor, yang kalo dipersimpel ya profesinya masih musisi walopun bisa juga nyamar ngaku jadi bisnismen. Dan tentu saja kalo bahas performer yang unconventional, ada juga yang paling iconic — yang orang awam anggap paling culun dalam orchestra karena keliatanya kerjanya cuman avakadavra, padahal justru doi orang yang paling serem di stage — yaitu Conductor.

Avada Kedavra

Avada Kedavra

 

Karena saat aktif bermusik sesuai bidangnya ini mereka nggak langsung dipuja oleh audience, maka mereka relatif lebih kebal dari penyakit tengil bin songong. Terlebih lagi bagi mereka yang isi kepala n musicality-nya beneran berat — misalnya udah jauh melewati 4th wall — bakalan susah nemuin foto mereka berpose dengan dagu naek + ekspresi ja’im, apalagi foto itu dieksekusi secara selfie..

Seriously..

Unless, mereka lagi cosplay superhero..

Itupun kemungkinan besar juga masih pake topeng, minimal Batman lah..

Inside The 4th Wall

Range musik yang dibahas di seri Classical Music Fundamentals ini hanyalah merupakan sebagian kecil dari musik yang berasal dari sebuah kultur/budaya/tradisi Western — Western Art Music, or European Art Music, or orang sering bilang “THE” Classical Music, or orang yang ogah musiknya diasosiasikan dengan dinosaurus bakal menggunakan term musik sastra or written music. Area coveragenya berada di era yang berkisar antara taun 1600 – 1900, yang para theorist sering bilang “Common Practice Period”.

Common Practice Period secara berurutan berisi era Baroque, Classical, Romantic, dan nyempil didalamnya Impressionist. Baroque era berbatasan dengan era sebelum Common Practice Period, dan Romantic era/Impressionist era berbatasan dengan era sesudah Common Practice Period.

Era sebelumnya, ada era Medieval dan Renaissance :

  • Untuk era Medieval (Middle Age), ane beneran nge-blank, nggak ada yang bisa ditulis disini. Mau namatin Assassin’s Creed 10x pake blusukan sana-sini juga sama sekali nggak membantu. Ane-nya sendiri emang nggak digging subject ini. Buat yang tertarik, silakan kontak musicologist terdekat aja.
  • Kalo info tentang era Renaissance, ane kemaren sempet kecipratan dikit, terutama karena era Baroque music yang beberapa taun terakhir ane pelajari itu era-nya berbatasan dengan era Renaissance. Hal simpel yang perlu diketahui adalah, musik saat itu emphasize ke modes. Bagi yang study Baroque music, subject tentang modes ini bisa dibilang pre-requisite. Tapi yang perlu disikat cuman modes utama yang survive di modern theory aja, nggak perlu semuanya. Dan seperti biasa, bagi yang pengen info detil tentang Renaissance music, silakan kontak para musicologist aja. Ane disini cuman nulis hal-hal basic yang semua musisi modern seharusnya pada tau, karena terkait langsung dengan subject appresiasi.

Era sesudah Coomon Practice Period, ada era Modernism, Contemporary, dll. Nah, klasifikasi di era ini ada beda versi. Ada yang menyebutkan kalo akhir Romantic dan Impressionist masuk ke modernism. Don wori, perbedaan terminologi semacam ini sebenernya nggak perlu diperdebatkan dan bisa dimaklumi karena stylistic era emang dipengaruhi oleh taun, dan taun yang berdekatan bisa aja masuk 2 kategori yang berbeda. O iya, jazz n blues n seabrek stylistic music laen masuk ke era modernism ini.

Pendapat ane pribadi tentang stylistic or genre musik di era modern ini, terutama seabrek musik yang harmonic system dan set pitch-nya berasal dari standarisasi era Common Practice Period, semuanya adalah relatif. Sebegitu relatifnya sampe disatu tahap bahwa kalo kita sebagai musisi paham pondasinya — theory dari Common Practice Period — kita bakalan melihat mereka lebih kaya spektrum warna daripada kaya rak-rak CD terpisah dengan border yang jelas di Disc Tarra n Aquarius. Lagian, klasifikasi musik modern juga dipengaruhi oleh sudut pandang subject. Orang awam bilang Kenny G itu jazz, sementara jazzer bakal bilang pop. Coba tanya fans Pat Metheny tentang Kenny G.. Jadi hal ini nggak perlu diperdebatkan.

Teori relativitas juga ada di musik. Einstein bilang E=MC2, Music Theorist bilang E=Fb.

Tulisan ini berjudul Classical Music Fundamentals, tapi pada faktanya cuman ngebahas beberapa tetes info dari Common Practice Period. Alasan doi terpilih menjadi duta dari THE Classical Music saat membahas pondasi edukasi musik modern adalah karena berbagai musik hari ini berkembang menggunakan system standar yang berasal dari Common Practice Period.

THE Classical Music or European Music Timeline :

2000 SM : Pembangunan Stonehenge
1700 SM  : Hukum Hammurabi
1300 SM  : Dinasti Tutankhamun
1000 SM  : Dinasti Nabi Sulaiman a.s.
700 SM    : Berdirinya Romawi
500 SM    : Era Keemasan Yunani
300 SM    : Dinasti Alexander
0 M           : Kelahiran Jesus or Nabi Isa a.s.
300 M      : Kebangkitan Christianity
500 M      : Keruntuhan Romawi
800 M      : Dinasti Charlemagne, awal modality n organum
900 M      : Awal dari notasi musik
1000 M    : Awal penggunaan garis paranada (staff)
1100 M     : Perjanjian Magna Carta, awal polyphony
1200 M     : Penggunaan Fauxbourdon dalam harmony
1300 M     : Nongolnya ars nova style, awal penggunaan keyboard
1400 M     : Renaissance, awal dari buku musik
1500 M     : Pre-Baroque, Common Practice Period biasanya ngebahas era ini sebagai supplement or intro
1600 M     : Awal Common Practice Period, terbentuknya Tonality n Functional Harmony
1900 M     : Akhir Common Practice Period, awal 20th Century Modern Music, penggunaan pandiatonic dan                                         explorasi atonality, cross-overs n cross-influence music, complex & uncategorized music
2000 M    : Sekarang

evolution of music notation

evolusi dari notasi musik

 

“Lah, Stonehenge nyambung sama classical music?”
“Perkembangan musik itu tidak bisa lepas dari kebudayaan. Kalo timeline-nya mundur sejauh itu jadi make sense.”

Jangan lupa kalo ini hanyalah sejarah music yang berasal dari European Tradition yang dibahas di teori musik. Ada berbagai macam jenis musik lainnya di tiap wilayah di bumi, di rentang waktu yang sama. Diluar art music (musik yang terstruktur n sistematic, punya teori tertulis yang bisa diajarkan) ada juga yang namanya traditional/ethnic music (musik yang berkembang secara oral/aural). Untuk efek bengong yang maksimal, coba ngobrol dengan para musicologist.

Notation System vs Oral/Aural System :

Saat study by hearing — ngulik tiap not yang kita denger lalu dimaenin, or nge-beo — kita emang nggak perlu musti ngerti aturan syntax (subject, predikat, object) dan hubungannya dengan intonasi, dll, karena semua konteks nantinya musti dipelajari on the fly. Tapi musik yang dipelajari dengan cara ini butuh jam terbang yang sangat tinggi untuk sampe beneran paham mendetail tentang essence musiknya, karena kesimpulan dari essence-nya cuman bisa didapat setelah punya sangat banyak vocabs berikut konteks penggunaanya. Study by theory bisa bantu bypass prosesnya dengan ngasih clues tentang aturan umum — or karakteristik — dari berbagai jenis musik. So, teori juga berperan penting kalo pengen ngerti lebih detil tentang musik.

“Tapi kan musik itu kan musti bisa dimaenin.. Ngapain bermusik kalo cuman diomongin doang teori, history or fakta2nya..?”


Ane pribadi setuju kalo musik musti dimaenin, terutama kalo diliat dari perspektif performer, tapi itu tetep nggak bisa jadi pembenaran tuk nggak peduli sama sekali dengan teori musik, dan juga berbagai dimensi serta perspektif lain dalam melihat musik. Memang akan lebih ok kalo theorist — terutama yang merangkap educator — juga bisa maeninin, ngebunyiin dan ngebuktiin teorinya. Jadi sebuah teori akan lebih make sense saat theoristnya bisa mempraktekin teorinya sendiri — or teori yang dia anut — secara in-context. Jadi musti sinergi. Kalo ada theorist/educator yang bilang, misalnya speed playing itu begini dan begitu, mustinya dia-nya juga bisa ngelakuinnya. Jazz ini begini-begitu, contohnya ada. Jangan sampe kaya yang orang jawa bilang JARKONI (iso ngajari, ora iso ngelakoni). Ini juga sekaligus bisa membantah idiom yang bule bilang “Those who can, do. Those who can’t, teach.” yang bikin seolah profesi pengajar di kelas cuman diambil oleh orang yang gagal di lapangan.

Di kelas manapun di bidang apapun, nggak ada murid yang pengen diajar oleh JARKONI. Pengajar selalu musti lebih tau, lebih mampu dan lebih experienced daripada muridnya.

Well, sebenernya kalo hal ini pengen disenggol lebih luas lagi daripada sekedar teori, dunia musik itu sendiri juga nggak melulu terhubung langsung dengan showbiz, performance n tepuk tangan juga sih. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari budaya, dunia musik juga ngelibatin banyak hal lain, termasuk dunia engineering dari berbagai disiplin. Contoh tergampil selain sound engineering : untuk membuat berbagai macam instrument musik itu sendiri butuh banyak kombinasi dari berbagai ilmu : dari milih material sampe scale n ratio-nya, sampe playability-nya, sampe tahap estetika-nya, dll.

Ane inget dulu info pas Suhr nge-release Guthrie Govan signature seri Antique Modern, finishnya (or lapisan cat-nya) musti make nitrocellulose biar sound-nya lebih musical n natural. Nitro adalah finish yang dipake di gitar 50’s dan 60’s. Tau sendiri gimana komunitas gitaris pada menggilai gitar jadul. Emang sih kedengeran cukup jelas bedanya saat di benchmarking dengan signature GG seri sebelumnya yang make finish modern (polyurethane), tapi resikonya si gitar bakalan lebih rentan goresan. John Suhr sendiri awalnya sebenernya nggak setuju, beliau lebih cenderung prefer make coating yang lebih protektif wong gitar produksinya kan kelas premium. Sebagian luthiers lain juga menganggap pengaruh finish pada sound itu bisa diabaikan. Tapi bukan GG namanya kalo musti kompromi. Gitarnya jadi diproduksi, beliau tur dengan make sebiji gitar seri Antique Modern — konon tanpa backup gitar sama sekali, gokil! — sampe gitarnya pada baret. Setelah kontrak selesai dengan Suhr, beberapa saat kemudian beliau pindah ke Charvel n dapet signature yang lebih natural lagi dari segi sound dan tampang-nya.

0004930_charvel-guthrie-govan-signature-model

Charvel Guthrie Govan Signature Model

 

 BTW, ini baru sekedar ngebahas pengaruh cat doang di gitar secara mendetail, belum lagi ngebahas yang lain-nya, macam plek machine yang bikin action maknyus, buzz feiten yang bikin koreksi intonasi open string, roasted wood + graphite reinforced neck yang bikin neck relatif nggak kepengaruh suhu n humidity, dll.

Dunia hari ini emang dipenuhi nerdy n geeky people. Mungkin emang udah jadi standar di era internet.

“Kenapa malah ngebahas begituan To, ceunah sharing info musical? Kagak ada lagi fretboard mapping, scales or trick tapping string skipping?”

“Ya ini kan juga termasuk sharing info musical, cuman pas kebetulan lagi ngebahas tentang apresiasi. Tulisannya emang rada edgy n liar nyangkut kemana-mana karena emang lagi ngebahas expanding horizon.”

OK dah, cukup ngelanturnya. Intinya, ketika kita bisa membahas musik dari berbagai sudut teori, history dan dari berbagai perspektif lainnya, itu berarti kita dah mampu keluar dari 4th wall, mampu memahami dan mengapresiasi musik dengan lebih luas, dan otomatis bikin mindest dan musicality kita berkembang.

The Musical Cosmos

Alasan kenapa kita musti break the 4th wall saat nyampe border adalah untuk memperluas paradigma dan appresiasi, yang keduanya ngefek langsung ke musicality.

Paradigma

Mindset yang ok adalah hal utama yang dibutuhkan tuk membuat berbagai teori baku bisa diubah bentuknya ke karya/expressi musical. Kalo mindset kita sempit, musiknya bakalan gitu-gitu aja, dan kalo mindset kita melar, musik kita juga ikut melar. Contoh gampil-nya  :

Saat sharing info tentang impro, yang terjadi adalah kita exploit mindset n perspektifnya, sementara teori, teknik, harmony dll — yang mustinya udah pada standby diluar kepala sebelumnya — itu jadi fixed objects, mereka menjadi acuan dalam system n nggak berubah. Saat eksekusi impro, kita mungkin masih dihadapkan pada set pitch yang sama, akord progresi yang sama, birama yang sama, tempo yang sama, tapi hasilnya bisa sama sekali beda tiap orang, dan itu sama sekali nggak ngawur or sekedar milih random not dari scales.

Kalo ternyata ada begitu banyak musisi yang impro-nya selalu layak rekam n layak dengar sejak take pertama-nya, berarti mindset mereka terhadap unsur fixed objects itulah yang membuat impro itu jadi magical. Karena basic teori bisa gampang didapatkan dari berbagai sumber, dan basic technical level itu pada dasarnya cuman soal waktu aja sampe bisa merasakan sensasi dari syaraf motorik untuk mampu merespon ide lalu bergerak sesuai insting, maka pelajaran yang sesungguhnya dalam impro adalah exploitasi mindset.

“There are no facts, only interpretations.” – Friedrich Nietzsche 

Appresiasi

Study apresiasi dan breaking 4th wall adalah menu wajib bagi musisi yang pengen tumbuh jadi lebih dewasa dan pengen melihat dunia musik dari perspektif yang lebih objective, serta menikmatinya dengan intensitas yang lebih dalam. Musisi yang udah pewe dengan musiknya dan nggak pengen ngerti ada apa lagi diluar disana, nggak perlu lagi study macem-macem.

“Tanpa breaking the 4th wall kita nggak bisa melihat berbagai hal baru dalam dunia musik, boro-boro bisa menikmatinya.”

  • Semua orang bisa menikmati lagu anak-anak karena lyricnya gamblang, dengan vocabs super basic yang dikuasai balita, struktur harmony yang sesimpel mungkin, melody yang bergerak se-stepwise dan se-predictible/se-cliche mungkin, dll.
  • Nah orang dewasa mustinya bisa menikmati lagu dengan lyric yang make metaphor, vocabs yang lebih advanced, struktur harmony yang lebih tasty n colorful, melody yang bergerak lebih bebas dengan berbagai surprises, dll.

Gimana orang dewasa bisa ngerti itu semua kalo nggak ada proses study? Menjadi makin dewasa berarti makin aware tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan, locally n globally, including taboo subjects dan berbagai nilai moral yang kompleks, sampe ke beyond physical subject alias spiritual realm. Musically, same thing. Analoginya bakalan lebih gampil make film, karena prinsip apresiasinya sama. Semua penonton yang masih bocah bakal demen dengan hal-hal yang flashy n banyak eye candy (yang penting rame, ada kebut-kebutan, ada tembak-tembakan, ada robot, ada alien, ada zombie, ada kamehameha, dll), sementara penonton dewasa bakalan lebih demen dengan kombinasi yang pas dari berbagai layer yang berbeda, seperti acting-nya, story-nya, screenplay-nya, dll. You get the point.

Semua bocah pasti demen diajak nonton ‘Transformers : Age of Extinction’ (2014), tapi ta jamin mereka bakal bobo pas nonton ‘All Is Lost’ (2013). BTW, bagi yang jarang follow movies tapi ngaku jazzer — apalagi drummer — coba cek ‘Whiplash’ (2014). Thank me later. 

whiplash-bloody-drumsticks

‘Whiplash’ (2014)

 

Bagi yang demen Dream Theater, ane tebak pas masih kecil dulu lebih demen OST film kartun yang tayang tiap Minggu pagi — or anytime, bagi yang langganan cable n satellite TV — daripada musiknya Rush/Yes/Pink Floyd/Iron Maiden, tul gak? Pertumbuhan selera dari tingkat musik bocah sampe Dream Theater tentu melewati beberapa step yang ngaruh ke perspektif n apresiasi kita terhadap musik. Step apresiasi ini bisa terjadi tanpa disadari or disengaja, step-nya terus berlanjut tergantung lingkungan musical kita. Para pemaen cover band DT juga kalo banyak ngejem dengan para jazzer bisa demen fusion. Kalo pada doyan nonton anime bisa demen musik jejepangan. Kalo pada maen Top 40 bisa pada paham groove, latin rhythm, dll. Kalo banyak maen Final Fantasy bisa juga demen sama scoring & orchestra, dst.

Apresiasi di level surface bisa terjadi secara gradual setelah cukup lama terekspose musik baru, tapi nggak akan ada yang bisa kita serap dari musik baru itu tanpa proses study.

Berikut adalah beberapa tips agar bisa gampil mengapresiasi berbagai jenis musik :

  • Open mind, kontak dan berteman dengan berbagai macam musisi dari berbagai background dan level, dan juga menganggap serius musik mereka. Dengan begono otomatis kuping kita kenal dengan berbagai macam musik, sekaligus nyengir ngeliat teman kita mengomentari musiknya saat dimainkan. Celetukan berikut ini nggak akan asing lagi bagi kuping :


    “Nih, habis ini ada slap back delay To, asik bener. Habis itu langsung nyambung ke bagian verse yang drumsnya dobel pedal..”

    “Bentar belum beres, pausenya emang rada lama. Bagian depan nya entar nongol lagi dengan nuansa yang lebih gloomy..”

    “Groove-nya gokil nih, funky pisan.. Tariik maang Jupri..”

    “Gua sampe merinding denger dia bisa nyanyi setinggi itu tanpa nongol urat leher sama sekali..”

    “Itu not emang cuman diulang-ulang sambil naikin dinamika, tapi efeknya justru kena..”

    “Headbaaangg To!!!”

    dll..

    Kita jadi tau apa yang bikin temen kita suka terhadap musik tersebut, dan juga perspektif mereka masing-masing terhadap musiknya. Mengapresiasi musik dari suatu elemen or layer tertentu bisa dibilang level basic dari apresiasi musik. Semua penikmat musik minimal berada di level ini.

  • Penasaran n study. Tanpa penasaran, kita nggak akan dig in n mendengarkan musiknya secara berulang kali. Saat ngulangin berkali-kali, kita jadi tau karakter musiknya, dan jadi tau tiap detil elemen yang menyusun musiknya :
     
    > Kita jadi tau kalo tempo itu ada yang straight, ada yang shuffle, ada yang rubato, ada accelerando dan retardation, dll.
     
    > Kita jadi tau kalo biola n piano itu bisa maen not super tinggi (pitch range), kita juga jadi tau beda karakter bunyi dari woodwind dan brass (timbre), dll.
     
    > Kita jadi tau kalo suatu lagu itu bisa dipake buat senam (birama duple n quadruple), dansa waltz (birama triple), dan juga dipake tuk latihan berhitung (odd time signature).
     
    > dll..
     
    Even orang yang study formal juga sebagian awalnya pada nggak ngerti kenapa dapet assignment suatu musik yang sekilas nggak nyambung dengan apa yang pengen mereka pelajari. Tapi karena mereka musti paham berbagai unsur elemen dalam musik sebelum bisa diakui jadi musisi, maka dosen/educator membuat mereka terekspose dengan berbagai macam musik biar pada tau jelas. Berapa banyak dari kita yang awalnya nggak demen, tapi setelah ngerti bagian mana yang bikin doi keren, tiba-tiba pada nge-fans berat? Semuanya kayanya ngalamin.
     
    So, appresiasi itu ngaruh langsung dengan study musik. Bagi yang nggak study formal, tingkatan pemahaman musik kita dipengaruhi oleh dengan siapa kita bergaul tiap hari.

     

    Intinya, dengan study kita jadi makin paham berbagai unsur penyusun musik, dan makin bisa mengagumi bagaimana berbagai hal yang berbeda itu bisa saling bersinergi untuk menyampaikan pesan via bunyi, dari composer ke audience. Mengapresiasi takaran dari kombinasi berbagai elemen dan layer yang berbeda adalah level lanjutan dari apresiasi musik. Para musisi mustinya minimal berada di level ini.

yummy

yummy

 

Beberapa elemen utama penyusun musik di era Common Practice Period :

Tonality

Umumnya berpusat pada sebuah not or pitch, yang berfungsi sebagai home bagi para audience. Pitch laen berfungsi sebagai support. Explorasi tonic bisa juga dilakakuan dalam sebuah frase biar nggak boring. Tiap frase umumnya berdurasi antar 4, 8, or 16 bar, dan semuanya berakhir dengan cadence untuk konfirmasi tonic

Pattern

Umumnya menggunakan diatonic major n minor scales, beserta modes-nya. Not-not kromatik (5 not yang nggak dipake di diatonic scales) tetep digunakan buat coloring.

Texture

Umumnya make counterpoint, yaitu 2 atau lebih lines yang dimainkan secara bersamaan, masing – masing dimainkan secara independent, masing-masing masih terikat dengan prinsip tonality (point 1) dan pattern-nya menggunakan major n minor scales (point 2).

Chord

Umumnya berkarakter consonant, terbuat dari 3 not (triad), yang tersusun berjarak 3rd (tertian). Dissonance juga bisa digunakan. Dissonance bisa terbuat dari 4 not (tetrad) yang ditumpuk berjarak 3rd (tertian), bisa juga berjarak bebas (non-chordal embellishment seperti passing n neighbouring tones, suspension, pedal, dll). Dissonance wajib resolve.

Timing

Umumnya menggunakan birama simple dan compound, dengan 2, 3, or 4 ketuk per bar secara konsisten (alias duple, triple or quadruple). Simple adalah kalo tiap ketuk bisa dibagi jadi 2 not yang bervalue sama, dan compound adalah kalo tiap ketuk bisa dibagi jadi 3 not bervalue sama.

“Gimana kalo birama-nya bisa dibagi 2 dan juga 3 seperti 6? Misalnya 6/8?”

6/8 emang bisa aja dimasukin ke birama simple yaitu grouping dengan 3 ketuk per bar dengan tiap ketuk dihitung “one-and”, tiap hitungan bernilai 1/8. Tapi kalo make grouping ini, akan lebih ok kalo make versi 3/4 aja biar angkanya kecil n nggak mengintimidasi readers, wong hasilnya sama persis. Para mathematician juga setuju kalo 6/8 = 3/4.

6/8 bakal worth it saat kita berani clash dengan para mathematician n ngotot kalo doi konteksnya nggak sama dengan 3/4, n nggak sekedar doubling resolusinya juga. 6/8 dipake saat grouping-nya berisi 2 ketuk per bar dengan tiap ketuk dihitung “one-and-a”, tiap hitungan bernilai 1/8. Jadi bedanya ada di lokasi ketukan dan subdivisi dari tiap ketukan.

Nah berikutnya, kita bisa melihat beberapa musik lain dengan menggunakan 5 elemen dari Common Practice Period :

Jazz

JLCO_lineup0209

Walaupun udah pernah dibahas di tulisan sebelumnya (feat. Paijo bin Sopokae Mbuh), disini bakal dibahas n dilengkapi lagi. Jazz adalah musik Amerika yang unik, hasil peranakan dari tradisi musik Eropa dengan Africa. Doi bisa dimainkan secara 90 % blues + 10 % classical, bisa juga 10 % blues + 90 % classical. Doi juga fleksibel tuk dicombi dengan berbagai stylistic dari musik lain, hal yang menjadi salah satu alasan utama kenapa ane pewe explore di teritori musik ini sambil sesekali celingukan di luar border-nya.

In essence, jazz berkembang dengan cara oral/aural alias nggak ada notasi tertulis tentang notes, kumaha n kunaon-nya. Orang musti belajar musik ini by hearing n copying semuanya, layaknya bocah lagi belajar ngomong. Tapi berhubung instruments yang digunakan tuk maenin jazz adalah instruments yang dikembangkan di classical music, maka musisi jazz bisa nebeng system notasi yang dianut dari classical music, berikut teorinya. Teorinya langsung nyambung karena jazz juga make major & minor tonality beserta bermacam diatonic modes yang udah ada di classical music. Ini rada beda sama blues, karena doi make “blues scale” dengan beberapa not yang pitch-nya tidak terdaftar secara resmi di classical system. Instrument yang nggak bisa modifikasi pitch tuk keluar dari classical system — misalnya piano — cuman bisa berkompromi saat musti maen blues. Tapi untungnya teori dan notasi dari classical system masih bisa dipake dengan tambahan keterangan seperti 1/4 bend, dll. So, blues juga bisa diajarkan secara “formal” bagi yang pengen.

Sejauh mata memandang, jazz berbatasan dengan almost semua stylistic music. Jazz Rock ada, Jazz Blues ada, Gypsy Jazz ada, Jazzy World Music ada, Latin Jazz ada, Prog metal orang bilang metal make harmony jazz plus birama kumaha maneh-na, Classical Jazz esensinya adalah kaya sekedar ngegeser dimmer switch, dll.. Keroncong + Jazz? Kayanya nyambung juga.. More exploit on all of that later..

Tonality

Karena seringkali berasal dari lagu pop, tonality-nya jelas. Rada kurang afdol nyebut jazz kalo nggak ada impro didalamnya. Improviser bisa bikin musiknya berubah drastis tergantung pemahamannya dan personality-nya. Dari frasenya, progresi, cadence, scale, pattern, dll, hampir semuanya bisa beda dari original song-nya, even theme-nya masih sama. Disini rada susah misahin term “composer” dan “performer” karena dengan adanya impro, maka “performer” otomatis jadi “composer” secara instant (impro = instant composing).

Pattern

Sering kali berasal dari bebop, pentatonic n blues scale. Blue notes juga digunakan, yaitu not yang exact pitch-nya nggak terdapat di Western System. Gitaris n kibordis bisa bending, pianist cuman bisa ngiri. Sebagian jazzer juga explore ke non-traditional scales macam whole tone n octotonic. Jazzer yang lebih nekat juga bisa make Schoenberg’s 12 tone row.

Texture

Level texture di jazz umumnya dibagi jadi 3, yaitu melodic (lead/solo), harmonic (progresi akord), n rhytmic (bass line). Ketiganya bergerak secara simultan bikin counterpoint, tapi struktur-nya lebih bebas — Parallel Perfect Consonant-nya halal, sementara doi haram di Classical. Walopun sebagian jazz improviser bisa memainkan counterpoint dan bikin texture-nya kedengeran rumit, tapi mindset jazzer saat bikin counterpoint itu lebih cenderung berdasarkan progresi harmony, alias mirip reverse engineering dari versi classical improviser yang maen counterpoint berdasarkan teori, dan darinya menghasilkan harmony.

Akord

Tetrad lebih banyak digunakan daripada triad. Menggunakan berbagai simbol untuk mewakili deretan pitch-nya — sementara di Classical make figured bass. Extended chord juga banyak digunakan, bikin sebuah fungsi harmonic bisa diwakili oleh berbagai macam extended chord — D7, D9, D13, Dsus berfungsi sama di key G. Altered chord juga digunakan untuk lebih mendramatisir progresi.

Timing

Syncopation adalah karakter utama jazz. Penekanan yang biasanya dieksekusi saat strong beat seringkali di eksekusi sesaat sebelumnya di weak beat. Sebagian besar jazz juga menggunakan swing feel. Dan karena swing feel sebenernya kadarnya bisa naik turun, doi nggak bisa dinotasikan secara akurat dengan dotted notes or tuplet marking. BTW, di jazz juga ada backbeat, yaitu penekanan pada upbeat.

Impressionism

Impressionism adalah cabang dalam sejarah dunia seni yang mengedepankan ide dari suatu object, tapi bukan objectnya itu sendiri. Jangan puyeng dengan definisi itu, coba cek contoh dan deskripsi berikut :

impressionism

Disitu kita lebih disodorin pada gradasi spektrum pencahayaan dan warna daripada batasan yang tegas untuk membentuk suatu object. Style ini berhubungan erat dengan symbolist poetry — yang fokus pada inner life, ditulis dengan gaya yang misterius n ambigu, bikin tiap orang punya interpretasinya sendiri. Contoh tulisan aneh yang keren bisa dicek di :

https://prisonerofzenda.wordpress.com/

Secara umum, karakter impressionism adalah barter antara detail dengan kesan utama yang disampaikan –dengan mengurangi detail yang spesifik, menggantinya dengan berbagai kiasan untuk menyampaikan pesan. Orang butuh imajinasi untuk bisa nangkep pesan dari seni yang disampaikan secara impressionist, semakin gokil creator-nya butuh audience yang makin gokil juga imajinasinya. Analogi tersimpel yang semua orang bisa paham adalah cerita yang disampaikan via komik or pilem vs novel. Di film jelas banget Dumbledore itu digambarkan detilnya begini dan begitu, cocok untuk orang yang males ngebayangin, or bocah yang blom punya cukup vocabs + experience untuk ngebayangin. Sebaliknya, novel ngasih kita sedikit kebebasan untuk menggambarkan sosok Dumbledore — walopun dengan koridor tertentu — sesuai interpretasi kita masing-masing terhadap deskripsinya. Karena itu, novel bakal ngasih experience yang lebih intense daripada nonton pilem, karena pikiran kita masuk lebih jauh ke dalam alam imajinasi.

Dalam hal musical, impressionism hampir nggak bisa dipisahkan dengan Claude Debussy, dengan karakter tonality, harmony n rhythm yang ambigu dan tidak disampaikan dengan jelas. Kalo mau nekat, tonality-nya seringkali cuman bisa ditentukan dari pedal point saja, sementara counterpoint — karakter utama dari Common Practice Period — bisa dibilang kagak ada.

Dalam ber-evolusi, impressionism dalam musik nampaknya mengalami kebuntuan. Debussy himself explore ke area lain sebelum akhir hidupnya. Tapi konsep yang dikembangkan di style ini masih terus digunakan oleh berbagai komposer sampai hari ini.

Tonality

Even nggak disampaikan dengan jelas dan tanpa traditional voice leading, impressionism masih termasuk musik tonal. Cara nentuinnya tonality-nya lebih ke absensi — not yang sering nongol jadi tersangka utama sebagai tonic — dan ada cara lain yang disebutkan diatas, yaitu via pedal point. Pergerakan melody-nya juga cenderung surprising. Cadence-nya bisa lebih bebas dan nggak bergantung pada leading tone, tapi endingnya tetep aja ke harmony dengan karakter stabil (consonance).

Pattern

Semua scale dari traditional diatonic, pentatonic, symmetrical, exotic, sampe ke scale kumaha maneh-na, bisa dipake. Cara nentuin scale or modes-nya adalah dengan cara Pitch Inventory(*). Kalo tonic-nya ketemu, sisa not yang hadir tinggal dirangkai buat ngebikin scale. Chromatic scale juga digunakan dengan lebih bebas daripada sekedar coloring not-not dari diatonic scales.

Texture

Counterpoint almost nggak hadir, dan kalopun ada, biasanya super simpel, dengan dosis rendah, dan lokasinya berada di daerah cadence. Karakter texture-nya sering disebut monolinear, yang berfokus pada sebuah melodic line utama. Explorasinya make pedal point, ostinati (2 atau lebih ostinato), dan planning — yaitu pergerakan parallel harmony yang diharamkan oleh Common Practice Period! — yang sekilas nampaknya multi-linear, tapi sebenernya doi masih monolinear karena semua voice dalam harmony bergerak mengikuti sebuah melody utamanya. Planing bisa dieksekusi ngikut key (Diatonic) or bisa juga mukul rata intervalnya (Chromatic).

Akord

Harmony-nya bisa disusuan dengan beragam cara, bisa secara tertian (numpukin interval 3rd), quartal (numpukin interval 4th) or juga quintal (numpukin interval 5th). Doi juga bisa terdiri dari 3 not (triads) or 4 not (tetrads) or 5 not (pentads), or lebih, dan masing-masing juga bisa dibikin inversi-nya seperti biasanya di tertian harmony. Dissonansi nggak perlu resolve secara traditional — planning texture bisa ngambang kemana-mana kumaha manehna.

Timing

Strong beatnya rada blur n nggak jelas gara-gara syncopations dan hemiolas. Umumnya make birama compound dengan banyak cross rhythm — misalnya di 6/8 kita nekat maen 3/4.

(*) Pitch Inventory :

Pitch Inventory adalah cara nentuin scale or modes yang digunakan di musik yang melody-nya nggak kedengeran maenin scales tertentu secara jelas. Berikut adalah contoh dari menggunakan Pitch Inventory yang melibatkan major & minor diatonic, harmonic minor, melodic minor, pentatonic, blues, whole tone dan chromatic.

1. Doi Diatonic.
1.1. Kalo jelas tonic-nya, tinggal nentuin Major/Minor/Modes-nya.
1.1.2. Kalo ada jarak 3 semitones, dan tonic-nya jelas, maka doi adalah Harmonic Minor Scale.

2. Doi lebih banyak not-nya dari Diatonic.
2.1. Kalo ada 2 not berbeda abjad masing-masing muncul 2x dengan pitch yang berbeda (salah satunya make accidental), dan saat ketemu tonality-nya kedua not itu terletak di “6” dan “7” dalam scale, maka doi adalah Melodic Minor Scale.
2.2. Kalo ada lebih dari 2 not berbeda abjad masing-masing muncul 2x dengan pitch yang berbeda (salah satunya make accidental), maka doi adalah Chromatic Scale.

3. Doi lebih sedikit not-nya dari Diatonic.
3.1. Kalo cuman ada 5 not dan semuanya membentuk 1, 2, 3, 5, dan 6 dari sebuah Major Scale, maka doi adalah Pentatonic Scale.
3.2. Kalo doi ada 6 not dan semuanya berjarak 2 semitones, maka doi adalah Whole Tone Scale.
3.3. Kalo doi ada 6 not dengan jarak tidak teratur, maka kemungkinan doi bisa jadi adalah Blues Scale.

Cara ini sebenernya cukup gampil bagi yang udah ngerti basic theory, dan bisa diandalin tuk ngulik sebagian besar musik sampe tingkat intermediate. Tapi selebihnya, doi kurang reliable tuk ngulik musik sampe tingkat musik advanced karena disono cenderung nyampurin semua jenis scales, modes, arpeggios, sampe nongolnya berbagai chordal fragment, dll. Yang lebih bisa diandalin saat ngulik di level itu adalah advanced theory (buat ngerti konteks yang bikin tebakan jadi jauh lebih akurat), dan hearing (ear training).

Expressionism

arnold-schoenberg

Mr. Arnold Schoenberg

 

Expressionism — yang juga sering disebut non-serial atonality, cikal bakal dari Serialism — adalah periode lanjutan dari Common Practice Period. Arnold Schoenberg awalnya composing make tradisi Romantic, tapi kemudian explore ke area full dissonansi dengan chromaticism. Beliau tidak ngikut standar tonal center, dan membebaskan dissonansi untuk berkeliaran tanpa resolve. Melodinya awalnya cuma berupa motive simple dan kemudian akhirnya jadi sekedar intervals doang.

Walopun lebih sering diasosiasikan dengan “atonality” yang artinya nggak ada tonal center, tapi beberapa theorist bilang kalo Expressionism lebih akurat untuk diasosiasikan dengan “pantonality” yang artinya kurang lebih semua pitch sama pentingnya. Kayanya ini cuman sekedar perspektif kaya penamaan not enharmonis.

Tonality

Nggak ada tonic. Walopun seringkali ada beberapa not yang nampaknya kedengeran cukup penting, tapi itu bukan disengaja oleh composernya. Semua pitch sama kedudukannya dihadapan Expressionism. Dan karena prinsip emansipasi yang extreme itu, otomatis bakal sangat susah tuk mendengar sebuah phrase n cadence disini.

Pattern

Semua not dari A sampe G# halal. Melody cenderung berbentuk motive pendek. Individual pitch disini kurang berperan penting, sementara pergerakan interval antar pitch lebih berperan penting saat analysis. Intervals bisa dimasukan dalam kelompok yang disebut CELLS, or SETS. Buat yang pengen paham lebih lanjut, silakan study subject Interval Vectors.

Texture

Bebas, naon wae hayu. Kalo biasanya melody bergerak by scale-steps dan harmony by 3rds, di Expressionism struktur keduanya nggak dibedain dan keduanya make dibuat dengan prinsip yang sama. Dinamika juga bisa berubah drastis, misalnya dari ppp ke ff.

Akord

Nggak formula tertentu, nggak ada struktur tertentu, nggak ada karakter tertentu, wong nggak ada aturan-nya. Dissonance bebas dibunyikan tanpa resolve.

Timing

Kompleks dan mlintir karena make irregular rhythm dan terus menerus ganti birama. Yang ngefans sama Dream Theater pasti paham bener apa yang dimaksud. ‘The Dance of Eternity’ ganti birama 128x dalam sekitar 6 menit.

Sebenernya masih banyak stylistic music lain diluar Common Practice Period yang masih menggunakan set pitch yang sama. Bagi para explorer, silakan cek sendiri sesuai minat masing-masing. Diluar scope Western Art Music, masih banyak berbagai jenis musik lain yang menggunakan berbagai system including penggunaan microtonal (interval yang satuannya dibawah semitones). Beberapa contoh :

> Tradisi Gamelan di Indonesia, pitch system-nya menggunakan Pelog dan Slendro.
> Tradisi Carnatic & Hindustani di India, pitch system-nya menggunakan Raga.
> Berbagai tradisi Arabian music, pitch system-nya menggunakan Maqam.

Bagi yang berminat menggali lebih jauh tentang mereka, silakan kontak para Ethnomusicologist.

Musik itu sedemikian luasnya, doi bisa bermakna berbeda bagi tiap individu. Musik bisa sesimpel lullaby yang bisa dinyanyikan semua emak-emak tanpa perlu latihan apapun, doi juga bisa serumit symphonic orchestra yang butuh orang-orang dengan musicality yang gokil biar bisa ngeluarin magic-nya. Doi bisa dinikmati sebagai background — sambil nyangkul misalnya — bisa juga dinikmati sebagai foreground — misalnya pas nonton konser. Doi bisa dianggap subject yang cukup simpel yang bisa dipelajari sendiri, doi juga bisa jadi materi study yang bisa bikin mlintir para scholar di berbagai university.

Setelah tulisan tentang breaking the 4th wall ini, nantinya diharapkan kalo ane sharing dari perspektif baru (pianis) bisa rada santai tanpa musti convert tiap detilnya tuk para pembaca gitaris, yang merupakan audience utama di blog ini so far. Toh, bukan hal yang tabu bagi para gitaris baca-baca materi pianis, bahkan udah cukup lazim, terutama di tingkat intermediate keatas. Bagi pembaca pemula yang baru nyasar ke blog ini, bisa backtracking baca-baca post lama sambil aktif study dari berbagai resources (biasanya hal-hal yang basic nggak terlalu susah dicari, baik itu di real world maupun internet).

Nah, tuk para gitaris shredder, balik maning kiye. Coba cek musik Neo-Classical — or lebih cenderung ke Neo-Romantic — yang kedengeran lebih real deal n bukan sekedar standar speed metal yang lagi nyamar :

Para gitaris shredder yang paham apresiasi bakal pada maklum kalo rujukan yang diangkat disini adalah Daniele Gottardo. Berhubung jumlah elemen yang saling kontras dalam musiknya lebih banyak daripada standar kebanyakan Neo-Classical di dunia shred guitar, maka musiknya cenderung kedengeran lebih tasty n less predictible, yang merupakan indikasi dari musik yang bagus buat study. Saat interview, Daniele Gottardo bilang urutan tingkat kesulitan dalam musiknya adalah Neo-Classical Metal < Jazz Rock Fusion < Neo-Romantic. Sebenernya ada beberapa contoh musik lain dengan dosis yang lebih extreme, tapi musik yang terlalu spicy juga rada kurang cocok tuk rujukan study. Misalnya pas bahas fusion, kayanya bakalan susah tuk nemuin educator ngasih rujukan ‘Tilt’ nya Richie Kotzen/Greg Howe yang berisi impro gila-gilaan dengan not yang pada bertebaran kemana-mana.

Subject apresiasi musik dan breaking the 4th wall juga bakal bisa memperluas persepsi para gitaris shredder traditional yang umumnya cukup sempit : cuman mau maenin lagu yang ada speed playing or akrobatic licks doang, dan kurang mempedulikan elemen lain dalam musik-nya. Shredder yang udah berada di luar 4th wall bisa maen dengan sedikit not saat lagu membutuhkannya — dan doi maen dengan enjoy tanpa malu dengan temen sesama shredder, karena tau mana yang diapresiasi — doi juga bisa maen beyond traditional shredding dan tetep berbunyi fresh — karena doi explore berbagai style dan bisa nyontek lines dari instrument non gitar, misalnya sax or piano. Musik itu beneran luas, sayang banget kalo membatasi diri di satu area doang.

Kebalikan dari speed metal shred yang berisi notes party dosis tinggi diekskusi secara non-stop, ini adalah contoh aplikasi paling extreme dari penggunaan silent dalam musik : John Cage’s 4’33”

Sebelum pada berhenti ngakak or pada komentar “WTF”, silakan bagi tertarik, musiknya juga bisa dibeli di iTunes, monggo :

https://itunes.apple.com/us/album/433/id406490689

Not sure gimana cara bikin copyright-nya tuh..

Closing :

So, there you have it. Music system yang dibangun di era common practice period adalah essence dari sebagian besar musik hari ini. Bagi yang dig in deeper berbagai jenis musik yang ngetren hari ini — terutama dari segi improvisasi-nya — maka subject dari dunia classical cepat ato lambat bakalan masuk ke daftar menu utama. Musik era Baroque sampe Impressionist menyampaikan jauh lebih banyak hal daripada yang disampaikan oleh standar musik yang ngetrend hari ini, kita membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam untuk bisa mengapresiasinya secara utuh. In fact, bisa dibilang impossible tuk ngebahas classical music tanpa pemahaman mendalam dalam apresiasi musiknya. Dan itu baru ngebahas doang, belum sampai ke mencoba memainkan karya-karya berbagai komposer besar dari tiap era. Music appreciation setingkat ini mungkin sekedar jadi menu sampingan bagi non-traditional classical musicians & audiences, tapi doi berubah jadi salah satu menu yang wajib disikat sebelum masuk ke dunia classical, baik sebagai pemain maupun penikmat.

In the end of the day, apresiasi musik adalah subject yang secara umum perlu kita kampanyekan ditengah tren situasi saat ini dimana musik berkualitas — yaitu yang terbentuk dari kombinasi beragam elemen berbeda dengan takaran yang pas — semakin dianggap nggak bernilai.

Jika penyebabnya adalah ketidaktahuan tentang apa yang musti diapresiasi, maka tulisan disini mungkin bisa bantu tuk jadi remedy. Jika penyebabnya adalah ketidakpedulian, maka tulisan disini — dan seabrek resources lain — dipastikan nggak akan bisa bantu apapun.

Semoga tulisan ini bisa membuat classical music lebih accessible dan membuatnya jadi less aristocrat’s-exclussive-music tanpa mengurangi nilai elegan-nya, dan juga membantu kita semua tuk lebih tau tentang luasnya dunia musik, membuat kita beberapa step lebih dalam saat mengapresiasinya.

Modes : Personal Perspective

Posted on

Kids

Kenapa inbox ane di sepanjang 2014 sebagian besar berisi variasi pertanyaan tentang modes dan penerapannya? Kayanya beberapa materi tentang modes di blog ini masih belum cukup jelas, at least bagi mereka yang nanya. Well, don wori, ane akan mencoba nyenggol modes lagi secara lebih personal, karena mungkin alesan personal ane bisa jadi potongan puzzle yang bakal membantu melengkapi gambaran utuh tentang modes.

Dibawah ini adalah beberapa variasi dari FAQ tentang modes di inbox, ane akan coba jawab ulang secara lebih personal tanpa terikat dengan perspektif standar dari para theorist mainstream, plus disertai beberapa contoh penerapan :

Q : Apaan tuh modes?

A : Modes adalah rotasi dari sebuah scale. Definisi ini jauh lebih simpel dari definisi di buku – buku teori yang lebih panjang dan berpeluang untuk disalah pahami dari perspektif improviser pemula. Dengan definisi ini, penting ditekankan bahwa modes itu sama dengan scale, hanya diputer aja not yang berperan jadi root-nya.

Q : Siapa yang bikin modes?

A : Entahlah. Kayanya nggak mungkin leluhurnya si Paijo bin Sopokae Mbuh. Kalo ngeliat nama – nama dari diatonic modes, kemungkinan besar sih wong Yunani. Silakan coba tanya ke para musicologist. Ane pribadi sih lebih nyaranin tuk paham penerapapannya daripada nyelidikin siapa yang bikin.

Q : Modes teh aya sabaraha hiji?

A : Modes yang paling terkenal di buku teori ada 7, yang berasal dari sebuah diatonic scale. 7 modes itu masing – masing punya nama – namanya sendiri. Nah yang nggak terkenal dan nggak bernama sebenernya masih ada banyak. Kalo pengen tau persisnya, jumlah modes = jumlah penyusun not dalam scale. Nah karena scale sendiri ada banyak, jadi modes ada lebih banyak lagi.

Q : Darimana asal modes?

A : Doi berasal dari scale. Kalo nanyain asal penamaan dari diatonic modes, konon mereka berasal dari nama kerajaan dan suku – suku dari daerah mediteranian saat peradaban Yunani Kuno.

Q : Kapan kita musti make suatu modes tertentu?

A : Nggak ada yang “musti” dalam musik, ini kayanya lebih ke soal selera dan konteks. Walo begono, umumnya suatu modes dianggap hanya cenderung fit di situasi harmony tertentu yang karakter bunyinya serupa. Di situasi harmony lain, modes + harmony dengan karakter yang berbeda bisa dipake saling melengkapi untuk membentuk karakter bunyi baru (superimposisi), sementara di situasi lainnya lagi kalo dipaksakan bisa saja bunyinya kedengeran kaya suami-istri yang lagi berantem. Jadi, pada dasarnya modes yang “musti” dimainkan itu ditentukan oleh harmony.

Q : Sejak kapan para musisi pada make modes? Apakah modes juga di pake di classical music?

A : Weits, yoi dong, mereka juga dipake di classical music. Perihal detil sejarah kayanya akan lebih ok kalo ditanyain ke para musicologist. Modes yang terkenal dan dipake hari ini itu adalah cuma segelintir dari berbagai modes yang bisa bertahan hidup sejak jaman Yunani Kuno.

Q : Modes apa aja yang bisa bikin musik kedengeran lebih bagus?

A : Damn, yang ini rada susah dijawab.

Basically, modes bukanlah komponen utama yang bisa diandalin buat bikin musik selalu kedengeran keren, walopun istilah “keren” sendiri bisa sangat subjective. Pas demen shredding saat awal belajar musik dulu, perspektif ane masih cukup sempit, saat soloing bisa dipastikan ane cenderung maen scalar (lurus naik, lurus turun, or kombinasi keduanya, sequential pattern based) as it is, tanpa pertimbangan lain. Dengan perspektif ini ane menyangka bahwa maenin deretan not yang nggak standar (penggunaan bebas diatonic modes dan juga maenin exotic scales) adalah “rahasia” dari solo impro yang tasty. Menggunakan modes secara non standar memang bisa bikin musik kedengeran bervariasi, tapi tetep nggak otomatis bikin musik kedengeran keren. Memang pada awal mulai bermusik, begitulah definisi musik keren bagi ane. Sekedar maen scale n modes yang bisa dikebut naik turun itu keren. Tapi beberapa saat setelah ane study musik lebih jauh, standar definisi “keren” ane mulai meningkat drastis. Scale n modes hanyalah sebagian kecil dari banyak hal lain yang buat bikin musik jadi keren, plus mereka nggak bisa dipake dengan sembarangan/random/kumaha manehna. Dalam peranannya untuk menyampaikan ide via musik, mereka hanyalah sekedar deretan abjad. Mereka bahkan belum berbentuk kata, masih jauh dari kalimat, sangat jauh dari paragraf, dst.

Belum lagi dalam diatonic modes ada yang namanya “avoid note”, yang artinya kurang lebih not yang musti dimainkan dengan hati – hati karena potensial ngerusak harmony.

avoid
yang pengen maen aman, silakan belok kanan

Kalopun ada scale yang bisa dibilang relatif lebih bisa diandalin di berbagai situasi, mungkin adalah pentatonic (yang anhematonic alias nggak punya half step). Tapi saat dimaenin secara exclussive dan dimaenin plek sesuai harmony, scale ini termasuk scale yang hambar, nggak tasty dan terlalu aman bagi orang yang demen spicy music. Scale ini dibilang aman karena nggak punya half step yang umumnya potensial bikin trouble di kebanyakan lagu. Dengan alesan yang sama, doi jadi kedengeran kurang karakter kalo dimaenin polosan tanpa kombinasi dengan scale lain, karena half step itulah yang bikin karakter (contoh : coba cek mode phrygian dan scale harmonic/melodic minor).

Biasanya para pemula berkenalan dengan anhematonic pentatonic duluan buat bluffing impro di depan temen – temennya, tapi scale yang dianggap hambar ini bukanlah beginner’s exclussive scale. In fact, nggak ada di musik yang namanya beginner’s exclussive thing. Di gitar, para jagoan tetep make open position chords, power chords, barre chords, dll. Di piano, “student’s voicing” chords juga tetep banyak dipake oleh para professors (upper structure). Ini berlaku untuk semua hal, termasuk pentatonic scales. Yang bikin beda antara beginner/student level dengan para veteran adalah konteks penggunaanya.

Walopun nggak nambah vocab baru, or teknik baru, teori baru, or apapun yang baru, tapi kalo bisa nambah pemahaman tentang konteks, itu udah cukup untuk bikin para beginner/student players bisa step by step naek level hingga advanced players. Nggak percaya? Silakan cek para traditional blues players.

Bagi spicy musicians, anhematonic pentatonic bisa dimainkan secara bebas sesuai konteks yang diinginkan dan nggak melulu dimainkan buat bunyiin karakter tradisionalnya (Minor 7add11 or Major 6/9). Di akord dominant, kita biasanya masih bisa make minor pentatonic di root untuk efek bunyi yang bluesy, tapi sebenernya skala minor pentatonic juga bisa dimaenkan di b3 dan 5 dan b7 dari dominant chords untuk bikin karakter altered. Dengan begono, tiap not dari pentatonic bakalan membantu mendramatisir karakter tension dari akord dominant. Ini adalah contoh penerapan dari superimposisi (layering dari elemen yang berbeda karakter tuk bikin karakter baru) dalam musik.

So, intinya nggak ada modes yang bisa memastikan musik bakal selalu kedengeran bagus. Sebenernya kita bisa bikin musik bagus dengan hanya fokus ke sebuah mode aja, asalkan harmonic n rhythmic konteksnya nya ok bisa dipastikan musiknya juga bakal kedengeran ok. Sebaliknya, kalo kita maen menggunakan berbagai modes tanpa beneran paham harmonic n rhythmic konteks nya dalam musik, hasilnya kemungkinan besar bakalan kedengeran nggak ok.

Jadi kalo mau musik kedengeran bagus, lebih ok tuk prioritas study harmony n rhythm duluan daripada explorasi modes.

Sample : Explorasi impro make mode lydian dominant di lagunya Mike Stern ‘Jazz Funk’ :

Q : Modes apa yang paling tepat buat maen outside?

A : Sebenernya maen outside itu nggak ada rekomendasi khusus, namun walopun begono ane bisa bikin 3 kategori tentang approach yang dipake tuk maen outside. Sebelumnya silakan baca ini duluan :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/02/05/outside-playing/

Kategori 1 : Simple Approach

Pendekatan ini adalah sekedar maenin scale/modes/licks apapun yang berjarak 1/2 step (diatas or dibawah) dari saat maen inside. Approach ini lebih banyak diadopsi oleh para pemain fusion dari background rock buat mempergampil shredding, karena mindset + fingeringnya simpel. Semua orang bisa langsung nyobain dengan hasil yang cukup ok tuk bluffing, dan tingkat kesuksesannya tergantung pada kelihaian masing – masing orang saat kembali inside*, karena itu adalah point terpenting-nya. Para pemain fusion yang nggak “playing changes”** kemungkinan besar pada make approach ini.

Prerequisite : Inside Scales or Modes

* In reverse dari approach untuk outside, not inside bisa juga didapatkan dengan mudah karena juga berjarak 1/2 step dari not outside. So kembali inside saat make metode ini segampil maen outside-nya, cuman soal side-stepping doang. Buat visualisasi, silakan cek black keys di piano yang lokasinya selalu diapit oleh white keys. Saat eksekusinya tinggal hati-hati aja terhadap avoid note-nya.

** “Playing changes” adalah bermain berdasarkan pada progresi akord, yang versi terpolosnya adalah sekedar maenin arpeggio-nya. Kita musti paham hubungan antara scale/modes dengan akord progresi sebelum mulai belajar “playing changes”. Pemain yang bisa “playing changes” bakalan bisa impro single lines sendirian tanpa iringan, tapi audience tetep bisa tau karakter bunyi akord saat itu dan perpindahan ke akord berikutnya.

Sample : Side-stepping dalam “playing changes” di non-traditional blues :

Warning : Kategori 2 dan 3 berpeluang besar bikin bingung bagi yang masih nanya “modes paling tepat untuk outside” ini. Kategori dibawah ini lebih ditujukan bagi yang udah lebih paham modes dan aplikasinya, dan pengen tau lebih banyak lagi. Sengaja ane tulis karena pas kebetulan kepikiran, jadi sekalian aja wong mumpung lagi dibahas. Yang belum paham modes, sebaiknya langsung skip ke FAQ berikutnya.

Kategori 2 : Better Approach

Pendekatan ini sama dengan pendekatan diatas, cuman jaraknya nggak terbatas pada 1/2 step dari saat maen inside, dan melibatkan prinsip dari voice leading + superimposisi. Bentuk dan kontur dari lick outside di metode ini juga lebih fleksibel dan nggak harus exact copy dari lick inside. Penentuan jaraknya outside-nya dipengaruhi oleh lokasi chord tones dari akord imajiner yang dipake buat outside (buat superimposisi). Akord imajiner yang dipake outside ini bisa akord apapun yang basic chord tonesnya berada di luar key center, dan not yang beda itulah di diprioritaskan tuk di emphasize saat maen outside. Bagi yang paham functional harmony, superimposisi ini berfungsi buat memaksa akord apapun saat itu jadi berkarakter tension. Dengan paham approach ini, maen impro bakalan super fun. Dan karena nggak ada unsur random or ngasal di dalam approachnya, maka hasilnya pun bakal kedengeran mantep sekaligus lebih variatif daripada kategori 1.

Note : Melodic lines (scale + modes) itu ditentukan oleh harmony (chords)-nya. Pendekatan kategori no 2 ini juga masih berpatokan ke akord, even doi sekedar imajiner dan nggak dibunyikan beneran di musiknya. Alasan berpatokan ke akord imajiner adalah supaya bisa maen lebih fearless make berbagai not daripada sekedar maenin exact copy dari lick inside yang digeser setengah (kategori 1).

Prerequisite : Superimposition + Voice Leading

Kategori 3 : Best Approach

Pendekatan ini lebih nyambung dengan prinsip impro secara lebih luas, serta melibatkan prinsip tension-resolution dalam musik. Prinsip ini bisa bikin kita punya lines yang bakalan selalu terdengar smooth, even disaat maen outside dan juga saat maenin intervallic skip sekalipun, yang umumnya bakalan kedengeran spiky dan kedengeran disconnected saat dimainkan diluar konteks. Yang bikin hal ini possible adalah karena selain penerapan point no 2, didalamnya juga terlibat pertimbangan lokasi beat (metric placement) dan juga jarak interval dari not yang dibunyikan sebelumnya.

alternate-route
ada banyak rute menuju resolution

Basic dari metric placement saat impro adalah strong beat selalu diisi inside, dan weak beats boleh diisi outside. Nah lokasi dan resolusi strong-weak ini bisa dimodifikasi sesuai konteks, kalo diperlukan bisa dipindah or diperbesar sampai beberapa bar, sehingga outsidenya bisa dibikin lebih dramatis dan melibatkan beberapa step, yang didalamnya memungkinkan untuk melakukan temporary modulasi ke berbagai unrelated key. Doi bisa dideskripsikan dengan “berbagai rute lain menuju resolution”.

Prerequisite : Functional Harmony + Counterpoint + Out-of-the-Box Mindset, or Harmonic Movement

“Apaan tuh Harmonic Movement, To?”

“Doi bisa dibilang versi lanjutan dari harmonized scale. Istilahnya sendiri kayanya sampe sekarang blom jadi standar di buku teori musik.”

Normalnya, hampir semua buku teori dan berbagai method menyebutkan kalo scale (modes) yang dipake itu ditentukan oleh akord, dan akord berasal dari scale. Ketika tiap individual notes dalam akord bergerak sesuai scale, itu disebut harmonized scale. Subjectnya kemudian berlanjut dengan penjelasan dan penerapannya, kemungkinan besar larinya ke subject chord family lalu ke functional harmony, lalu ke substitution, lalu ke reharmonization. Saat nyampe reharm, biasanya materi tertian harmony dianggap beres lalu skip ke materi tentang quartal harmony dan explorasinya.

Kalo pas sampe subject reharm materi tertian harmony dikembangkan lebih jauh, kita bisa bikin mindset bahwa harmony bisa dibentuk dari beberapa scale yang berbeda, dan individual note-nya juga bergerak sesuai scale yang berbeda, tetapi masih tetep berfungsi secara tonal. Ini bisa dilakukan karena cara pandang kita terhadap scale juga sebenernya bisa diubah out-of-the-box sesuai konteks : sebuah chromatic scale bisa terbuat dari 2 whole tone scale or 3 buah diminished 7th chords, or 4 buah augmented triad, or 6 buah whole tones, or 12 semitones. Perspektif ini juga bisa diaplikasikan ke scale lain, misalnya C Ionian terbuat dari akord C triad dan Bm7b5, C Harmonic Minor terbuat dari akord Cm triad dan Bdim7, dsb. Nah itulah sebagian hal yang jadi basic mindset dari harmonic movement.

Walopun sekilas nampak seperti sekedar ngasih nama lain bagi suatu hal yang udah punya nama sebelumnya, tapi mindset ini bakal ngasih kita info tentang banyak hal dalam musik yang saling terhubung dan ngasih kita banyak konteks dan berbagai rute buat diapproach. After all, cara tuk impro dan maen outside pada dasarnya lebih ke soal mindset + approach + konteks daripada sekedar apal n lancar scale + modes. Bagi yang udah paham kalo Amin7 = Cmaj6 dan Bm7b5 = Dm6 bakalan demen sama konsep ini.

Bagi ane pribadi, mindset ini lebih ok dan lebih reliable buat outside daripada mindset konvensional (treatment target dengan ii-V’s, tritone subs, superimposition, dll), karena bisa selalu terdengar smooth dengan tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi.

Bagi yang tertarik tuk ngicipin basic dari approach ini, bisa mulai mencoba melihat harmony dari perspektif yang bukan dieksekusi oleh akord, yaitu :

  • Dieksekusi oleh sebuah melody (harmonic melody).

Umumnya mayoritas orang beranggapan bahwa melody butuh pendamping buat ngasi tau audience tentang harmony. Tapi sebenernya, melody by itself juga udah bisa ngasih tau harmony kalo kita paham chord tones dalam melody, serta hubungannya dengan metric placement. Semua single lines yang dieksekusi saat “playing changes” menggunakan prinsip ini, dan musik dari Bach juga menggunakan prinsip ini. Ini adalah asal usul kenapa Bach dianggap seorang jazzer. Sebenernya jazz banyak make prinsip dari classical music, dan para improviser jazz udah pada familier dengan harmonic melody.

Scale/modes bisa bergerak dengan berbagai intervallic skips (chordal/arpeggiated), dan tiap chord tones bisa bergerak sesuai scale/modes. Dalam mindset ini, mereka essensinya dianggap sama, beda penerapan doang.

Sample : Experiment harmonic melody + octave displacement di lagu ‘Tuhan’ by Bimbo :

  • Dieksekusi oleh beberapa melody yang berbunyi bersamaan (counterpoint).

Saat aturan counterpoint dipatuhi, kita bisa denger harmony dari melody yang dimainkan bersamaan. Dengan make perspektif ini, music bakal bisa kedengeran lebih artistik, dan even pas dissonansi nya sekalipun jelas kedengeran kalo eksekusinya sama sekali nggak ngasal karena kita musti memperhatikan semua not sebagai bagian dari melodi (yang by itself musti kedengeran logic n keren), serta kita juga memperhatikan efek dari tiap not dalam melodi itu saat dibunyikan dengan melody lainnya yang menghasilkan efek pergerakan harmony (yang juga musti kedengeran logic, flowing dan juga functional).

Jason Becker dianggap jenius bukan hanya karena speed playingnya, tapi lebih karena kemampuan bikin komposisi gokil make counterpoint saat masih berumur 15 taunan. Cek ‘Air’ di album ‘Perpetual Burn’.

Jason Becker
Jason Becker

OK, that’s it, ane cuman bisa share sebatas ini di tulisan ini, karena kalo diterusin, penjelasannya bisa rada kontroversial terhadap fundamental yang udah disenggol di FAQ sebelumnya bahwa modes berasal dari scale, dan penggunaanya ditentukan oleh akord. Tapi bagi masih yang penasaran dengan yang ane maksud, silakan intip sedikit contoh fakta menarik ini :

“Mixolydian sebenarnya bukanlah mode yang beneran berasal dari tonal musik tuk digunakan saat akord dominant.”

Akord dominant 7th dan tonal music itu belum ada ketika mode mixolydian dan para modes lainnya nongol. Para modes udah dipake sejak era pre-tonal. Istilah pre-tonal (juga post-tonal dan atonal) itu berarti musiknya nggak make major ato minor key center.

Pengaruhnya, saat outlining dominant harmony di music tonal (functional harmony), sebagian besar sikon akan mengharuskan kita tuk make “dominant scale” (modifikasi dari mixolydian mode supaya saat dimainkan chord tonesnya bisa selalu fit dengan prinsip dari metric placement) daripada sekedar make standar-konvensional-textbook-based mixolydian mode. Prinsip ini dipake oleh para improviser jazz di era bebop, dan menjadi asal terbentuknya bebop scale. Cek bebop scale :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/09/07/classical-music-fundamentals-bagian-5-4-harmonic-minor-melodic-minor-bebop-scale/

Note : Beberapa istilah dari kategori no 3 diatas mungkin nggak ada di buku teori karena blom ada standarisasinya, jadi sebenernya bakalan lebih gampil buat ngecontohin langsung daripada musti ngejelasin bertele-tele gini. So far, kita udah tau bahwa berbagai standardized theory yang dipraktekan secara literal saja nggak otomatis langsung bikin musik kedengeran ok. Nyatanya, kita tetep butuh beberapa modifikasi di sana sini (terutama dari segi perspektif) biar musik kedengeran lebih ok.

Why Modes? Why..?

“The “why” of the thing, is the foundation. And as the foundation, it must be solid.”

Q : Kenapa modes penggunaanya rumit bener? Penerapannya terkesan dipaksakan, asal masuk dan nggak ada karakter..

A : Modes itu sebenernya super simpel, doi seolah jadi keliatan ribet gara-gara salah paham or salah ngajarin aja. Ada 3 perspektif utama dalam memandang Modes, dan itu menentukan tingkat kerumitan serta penerapannya. Sebelumnya, ane udah pernah nulis tentang perspektif turunan dan parallel, dan sebenernya masih ada 1 lagi perspektif yang justru penganutnya paling banyak tapi nggak pernah dibahas disini, yaitu perspektif masa bodo (istilahnya ane bikin sendiri).

“Sebenernya musik itu nggak ribet, yang ribet adalah perspektif musisinya.”

spooky
yang bikin spooky adalah perspektif nya

1. Perspektif Derivative (Turunan) :

Perspektif derivative adalah perspektif yang harus bertanggung jawab terhadap sebagian besar kasus kebingungan para pemula/students terhadap definisi modes (dan aplikasinya). Modes akan lebih ok saat dijelasin BUKAN by standard definition (Mode x adalah skala y dengan dimulai dari not ke n), karena berpeluang bikin puyeng saat musti dimaenin. Para pelajar yang diajar dengan cara ini pas lulus bakalan lebih cocok jadi detektif daripada improviser. Bukannya belajar mengenali karakter tiap modes tuk dimaenin secara instant, pelajar malah musti melakukan berbagai assosiasi kaya yang dilakukan oleh para penyelidik KPK :

“Coba maenin Bb Phrygian..”

“Bentar, phrygian itu mode ketiga, berarti.. Tu.. Dua.. Tiga.., oh key nya di Gb To!”

“Nggak ada yang nanya key-nya Gan..”

“Oh ok.. Berarti Gb scale yang dimaenin dari Bb.. Hmm, ok bentar..”

“…”

Buat ane, perspektif ini nggak bisa diandalin buat maen modes, karena latency-nya kegedean. Kita perlu perspektif dengan zero latency saat impro.

Shortcut :

Informasi di tulisan ini dulu awalnya bermaksud buat jadi shortcut bagi para penganut perspektif derivative. Tapi pas diliat lagi, kayanya nggak terlalu ngaruh karena mindsetnya masih sama dan kurang radical :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/12/06/modes-bagian-10-perspektif-derivative/

Bagi selain gitaris, shortcut-nya same thing, tinggal konversi jarak fret ke semitones. 1 fret = 1 semitone.

2. Perspektif Parallel :

Nah, ini adalah perspekfif rekomendasi ane, dan mungkin juga direkomendasikan oleh semua improvisers + educator lain. Perspektif ini bikin kita bisa instant maen modes apapun dengan cuman modal apal major n minor scale, tanpa musti jadi detektif dan segala macem blablabla-nya. Walopun mindsetnya beda secara radical, perspektif ini lebih manjur buat dipake semua improvisers dengan hasil yang sama dari mindset konvensional :

“Coba maen Bb Phrygian..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Bb minor b2)

“Coba F# Lydian..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale F# major #4)

“Coba maen G# Harmonic Minor..”

“Ok.. ♪ ♫ (Maen scale G# minor ♮7)

“Coba Db Melodic Minor.. “

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Db major b3)

“Coba maen Eb Lydian Dominant..”

“Ok.. ♪ ♫ (maen scale Eb major #4 dan b7)

“Good!”

See? Gampil kan? Yang kita butuhkan cuman modifikasi interval dari not penyusun major/minor scale doang, dan voila.. Any modes siap dibunyikan dengan instant, zero latency.

Shortcut :

  • Bagi gitaris, cek tulisan berikut sampai bagian comment :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/11/06/modes-bagian-8-perspektif/

  • Bagi bukan gitaris, basicnya same thing. Copas dari comment section :

Lydian = Major #4th
Mixolydian = Major b7th
Dorian = Minor major 6th
Phrygian = Minor b2nd
Locrian = Phrygian b5th or Minor b2nd b5th

3. Perspektif Masa Bodo :

whatever

Ini adalah perspektif yang berguna disaat tertentu, tapi nggak cocok tuk jadi landasan belajar modes. Bagi yang beneran pengen tau tentang modes, jangan cepet puas kalo diberi jawaban yang berisi simplifikasi dari perspektif masa bodo ini, karena bukan itu real answernya. Silakan study perspektif parallel buat dapetin jawabannya, dan berikutnya juga perspektif derivative buat supplement.

Perspektif ini adalah mukul rata semua akord yang ada berdasarkan key centernya, dan nggak peduli sama pergerakan progresinya. Ini umumnya adalah perspektif impro kita semua saat baru mulai kenal musik, saat demen banget bisa bunyiin sebuah scale naek turun dalam suatu musik tanpa ada not yang salah (outside).  Perspektif ini cuman bisa dieksekusi di lagu dengan akord simpel, dan itu juga nggak selalu berhasil di semua situasi, terutama di situasi lagu dengan akord yang lebih berkarakter dan juga lagu yang dalam progresinya terdapat surprise chord (akord terbuat dari key center yang berbeda, yang tentunya non-functional terhadap key center yang lagi dipake).

  • Saat pemula pake perspektif ini, even maennya nggak ada not yang salah tapi solonya tetep bakal kedengeran ngambang n kaya orang linglung. Impronya kedengeran nggak berada dalam musiknya (lines-nya nggak punya konteks, asal jalan aja).
  • Saat orang yang ngerti tension-release make perspektif ini, solonya bisa kedengeran ok karena ada targetting dan kedengeran gravitasinya. Akord progresi yang dipukul rata disini bisa jadi contoh tergampil dari superimposisi.

Sample : Eksekusi dengan melakukan superimposisi terhadap semua akord dalam progresi, make akord dari key center-nya (switch bolak balik based on C dan Am biar nggak predictible banget). Even pas eksekusinya ada berbagai macam ornamentation, kalo dicek beneran, hampir semua not yang dimaenin saat ganti akord cuman berasal dari C or Am tok. Ada sedikit explorasi modes di 3:20- 3:36 :

  • Saat orang dengan insting dan hearing yang ok make perspektif ini, maka hasilnya bisa kaya orang yang paham penerapan macem – macem modes walo doi nggak mikirin modes sama sekali. Sering kali orang yang bilang “sikat bleh” or “hajar bleh” saat jamming lebih merujuk pada perspektif ini.

Sample : Instinctive improvisation di latin grooves (samba, mambo and songo). Scale yang dipake adalah harmonic minor :

Penggunaan Modes

Berikut adalah beberapa pertimbangan saat make modes, terutama dalam situasi tonal music :

  • Modes major untuk akord major, dan modes minor untuk akord minor, modes dominant untuk akord dominant, modes locrian untuk half diminished, symmetrical diminished scale untuk akord dominant7b9, inverse symmetrical diminished untuk akord diminished7, altered scale untuk akord altered, dst. Tentang altered scale :

https://ditomusicman.wordpress.com/2013/12/29/melodic-minor-altered-scale/

  • Major or minor modes yang digunakan adalah sesuai fungsi dari akord. Di diatonic key, akord IV make Lydian, akord ii make Dorian, akord iii make Phrygian. Kita perlu mengetahui fungsi akord itu duluan sebelum menentukan modesnya.
  • Sebelum menentukan fungsi akord, kita perlu tau key centernya duluan. Untuk menentukan key center, silakan baca :

https://ditomusicman.wordpress.com/2012/11/13/modes-bagian-9-tonal-center/

  • Study tentang chord family dan functional harmony bikin kita bisa otomatis nentuin modes yang tepat tanpa steps yang bertele – tele.
  • Kalo nggak ada petunjuk lain or nggak yakin kalo akord itu berfungsi tonal, umumnya yang digunakan adalah untuk akord major pake lydian, akord minor pake dorian, akord dominant pake lydian dominant (mode ke 4 dari melodic minor), dst.
  • Prinsip dari mode yang digunakan point diatas adalah menyelipkan sebuah non-chord tone yang minimal berjarak 1 STEP DIATAS chord tones. Ini berlaku semua untuk akord lainnya, dan dilakukan tuk menghindari kemunculan “avoid notes”.
  • “Avoid note” adalah note yang musti dimainkan dengan hati – hati sesuai konteks karena lokasinya yang berjarak HALFSTEP DIATAS chord tones. Doi potensial ngerusak karakter harmony saat di emphasize di strong beat.
  • Semua not dalam scale/modes yang didalamnya nggak ada avoid note bisa bebas digunakan. Non-chord tonesnya bisa untuk coloring tanpa khawatir ngerusak karakter harmony.
  • Salah satu metode yang dikenal paling ok tuk latihan modes adalah dengan penerapan pitch axis theory. Basicnya doi adalah teknik bikin akord progresi yang terbuat dari 1 not yang sama sebagai root. Cek perspektif parallel diatas.
  • Salah satu contoh yang paling dikenal dalam penerapan pitch axis theory adalah progresi akord saat tapping section di ‘Satch Boogie’ nya Joe Satriani. Contoh lainnya adalah berbagai macam musik yang menggunakan pedal point (progresi akord dengan bass yang nggak bergerak).
Joe Satriani
Joe Satriani

 

  • Ketika orang maen scale/modes, orang itu nggak beneran maen naek turun deretan not-nya dari root ke root secara urut. Seringkali yang dimaksud adalah licks/ide/motif/phrase yang based on (berdasarkan notes dari) scale/modes-nya. Saat “playing changes”, pembentukan licks ini selalu berdasarkan pada progresi akord.
  • Penggunaan modes itu prinsipnya sama dengan scales. Ketika orang maen C major scale, berarti maksudnya bebas maenin not yang berasal dari C major scale, tapi dengan menitik beratkan C nya sebagai home.
  • Jadi kalo ada orang bilang : “Gua maen D Dorian, G Mixolydian lalu C Ionian.” Itu artinya sama aja doi sekedar maen C major scale dengan gravitasi yang berubah – ubah : D pas D Dorian, G pas G Mixolydian dan C pas C Ionian.
  • Apakah ini berarti sama aja dengan perspektif masa bodo? Beda, kalo pemainnya nggak punya hearing n insting yang ok, gravitasinya nggak bakalan otomatis berubah ngikut progresi. Kalo nggak percaya, silakan coba maen solo sendirian tanpa iringan.
  • Di progresi diatonik tanpa modulasi (yang semua akordnya terbuat dari sebuah harmonized scale), maenin modes beneran (perspektif parallel) bisa membantu bikin efek harmonic melody (melody yang ngasi tau akord saat itu), yang merupakan salah satu dasar dari “playing changes”. Sementara kalo make perspektif masa bodo (pukul rata dari key center), melody nggak akan kedengeran perubahan harmonynya.
  • Kalo blom punya hearing n insting yang ok, perspektif masa bodo masih bisa dipake dengan cara superimposisi di key center. Cek sample ‘On The Sky’ diatas yang semuanya di sikat berdasar C dan Am. Cara ini cuman bisa dieksekusi di lagu dengan akord simpel, dan itu juga nggak selalu berhasil di semua sikon.
  • Gua punya insting n hearing yang cukup ok, apakah gua perlu belajar modes? Nggak perlu kalo nggak pengen bahas modes (dan teori musik) bareng orang laen.
  • Gua punya insting n hearing yang cukup ok, apakah gua perlu belajar improvisasi? Ya jelas, even orang dengan great technique n perfect pitch tetep musti study cara kerja musik dulu sebelum bisa fearless impro di any music, any key, at any tempo. Nggak ada insting dan hearing yang dianggap cukup ok buat bisa menggantikan study musik.
  • Modes lebih ok dipake untuk impro dengan akord berdurasi lama, dan  di akord yang non-functional (nggak berfungsi dalam key center tertentu). Para gitaris silakan cek :

https://ditomusicman.wordpress.com/2014/01/29/penggunaan-modes/

  • Saat di progresi dengan pergerakan akord berdurasi singkat, lebih ok tuk impro make perspektif chordal. Kita nggak butuh mindset dengan 7 not, karena tiap not-nya nggak bakalan sempet dibunyiin semua in context.
  • Di tonal music (akord yang berfungsi dalam key center), perspektif chordal umumnya lebih ok daripada make modes. Saat keduanya dikombinasikan, aplikasinya bisa memungkinkan tuk bermain lebih liar dan sekaligus tetep terstruktur daripada sekedar maen pake kombinasi modes saja.
  • Saat di progresi dengan pergerakan akord berdurasi singkat, modes masih bisa dipake dengan cara meng-highlight not terpenting-nya. Silakan baca :

https://ditomusicman.wordpress.com/2013/10/01/4197/

Warning : avoid notes musti segera bergerak ke chord tones.

  • Setelah paham semua modes, kita bisa memperlakukan mereka seperti spektrum dengan melakukan berbagai kombinasi. Di sample ‘On The Sky’ diatas ada bebeapa modes yang dipake saat 3:20- 3:36.
  • Para shredder juga demen make Dorian-Mixolydian sebagai pondasi dari blues licks mereka. Dorian-Mixolydian adalah 2 modes yang bersamaan dieksekusi di 1 root, hasilnya kedengeran bluesy dengan lebih banyak not yang bisa tuk dipake kebut-kebutan. Saat dikombinasikan dengan “playing changes”, kita bisa dapetin hasil yang cukup unconventional :

  • Dalam situasi di lapangan, saat orang bilang maen satu mode tertentu sepanjang lagu, hampir bisa dipastikan  doi nggak akan exclussive beneran maen make 1 mode or 1 scale tok, terutama kalo orang itu menguasai berbagai scale/mode lain untuk complement. Hal ini adalah karena untuk menyampaikan ide yang lebih ok, seringkali kita perlu minjem konteks dari scale/mode lain. Even sample ‘Hip-Hop (Jazz Funk)’ diatas nggak beneran make Lydian Dominant tok, doi make berbagai chromaticism tuk dekorasi di sana sini.

Nah, sekian pendapat ane pribadi tentang modes, semoga bisa bantu semua yang baca tuk jadi lebih paham. Memang ada beberapa terms yang belum pernah disenggol disini sebelumnya, tapi itu nggak bisa dihindari, karena untuk ngebahas satu hal memang nggak bisa lepas dari nyenggol hal lainnya. Dan seperti biasa, hal itu bisa ditanyakan disini, or via inbox, or mungkin next time juga bakal dibahas. Untuk hasil pemahaman yang lebih ok, silakan tanya pendapat personal dari berbagai musisi lain tentang modes. Dari situ bisa dikumpulkan data tuk dapetin gambaran yang lebih kumplit tentang modes dan penggunaanya.

Selamat explore..